Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Transisi dari Samudera Pasai ke Aceh DarussalamThe transition from Samudera Pasai to Aceh Darussalam

Akhir abad ke-15 – 1524Late 15th century – 1524

Akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16 merupakan fase genting di pesisir utara Sumatra: Samudera Pasai melemah akibat konflik internal dan tekanan luar, sementara Melaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511. Di celah itu trah Lamuri menghimpun kekuatan di pesisir Pidie hingga cucu Sultan Munawwar Syah, ‘Ali Mughayat Syah, mendirikan Aceh Darussalam. Pada 1524 Aceh menaklukkan Pasai. Nisan dan mata uang memperlihatkan bahwa peralihan ini juga merupakan pewarisan simbol kekuasaan.

The late fifteenth and early sixteenth centuries were a critical phase on Sumatra's northern coast: Samudera Pasai was weakened by internal conflict and outside pressure, and Melaka fell to the Portuguese in 1511. Into this gap the Lamuri line gathered strength on the Pidie coast until Sultan Munawwar Syah's grandson, ‘Ali Mughayat Syah, founded Aceh Darussalam. In 1524 Aceh conquered Pasai. Gravestones and coins show that the transition was also an inheritance of the symbols of rule.

Dua jenis bukti material membantu membaca masa ini. Pertama, makam di bukit. Di Peudada, Sultan Muhammad bin Sultan Mahmud Syah, keturunan pendiri Pasai, wafat pada 1507 dan dimakamkan bersama seorang ulama Makkah di bawah nisan bergaya Pasai. Di Pante Raja, Sultan Munawwar Syah dari trah Lamuri dimakamkan di puncak Bukit Hagu, sementara ayahnya beristirahat di Lamreh, Aceh Besar. Kajian MAPESA menafsirkan kedua situs sebagai jejak konsolidasi militer elite pesisir sesudah kemunduran Pasai, dengan Peudada sebagai garda timur dan Hagu sebagai poros trah Lamuri.

Kedua, mata uang. Menurut T. Ibrahim Alfian, setelah Aceh menaklukkan Pasai pada 1524, para sultan Aceh meneruskan kebiasaan Pasai mencantumkan gelar al-sulṭān al-‘ādil dan malik al-ẓāhir pada dirham emas mereka, dimulai dari ‘Ali Mughayat Syah. Kesinambungan ini menunjukkan bahwa Aceh Darussalam tidak memutus tradisi Pasai, melainkan mewarisi bahasa legitimasi dan sistem moneternya.

Narasi transisi ini mengandung lapisan tafsir. Kajian MAPESA membingkai para sultan sebagai pejuang jihad melawan kolonialisme dan imperialisme, serta membaca ayat kemenangan pada nisan sebagai ‘janji’ yang dipenuhi oleh sang cucu. Bingkai ini perlu dibedakan dari data yang lebih keras: tahun wafat, letak makam, silsilah, dan penanggalan koin. Rincian sebab kemunduran Pasai juga hanya disebut secara umum. Meskipun begitu, bukti nisan dan koin bersama-sama menggambarkan peralihan yang berlangsung melalui jaringan keluarga, wilayah pesisir, dan simbol, bukan sekadar penaklukan tunggal.

Two kinds of material evidence help read this period. The first is the hilltop tombs. At Peudada, Sultan Muhammad ibn Sultan Mahmud Syah, a descendant of Pasai's founder, died in 1507 and was buried beside a scholar from Mecca under Pasai-style headstones. At Pante Raja, Sultan Munawwar Syah of the Lamuri line was buried on the summit of Bukit Hagu, while his father lies at Lamreh in Aceh Besar. The MAPESA study interprets both sites as traces of the military consolidation of coastal elites after Pasai's decline, with Peudada as an eastern bulwark and Hagu as the pivot of the Lamuri line.

The second is coinage. According to T. Ibrahim Alfian, after Aceh conquered Pasai in 1524 the sultans of Aceh continued Pasai's practice of placing the titles al-sultan al-‘adil and malik al-zahir on their gold dirhams, beginning with ‘Ali Mughayat Syah. This continuity shows that Aceh Darussalam did not break with Pasai's traditions but inherited its language of legitimacy and its monetary system.

The transition narrative contains layers of interpretation. The MAPESA study frames the sultans as fighters in a jihad against colonialism and imperialism, and reads the victory verse on the headstone as a ‘promise’ fulfilled by the grandson. This framing should be kept distinct from the harder data: death dates, tomb locations, genealogies and coin chronology. The causes of Pasai's decline are also mentioned only in general terms. Even so, headstones and coins together depict a transition that ran through family networks, coastal territories and symbols rather than a single act of conquest.

Gagasan kunciKey ideas

Peralihan lewat silsilahTransition through lineage

Garis Lamuri dari Lamreh ke Pante Raja hingga ‘Ali Mughayat Syah menunjukkan kesinambungan keluarga di balik lahirnya kesultanan baru.The Lamuri line from Lamreh to Pante Raja to ‘Ali Mughayat Syah reveals family continuity behind a new sultanate.

Warisan simbolAn inheritance of symbols

Aceh meneruskan gelar Pasai pada koin, menandakan klaim sebagai pewaris sah.Aceh carried Pasai's titles onto its coins, signalling a claim to rightful succession.

Data dan bingkaiData and framing

Tahun, letak, dan silsilah perlu dibedakan dari pembingkaian heroik masa transisi.Dates, locations and genealogies should be distinguished from heroic framings of the transition.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah lahirnya Aceh Darussalam lebih tepat dipahami sebagai pemutusan dari Pasai atau sebagai kelanjutannya dalam bentuk baru?Is the rise of Aceh Darussalam better understood as a break with Pasai or as its continuation in new form?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Transisi dari Samudera Pasai ke Aceh Darussalam”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/transisi-pasai-aceh-darussalam/