Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Peradaban yang tak bernegosiasi: Aceh di antara peradaban Jawa dan MelayuA civilisation that would not negotiate: Aceh between the Javanese and Malay civilisations

Puncak abad ke-17; sekitar empat abad ‘kegelapan’ penulisan sesudahnyaPeak in the seventeenth century; some four centuries of historiographical 'darkness' after

Aceh dipandang sebagai peradaban yang setara dengan peradaban Jawa dan Melayu, dengan peradaban dirumuskan sebagai karya manusia dalam tiga bentuk: bahasa, budaya, dan sejarah. Peradaban Jawa melahirkan pemerintahan Indonesia dan peradaban Melayu melahirkan Malaysia, tetapi peradaban Aceh tidak melahirkan negara. Penjelasan yang diajukan adalah bahwa Jawa dan Melayu bersedia bernegosiasi dengan penjajah, sedangkan Aceh tidak memiliki akar sejarah untuk itu. Pihak yang menang kemudian menulis sejarah pihak yang kalah, dan Aceh lama tenggelam dalam penulisan sejarah.

Aceh is regarded as a civilisation on a par with the Javanese and Malay civilisations, with civilisation defined as human achievement in three forms: language, culture and history. Javanese civilisation produced the government of Indonesia and Malay civilisation produced Malaysia, but Acehnese civilisation produced no state. The explanation offered is that Java and the Malay world were willing to negotiate with the colonisers, whereas Aceh had no historical root for doing so. The victors then wrote the history of the vanquished, and Aceh long remained submerged in historiography.

Narasi peradaban Aceh tersebar dalam karya-karya yang berserakan, sehingga akar filosofisnya sulit ditemukan. Sebagai model penulisan, karya Max Lerner tentang Amerika sebagai peradaban membahas kelas dan status, kehidupan sehari-hari, karakter dan masyarakat, kepercayaan, seni dan budaya populer, lalu ditutup dengan Amerika sebagai kekuatan dunia; hampir semua unsur itu dapat ditulis dalam konteks Aceh, yang pernah menjadi kekuatan dunia pada abad ke-16 dan ke-17.

Perbandingannya tajam. Peradaban Jawa menghasilkan pemerintah Indonesia, peradaban Melayu menghasilkan Malaysia, sedangkan peradaban Aceh tidak. Kedua peradaban itu menghadapi penjajah, Inggris di Tanah Melayu dan Belanda di Jawa, tetapi bersedia bernegosiasi sehingga fondasi sistemnya tidak dihancurkan. Aceh tidak memiliki akar sejarah untuk bernegosiasi, sehingga nasibnya digambarkan serupa dengan tercabik-cabiknya peradaban Islam di Timur Tengah oleh peradaban Barat dewasa ini. Setelah kemenangan, peradaban yang menang cenderung menulis peradaban yang kalah menurut kepentingannya; hal itu terjadi di Aceh di hadapan Belanda dan kemudian Indonesia. Bila puncaknya pada abad ke-17, hampir empat abad Aceh diselimuti kegelapan dalam penulisan sejarahnya.

Jika dihitung sejak kedatangan Islam pada abad ke-7 hingga ke-8, lebih dari empat belas abad dinamika sejarah, budaya, dan bahasa telah berlangsung, dan cendekiawan Aceh seperti Nuruddin ar-Raniry dalam Bustan al-Salatin telah mencatat peristiwa dunia. Karena itu diusulkan ensiklopedi Sejarah Peradaban Aceh, disertai empat strategi: menulis ulang sejarah Aceh hingga masa kini termasuk warisan berbahasa lokal; mengangkat khazanah keilmuan Aceh menjadi pendidikan karakter; meneorikannya melalui meta-teori ilmu; dan memasukkannya ke pendidikan dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi dalam rentang 25 sampai 30 tahun, satu generasi.

The narrative of Acehnese civilisation lies scattered across many works, so its philosophical roots are hard to locate. As a model, Max Lerner's account of America as a civilisation covers class and status, daily life, character and society, belief, the arts and popular culture, closing with America as a world power; nearly all of these elements could be written for Aceh, which was itself a world power in the sixteenth and seventeenth centuries.

The comparison is stark. Javanese civilisation produced the Indonesian government and Malay civilisation produced Malaysia; Acehnese civilisation did not. Both of the former faced colonisers, the British in the Malay lands and the Dutch in Java, but were willing to negotiate, so the foundations of their systems were not destroyed. Aceh had no historical root for negotiation, and its fate is likened to the present-day dismemberment of Islamic civilisation in the Middle East by Western civilisation. After victory, the winning civilisation tends to write the losing one according to its own interests; this happened to Aceh before the Dutch and later before Indonesia. With its peak in the seventeenth century, Aceh has endured almost four centuries of darkness in the writing of its history.

Counting from the arrival of Islam in the seventh to eighth century, more than fourteen centuries of historical, cultural and linguistic dynamics have unfolded, and Acehnese scholars such as Nur al-Din al-Raniri in the Bustan al-Salatin recorded world events. An encyclopaedia of the History of Acehnese Civilisation is therefore proposed, together with four strategies: rewriting Acehnese history up to the present, including the legacy in local languages; turning Aceh's scholarly heritage into character education; theorising it through a meta-theory of knowledge; and building it into education from kindergarten to university over 25 to 30 years, the span of one generation.

Gagasan kunciKey ideas

Tiga unsur peradabanThree elements of civilisation

Bahasa, budaya, dan sejarah menjadi kunci membuka pintu peradaban Aceh.Language, culture and history are the keys that open the door of Acehnese civilisation.

Negosiasi dan keberlanjutanNegotiation and continuity

Kesediaan bernegosiasi dengan penjajah menjelaskan mengapa Jawa dan Melayu mewarisi negara.Willingness to negotiate with colonisers explains why Java and the Malay world inherited states.

Sejarah ditulis pemenangHistory written by victors

Kekalahan politik berlanjut menjadi kekalahan historiografis.Political defeat continues as historiographical defeat.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah ‘ketidakmauan bernegosiasi’ merupakan sumber kehormatan atau sumber kerugian bagi peradaban Aceh, dan siapa yang berhak menilainya?Is the 'refusal to negotiate' a source of honour or of loss for Acehnese civilisation, and who has the right to judge?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Peradaban yang tak bernegosiasi: Aceh di antara peradaban Jawa dan Melayu”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/peradaban-aceh-yang-tak-bernegosiasi/