Aceh sebagai cermin IndonesiaAceh as a mirror of Indonesia
Perbandingan Aceh dan Jawa memperlihatkan dua cara membangun keindonesiaan.Comparing Aceh and Java reveals two ways of building Indonesianness.
Aceh adalah cermin bagi Indonesia. Perbandingan Aceh dan Jawa memperlihatkan dua cara membangun keindonesiaan: satu bertolak dari pusat kekuasaan yang menyerap, satu lagi dari pinggiran yang merasa ikut mendirikan republik dan menuntut diakui.
Tesis ini ditopang oleh Jawa versus Aceh, Aceh dalam komparasi negara-bangsa dan Undang-Undang Pemerintahan Aceh. Datanya meliputi otonomi khusus, pemekaran, dan cara negara membaca Aceh melalui nalar keamanan.
Medan ujinya adalah masa depan otonomi khusus: ketika dana khusus berakhir, apakah hubungan Aceh dan Jakarta akan bertumpu pada kepercayaan, atau kembali pada kecurigaan?
Aceh is a mirror for Indonesia. Comparing Aceh and Java reveals two ways of building Indonesianness: one starting from a centre of power that absorbs, the other from a periphery that feels it helped found the republic and demands recognition.
The thesis rests on Java versus Aceh, Aceh in nation-state comparison and the Law on the Governing of Aceh. Its data include special autonomy, the division of provinces, and the way the state reads Aceh through a security lens.
Its test field is the future of special autonomy: when the special funds end, will relations between Aceh and Jakarta rest on trust, or fall back on suspicion?
KonsepConcept (23)
- Aceh dalam komparasi global: Bali, Yogyakarta, Brunei, Singapura, dan IsraelAceh in global comparison: Bali, Yogyakarta, Brunei, Singapore and Israel
- Aceh dalam studi kawasan, suku-bangsa, dan negara-bangsaAceh in area, ethnic and nation-state studies
- Aceh dan Jawa sebagai cermin timbal balikAceh and Java as mutual mirrors
- Aceh Pungo dan Wong EdhanAceh Pungo and Wong Edhan
- Acehnisasi dan Jawanisasi: menjadi Aceh, menjadi JawaAcehnisation and Javanisation: becoming Acehnese, becoming Javanese
- Antropologi Indonesia dan sentrisme JawaIndonesian anthropology and Java-centrism
- Bangsa teuleubeh dan absennya Aceh dalam falsafah keindonesiaanBangsa teuleubeh and Aceh's absence from the philosophy of Indonesian nationhood
- Beyond Peace: logos dan ethos menuju Aceh 2045Beyond Peace: logos and ethos towards Aceh 2045
- Demokrasi substantif Aceh: antara tradisi, agama, dan negara-bangsaSubstantive democracy in Aceh: between tradition, religion and the nation-state
- Dunia Aceh dan Dunia Jawa: kosmologi keselarasanThe Acehnese and Javanese worlds: cosmologies of harmony
- Falsafah Melayu dan AcehMalay and Acehnese philosophies of life
- Filsafat intelijen dan kegagalan pulbaket membaca AcehThe philosophy of intelligence and the failure of pulbaket to read Aceh
- Kosmologi Aceh dan kosmologi JawaAcehnese and Javanese cosmologies
- Mengelola agama: paradigma Parsonian di Jawa, Durkheimian di AcehManaging religion: a Parsonian paradigm for Java, a Durkheimian one for Aceh
- Merumuskan keindonesiaan dari perbandingan Jawa dan AcehDefining Indonesianness through the Java–Aceh comparison
- Peradaban yang tak bernegosiasi: Aceh di antara peradaban Jawa dan MelayuA civilisation that would not negotiate: Aceh between the Javanese and Malay civilisations
- Ramalan, orang pintar, dan ‘kendali gaib’Prophecy, seers and 'supernatural control'
- Saman dan Campur Sari: batas penerimaan budayaSaman and Campur Sari: the limits of cultural borrowing
- Satrio Piningit, Ratu Adil, dan hidup dengan ramalanSatrio Piningit, Ratu Adil and living by prophecy
- Stereotip timbal balik: ‘Jawa’ di mata AcehMutual stereotypes: 'Java' in Acehnese eyes
- Teori wayang dalam konflik AcehThe wayang theory of the Aceh conflict
- Tujuh tipologi orang IndonesiaSeven typologies of the Indonesian
- Wali Songo dan Habib Seunagan: membalik arah islamisasiThe Nine Saints and the Habib Seunagan: reversing the direction of Islamisation
Data dan buktiData and evidence (26)
- Alasan Studi Jawa dan AcehReasons for comparing Java and Aceh
- Alfian (MaTA)Alfian (MaTA)
- Amrina HabibiAmrina Habibi
- Budaya Politik Jawa dan AcehPolitical cultures in Java and Aceh
- CSO sebagai kepemimpinan tingkat menengah: kajian TaqwadinCSOs as mid-level leadership: Taqwadin’s study
- Cut Asmaul HusnaCut Asmaul Husna
- Etnis Tionghoa di AcehThe ethnic Chinese in Aceh
- Ganja sebagai “perekat” Aceh dan JawaCannabis as the ‘glue’ between Aceh and Java
- Islam dan transformasi kepemimpinan: bab Muhammad Riza NurdinIslam and leadership transformation: Muhammad Riza Nurdin
- Islam Jawa dan Islam AcehIslam in Java and Aceh
- Jawa di Muka Cermin AcehJava in an Acehnese mirror
- Jawa Versus AcehJava versus Aceh
- Kasus konser 2025: birokrasi dan ruang publik di Banda AcehThe 2025 concert case: bureaucracy and public space in Banda Aceh
- Ketika Jawa dan Aceh berdamai: Pemilukada 2012When Java and Aceh made peace: the 2012 regional election
- Kisah Siyung Wanara dalam Babad Tanah JawiThe tale of Siyung Wanara in the Babad Tanah Jawi
- Kontestasi qanun bendera dan lambang Aceh (2013)The contest over the Aceh flag and emblem qanun (2013)
- Konvensi GAM 2006 dan langgam politik GAM menjelang pilkadaGAM’s 2006 convention and its political style before the elections
- M. AlkafM. Alkaf
- Mawardi IsmailMawardi Ismail
- Merumuskan Keindonesiaan dalam Konteks Jawa dan AcehRethinking Indonesian identity through Java and Aceh
- Pattani: nasionalisme dan kosmopolitanismePattani: nationalism and cosmopolitanism
- Sentimen anti-Jawa dalam konflik AcehAnti-Javanese sentiment in the Aceh conflict
- Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) dan Partai SIRAThe Aceh Referendum Information Centre (SIRA) and Partai SIRA
- Sofyan A. Djalil: teknokrat Aceh di kabinet nasionalSofyan A. Djalil: an Acehnese technocrat in national cabinets
- Struktur Budaya Jawa dan AcehCultural structures in Java and Aceh
- Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UU No. 11 Tahun 2006)The Law on the Governing of Aceh (Law No. 11 of 2006)
Medan ujiTest case (18)
- ‘Aceh Merdeka’ sebagai gejala: tiga makna merdeka dan kebuntuan tata kelola‘Aceh Merdeka’ as symptom: three meanings of merdeka and the governance deadlock
- ‘Kawan + lawan = lawan’: diplomasi dan kepentingan dalam hubungan Aceh–Jakarta‘Friend + foe = foe’: diplomacy and interest in Aceh–Jakarta relations
- ‘Orang pusat’ dan ‘orang daerah’: Aceh dalam budaya politik Indonesia'Centre people' and 'regional people': Aceh in Indonesian political culture
- Aceh dalam percaturan geopolitik dan rekomendasi kebijakan pascadamaiAceh in geopolitics and post-peace policy recommendations
- Aceh di tengah kepungan peradabanAceh amid encircling civilisations
- Aceh sebagai ‘laboratorium’ birokrasi Orde BaruAceh as a ‘laboratory’ of New Order bureaucracy
- Aceh sebagai cermin Indonesia: dari nalar keamanan ke nalar geostrategisAceh as a mirror of Indonesia: from security reasoning to geostrategic reasoning
- Bencana ekologis, bencana alam, dan pertanggungjawaban hukumEcological disaster, 'natural disaster' and legal accountability
- Daerah Modal: narasi jasa Aceh bagi RevolusiDaerah Modal: the narrative of Aceh’s service to the Revolution
- Dana otonomi khusus Aceh dan tebing fiskal 2027Aceh’s special autonomy fund and the 2027 fiscal cliff
- Jati diri dan kesinambungan sejarah sebagai akar konflik AcehIdentity and historical continuity as roots of the Aceh conflict
- Jawanisasi tata pemerintahan dan transmigrasiJavanisation of local government and transmigration
- Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan kosmologi Hindu-JawaPancasila, Bhinneka Tunggal Ika and Hindu-Javanese cosmology
- Pertarungan spirit kebangsaan dan metafora kereta JawaThe contest of national spirits and the Javanese carriage metaphor
- Politik anggaran Aceh dan transisi pasca-OtsusAceh's budget politics and the post-Special Autonomy transition
- Romantisme sejarah dan problem ‘pusat–pinggiran’Historical romanticism and the centre–periphery problem
- Ta peujuang: Aceh, pusat, dan imajinasi daerahTa peujuang: Aceh, the centre and the regional imagination
- Wacana pemekaran Provinsi Aceh dan satire 'Aceh Pasê Raya'The discourse of partitioning Aceh province and the 'Aceh Pasê Raya' satire