Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Kisah Siyung Wanara dalam Babad Tanah JawiThe tale of Siyung Wanara in the Babad Tanah Jawi

Kisah legendaris Pajajaran dalam historiografi JawaLegendary Pajajaran episode in Javanese historiography

Kisah Siyung Wanara dalam Babad Tanah Jawi menceritakan seorang raja Pajajaran yang membunuh pertapa peramal, lalu ditimpa ramalan bahwa ia akan dijatuhkan oleh putranya sendiri. Dalam perbandingan Aceh–Jawa, kisah ini menjadi contoh pola “meramal lebih dahulu, kemudian berkuasa”. Raja dan brahmana tampil sebagai dua kutub kekuasaan: yang satu menguasai rakyat, yang lain menguasai alam tak kasatmata. Alurnya juga dibandingkan dengan kisah Nabi Musa dan Fir‘aun.

The Siyung Wanara episode in the Babad Tanah Jawi tells of a Pajajaran king who kills a seer-hermit and is then overtaken by a prophecy that his own son will bring him down. In the Aceh–Java comparison it exemplifies the pattern of ‘prophecy first, power after’. King and brahmin appear as two poles of power: one rules the people, the other the unseen world. The plot is also compared with the story of Moses and Pharaoh.

Babad itu mengisahkan Ki Ajar Cepaka, seorang brahmana yang bertapa di Gunung Pajajaran dan terkenal mengetahui segala yang akan terjadi. Raja hendak menguji kepandaiannya dengan mengirim seorang selir yang perutnya diganjal bokor agar tampak hamil. Ki Ajar menebak kandungan itu laki-laki; raja menganggapnya berbohong dan memerintahkan pembunuhannya. Setelah ternyata selir itu benar-benar mengandung, terdengar suara Ki Ajar bahwa balasannya akan datang melalui seseorang bernama Siyung Wanara.

Pajajaran kemudian dilanda bencana. Para ahli nujum menasihati raja untuk berpesta dan meniduri perempuan sebagai penolak bala, sambil meramalkan bahwa raja kelak dibunuh putranya dari seorang selir. Bayi laki-laki yang lahir tidak mempan diracun dan akhirnya dibuang dalam kotak ke Sungai Krawang. Ia tumbuh menjadi Arya Banyak Wide, merebut takhta Pajajaran, dan memaksa Raden Sesuruh melarikan diri. Seorang pertapa lain, Ajar Cemara Tunggal di Gunung Kombang, lalu menunjukkan arah ke timur, ke tempat sebatang pohon maja berbuah pahit.

Pembacaan perbandingan menekankan beberapa hal. Pertama, kekuasaan raja tidak dapat lari dari takdir yang telah diterawang kaum rohaniwan. Kedua, garis nasib seseorang dianggap dapat diketahui, sehingga calon pemimpin dipersiapkan sejak awal. Ketiga, unsur ritual seksual sebagai penolak bala dikaitkan, dengan merujuk H.M. Rasjidi, pada makna mistik hubungan kelamin dalam sebagian tradisi Hindu-Buddha. Kemiripannya dengan kisah Musa yang dihanyutkan ke Sungai Nil menunjukkan motif universal tentang penguasa yang dikalahkan oleh anak yang hendak dilenyapkannya.

The chronicle tells of Ki Ajar Cepaka, a brahmin hermit on Mount Pajajaran renowned for knowing all that would come to pass. The king tests him by sending a concubine with a bowl strapped to her belly to feign pregnancy. Ki Ajar declares the child a boy; the king, convinced he has lied, has him killed. When the concubine turns out to be truly pregnant, Ki Ajar’s voice is heard announcing that his revenge will come through one named Siyung Wanara.

Calamity then strikes Pajajaran. Court astrologers advise the king to feast and lie with women to ward off misfortune, while foretelling that he will be killed by a son born of a concubine. The boy who is born survives poison and is cast adrift in a box on the Krawang River. He grows up to become Arya Banyak Wide, seizes the throne of Pajajaran and forces Raden Sesuruh to flee. Another hermit, Ajar Cemara Tunggal of Mount Kombang, then directs him eastward to a place with a lone maja tree bearing bitter fruit.

The comparative reading draws out several points. Royal power cannot escape a destiny already foreseen by spiritual specialists. A person’s fate is believed to be knowable, so future rulers are prepared in advance. And the sexual rite used to avert disaster is linked, following H.M. Rasjidi, to the mystical meaning given to sexual union in some Hindu-Buddhist traditions. The parallel with Moses cast onto the Nile points to a widespread motif of a ruler undone by the child he sought to destroy.

Gagasan kunciKey ideas

Dua kutub kuasaTwo poles of power

Raja menguasai rakyat; brahmana menguasai alam gaib dan masa depan.The king rules the people; the brahmin rules the unseen and the future.

Meramal lalu berkuasaForetell, then rule

Ramalan mendahului dan melegitimasi perpindahan kekuasaan.Prophecy precedes and legitimises the transfer of power.

Motif lintas budayaA cross-cultural motif

Paralel dengan kisah Musa dan Fir‘aun.Parallels the story of Moses and Pharaoh.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa yang dikatakan kisah raja yang tak bisa lari dari ramalan tentang batas kekuasaan politik dalam imajinasi Jawa?What does a king unable to escape prophecy say about the limits of political power in the Javanese imagination?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Kisah Siyung Wanara dalam Babad Tanah Jawi”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/kisah-siyung-wanara/