Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Wali Songo dan Habib Seunagan: membalik arah islamisasiThe Nine Saints and the Habib Seunagan: reversing the direction of Islamisation

Dirumuskan sejak 1950-anFormulated from the 1950s

Habib Seunagan mengklaim leluhur dari Wali Songo, para wali yang dipercaya mengislamkan Jawa pada abad ke-15 dan ke-16. Klaim ini, yang dikembangkan Habib Muda sejak Darul Islam, membalik arah kronotop islamisasi Aceh: Islam memang tiba lebih dulu di pesisir utara Aceh lalu ke Jawa, tetapi keturunan Wali Songo kemudian kembali dan mengislamkan Nagan Raya. Dengan demikian, kesetiaan kepada pusat yang dianggap Jawa diungkapkan lewat bahasa islamisasi.

The Habib Seunagan claim descent from the Wali Songo, the saints believed to have Islamised Java in the fifteenth and sixteenth centuries. The claim, developed by Habib Muda from the Darul Islam period, reverses the direction of Aceh’s chronotope of Islamisation: Islam did reach Aceh’s north coast first and then Java, but descendants of the Nine Saints later returned and Islamised Nagan Raya. Loyalty to a centre perceived as Javanese was thus expressed in the language of Islamisation.

Narasi sejarah Aceh 1950-an menegaskan bahwa Islam mengalir dari Aceh ke Jawa, dan bagi pendukung Darul Islam, juga kemudian bagi GAM, Jawa dipandang kurang islami serta menjadi sumber kekuasaan pusat yang menindas. Wali Songo hidup pada abad ke-15 dan ke-16, jauh setelah awal islamisasi Aceh. Maka bila Habib Seunagan keturunan Wali Songo sekaligus pengislam Nagan Raya, berarti sebagian Aceh diislamkan dari Jawa, sebuah tantangan bagi geografi bernilai yang menempatkan Aceh sebagai sumber.

Anggota Habib Seunagan tidak menyangkal bahwa Islam lebih dahulu tiba di Aceh. Mereka menyatakan bahwa kedatangan pertama hanya menyentuh pesisir utara sebelum berlanjut ke Jawa, lalu keturunan Wali Songo kembali ke pantai barat Aceh. Bukti tertulis paling awal klaim ini adalah laporan tahunan Teuku Azman 1962, yang menyebut Habib Abdurrahim keturunan para wali pembangun Masjid Demak. Tuturan lisan mengaitkan penegasan klaim itu dengan perjalanan Habib Muda ke Jawa atas undangan Presiden Sukarno, ziarahnya ke makam Wali Songo, dan keris Sunan Kalijaga yang dibawanya pulang.

Dalam silsilah lisan, nama wali yang disebut berganti-ganti: Sunan Kalijaga, Sunan Giri, atau Sunan Gunung Jati. Penyebutan Sunan Kalijaga menarik karena ia umumnya dianggap berdarah Jawa asli, berbeda dari wali lain yang sering dikaitkan dengan leluhur Arab. Sejak akhir abad ke-19 sebagian silsilah sayyid di Nusantara memang mengaitkan Wali Songo dengan keturunan ‘Alawi, tetapi tidak ada yang menghubungkannya dengan ‘Abd al-Qadir al-Jilani seperti dalam versi Habib Seunagan.

Ketika GAM menjadikan ‘Jawa’ sebagai lawan dan menegaskan keunggulan historis Aceh atas Jawa, Habib Seunagan tetap memelihara ikatan dengan Wali Songo, Jawa, dan pemerintah pusat, menyimpan foto bersama pejabat sipil dan militer serta bintang jasa Habib Muda. Peluncuran biografi Habib Muda di kantor pusat Nahdlatul Ulama pada 2009, organisasi yang dipandang dekat dengan tradisi Wali Songo, melanjutkan strategi yang sama. Bagi perbandingan Aceh–Jawa, kasus ini menunjukkan bahwa hubungan keduanya dalam sejarah Islam lokal tidak selalu satu arah.

The Acehnese historical narratives of the 1950s insisted that Islam flowed from Aceh to Java, and for Darul Islam supporters, and later GAM, Java was seen as less Islamic and as the seat of an oppressive central power. The Nine Saints lived in the fifteenth and sixteenth centuries, long after Aceh’s Islamisation began. If the Habib Seunagan were descendants of the Nine Saints and also the Islamisers of Nagan Raya, part of Aceh was Islamised from Java, a challenge to the value-laden geography that casts Aceh as the source.

Members of the Habib Seunagan did not deny that Islam reached Aceh first. They said the first arrival touched only the north coast before moving on to Java, after which descendants of the Nine Saints returned to Aceh’s west coast. The earliest written evidence of the claim is Teuku Azman’s 1962 annual report, which calls Habib Abdurrahim a descendant of the saints who built the Demak mosque. Oral accounts tie its assertion to Habib Muda’s journey to Java at President Sukarno’s invitation, his visits to the Nine Saints’ graves, and the kris of Sunan Kalijaga he brought home.

In oral genealogies the saint named varies: Sunan Kalijaga, Sunan Giri or Sunan Gunung Jati. The mention of Sunan Kalijaga is notable since he is usually considered of native Javanese descent, unlike other saints often linked to Arab ancestry. From the late nineteenth century some sayyid genealogies in the archipelago did link the Nine Saints to the ‘Alawi line, but none connects them to ‘Abd al-Qadir al-Jilani as the Habib Seunagan version does.

When GAM made ‘Java’ its foil and asserted Aceh’s historical precedence over Java, the Habib Seunagan kept up their ties to the Nine Saints, Java and the central government, displaying photographs with civilian and military officials and Habib Muda’s service star. Launching Habib Muda’s biography at the headquarters of Nahdlatul Ulama in 2009, an organisation seen as close to the Wali Songo tradition, continued the same strategy. For Aceh–Java comparison, the case shows that their relationship in local Islamic history is not always one-way.

Gagasan kunciKey ideas

Arah yang dibalikA reversed direction

Islam digambarkan kembali ke Aceh dari Jawa melalui keturunan Wali Songo.Islam is pictured returning to Aceh from Java through the Nine Saints’ descendants.

Kesetiaan lewat silsilahLoyalty through genealogy

Klaim leluhur Jawa menjadi bahasa kesetiaan kepada Republik.A Javanese ancestry became a language of loyalty to the Republic.

Melawan arus nasionalisme AcehAgainst the Acehnese nationalist current

Klaim ini bertentangan dengan narasi GAM tentang keunggulan Aceh atas Jawa.The claim ran against GAM’s narrative of Acehnese precedence over Java.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa yang terungkap tentang hubungan Aceh dan Jawa bila sejarah islamisasi ditulis dari sudut sebuah kampung di pantai barat?What is revealed about Aceh–Java relations when the history of Islamisation is written from a west-coast village?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Wali Songo dan Habib Seunagan: membalik arah islamisasi”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/wali-songo-dan-habib-seunagan/