Antropologi Indonesia dan sentrisme JawaIndonesian anthropology and Java-centrism
Kritik ini menyoroti bahwa antropologi di Indonesia berkembang dengan menjadikan budaya Jawa sebagai representasi budaya Indonesia, sementara budaya lain diposisikan sebagai ‘budaya daerah’. Sebelum Clifford Geertz, model Snouck Hurgronje tentang Aceh lebih berpengaruh; sesudahnya, teoritisasi bergeser ke Jawa. Antropologi juga diarahkan untuk persatuan dan integrasi bangsa, bukan pengembangan ilmu. Antropologi Aceh tidak dimaksudkan menandingi tradisi itu, melainkan menampilkan kekhasan Aceh yang dapat melahirkan teori sendiri.
This critique points out that anthropology in Indonesia developed by treating Javanese culture as the representative of Indonesian culture, while other cultures were cast as ‘regional cultures’. Before Clifford Geertz, Snouck Hurgronje's model of Aceh was more influential; afterwards, theorising shifted to Java. Anthropology was also steered towards national unity and integration rather than the advancement of knowledge. Acehnese anthropology is not meant to compete with that tradition but to show Aceh's distinctiveness as a basis for theory of its own.
Jejak Aceh dalam antropologi Indonesia dapat ditelusuri melalui beberapa tonggak: dominasi model Snouck Hurgronje sebelum Geertz; masuknya Aceh ke dalam kajian manusia dan kebudayaan Indonesia lewat buku suntingan Koentjaraningrat, yang memuat tulisan Teuku Sjamsuddin tentang kebudayaan Aceh; serta sejumlah penelitian sosial-budaya era 1970-an yang didanai Ford Foundation. Setelah Geertz meneliti agama Jawa di Jawa Timur, proses teoritisasi antropologi di Indonesia cenderung bertolak dari tafsir atas budaya-budaya di Jawa. Snouck dan Geertz bahkan dibaca sejajar: keduanya menghasilkan pengetahuan yang dilapisi kepentingan kekuasaan, Belanda pada masa kolonial dan Amerika Serikat sesudah Perang Dunia Kedua.
Kutipan James Danandjaja memperlihatkan orientasi pragmatis itu: antropologi berguna bagi pembangunan bangsa karena membuat suku-suku bangsa saling mengenal, dan para ahlinya dapat membantu instansi pemerintah dalam soal kesatuan bangsa, integrasi sosial, dan transmigrasi. Akibatnya, kajian non-Jawa tidak dipandang penting bagi pembinaan ilmu antropologi maupun ilmu sosial lainnya.
Posisi Antropologi Aceh di sini bersifat konstruktif. Karena teoritisasi antropologi tentang Aceh sudah dimulai sejak Snouck, terbuka ruang bagi peneliti Aceh untuk melanjutkannya dengan cara pandang baru. Tujuannya bukan konfrontasi dengan antropologi Indonesia, tetapi memperlihatkan keunikan sistem kebudayaan Aceh sehingga, pada tingkat meta-teori, dapat dibangun teori-teori yang berakar di sana.
Aceh's trace in Indonesian anthropology can be followed through several milestones: the dominance of Snouck Hurgronje's model before Geertz; Aceh's inclusion in the study of Indonesian peoples and cultures through the volume edited by Koentjaraningrat, which contains Teuku Sjamsuddin's essay on Acehnese culture; and a body of socio-cultural research in the 1970s funded by the Ford Foundation. After Geertz studied Javanese religion in East Java, anthropological theorising in Indonesia tended to start from interpretations of the cultures of Java. Snouck and Geertz are even read in parallel: both produced knowledge layered with the interests of power — the Dutch in the colonial era and the United States after the Second World War.
A passage from James Danandjaja shows the pragmatic orientation: anthropology is useful for nation-building because it helps ethnic groups know one another, and anthropologists can assist government agencies on national unity, social integration and transmigration. As a result, non-Javanese studies were not regarded as important for building anthropology or the other social sciences.
The stance of Acehnese anthropology here is constructive. Since anthropological theorising about Aceh began with Snouck, there is room for Acehnese researchers to continue it from a new perspective. The aim is not confrontation with Indonesian anthropology, but demonstrating the distinctiveness of Aceh's cultural system so that, at the level of meta-theory, theories rooted there can be built.
Gagasan kunciKey ideas
Jawa sebagai IndonesiaJava as Indonesia
Budaya Jawa dijadikan wakil budaya nasional; yang lain menjadi ‘daerah’.Javanese culture stands for national culture; the rest becomes ‘regional’.
Antropologi untuk integrasiAnthropology for integration
Ilmu ini lebih dipakai untuk persatuan bangsa daripada pengembangan teori.The discipline served national unity more than theory building.
Snouck dan Geertz sejajarSnouck and Geertz in parallel
Keduanya menghasilkan pengetahuan yang terkait kepentingan kekuasaan.Both produced knowledge tied to the interests of power.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apakah mungkin membangun antropologi nasional yang tidak berpusat pada satu budaya tanpa memecah ilmu itu menjadi sekumpulan antropologi daerah?Is it possible to build a national anthropology that is not centred on one culture without fragmenting it into a set of regional anthropologies?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Antropologi Indonesia dan sentrisme Jawa”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/antropologi-indonesia-dan-sentrisme-jawa/