Ketika Jawa dan Aceh berdamai: Pemilukada 2012When Java and Aceh made peace: the 2012 regional election
2005–2012
Pemilukada Aceh 9 April 2012 dibaca sebagai puncak simbolik perdamaian Jawa–Aceh. Sejumlah purnawirawan jenderal yang pernah memimpin operasi militer di Aceh ikut aktif memenangkan Partai Aceh, partai yang lahir dari GAM. Pasangan Zaini Abdullah–Muzakir Manaf menang, melanjutkan kepemimpinan mantan GAM setelah Irwandi Yusuf–Muhammad Nazar. Kemesraan ini menunjukkan bahwa propaganda anti-Jawa mencair ketika kepentingan bertemu, meskipun melukai perasaan korban kekerasan kedua pihak.
Aceh’s regional election of 9 April 2012 is read as the symbolic peak of Java–Aceh reconciliation. Several retired generals who had led military operations in Aceh campaigned actively for Partai Aceh, the party born of GAM. The ticket of Zaini Abdullah and Muzakir Manaf won, continuing the leadership of former GAM figures after Irwandi Yusuf and Muhammad Nazar. This rapprochement shows anti-Javanese propaganda melting away once interests converged, even as it hurt victims of violence on both sides.
Selama lebih dari tiga dekade, propaganda anti-Jawa menjadi garis pemisah antara siapa orang Aceh dan siapa bukan. Bukan orang Aceh berarti orang Indonesia dengan berbagai sebutan, seperti PAI, awak Jakarta, awak pemerintah, atau awak Indonesia; orang Aceh adalah pendukung perjuangan GAM. Setelah perdamaian 2005, garis itu memudar dengan cepat. Elite GAM tidak lagi segan mengaku bagian dari NKRI, rutin bertemu elite Jakarta, dan bahkan menjemput sendiri tamu mereka di Bandara Sultan Iskandar Muda, sesuatu yang dulu hanya mungkin melalui kurir.
Menjelang 9 April 2012, para purnawirawan yang pernah menjalankan operasi militer di Aceh datang untuk membantu pemenangan Partai Aceh. Sebuah foto dua mantan panglima perang yang duduk semeja menjadi simbol rekonsiliasi. Sebelumnya, hubungan erat juga tampak ketika Partai Demokrat meraih suara sangat besar di Aceh pada Pemilu 2009, yang disebut mendekati 90 persen. Pemerintah pusat memberi akses dan bagian kekuasaan, sehingga selama dua periode Aceh dipimpin mantan eksponen GAM, dan hampir semua kabupaten dipimpin tokoh GAM atau kandidat yang didukungnya.
Pembacaan ini menyimpulkan bahwa Jawa dan Aceh bersatu bila kepentingannya sama, seperti juga dalam jaringan ekonomi bawah tanah. Karena itu, anggapan bahwa keduanya selalu bermusuhan dinilai berlebihan. Namun kemesraan elite ini kerap melukai korban kekerasan GAM dan TNI selama operasi militer, yang tidak menjadi bagian dari pembagian kekuasaan.
For more than three decades anti-Javanese propaganda drew the line between who was Acehnese and who was not. Non-Acehnese meant Indonesians under various names, such as PAI, awak Jakarta, awak pemerintah or awak Indonesia; Acehnese were those who supported GAM’s struggle. After the 2005 peace that line faded quickly. GAM elites no longer hesitated to call themselves part of the unitary state, met Jakarta elites routinely and even greeted their guests in person at Sultan Iskandar Muda Airport, where once contact had required couriers.
Ahead of 9 April 2012, retired officers who had conducted military operations in Aceh arrived to help Partai Aceh win. A photograph of two former war commanders sitting at one table became a symbol of reconciliation. Earlier, close ties had already shown when Partai Demokrat won a very large share of the vote in Aceh in the 2009 election, reportedly close to 90 per cent. The central government granted access and a share of power, so that for two terms Aceh was led by former GAM figures, and nearly every district was headed by GAM figures or candidates they backed.
The reading concludes that Java and Aceh unite when their interests coincide, as they did in underground economic networks. The notion that the two are always enemies is therefore judged exaggerated. Yet this elite rapprochement often wounded victims of violence by GAM and the military during the operations, who had no part in the sharing of power.
Gagasan kunciKey ideas
Rekonsiliasi eliteElite reconciliation
Mantan musuh bertemu di panggung kampanye yang sama.Former enemies met on the same campaign stage.
Kepentingan menyatukanInterests unite
Permusuhan etnis mencair ketika kepentingan politik bertemu.Ethnic enmity melts when political interests converge.
Luka korbanVictims’ wounds
Kemesraan elite tidak serta-merta memulihkan korban.Elite rapprochement does not automatically heal victims.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apakah rekonsiliasi elite dapat disebut perdamaian bila korban tidak merasakannya?Can elite reconciliation be called peace if victims do not feel it?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Ketika Jawa dan Aceh berdamai: Pemilukada 2012”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/damai-jawa-aceh-pilkada-2012/