Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Prasasti nisan Minye Tujoh (781 H)The Minye Tujoh tombstone inscription (781 AH)

Nisan di Minye Tujoh, Matang Kuli, Aceh Utara, memuat syair delapan larik berbahasa Melayu kuno bercampur unsur Sanskerta dan Arab yang mencatat wafatnya seorang raja beriman pada hari Jumat 14 Zulhijah 781 H (1380), keturunan Barubasa yang berhak atas Kedah dan Pasai. Prasasti ini adalah salah satu dari sedikit batu bersurat Samudera Pasai yang sudah dibaca dan menjadi bukti penting peralihan budaya tulis dari tradisi Hindu-Buddha ke Islam, meskipun pembacaannya masih memerlukan kajian ulang.

The tombstone at Minye Tujoh, Matang Kuli, North Aceh, bears an eight-line verse in Old Malay mixed with Sanskrit and Arabic elements recording the death of a believing ruler on Friday 14 Dhu al-Hijja 781 AH (1380), a descendant of Barubasa with rights over Kedah and Pasai. It is one of the few Samudera Pasai inscriptions yet read and important evidence of the transition of written culture from the Hindu-Buddhist tradition to Islam, although its reading still needs re-examination.

Wilayah bekas Kerajaan Samudera Pasai di pesisir utara Aceh menyimpan banyak batu bersurat, sebagian besar berupa nisan, yang belum semuanya dibaca para ahli. Salah satu yang sudah dibaca dan paling sering dikutip adalah nisan di Gampong Minye Tujoh, Kecamatan Matang Kuli, Aceh Utara. Prasasti ini menempati kedudukan khusus dalam kajian sejarah Islam di Asia Tenggara karena bahasanya: alih-alih bahasa Arab, yang lazim dipakai pada nisan-nisan Pasai, inskripsi utamanya disusun sebagai syair dalam bahasa Melayu kuno yang sarat kosakata Sanskerta, tetapi isinya sepenuhnya Islami. Ia dengan demikian menjadi saksi tertulis dari sebuah masa peralihan, ketika Islam telah menjadi agama istana tetapi khazanah bahasa dan sastra yang lebih tua masih dipakai untuk mengungkapkannya.

Teks yang dikutip dalam kajian M. Adli Abdullah tentang hubungan Pasai dan Melaka, merujuk Mohammad Said, berbunyi kira-kira: "Hijrat Nabi mungstapa yang prasida, tujuh ratus asta puluh sa warsa, haji catur dan dasa wara sukra, raja iman warda rahmatullah, gutra baru basa mpu hak kadah pase ma, taruk tasik tanah samuha, ilahi ya robbi tuhan samula, taruh dalam warga tuhan tetuha." Delapan larik ini membentuk satu kesatuan: empat larik pertama memuat penanggalan dan identitas almarhum, empat larik terakhir memuat silsilah, wilayah kekuasaan dan doa. Struktur ini menyerupai syair pujian dan doa yang dikenal dalam tradisi prasasti Nusantara, tetapi dengan rujukan pada hijrah Nabi dan rahmat Allah.

Penanggalan pada larik pembuka memperlihatkan perpaduan sistem waktu. Tahun dihitung sejak hijrah Nabi, yang disebut dengan gelar "mungstapa" (Mustafa), tetapi angkanya diungkapkan dengan kosakata Sanskerta: "tujuh ratus asta puluh sa" untuk 781, dan "catur dan dasa" untuk empat belas. Bulan disebut "haji", yaitu bulan Zulhijah, dan hari disebut "wara sukra", hari Jumat menurut penamaan hari dalam tradisi India. Dengan demikian, satu kalimat pendek menyatukan kalender Hijriah, bilangan Sanskerta dan penamaan hari pra-Islam. Menurut tafsiran yang dikutip Mohammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad (1981), yang wafat adalah seorang raja yang beriman, "raja iman warda rahmatullah", pada hari Jumat 14 Zulhijah 781 H, bertepatan dengan tahun 1380.

Larik-larik berikutnya dibaca sebagai keterangan bahwa almarhum adalah keturunan Barubasa, yang dihubungkan dengan Barygaza, pelabuhan kuno di pantai barat India, dan bahwa ia berhak atas Kedah dan Pasai serta kekuasaannya meluas di laut dan darat. Doa penutup memohon kepada Ilahi agar almarhum ditempatkan di sisi Tuhan. Tafsiran ini masih terbuka untuk diperdebatkan, karena kosakata syairnya tua, sebagian kata dapat dipenggal secara berbeda, dan identitas tokoh yang diperingati belum dapat dipastikan dari sumber lain. Kata "gutra", yang dapat dikaitkan dengan gagasan garis keturunan, dan rujukan pada Barubasa membuka kemungkinan bahwa elite Pasai merumuskan asal-usulnya melalui jaringan perdagangan Samudra Hindia, sebuah hipotesis yang memerlukan pengujian lebih lanjut.

Nilai utama prasasti ini terletak pada bahasanya. Uka Tjandrasasmita (1988) menekankan bahwa nisan Minye Tujoh memperlihatkan syair berbahasa Melayu kuno yang bercampur dengan unsur Sanskerta dan Arab: penanggalan dan pujian disusun dengan kosakata Sanskerta, sementara isinya adalah doa dan penanggalan Islam. Karena itu, prasasti ini sering dipakai sebagai bukti bahwa Islam di Pasai tumbuh di atas lapisan budaya tulis yang lebih tua, dan bahwa bahasa Melayu sudah menjadi wahana ekspresi keagamaan Islam pada abad ke-14. Ia juga memperlihatkan bahwa islamisasi tidak berarti penggantian total kosakata: kata-kata seperti warsa, wara dan bilangan Sanskerta tetap dipakai, tetapi diisi makna baru dalam kerangka tauhid.

Prasasti ini perlu ditempatkan dalam kronologi Samudera Pasai yang direkonstruksi dari sumber luar. Ibnu Battutah, yang singgah di Samudera pada abad ke-14, menggambarkan kesalehan dan kerendahan hati sultannya, kemegahan upacara perkawinan putra sultan, serta kota besar yang dikelilingi tembok dan menara kayu. Catatan Cina menyebut bahwa pada 1383 Samudera kembali mengirim utusan ke negeri Cina, dan bahwa sejak itu Pasai tidak keberatan menerima perlindungan Cina; tujuh pelayaran Cheng Ho antara 1405 dan 1433 semakin mempererat hubungan itu, bahkan membantu mengatasi beberapa pemberontakan dalam negeri. Nisan Minye Tujoh, bertarikh 1380, berada tepat di tengah masa ini, ketika Pasai adalah pelabuhan Islam yang makmur dengan jaringan yang menjangkau Arab, India dan Cina.

Penyebutan Kedah di samping Pasai juga menarik bagi sejarah hubungan lintas Selat Melaka, karena menunjukkan bahwa ingatan dinasti di Pasai menjangkau Semenanjung. Kajian M. Adli Abdullah menjadikan nisan-nisan Samudera Pasai, termasuk prasasti ini, sebagai sumber primer yang perlu digali untuk menelusuri hubungan Pasai dengan kawasan lain di Asia Tenggara, khususnya Melaka. Dalam kerangka itu, Pasai dipandang tidak hanya sebagai bandar perdagangan, tetapi juga sebagai pusat dakwah yang memperluas pengaruhnya melalui perdagangan dan ikatan perkawinan, dan prasasti Minye Tujoh menjadi salah satu dari sedikit bukti tertulis setempat bagi klaim tersebut, di samping catatan para pengunjung asing.

Kedudukan prasasti ini juga perlu dibaca dalam garis panjang yang menghubungkan Pasai dengan Aceh Darussalam. Kajian yang sama memandang Pasai, yang didirikan Malik al-Saleh pada abad ke-13, sebagai kerajaan yang hubungannya dengan Melaka berlangsung dinamis dari abad ke-13 hingga ke-16, dan mencatat bahwa sejak 1524 Pasai tampil mewakili Kerajaan Aceh Darussalam dalam hubungan dengan negeri-negeri di Semenanjung. Dengan demikian, warisan tulis Pasai, termasuk nisan Minye Tujoh, merupakan bagian dari khazanah sejarah Aceh sendiri, bukan sekadar pendahulunya yang terpisah. Kesinambungan ini memberi bobot tambahan pada prasasti ini sebagai salah satu titik awal tradisi tulis Islam yang kelak berkembang di Bandar Aceh.

Sebagai sumber, prasasti ini juga mengajarkan kehati-hatian metodologis. Teks yang beredar dalam literatur berbahasa Indonesia sebagian besar merupakan kutipan dari kutipan, dengan ejaan yang tidak seragam ("prasida" atau "parasida", "Minye" atau "Minje"), dan terjemahannya selalu disertai kata "kira-kira". Pembacaan ulang langsung atas batu, dengan dokumentasi fotografis modern dan perbandingan dengan nisan-nisan Pasai lain yang berbahasa Arab, diperlukan sebelum tafsiran tentang silsilah dan wilayah kekuasaan almarhum dapat dijadikan dasar rekonstruksi sejarah politik. Kenyataan bahwa banyak batu bersurat Pasai belum dibaca sama sekali menegaskan bahwa epigrafi masih merupakan salah satu bidang paling terbuka dalam kajian Aceh.

Bagi kajian Aceh, prasasti Minye Tujoh penting dalam tiga hal. Pertama, ia adalah bukti awal pemakaian bahasa Melayu untuk ekspresi keagamaan Islam di wilayah yang kelak menjadi Aceh, mendahului karya-karya Melayu Aceh yang lebih terkenal dari abad ke-16 dan ke-17. Kedua, ia memperlihatkan bahwa islamisasi di Pasai berlangsung melalui penyerapan dan penafsiran ulang tradisi yang lebih tua, bukan pemutusan total. Ketiga, ia menghubungkan Pasai dengan Kedah dan jaringan Samudra Hindia dalam kesadaran dinasti setempat. Persoalan terbuka yang tersisa adalah identitas tokoh yang diperingati, makna penyebutan Kedah dan Barubasa bagi asal-usul dinasti Pasai, dan hubungan prasasti ini dengan nisan-nisan Pasai lain yang belum dibaca.

The territory of the former kingdom of Samudera Pasai on Aceh's north coast holds many inscribed stones, mostly tombstones, not all of which have been read by specialists. One that has been read, and the most often cited, is the tombstone at Gampong Minye Tujoh, Matang Kuli sub-district, North Aceh. The inscription holds a special place in the study of Islam in Southeast Asia because of its language: instead of the Arabic usual on Pasai tombstones, its main text is composed as verse in Old Malay laden with Sanskrit vocabulary, yet its content is wholly Islamic. It is thus a written witness to a period of transition, when Islam had become the religion of the court but older linguistic and literary resources were still used to express it.

The text quoted in M. Adli Abdullah's study of Pasai–Melaka relations, citing Mohammad Said, reads approximately: "Hijrat Nabi mungstapa yang prasida, tujuh ratus asta puluh sa warsa, haji catur dan dasa wara sukra, raja iman warda rahmatullah, gutra baru basa mpu hak kadah pase ma, taruk tasik tanah samuha, ilahi ya robbi tuhan samula, taruh dalam warga tuhan tetuha." The eight lines form a unit: the first four give the date and the identity of the deceased, the last four his lineage, his domains and a prayer. The structure resembles the verse of praise and prayer known in the inscriptional tradition of the archipelago, but with reference to the Prophet's hijra and the mercy of God.

The dating in the opening lines shows a fusion of time systems. The year is reckoned from the hijra of the Prophet, called by the epithet "mungstapa" (Mustafa), but its numerals are expressed in Sanskrit vocabulary: "tujuh ratus asta puluh sa" for 781 and "catur dan dasa" for fourteen. The month is called "haji", that is, Dhu al-Hijja, and the day "wara sukra", Friday in the Indian naming of days. A single short sentence thus unites the Hijri calendar, Sanskrit numerals and pre-Islamic day names. According to the interpretation cited by Mohammad Said in Aceh Sepanjang Abad (1981), the deceased was a believing ruler, "raja iman warda rahmatullah", who died on Friday 14 Dhu al-Hijja 781 AH, corresponding to 1380.

The following lines are read as stating that the deceased was a descendant of Barubasa, linked to Barygaza, the ancient port on India's west coast, and that he held rights over Kedah and Pasai and that his power extended over sea and land. The closing prayer asks God to place the deceased in His presence. This interpretation remains open to debate, since the vocabulary of the verse is archaic, some words can be divided differently, and the identity of the person commemorated cannot yet be confirmed from other sources. The word "gutra", which can be linked to the idea of lineage, and the reference to Barubasa raise the possibility that the Pasai elite framed its origins through Indian Ocean trading networks, a hypothesis that needs further testing.

The inscription's main value lies in its language. Uka Tjandrasasmita (1988) stresses that the Minye Tujoh tombstone shows Old Malay verse mixed with Sanskrit and Arabic elements: dating and praise are composed in Sanskrit vocabulary, while the content is Islamic prayer and dating. The inscription is therefore often used as evidence that Islam in Pasai grew on top of an older written culture, and that Malay was already a vehicle of Islamic religious expression in the fourteenth century. It also shows that Islamisation did not mean wholesale replacement of vocabulary: words such as warsa, wara and the Sanskrit numerals remained in use but were filled with new meaning within the framework of tawhid.

The inscription should be placed within the chronology of Samudera Pasai reconstructed from outside sources. Ibn Battuta, who stopped at Samudera in the fourteenth century, described the piety and humility of its sultan, the splendour of the wedding of the sultan's son, and a large city surrounded by wooden walls and towers. Chinese records state that in 1383 Samudera again sent envoys to China, and that thereafter Pasai did not object to Chinese protection; Zheng He's seven voyages between 1405 and 1433 further strengthened the relationship and even helped put down several internal rebellions. The Minye Tujoh tombstone, dated 1380, sits squarely in this period, when Pasai was a prosperous Islamic port with networks reaching Arabia, India and China.

The mention of Kedah alongside Pasai is also of interest for the history of relations across the Strait of Malacca, since it shows that dynastic memory in Pasai reached the Peninsula. M. Adli Abdullah's study treats the tombstones of Samudera Pasai, including this inscription, as primary sources to be explored in tracing Pasai's relations with other parts of Southeast Asia, especially Melaka. In that framework Pasai is seen not only as a trading port but also as a centre of Islamic propagation that extended its influence through trade and marriage ties, and the Minye Tujoh inscription is one of the few local written witnesses to that claim, alongside the accounts of foreign visitors.

The inscription's place should also be read along the long line connecting Pasai with Aceh Darussalam. The same study sees Pasai, founded by Malik al-Saleh in the thirteenth century, as a kingdom whose relations with Melaka were dynamic from the thirteenth to the sixteenth century, and notes that from 1524 Pasai represented the kingdom of Aceh Darussalam in its dealings with the lands of the Peninsula. The written heritage of Pasai, including the Minye Tujoh tombstone, is thus part of Aceh's own historical patrimony, not merely a separate predecessor. This continuity gives the inscription added weight as one of the starting points of the Islamic written tradition that would later flourish at Bandar Aceh.

As a source the inscription also teaches methodological caution. The text circulating in Indonesian-language literature is largely a quotation of quotations, with inconsistent spellings ("prasida" or "parasida", "Minye" or "Minje"), and its translation is always qualified as "approximate". A direct re-reading of the stone, with modern photographic documentation and comparison with other Arabic-language Pasai tombstones, is needed before interpretations of the deceased's lineage and domains can serve as a basis for reconstructing political history. The fact that many Pasai inscriptions have not been read at all confirms that epigraphy remains one of the most open fields in Aceh studies.

For Aceh studies the Minye Tujoh inscription matters in three ways. First, it is early evidence of the use of Malay for Islamic religious expression in the region that would become Aceh, preceding the better-known Malay works of sixteenth- and seventeenth-century Aceh. Second, it shows that Islamisation in Pasai proceeded through the absorption and reinterpretation of older traditions rather than a complete break. Third, it links Pasai with Kedah and Indian Ocean networks in local dynastic consciousness. Open questions remain: the identity of the person commemorated, the meaning of the references to Kedah and Barubasa for the origins of the Pasai dynasty, and the relationship of this inscription to other Pasai tombstones still unread.

Gagasan kunciKey ideas

Islam dalam bahasa lamaIslam in an old language

Doa dan penanggalan Islam diungkapkan dengan kosakata Melayu kuno dan Sanskerta.Islamic prayer and dating are expressed in Old Malay and Sanskrit vocabulary.

Tiga sistem waktuThree time systems

Satu larik memadukan tahun Hijriah, bilangan Sanskerta dan nama hari India.A single line combines the Hijri year, Sanskrit numerals and an Indian day name.

Pasai dan KedahPasai and Kedah

Penyebutan Kedah menunjukkan jangkauan ingatan dinasti Pasai ke Semenanjung.The mention of Kedah shows the reach of Pasai's dynastic memory to the Peninsula.

Tafsiran yang terbukaAn open reading

Identitas almarhum dan makna Barubasa belum dapat dipastikan.The identity of the deceased and the meaning of Barubasa cannot yet be confirmed.

Epigrafi yang belum selesaiUnfinished epigraphy

Banyak batu bersurat Pasai belum dibaca dan memerlukan pembacaan langsung.Many Pasai inscriptions remain unread and need direct examination.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Siapakah tokoh yang diperingati nisan Minye Tujoh, dan apa arti penyebutan Kedah serta Barubasa bagi pemahaman asal-usul dinasti Pasai?Who is commemorated by the Minye Tujoh tombstone, and what does the mention of Kedah and Barubasa mean for our understanding of the origins of the Pasai dynasty?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Prasasti nisan Minye Tujoh (781 H)”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/prasasti-minye-tujoh/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →