Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Batu Aceh: nisan Islam dari Pasai dan AcehBatu Aceh: Islamic gravestones from Pasai and Aceh

Abad ke-13–1913th–19th centuries

Batu Aceh adalah sebutan bagi jenis batu nisan Islam yang dibuat di Pasai dan Aceh sekurang-kurangnya sejak akhir abad ke-13 dan dipakai pada makam raja-raja Muslim hingga abad ke-19. Ia tersebar ke Semenanjung Melayu dan menjadi salah satu bukti terpenting tentang jaringan politik, agama, dan seni Islam di dunia Melayu.

Batu Aceh is the name for a type of Islamic gravestone made in Pasai and Aceh from at least the late thirteenth century and used on the tombs of Muslim rulers until the nineteenth. It spread to the Malay Peninsula and is among the most important evidence for the political, religious and artistic networks of Islam in the Malay world.

Contoh tertua yang bertarikh adalah nisan Sultan Malik al-Salih di Pasai, yang mangkat pada 696 H/1297 dan dimakamkan di Kampung Meunasah Beringin, Geudong, Lhokseumawe. Menurut Othman Mohd Yatim, batu Aceh dibuat dari jenis batu setempat yang berwarna kelabu agak kemerahan, banyak dijumpai di sepanjang jalan dari Banda Aceh ke pantai Tanjung Batu. Ukirannya memadukan khat, ragam hias, dan petikan teks, sehingga ia sekaligus dokumen sejarah dan karya seni.

Tidak semua makam penting di Pasai memakai batu Aceh. Nisan Sultan Malik al-Zahir (726 H/1326), di sisi makam kakeknya, dibuat dari granit keras yang sedikit ukirannya. Penjelasannya masih terbuka: kesulitan memperoleh batu Aceh, hubungan yang kurang baik dengan kerajaan di Aceh Besar, atau pengaruh ulama Persia dan Gujarat. Beberapa makam lain di Pasai, seperti makam Ratu Nahrisyah, memakai pualam putih yang diduga dipesan dari Gujarat atau Persia, mirip makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik.

Penyebaran batu Aceh ke Semenanjung Melayu menandai jaringan kerajaan. Contoh bertarikh tertua di sana adalah nisan Sultan Muhammad Syah dari Pahang (1475) di Dusun Pinang. Yatim mencatat 213 pasang batu Aceh di Semenanjung, 109 di antaranya bertulisan. Ketiadaan contoh yang lebih tua di Melaka mungkin disebabkan perusakan makam diraja Melaka oleh Portugis, yang memakai batunya untuk membangun benteng. Pada sebagian batu, bentuk bagian atas dipakai sebagai penanda jenis kelamin orang yang dimakamkan.

Bagi studi Aceh, batu Aceh menunjukkan bahwa Aceh bukan hanya penerima pengaruh, tetapi juga pengekspor bentuk budaya. Warisan ini kini terancam: banyak nisan di Aceh rusak, patah, atau terbenam tanpa pernah diteliti, sehingga dokumentasi dan pelestarian menjadi kerja yang mendesak.

The oldest dated example is the gravestone of Sultan Malik al-Salih of Pasai, who died in 696 AH/1297 and is buried at Kampung Meunasah Beringin, Geudong, Lhokseumawe. According to Othman Mohd Yatim, batu Aceh were cut from a local stone of a reddish-grey colour, found widely along the road from Banda Aceh to the Tanjung Batu coast. Their carving combines calligraphy, ornament and quoted texts, so that each is both a historical document and a work of art.

Not every important tomb at Pasai uses batu Aceh. The gravestone of Sultan Malik al-Zahir (726 AH/1326), beside his grandfather’s tomb, is of hard granite with little carving. The explanation remains open: difficulty in obtaining batu Aceh, poor relations with the kingdom in Aceh Besar, or the influence of Persian and Gujarati scholars. Several other Pasai tombs, such as that of Queen Nahrisyah, use white marble thought to have been ordered from Gujarat or Persia, resembling the tomb of Maulana Malik Ibrahim at Gresik.

The spread of batu Aceh to the Malay Peninsula marks royal networks. The oldest dated example there is the gravestone of Sultan Muhammad Syah of Pahang (1475) at Dusun Pinang. Yatim recorded 213 pairs of batu Aceh on the Peninsula, 109 of them inscribed. The absence of older examples at Melaka may be due to the destruction of the Melaka royal tombs by the Portuguese, who used their stones to build a fort. On some stones the shape of the top marks the sex of the person buried.

For Aceh studies, the batu Aceh show that Aceh was not only a recipient of influence but also an exporter of cultural forms. The heritage is now endangered: many gravestones in Aceh are damaged, broken or buried without ever having been studied, so documentation and preservation are urgent tasks.

Gagasan kunciKey ideas

Dokumen dan karya seniDocument and artwork

Setiap nisan menyimpan nama, tarikh, teks, dan ragam hias.Each gravestone holds a name, a date, texts and ornament.

Aceh sebagai pengeksporAceh as exporter

Batu Aceh menyebar ke Semenanjung Melayu.Batu Aceh spread to the Malay Peninsula.

Warisan yang terancamAn endangered heritage

Banyak nisan rusak sebelum sempat diteliti.Many gravestones decay before being studied.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana nisan yang tersebar dari Aceh ke Semenanjung dapat dipakai untuk menulis ulang peta politik dunia Melayu?How can gravestones spread from Aceh to the Peninsula be used to redraw the political map of the Malay world?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Batu Aceh: nisan Islam dari Pasai dan Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/batu-aceh/