Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

BidangField 11

Masyarakat, Identitas & DiasporaSociety, Identity & Diaspora

Keragaman suku seperti Gayo, perempuan dan perubahan sosial, kosmopolitanisme, serta diaspora Aceh di Pulau Pinang dan Tanah Melayu.Ethnic diversity such as the Gayo, women and social change, cosmopolitanism, and the Acehnese diaspora in Penang and the Malay Peninsula.

11.1 Aceh dan Jawa: studi perbandinganAceh and Java: a comparative study

KonsepConcept Aceh dan Jawa sebagai cermin timbal balikAceh and Java as mutual mirrors Perbandingan Aceh dan Jawa berangkat dari pengamatan bahwa kedua suku bangsa ini telah berhubungan selama lebih dari seribu tahun, tetapi pandangan dunia keduanya jarang ditimbang berdampingan. Hubungan itu lazim digambarkan…The comparison of Aceh and Java starts from the observation that the two peoples have been in contact for more than a millennium, yet their worldviews have rarely been weighed… KonsepConcept Aceh Pungo dan Wong EdhanAceh Pungo and Wong Edhan Aceh Pungo, ‘Aceh gila’, adalah julukan kolonial bagi pejuang Aceh yang menyerang tanpa mempedulikan keselamatan diri demi mati syahid. Kegilaan ini dipahami sebagai pergeseran cara pandang: bayangan anak, istri, harta,…Aceh Pungo, 'mad Aceh', was the colonial label for Acehnese fighters who attacked heedless of their own safety for the sake of martyrdom. This madness is understood as a shift… KonsepConcept Acehnisasi dan Jawanisasi: menjadi Aceh, menjadi JawaAcehnisation and Javanisation: becoming Acehnese, becoming Javanese Merantau ke Jawa selama puluhan tahun menghasilkan perkawinan campur yang mengubah kampung-kampung di pesisir Aceh. Perempuan Jawa yang menikah dengan perantau Aceh dan menetap di kampung suaminya mengalami proses menjadi…Decades of migration to Java produced intermarriages that changed villages on the Acehnese coast. Javanese women who married Acehnese migrants and settled in their husbands' villages underwent a process of… KonsepConcept Bangai: kebodohan dan etos menuntut ilmuBangai: ignorance and the ethos of learning Bangai adalah kata Aceh untuk ‘bodoh’, lazim dalam canda tetapi peka bila diarahkan kepada kaum. Ketakutan anak menjadi aneuk bangai mendorong orang tua mengirim anak mengaji, bersekolah, dan meudagang ke…Bangai is the Acehnese word for 'stupid', common in banter but sensitive when aimed at a whole kin group. Fear of a child becoming an aneuk bangai drives parents to… KonsepConcept Dunia Aceh dan Dunia Jawa: kosmologi keselarasanThe Acehnese and Javanese worlds: cosmologies of harmony Baik orang Aceh maupun orang Jawa memandang hidup sebagai upaya menjaga keselarasan antara manusia dan alam, antara lahir dan batin. Di Jawa keselarasan itu dijaga melalui hierarki rohaniawan, raja, dan…Both the Acehnese and the Javanese see life as an effort to keep harmony between humans and nature, between the outer and the inner. In Java this harmony is kept… KelompokCommunity Ganja sebagai “perekat” Aceh dan JawaCannabis as the ‘glue’ between Aceh and Java Pengamatan etnografis tentang perantau muda Aceh di Jawa menunjukkan bahwa jaringan perdagangan ganja ilegal dari Aceh ke Jawa hingga Bali mempertemukan orang Aceh dan Jawa justru ketika kedua kelompok berhadapan…Ethnographic observation of young Acehnese migrants in Java shows that illegal cannabis networks running from Aceh through Java to Bali brought Acehnese and Javanese together even as the two faced… KelompokCommunity Harlan dan tradisi teumeutakHarlan and the teumeutak tradition Harlan adalah sebutan Aceh bagi preman, terutama yang menguasai terminal sebagai agen bus. Mereka terorganisasi, berjejaring dengan aparat, dan sebagian memiliki ilmu kebal. Bentuk penyelesaian sengketa paling ekstrem di dunia…Harlan is the Acehnese term for thugs, especially those controlling bus terminals as ticket agents. They are organised, connected to security officers, and some possess invulnerability magic. The most extreme… KonsepConcept Kebatinan-tasawuf dan kebatinan-KejawenSufi mysticism and Kejawen mysticism Perbandingan ini membedakan dua pola kebatinan: di Aceh kebatinan identik dengan tasawuf, sedangkan di Jawa dengan Kejawen yang berakar pada ajaran Hindu-Buddha. Pada abad ke-16 dan 17, tasawuf menjadi pagar…This comparison distinguishes two patterns of mysticism: in Aceh mysticism is identified with Sufism, in Java with Kejawen rooted in Hindu-Buddhist teaching. In the 16th and 17th centuries Sufism served… NaskahText Kisah Siyung Wanara dalam Babad Tanah JawiThe tale of Siyung Wanara in the Babad Tanah Jawi Kisah Siyung Wanara dalam Babad Tanah Jawi menceritakan seorang raja Pajajaran yang membunuh pertapa peramal, lalu ditimpa ramalan bahwa ia akan dijatuhkan oleh putranya sendiri. Dalam perbandingan Aceh–Jawa, kisah ini…The Siyung Wanara episode in the Babad Tanah Jawi tells of a Pajajaran king who kills a seer-hermit and is then overtaken by a prophecy that his own son will… TempatPlace Krueng Mane: kampung reformis dan perantauKrueng Mane: a reformist and migrant village Krueng Mane adalah gugus desa di pesisir Aceh Utara, di tepi jalan Medan–Banda Aceh, sekitar 20 km di barat Lhokseumawe. Kampung ini dikenal sebagai basis ‘kelompok Sunnah’ yang dekat dengan…Krueng Mane is a cluster of villages on the North Aceh coast, beside the Medan–Banda Aceh road, about 20 km west of Lhokseumawe. It is known as a base of… KonsepConcept Menjadi Aceh adalah menjadi MuslimBeing Acehnese means being Muslim Dalam perbandingan Aceh–Jawa, identitas Aceh dipahami melekat pada Islam: menjadi Aceh (being Acehnese) berarti menjadi Muslim, sehingga sebutan “Aceh-Islam” tidak pernah diperlukan. Sebaliknya, tidak setiap orang Jawa beragama Islam dan…In the Aceh–Java comparison, Acehnese identity is understood as inseparable from Islam: being Acehnese means being Muslim, so the label ‘Acehnese-Muslim’ is never needed. By contrast, not every Javanese is… KonsepConcept Merumuskan keindonesiaan dari perbandingan Jawa dan AcehDefining Indonesianness through the Java–Aceh comparison Perbandingan Jawa dan Aceh berujung pada tesis bahwa keindonesiaan dibentuk oleh pertarungan spirit, di mana Jawa menjadi poros negara sedangkan Aceh memberi garis demarkasi sejarah kebangsaan. Islam dicatat pernah menjadi…The Java–Aceh comparison culminates in the thesis that Indonesianness was shaped by a contest of spirits, in which Java became the axis of the state while Aceh supplied the demarcation… KonsepConcept PAI (Penghancur Agama Islam): label musuh dalam konflik AcehPAI (‘Destroyers of Islam’): an enemy label in the Aceh conflict PAI, yang dipahami sebagai singkatan Penghancur Agama Islam, adalah label populer di Aceh semasa konflik untuk tentara yang dianggap melakukan kejahatan atas nama NKRI, terutama yang didatangkan dari Jawa. Label…PAI, understood as an acronym for Penghancur Agama Islam (‘Destroyers of Islam’), was a popular label in Aceh during the conflict for soldiers seen as committing crimes in the name… KonsepConcept Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan kosmologi Hindu-JawaPancasila, Bhinneka Tunggal Ika and Hindu-Javanese cosmology Tafsir kritis dari perspektif Aceh berpendapat bahwa identitas kebangsaan Indonesia banyak diilhami ajaran Hindu dan Buddha yang dihayati dalam kebudayaan Jawa. Bukti yang diajukan antara lain semboyan Bhinneka Tunggal Ika…A critical reading from Aceh argues that Indonesian national identity draws heavily on Hindu and Buddhist teachings as lived in Javanese culture. The evidence offered includes the motto Bhinneka Tunggal… KonsepConcept Pertarungan spirit kebangsaan dan metafora kereta JawaThe contest of national spirits and the Javanese carriage metaphor Indonesia digambarkan sebagai arena pertarungan spirit: Islam muncul dari luar sebagai kekuatan perlawanan, Hindu bertahan dari dalam sebagai jiwa kebatinan, sementara spirit Kristen dan Yahudi membentuk lingkaran terluar setelah Perang…Indonesia is portrayed as an arena of contending spirits: Islam emerging from outside as a force of resistance, Hinduism enduring within as the soul of mysticism, while Christian and Jewish… KonsepConcept Saman dan Campur Sari: batas penerimaan budayaSaman and Campur Sari: the limits of cultural borrowing Ketika tari Saman digemari di sekolah-sekolah Jawa dan Jakarta, orang Aceh menyambutnya sebagai kebanggaan, tetapi tidak membalas dengan mempelajari tari atau lagu Jawa. Pada masa ketegangan, siaran ketoprak dan lagu…When the Saman dance became popular in schools in Java and Jakarta, the Acehnese welcomed it with pride but did not reciprocate by learning Javanese dances or songs. In times… KonsepConcept Satrio Piningit, Ratu Adil, dan hidup dengan ramalanSatrio Piningit, Ratu Adil and living by prophecy Satrio Piningit (kesatria tersembunyi) dan Ratu Adil (raja adil) merupakan figur penyelamat dalam tradisi ramalan Jawa yang diyakini muncul setelah masa kemelut. Tafsir perbandingan Aceh–Jawa membaca kedua figur ini sebagai…Satrio Piningit (the hidden knight) and Ratu Adil (the Just King) are saviour figures of Javanese prophetic tradition, expected to appear after an age of turmoil. A comparative Aceh–Java reading… KonsepConcept Stereotip timbal balik: ‘Jawa’ di mata AcehMutual stereotypes: 'Java' in Acehnese eyes Dalam imajinasi Aceh, ‘Jawa’ sering melambangkan negara Indonesia sekaligus penakluk. Citra ini dibentuk oleh keterlibatan serdadu asal Jawa–Madura dalam tentara kolonial, pemberontakan daerah tahun 1950-an, transmigrasi Orde Baru, dan konflik…In the Acehnese imagination 'Java' often stands for the Indonesian state and for a conqueror. The image was shaped by Javanese–Madurese soldiers in the colonial army, the regional rebellions of… KonsepConcept Teori wayang dalam konflik AcehThe wayang theory of the Aceh conflict Teori wayang adalah tafsir yang membaca konflik Aceh melalui struktur pertunjukan wayang kulit Jawa: pengondisian masalah, puncak huru-hara (gara-gara), lalu penyelesaian dan pemulihan keseimbangan. Dalang mengendalikan seluruh lakon, tetapi tetap…The wayang theory reads the Aceh conflict through the structure of a Javanese shadow-puppet performance: setting up the problem, a climax of turmoil (gara-gara), then resolution and the restoration of… KonsepConcept Tujuh tipologi orang IndonesiaSeven typologies of the Indonesian Dari perbandingan Jawa dan Aceh disusun tujuh rumusan provokatif tentang siapa orang Indonesia. Rumusan itu mencakup pemahaman atas kosmologi Jawa sebagai sendi negara, orientasi mempertahankan ketimbang mengisi kemerdekaan, lintasan desa–kota–desa,…From the Java–Aceh comparison come seven provocative propositions about who the Indonesian is. They include understanding Javanese cosmology as the state’s foundation, an orientation to defending rather than filling independence,…

11.2 Aceh, dunia Melayu & Pulau PinangAceh, the Malay world & Penang

KonsepConcept Aceh dan pembentukan identitas MelayuAceh and the making of Malay identity Tesis ini berpendapat bahwa Aceh bukan Melayu, tetapi berperan besar dalam membentuk identitas Melayu. Peran itu berlangsung dalam beberapa fase: Pasai mengislamkan Melaka, Aceh Darussalam mempertahankan Semenanjung dari Portugis, ulama…This thesis holds that Aceh is not Malay yet played a major role in shaping Malay identity. That role unfolded in phases: Pasai Islamised Melaka, Aceh Darussalam defended the Peninsula… KonsepConcept Falsafah Melayu dan AcehMalay and Acehnese philosophies of life Kajian ini membandingkan falsafah hidup dua masyarakat yang bertaut dalam budaya, bahasa, sejarah, dan Islam, tanpa menyamakan keduanya. Bahasa Aceh berakar pada rumpun Cham, tetapi tradisi intelektual Aceh klasik ditulis…This study compares the philosophies of life of two societies bound by culture, language, history and Islam, without equating them. Acehnese belongs to the Chamic language group, yet Aceh's classical… TempatPlace Pulau Pinang sebagai ‘Jeddah Kedua’Penang as the ‘Second Jeddah’ Pulau Pinang adalah gerbang utama orang Aceh menuju dunia luar: pelabuhan dagang, tempat lobi politik, dan titik transit haji. Kehadiran orang Aceh di pulau ini disebut telah ada sejak 1696,…Penang was the Acehnese gateway to the wider world: a trading port, a place for political lobbying and a transit point for the hajj. Acehnese presence on the island is… TokohFigure Seyyed Hussain al-Aidid dan Lebuh AcehSeyyed Hussain al-Aidid and Acheen Street Seyyed Teungku Hussain al-Aidid adalah wakil kerabat diraja Aceh yang tiba di Pulau Pinang pada 1792 dan diberi keleluasaan oleh Francis Light. Ia dipandang sebagai penggerak utama berdirinya Kampung Melayu…Seyyed Teungku Hussain al-Aidid was a representative of the Acehnese royal circle who reached Penang in 1792 and was given latitude by Francis Light. He is regarded as the prime…

11.3 Asal-usul & kategori sukuOrigins & clan categories

11.4 Budaya, agama & kosmopolitanismeCulture, religion & cosmopolitanism

11.5 Diaspora Aceh kontemporer di MalaysiaContemporary Acehnese diaspora in Malaysia

11.6 Identitas Gayo dan ke-Aceh-anGayo identity and Acehneseness

11.7 Pendidikan luar negeri & mobilitas intelektualOverseas education & intellectual mobility

KelompokCommunity Alumni luar negeri di AcehForeign-educated graduates in Aceh Menuntut ilmu ke luar negeri adalah tradisi lama dan bergengsi dalam masyarakat Aceh, berakar pada perjalanan ulama ke Haramayn. Keberangkatan seorang anak ke Timur Tengah lazim disertai syukuran keluarga. Namun…Studying abroad is an old and prestigious tradition in Acehnese society, rooted in scholars' journeys to the Haramayn. A child's departure for the Middle East is commonly marked by a… KonsepConcept Beasiswa luar negeri sebagai rekayasa sosialForeign scholarships as social engineering Konsep ini membaca beasiswa negara donor sebagai instrumen untuk mengubah masyarakat penerima dari dalam. Penerima dipilih karena potensinya memengaruhi masyarakat, bukan semata karena kecerdasannya. Setelah pulang, mereka dirangkul melalui jejaring,…This concept reads donor-country scholarships as instruments for changing recipient societies from within. Recipients are chosen for their potential to influence society, not merely for their intelligence. After returning, they… KonsepConcept Generasi sarjana 1970-an dan ‘sarjana via-TOEFL’The 1970s generation and the ‘TOEFL-route scholars’ Perbandingan ini mengontraskan dua generasi intelektual Aceh. Generasi 1970-an, yang sebagian besar tidak pernah belajar di luar negeri, sangat produktif menulis dan karyanya dibaca di kawasan Melayu. Generasi berikutnya, yang…This comparison contrasts two generations of Acehnese intellectuals. The 1970s generation, most of whom never studied abroad, wrote prolifically and were read across the Malay world. The following generation, sent… LembagaInstitution Komisi Beasiswa Aceh (KBA)Aceh Scholarship Commission (KBA) Komisi Beasiswa Aceh adalah lembaga pemerintah daerah yang dibentuk pada masa pemerintahan Irwandi untuk membiayai studi lanjut orang Aceh di dalam dan luar negeri. Lembaga ini lahir dalam semangat rekayasa…The Aceh Scholarship Commission is a provincial government body established under Governor Irwandi to fund Acehnese students at home and abroad. It was born of an ambition to engineer human… KonsepConcept Perebutan fungsi intelektual: alumni Timur Tengah, IAIN, dan dayahContesting intellectual roles: Middle East, IAIN and dayah graduates Perbedaan sistem rekrutmen dan pendidikan melahirkan persaingan peran di antara alumni Timur Tengah, alumni IAIN, dan alumni dayah di Aceh. Alumni Timur Tengah dekat dengan rakyat kecil dan dianggap mampu…Differences in recruitment and education have produced competition for roles among Middle Eastern graduates, IAIN graduates and dayah graduates in Aceh. Middle Eastern alumni are close to ordinary people and…

11.8 Perempuan & perubahan sosialWomen & social change

KelompokCommunity Inong bale: janda di kampung AcehInong bale: widows in Acehnese villages Inong bale adalah sebutan Aceh bagi janda, khususnya yang ditinggal mati suaminya. Di banyak kampung, mereka menjadi ibu sekaligus ayah, berhasil mendidik anak hingga perguruan tinggi, dan jarang menikah lagi.…Inong bale is the Acehnese term for widows, especially women whose husbands have died. In many villages they serve as both mother and father, often educating their children through university,… TradisiTradition Kerja perempuan di kampung dan tradisi meurupVillage women's labour and the meurup tradition Di kampung-kampung Aceh, perempuan memikul bagian terbesar kerja sawah, dari menanam hingga panen, di samping pekerjaan rumah dan dapur kenduri. Tradisi meurup, yakni membayar bantuan kerja dengan tenaga, menambah beban…In Acehnese villages women carry the greater share of rice-field work, from planting to harvest, alongside housework and cooking for communal feasts. The meurup tradition, repaying labour assistance with labour… KonsepConcept Perempuan Aceh di ruang publikAcehnese women in the public sphere Dalam dua dasawarsa terakhir, perempuan Aceh bergerak dari dapur dan belakang rumah ke pinggir jalan, ruang kerja berpendingin udara, hingga ke pinggir kekuasaan. Perempuan kini mendominasi banyak sektor jasa, pendidikan…Over the past two decades, Acehnese women have moved from the kitchen and the back of the house to the roadside, to air-conditioned workplaces and to the margins of power.…

11.9 Perubahan sosial pascakonflik & pascatsunamiPost-conflict & post-tsunami social change

11.10 Spirit, simbol & kosmologi budaya AcehSpirit, symbol & Acehnese cultural cosmology

KonsepConcept ACEH: Arab, Cina, Eropa, HindiaACEH: Arab, China, Europe, India Orang Aceh kerap memaknai nama ACEH sebagai singkatan Arab, Cina, Eropa, dan Hindia, penanda empat budaya besar dunia yang berbaur selama berabad-abad. Tafsir rakyat ini juga mengandaikan jejak empat agama:…Acehnese often read the name ACEH as an acronym for Arab, China (Cina), Europe (Eropa) and India (Hindia), marking four great world cultures blended over centuries. The folk etymology also… KonsepConcept Arabisasi, Islam sebagai produk kebudayaan, dan membaca budaya AcehArabisation, Islam as cultural product, and reading Acehnese culture Pendekatan ini membedakan Islam sebagai produk teologi yang normatif-deduktif dari Islam sebagai produk kebudayaan hasil penalaran manusia di Timur Tengah yang sampai ke Aceh. Dengan bantuan teori agama dan budaya,…This approach distinguishes Islam as a normative-deductive theological product from Islam as a cultural product, the fruit of human reasoning in the Middle East that reached Aceh. Drawing on theories… KonsepConcept Droe keu droe: dari diri sendiri ke diri sendiriDroe keu droe: from the self to the self Prinsip epistemik yang diusulkan sebagai arah baru studi Aceh: pengetahuan tentang Aceh harus dibangun dari sejarah pemikiran masyarakat Aceh sendiri dan kembali kepada pemahaman diri orang Aceh. Prinsip ini memuat…An epistemic principle proposed as a new direction for Aceh studies: knowledge about Aceh should be built from the history of Acehnese thought itself and lead back to Acehnese self-understanding.… KonsepConcept Falsafah sua (suloh): obor ilmu yang tak dibawa pulangThe philosophy of sua (suloh): a torch of learning never brought home Sua adalah obor dari ikatan daun kelapa kering yang dipakai orang kampung Aceh untuk berjalan malam, lalu dipadamkan dan ditinggalkan setelah sampai tujuan. Benda sederhana ini dijadikan metafora bagi peran…A sua is a torch of bundled dry coconut leaves that Acehnese villagers carried on night journeys and then extinguished and left behind on arrival. This humble object becomes a… KonsepConcept Ingat, seimbang, syukur: falsafah tindakan budaya AcehRemember, balance, give thanks: the Acehnese philosophy of cultural action Bagi mereka yang telah mengenal diri, tindakan budaya Aceh berpijak pada tiga falsafah: ingat, seimbang, dan syukur. ‘Ingat’ diwujudkan dalam haba peuingat, ‘seimbang’ dalam timang dan logika meunyoe, sedangkan ‘syukur’…For those who know themselves, Acehnese cultural action rests on three philosophies: remembrance, balance and gratitude. 'Remembrance' is expressed in haba peuingat (words of reminder), 'balance' in timang and the… KonsepConcept Kerak peradaban Aceh: tiga spirit Islam, budaya, dan ilmuThe bedrock of Acehnese civilisation: the three spirits of Islam, culture and knowledge Gagasan ini menempatkan inti peradaban Aceh pada perpaduan tiga spirit: keislaman, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Perpaduan itulah, bukan romantisme kejayaan masa lalu, yang dipandang membentuk jati diri ke-Aceh-an. Setelah abad…This idea locates the core of Acehnese civilisation in the fusion of three spirits: Islam, culture and knowledge. It is this fusion, rather than nostalgia for past glory, that is… KonsepConcept Meudagang dan meukat: merantau mencari ilmu dan berniagaMeudagang and meukat: travelling for knowledge and for trade Bahasa Aceh membedakan meudagang, yakni keluar dari rumah atau lingkungan kawom untuk mencari ilmu, dari meukat atau hareukat, yaitu kegiatan berdagang. Meudagang senafas dengan konsep ibn sabil dan berujung pada…Acehnese distinguishes meudagang, leaving home or one’s kin group (kawom) in search of knowledge, from meukat or hareukat, the activity of trading. Meudagang shares the spirit of the ibn sabil… KonsepConcept Spirit ke-Aceh-an: poros istana dan poros ulamaThe Acehnese spirit: the palace axis and the ulama axis Spirit ke-Aceh-an dipahami sebagai daya batin yang menyinergikan nilai perjuangan dan kebudayaan, bertumpu pada dua poros: istana (sultan) dan ulama (dayah). Spirit ini terlihat ketika Hikayat Prang Sabi membakar perlawanan…The Acehnese spirit is understood as an inner force that fuses the values of struggle and culture, resting on two axes: the palace (sultan) and the ulama (dayah). It was… KonsepConcept Turi droe: mengenal diri sebagai syarat kebudayaanTuri droe: self-knowledge as the precondition of culture Turi droe (kenali diri) dipandang sebagai prasyarat bagi orang Aceh untuk menjadi pencipta kebudayaan. Kerangkanya bertumpu pada tiga konsep: ‘saya’ (lon), keberadaan (na), dan tindakan. Pengenalan diri dikaitkan dengan pendalaman…Turi droe ('know yourself') is regarded as the precondition for Acehnese people to become creators of culture. The framework rests on three concepts: the 'I' (lon), being (na) and action.…