TemaTheme · Masyarakat, Identitas & DiasporaSociety, Identity & Diaspora
Spirit, simbol & kosmologi budaya AcehSpirit, symbol & Acehnese cultural cosmology
KonsepConcept ACEH: Arab, Cina, Eropa, HindiaACEH: Arab, China, Europe, India
Orang Aceh kerap memaknai nama ACEH sebagai singkatan Arab, Cina, Eropa, dan Hindia, penanda empat budaya besar dunia yang berbaur selama berabad-abad. Tafsir rakyat ini juga mengandaikan jejak empat agama:…Acehnese often read the name ACEH as an acronym for Arab, China (Cina), Europe (Eropa) and India (Hindia), marking four great world cultures blended over centuries. The folk etymology also…
KonsepConcept Arabisasi, Islam sebagai produk kebudayaan, dan membaca budaya AcehArabisation, Islam as cultural product, and reading Acehnese culture
Pendekatan ini membedakan Islam sebagai produk teologi yang normatif-deduktif dari Islam sebagai produk kebudayaan hasil penalaran manusia di Timur Tengah yang sampai ke Aceh. Dengan bantuan teori agama dan budaya,…This approach distinguishes Islam as a normative-deductive theological product from Islam as a cultural product, the fruit of human reasoning in the Middle East that reached Aceh. Drawing on theories…
KonsepConcept Droe keu droe: dari diri sendiri ke diri sendiriDroe keu droe: from the self to the self
Prinsip epistemik yang diusulkan sebagai arah baru studi Aceh: pengetahuan tentang Aceh harus dibangun dari sejarah pemikiran masyarakat Aceh sendiri dan kembali kepada pemahaman diri orang Aceh. Prinsip ini memuat…An epistemic principle proposed as a new direction for Aceh studies: knowledge about Aceh should be built from the history of Acehnese thought itself and lead back to Acehnese self-understanding.…
KonsepConcept Falsafah sua (suloh): obor ilmu yang tak dibawa pulangThe philosophy of sua (suloh): a torch of learning never brought home
Sua adalah obor dari ikatan daun kelapa kering yang dipakai orang kampung Aceh untuk berjalan malam, lalu dipadamkan dan ditinggalkan setelah sampai tujuan. Benda sederhana ini dijadikan metafora bagi peran…A sua is a torch of bundled dry coconut leaves that Acehnese villagers carried on night journeys and then extinguished and left behind on arrival. This humble object becomes a…
KonsepConcept Ingat, seimbang, syukur: falsafah tindakan budaya AcehRemember, balance, give thanks: the Acehnese philosophy of cultural action
Bagi mereka yang telah mengenal diri, tindakan budaya Aceh berpijak pada tiga falsafah: ingat, seimbang, dan syukur. ‘Ingat’ diwujudkan dalam haba peuingat, ‘seimbang’ dalam timang dan logika meunyoe, sedangkan ‘syukur’…For those who know themselves, Acehnese cultural action rests on three philosophies: remembrance, balance and gratitude. 'Remembrance' is expressed in haba peuingat (words of reminder), 'balance' in timang and the…
KonsepConcept Kerak peradaban Aceh: tiga spirit Islam, budaya, dan ilmuThe bedrock of Acehnese civilisation: the three spirits of Islam, culture and knowledge
Gagasan ini menempatkan inti peradaban Aceh pada perpaduan tiga spirit: keislaman, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Perpaduan itulah, bukan romantisme kejayaan masa lalu, yang dipandang membentuk jati diri ke-Aceh-an. Setelah abad…This idea locates the core of Acehnese civilisation in the fusion of three spirits: Islam, culture and knowledge. It is this fusion, rather than nostalgia for past glory, that is…
KonsepConcept Meudagang dan meukat: merantau mencari ilmu dan berniagaMeudagang and meukat: travelling for knowledge and for trade
Bahasa Aceh membedakan meudagang, yakni keluar dari rumah atau lingkungan kawom untuk mencari ilmu, dari meukat atau hareukat, yaitu kegiatan berdagang. Meudagang senafas dengan konsep ibn sabil dan berujung pada…Acehnese distinguishes meudagang, leaving home or one’s kin group (kawom) in search of knowledge, from meukat or hareukat, the activity of trading. Meudagang shares the spirit of the ibn sabil…
KonsepConcept Spirit ke-Aceh-an: poros istana dan poros ulamaThe Acehnese spirit: the palace axis and the ulama axis
Spirit ke-Aceh-an dipahami sebagai daya batin yang menyinergikan nilai perjuangan dan kebudayaan, bertumpu pada dua poros: istana (sultan) dan ulama (dayah). Spirit ini terlihat ketika Hikayat Prang Sabi membakar perlawanan…The Acehnese spirit is understood as an inner force that fuses the values of struggle and culture, resting on two axes: the palace (sultan) and the ulama (dayah). It was…
KonsepConcept Turi droe: mengenal diri sebagai syarat kebudayaanTuri droe: self-knowledge as the precondition of culture
Turi droe (kenali diri) dipandang sebagai prasyarat bagi orang Aceh untuk menjadi pencipta kebudayaan. Kerangkanya bertumpu pada tiga konsep: ‘saya’ (lon), keberadaan (na), dan tindakan. Pengenalan diri dikaitkan dengan pendalaman…Turi droe ('know yourself') is regarded as the precondition for Acehnese people to become creators of culture. The framework rests on three concepts: the 'I' (lon), being (na) and action.…