Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Agama sebagai gejala sosial: penelitian sosial keagamaanReligion as a social phenomenon: socio-religious research

Penelitian Sosial Keagamaan (PSK) dan Penelitian Sosial Budaya (PSB) memperlakukan agama sebagai fenomena yang dapat diamati dalam kehidupan masyarakat. M. Atho Mudzhar memetakan lima objek kajian agama dari sudut ilmu sosial dan lima tema studi Islam yang dapat didekati secara sosiologis. Pemetaan ini menunjukkan bahwa batas antara sosiologi dan antropologi agama tipis, karena para perintis keduanya sama. Bagi peneliti di perguruan tinggi Islam di Aceh, kerangka ini membuka ranah riset yang menjanjikan tentang kebudayaan yang telah menyatu dengan kehidupan beragama.

Socio-religious research (PSK) and socio-cultural research (PSB) treat religion as a phenomenon observable in social life. M. Atho Mudzhar maps five objects for the social-scientific study of religion and five themes in Islamic studies open to sociological inquiry. The mapping shows how thin the line between the sociology and anthropology of religion is, since both share the same founders. For researchers at Islamic universities in Aceh, the framework opens a promising field on culture intertwined with religious life.

Atho Mudzhar menyebut lima objek yang dapat dikaji dari perspektif ilmu sosial. Pertama, kitab suci, naskah, dan simbol agama. Kedua, para penganut dan pemuka agama: sikap, perilaku, dan penghayatan mereka. Ketiga, ritus, lembaga, dan ibadat seperti salat, haji, puasa, perkawinan, dan waris. Keempat, benda-benda keagamaan seperti masjid, gereja, lonceng, dan peci. Kelima, organisasi keagamaan tempat umat berhimpun dan berperan.

Ia juga merumuskan lima tema studi Islam yang terbuka bagi sosiologi: pengaruh agama terhadap perubahan masyarakat; pengaruh struktur dan perubahan masyarakat terhadap pemahaman ajaran; tingkat pengamalan beragama; pola sosial masyarakat Muslim; serta gerakan masyarakat yang melemahkan atau menunjang kehidupan beragama. Arah utamanya adalah memahami fungsi agama dalam masyarakat.

Pemetaan ini sengaja disandingkan dengan antropologi untuk menunjukkan bahwa perbedaan kedua disiplin tidak terlalu signifikan; para pemikir awal antropologi juga peletak fondasi sosiologi. Bedanya terletak pada penekanan: antropologi lebih memusatkan perhatian pada praktik yang masih hidup dan sistem simbol yang telah menjadi budaya.

Dalam konteks Aceh, kedua kerangka itu menegaskan bahwa penelitian sosial keagamaan adalah ranah yang menjanjikan untuk memahami aspek kebudayaan yang telah terikat dengan kehidupan beragama umat Islam. Dayah, meunasah, ritual haji, hingga gerakan keagamaan baru dapat dibaca sebagai gejala sosial tanpa harus kehilangan kepekaan terhadap makna religiusnya.

Atho Mudzhar names five objects that can be studied from a social-science perspective: scripture, texts and religious symbols; adherents and religious leaders, with their attitudes, behaviour and piety; rites, institutions and acts of worship such as prayer, pilgrimage, fasting, marriage and inheritance; religious objects such as mosques, churches, bells and caps; and religious organisations in which believers gather and act.

He also sets out five themes in Islamic studies open to sociology: the influence of religion on social change; the influence of social structure and change on the understanding of doctrine; levels of religious practice; social patterns of Muslim communities; and social movements that weaken or support religious life. The underlying aim is to understand the function of religion in society.

This mapping is placed beside anthropology to show that the difference between the two disciplines is slight; the early thinkers of anthropology also laid the foundations of sociology. The difference is one of emphasis: anthropology concentrates on living practice and on symbol systems that have become culture.

In Aceh both frameworks confirm that socio-religious research is a promising field for understanding the cultural aspects bound up with Muslim religious life. Dayah, meunasah, hajj rituals and new religious movements can be read as social phenomena without losing sensitivity to their religious meaning.

Gagasan kunciKey ideas

Lima objek kajianFive objects of study

Naskah, penganut, ritus, benda, dan organisasi keagamaan.Texts, adherents, rites, objects and religious organisations.

Arah dua jalurTwo-way influence

Agama memengaruhi masyarakat, dan perubahan masyarakat memengaruhi pemahaman agama.Religion shapes society, and social change shapes religious understanding.

Sosiologi dan antropologi berdekatanSociology and anthropology are close

Keduanya berbagi para pendiri; perbedaannya soal penekanan.They share founders; the difference is one of emphasis.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana meneliti tingkat pengamalan beragama di Aceh tanpa jatuh pada penghakiman normatif?How can levels of religious practice in Aceh be studied without lapsing into normative judgement?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Agama sebagai gejala sosial: penelitian sosial keagamaan”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/agama-sebagai-gejala-sosial/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →