Air Sialang, Samadua: talago, banjir berulang dan sengketa tambang di Aceh SelatanAir Sialang, Samadua: talago pools, recurrent floods and a mining dispute in South Aceh
1960-an–20261960s–2026
Air Sialang adalah gugus gampong di Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, di tepi Kawasan Ekosistem Leuser, yang dikelilingi sungai dan kaya talago, kolam mata air jernih. Kampung ini mengalami banjir berulang dari kisah “Jailali Hanyut” tahun 1960-an hingga 2025, mengembangkan pengetahuan bertahan yang banyak dipegang perempuan, dan sejak 2024–2025 menghadapi izin eksplorasi tambang seluas sekitar 1.491 hektare yang memicu penolakan warga.
Air Sialang is a cluster of villages in Samadua subdistrict, South Aceh, on the edge of the Leuser Ecosystem, surrounded by rivers and rich in talago, clear spring-fed pools. It has suffered recurrent floods from the 1960s story of “Jailali Hanyut” to 2025, developed survival knowledge held largely by women, and since 2024–2025 has faced mineral exploration permits covering about 1,491 hectares that provoked residents' opposition.
Air Sialang terletak di Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan, di pesisir barat-selatan Aceh yang berbatasan dengan perbukitan Kawasan Ekosistem Leuser. Nama Air Sialang dipakai untuk tiga gampong, yaitu Air Sialang Hulu, Air Sialang Tengah dan Air Sialang Hilir, yang mengikuti nama sungai yang mengalirinya. Dua sungai lain, Air Sarap dan Air Gadang, juga mengapit permukiman, sehingga warga harus melewati beberapa jembatan untuk keluar masuk kampung. Ciri paling khas kampung ini adalah talago, kolam-kolam alami dari mata air yang jernih dan dingin. Talago dipakai untuk mandi, berenang, bermain dan memenuhi kebutuhan air sehari-hari, dan bagi warga ia adalah ruang bersama yang tidak dimiliki siapa pun. Beberapa talago memiliki nama sendiri, seperti Talago Lubuk Ek’ot dan Talago Punjuik, yang terkait dengan ingatan kolektif kampung.
Kekayaan air ini juga menjadi sumber bahaya. Air Sialang mengalami banjir berulang kali. Ingatan tertua yang masih dituturkan adalah kisah “Jailali Hanyut” pada sekitar tahun 1960-an: hujan turun berhari-hari di bulan Ramadan, dan pondok kebun Jailali di hulu Sungai Sikabu, Panton Luas, hanyut terbawa banjir. Jailali dan istrinya ditemukan meninggal di Talago Lubuk Ek’ot, sedangkan bayi mereka ditemukan selamat di tebing dekat Talago Punjuik, berpegangan pada daun keladi. Kisah ini diwariskan secara lisan dan berfungsi sebagai pengetahuan kebencanaan: ia mengingatkan bahwa hujan panjang di hulu dapat berubah menjadi bencana di hilir.
Catatan warga yang dihimpun Yelli Sustarina untuk Perempuan Peduli Leuser bersama Combine Resource Innovation pada 2026 menyusun kronologi banjir berikutnya. Pada 2002, bertepatan dengan 14 Ramadan 1423 H, sungai meluap setelah hujan deras, jembatan Air Sarap putus dan rumah seorang warga hanyut. Pada 2005, beberapa bulan setelah tsunami, kabar palsu tentang tsunami membuat warga berlari ke pegunungan. Pada 2014 banjir masuk ke banyak rumah dan merusak buku serta perabot di sekolah. Pada 2024 banjir besar merusak Jembatan Kadai dan menghanyutkan satu rumah. Pada akhir November 2025, ketika Siklon Senyar memicu banjir bandang dan longsor di banyak wilayah Aceh, listrik di Air Sialang padam sekitar dua minggu dan warga kembali memakai lampu minyak serta kayu bakar karena gas sulit didapat.
Dari pengalaman berulang ini tumbuh pengetahuan bertahan yang banyak dipegang perempuan. Suhartati, pengrajin kasab dan ibu empat anak, dan Surianti, kepala TK At-Taqwa, menjelaskan tanda-tanda yang mereka perhatikan: hujan yang lama, sungai yang naik, air yang keruh dan hewan yang menjauhi sungai. Ketika tanggul mulai tenggelam, barang dinaikkan ke lantai atas, stok makanan dan pakaian anak disiapkan, dan dokumen penting seperti ijazah disimpan di tempat aman. Sejak 2009 sebagian warga membangun rumah dengan pondasi lebih tinggi dan dua lantai. Di sekolah, murid diminta tetap di kelas saat hujan lebat sampai hujan reda. Pengetahuan ini diwariskan lewat cerita, pengamatan sungai dan pengalaman tetangga, bukan lewat pelatihan formal.
Internet menambah lapisan baru pada pengetahuan itu. Perempuan di Air Sialang memeriksa prakiraan cuaca dan berita bencana melalui ponsel, menghubungi anggota keluarga yang merantau, menerima peringatan gempa dari BMKG secara langsung dan belajar memeriksa kebenaran kabar sebelum menyebarkannya. Pengalaman hoaks, seperti kabar bahwa seluruh Aceh Selatan terendam padahal banjir hanya terjadi di kecamatan lain, membuat mereka lebih waspada. Internet juga dipakai untuk belajar membuat tas dan tikar dari plastik bekas, membuat ecobrick bersama anak-anak dan mencari cara bertani cabai, sehingga kesadaran tentang sampah di sungai berhubungan dengan ekonomi rumah tangga.
Air Sialang juga dikenal dengan kerajinan kasab, sulaman benang emas khas Aceh Selatan. Selama konflik, sebagian penyulam di Samadua menerima pesanan beragam, dari lambang militer sampai bendera, sebuah ironi yang memperlihatkan bagaimana ekonomi kerajinan perempuan bertahan di antara pihak-pihak yang bertikai. Kini kasab menjadi bagian dari argumen warga bahwa kampung memiliki sumber penghidupan alternatif selain ekstraksi sumber daya alam.
Sengketa terbaru menyangkut pertambangan. Dua perusahaan memegang izin usaha pertambangan eksplorasi di sekitar kampung: PT Bersama Sukses Mining seluas 752,4 hektare yang izinnya terbit pada 17 Juli 2024, dan PT Mineral Mega Sentosa seluas 739 hektare yang izinnya terbit pada 19 November 2025, beberapa hari sebelum bencana Senyar. Wilayah izin mencakup Gampong Subarang, Air Sialang Hulu, Air Sialang Tengah, Air Sialang Hilir dan kawasan Gunung Ketek. Warga yang menghimpun diri dalam Air Sialang Bersatu berkumpul di Masjid At-Taqwa pada 31 Juli 2026, dihadiri lebih dari seratus orang, karena khawatir tambang merusak hutan, mata air dan talago.
Pada 19 Agustus 2026, bertepatan dengan Hari Kemanusiaan Sedunia, Yelli Sustarina menerbitkan surat terbuka kepada Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS. Surat itu membingkai sengketa sebagai pilihan antara emas dan air, menegaskan bahwa yang dipertaruhkan adalah keberlanjutan hidup, dan mengusulkan ekowisata berbasis komunitas serta kerajinan kasab sebagai jalan lain. Surat itu juga mengkritik kepergian bupati ke luar negeri pada awal Desember 2025 ketika wilayahnya dilanda banjir. Surat ini menjadi contoh bagaimana ingatan masa kecil tentang talago dapat menjadi argumen publik dalam politik sumber daya.
Bagi studi Aceh, Air Sialang adalah laboratorium kecil yang memadatkan banyak tema besar: bencana hidrometeorologis yang berulang, pengetahuan lokal yang diwariskan secara lisan, peran perempuan sebagai penjaga pengetahuan rumah tangga, perubahan teknologi informasi, ekonomi kerajinan, dan benturan antara izin tambang dengan sumber air warga. Kasus ini juga memperlihatkan bahwa kerentanan tidak hanya ditentukan oleh alam, tetapi juga oleh keputusan tata ruang dan perizinan yang dibuat jauh dari kampung.
Kisah Air Sialang juga memperlihatkan peran sekolah dan perempuan pendidik dalam kebencanaan. Taman kanak-kanak di kampung ini pernah terendam pada 2014, mendapat bantuan pagar pada 2018 yang kemudian membantu melindungi halaman, dan pada 2024 justru menggalang dana untuk korban banjir di Ladang Rimba. Kepala sekolahnya memakai grup WhatsApp alumni untuk menggalang bantuan bagi korban bencana November 2025. Sekolah kecil dengan demikian menjadi simpul solidaritas yang melampaui batas kampung.
Kisah Air Sialang juga mengingatkan bahwa banyak kampung lain di pesisir barat-selatan Aceh menghadapi pola serupa: sungai pendek dan deras dari perbukitan Leuser, permukiman di dataran sempit, dan tekanan izin ekstraktif di hulu. Karena itu pengalaman kampung ini dapat menjadi rujukan bagi kajian perbandingan tentang kerentanan, pengetahuan lokal dan tata kelola sumber air di wilayah tersebut.
Ke depan, beberapa persoalan masih terbuka: apakah izin eksplorasi akan berlanjut ke tahap operasi produksi, bagaimana kajian lingkungan menilai hubungan antara bukit yang ditambang dan mata air talago, serta apakah gampong dapat menetapkan reusam atau qanun yang melindungi sumber airnya. Jawaban atas soal-soal itu akan menentukan apakah talago Air Sialang tetap menjadi ruang bersama atau hanya tinggal dalam cerita.
Air Sialang lies in Samadua subdistrict, South Aceh, on Aceh's south-west coast where it meets the hills of the Leuser Ecosystem. The name is shared by three villages, Air Sialang Hulu, Air Sialang Tengah and Air Sialang Hilir, named after the river that runs through them. Two more rivers, the Air Sarap and the Air Gadang, flank the settlement, so residents must cross several bridges to come and go. The village's most distinctive feature is its talago, natural pools fed by clear, cold springs. They are used for bathing, swimming, play and daily water needs, and residents regard them as common spaces owned by no one. Some have names of their own, such as Talago Lubuk Ek’ot and Talago Punjuik, tied to the village's collective memory.
This wealth of water is also a source of danger. Air Sialang floods repeatedly. The oldest memory still told is the story of “Jailali Hanyut” (Jailali swept away) around the 1960s: rain fell for days during Ramadan and Jailali's garden hut on the upper Sikabu River, Panton Luas, was carried off by the flood. Jailali and his wife were found dead in Talago Lubuk Ek’ot, while their baby was found alive on a bank near Talago Punjuik, clinging to a taro leaf. The story is passed down orally and works as disaster knowledge, a reminder that long rain upstream can become catastrophe downstream.
Residents' accounts gathered by Yelli Sustarina for Perempuan Peduli Leuser with Combine Resource Innovation in 2026 set out a chronology of later floods. In 2002, on 14 Ramadan 1423 AH, the river burst its banks after heavy rain, the Air Sarap bridge broke and a house was swept away. In 2005, months after the tsunami, a false tsunami rumour sent residents running into the hills. In 2014 floodwater entered many houses and damaged books and furniture at the school. In 2024 a major flood wrecked the Kadai bridge and carried away a house. At the end of November 2025, as Cyclone Senyar unleashed flash floods and landslides across Aceh, Air Sialang lost electricity for about two weeks and residents returned to oil lamps and firewood because gas was hard to find.
From these repeated experiences grew survival knowledge held largely by women. Suhartati, a kasab embroiderer and mother of four, and Surianti, head of the At-Taqwa kindergarten, describe the signs they watch for: prolonged rain, rising rivers, muddy water and animals moving away from the river. When the embankment begins to go under, goods are carried upstairs, food and children's clothes are readied, and important papers such as diplomas are put somewhere safe. Since 2009 some residents have built houses on higher foundations with two storeys. At school, pupils are kept in class during heavy rain until it eases. This knowledge passes through stories, observation of the river and neighbours' experience rather than formal training.
The internet adds a new layer. Women in Air Sialang check weather forecasts and disaster news on their phones, contact relatives working elsewhere, receive earthquake alerts from the meteorological agency BMKG directly and have learned to verify rumours before passing them on. Experience with hoaxes, such as a message claiming all of South Aceh was flooded when only another subdistrict was, has made them more careful. They also use the internet to learn to make bags and mats from used plastic, to make ecobricks with children and to grow chillies, linking awareness of river waste to the household economy.
Air Sialang is also known for kasab, the gold-thread embroidery typical of South Aceh. During the conflict some embroiderers in Samadua took orders of every kind, from military insignia to flags, an irony that shows how women's craft economies survived between the warring parties. Today kasab is part of residents' argument that the village has livelihoods other than resource extraction.
The latest dispute concerns mining. Two companies hold mineral exploration permits around the village: PT Bersama Sukses Mining for 752.4 hectares, issued on 17 July 2024, and PT Mineral Mega Sentosa for 739 hectares, issued on 19 November 2025, days before the Senyar disaster. The permit areas cover Gampong Subarang, Air Sialang Hulu, Air Sialang Tengah, Air Sialang Hilir and the Gunung Ketek area. Residents organised as Air Sialang Bersatu met at the At-Taqwa Mosque on 31 July 2026, more than a hundred strong, fearing that mining would damage the forest, springs and talago.
On 19 August 2026, World Humanitarian Day, Yelli Sustarina published an open letter to the Regent of South Aceh, Mirwan MS. It framed the dispute as a choice between gold and water, insisted that what was at stake was the continuation of life, and proposed community-based ecotourism and kasab as alternatives. It also criticised the regent's departure abroad in early December 2025 while his district was flooded. The letter shows how childhood memory of the talago can become a public argument in resource politics.
For Aceh studies, Air Sialang is a small laboratory that condenses many large themes: recurrent hydrometeorological disaster, orally transmitted local knowledge, women as keepers of household knowledge, changing information technology, craft economies, and the clash between mining permits and residents' water. It shows that vulnerability is shaped not only by nature but by spatial-planning and licensing decisions made far from the village.
Air Sialang's story also shows the role of schools and women educators in disaster. The village kindergarten was flooded in 2014, received a fence in 2018 that later helped protect its yard, and in 2024 itself raised money for flood victims in Ladang Rimba. Its head used an alumni WhatsApp group to raise aid for victims of the November 2025 disaster. The small school thus became a node of solidarity reaching beyond the village.
Air Sialang's story is a reminder that many other villages on Aceh's south-west coast face a similar pattern: short, fast rivers from the Leuser hills, settlements on narrow plains and pressure from extractive permits upstream. The village's experience can therefore serve as a reference for comparative studies of vulnerability, local knowledge and water governance in the region.
Several questions remain open: whether exploration permits will proceed to production, how environmental assessment will judge the link between the hills to be mined and the springs that feed the talago, and whether the gampong can adopt reusam or qanun to protect its water sources. The answers will decide whether the talago of Air Sialang remain common spaces or survive only in stories.
Gagasan kunciKey ideas
Talago sebagai ruang bersamaTalago as commons
Kolam mata air menjadi sumber air, ruang bermain dan ingatan kolektif.Spring pools serve as water source, playground and collective memory.
Cerita sebagai peringatan diniStories as early warning
Kisah Jailali Hanyut mewariskan pengetahuan tentang hujan hulu dan banjir hilir.The story of Jailali Hanyut transmits knowledge of upstream rain and downstream floods.
Perempuan dan internetWomen and the internet
Ponsel dipakai untuk membaca cuaca, memilah hoaks dan menjaga keluarga terhubung.Phones are used to read the weather, sift hoaxes and keep families connected.
Emas atau airGold or water
Izin eksplorasi tambang berhadapan dengan mata air dan talago warga.Mining exploration permits confront residents' springs and talago.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana hubungan hidrologis antara perbukitan yang masuk wilayah izin tambang dan mata air talago Air Sialang, dan siapa yang berwenang memutuskannya?What is the hydrological link between the hills inside the mining permit areas and the springs feeding Air Sialang's talago, and who has authority to decide?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Air Sialang, Samadua: talago, banjir berulang dan sengketa tambang di Aceh Selatan”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/air-sialang-samadua/