Mata Ie, Aceh Besar: mata air karst yang mengeringMata Ie, Aceh Besar: a karst spring running dry
2017–2024
Mata Ie adalah kolam mata air alami di kaki bukit kapur Gampong Leu Ue, Darul Imarah, Aceh Besar, yang menjadi tempat wisata, tempat mencuci warga dan sumber air PDAM Tirta Mountala bagi Darul Imarah, Peukan Bada dan Lhoknga. Dalam beberapa tahun terakhir kolamnya surut bahkan kering di musim kemarau panjang, yang dikaitkan dengan penambangan batu kapur dan perubahan iklim, sehingga Mata Ie menjadi contoh krisis air di pinggiran Banda Aceh.
Mata Ie is a natural spring pool at the foot of a limestone hill in Leu Ue village, Darul Imarah, Aceh Besar, used for recreation, laundry and as a source for the PDAM Tirta Mountala water utility serving Darul Imarah, Peukan Bada and Lhoknga. In recent years its pools have shrunk and even dried out in long dry seasons, which experts link to limestone quarrying and climate change, making Mata Ie an example of water crisis on the edge of Banda Aceh.
Nama Mata Ie berarti mata air dalam bahasa Aceh, dan nama itu menggambarkan fungsi utamanya. Tempat ini berada di kaki bukit kapur di Gampong Leu Ue, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, tidak jauh dari Banda Aceh. Kawasannya berada dalam lingkungan markas Resimen Induk Kodam Iskandar Muda (Rindam IM), sehingga pengelolaannya bersinggungan dengan institusi militer. Pepohonan besar dan rapat menaungi kolam-kolam hijau yang airnya keluar dari celah batu kapur, menjadi rumah bagi burung dan monyet ekor panjang. Sebuah bendungan kecil atau pintu air membentuk air terjun mini yang menjadi daya tarik pengunjung. Fasilitasnya sederhana: musala, toilet, kantin dan lapangan tenis, dengan tiket masuk lima ribu rupiah per orang.
Mata Ie memiliki tiga fungsi sosial yang saling bertaut. Pertama, ia adalah tempat rekreasi keluarga bagi warga Banda Aceh dan Aceh Besar, terutama pada akhir pekan. Kedua, ia adalah ruang kerja domestik perempuan: warga dari Keutapang, Geue Gajah, Pekan Biluy dan kampung sekitar datang mencuci pakaian di kolam karena air di rumah mereka keruh atau tidak mengalir. Ketiga, Mata Ie adalah sumber air baku bagi Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Mountala yang melayani tiga kecamatan di Aceh Besar, yaitu Darul Imarah, Peukan Bada dan Lhoknga. Dengan demikian, kesehatan mata air ini menentukan kebutuhan air ribuan rumah tangga.
Liputan Zhafiratul Lathifa untuk Perempuan Peduli Leuser pada Mei 2024, hasil pelatihan ekofeminisme dan jurnalisme lingkungan, merekam keresahan yang tumbuh. Dalam beberapa tahun terakhir kolam-kolam Mata Ie surut, dan pada musim kemarau panjang mengering sama sekali. Halimatus Sa'diah, yang telah tujuh belas tahun berjualan gorengan di sekitar kolam, tidak bisa berdagang ketika kolam kering karena pengunjung menghilang. Leli dari Pekan Biluy, Darul Kamal, yang sekitar lima tahun mencuci di Mata Ie, terpaksa mencuci di rumah dengan air yang kurang bersih. Rahmiana Rahman dari Gampong Lamlumpu, Peukan Bada, menyebut bahwa hingga Mei 2024 sudah lima bulan pasokan air PDAM tidak memadai, sehingga ia membeli air dua ratus ribu rupiah per tangki lima ribu liter, sesekali mandi di masjid atau menumpang mencuci di rumah kenalan. Menurutnya, gangguan pasokan sudah berlangsung bertahun-tahun sejak kemarau 2017.
Dua pandangan ahli dalam liputan itu memberi kerangka penjelasan. Risma Sunarty, dosen Manajemen Bencana Universitas Muhammadiyah Aceh, menekankan peran karst. Batu kapur menyimpan air seperti spons raksasa, tetapi kerusakan karst akibat penambangan batu untuk pembangunan infrastruktur mengurangi debit Mata Ie. Penambangan menghilangkan vegetasi dan tutupan lahan sehingga air hujan mengalir di permukaan alih-alih meresap ke dalam tanah. Ia memperingatkan bahwa kondisi akan memburuk jika penambangan tidak dikurangi. Satrio Adi Wicaksono, alumnus doktoral Brown University bidang geologi dan paleoklimatologi yang bekerja di kantor regional Asia IUCN, menambahkan bahwa kekeringan bukan hal asing di wilayah yang memang relatif kering dan bercurah hujan rendah, tetapi cuaca yang lebih panas membuat kekeringan lebih sering, lebih lama dan lebih intens. Ia menyarankan kajian lanjutan untuk memastikan apakah kekeringan Mata Ie terutama bersifat meteorologis, hidrologis atau ekologis.
Kasus Mata Ie menyingkap persoalan yang lebih luas di Aceh Besar. Bentang karst di pinggiran Banda Aceh, termasuk perbukitan antara Lhoknga dan Leupung, menjadi sumber bahan baku semen dan bahan bangunan. Pembangunan kembali Aceh pascatsunami dan pertumbuhan kota menambah permintaan batu dan kapur. Di sisi lain, permukiman di Darul Imarah, Peukan Bada dan Lhoknga tumbuh pesat, menambah kebutuhan air bersih. Ketika pasokan dari mata air menurun, beban terbesar jatuh pada rumah tangga, khususnya perempuan yang mengelola air untuk mencuci, memasak dan mandi.
Dimensi gender ini menjadi sorotan utama liputan. Para perempuan yang mencuci di kolam, pedagang kecil di sekitarnya dan ibu rumah tangga yang membeli air tangki adalah pihak yang paling cepat merasakan perubahan. Mereka juga pemegang pengetahuan sehari-hari tentang kapan air surut, berapa biaya mengganti air dan kampung mana yang paling terdampak. Pengetahuan ini jarang masuk ke dalam perencanaan tata ruang dan perizinan tambang, padahal dapat menjadi indikator awal kerusakan ekologis.
Dalam kosmologi Aceh, mata air memiliki kedudukan khusus. Banyak gampong memiliki aturan adat tentang perlindungan sumber air, larangan menebang pohon di sekitarnya dan tradisi kenduri yang berkaitan dengan air dan sawah. Keujruen blang mengatur pembagian air irigasi, sementara meunasah dan masjid membutuhkan air untuk bersuci. Mengeringnya mata air karena itu bukan hanya masalah teknis, melainkan juga gangguan terhadap tatanan sosial dan ibadah yang bergantung pada air.
Pertanyaan tata kelola yang diajukan Mata Ie cukup tajam. Siapa yang berwenang melindungi kawasan imbuhan air di sekitar mata air yang berada di lingkungan militer? Bagaimana izin penambangan batu kapur di Aceh Besar memperhitungkan dampaknya terhadap sumber air PDAM? Apakah ada pemantauan debit mata air yang terbuka bagi publik? Tanpa jawaban yang jelas, krisis air di pinggiran Banda Aceh kemungkinan akan semakin sering terjadi seiring perubahan iklim.
Kawasan Mata Ie juga memiliki makna sejarah bagi warga Aceh Besar dan Banda Aceh. Sejak lama ia menjadi tempat pemandian dan rekreasi yang dikenang lintas generasi, tempat keluarga berkumpul pada hari libur dan anak-anak belajar berenang. Ingatan kolektif ini membuat penyusutan kolam dirasakan sebagai kehilangan budaya, bukan hanya kehilangan sumber air.
Pengalaman Mata Ie dapat dibandingkan dengan sumber air lain di Aceh yang menghadapi tekanan serupa, dari talago di Air Sialang, Aceh Selatan, sampai mata air di kawasan karst Aceh Tamiang yang telah ditetapkan sebagai kawasan bentang alam karst. Perbandingan ini memperlihatkan pola yang berulang: mata air yang selama ini dianggap pemberian alam yang tak terbatas ternyata sangat bergantung pada tutupan lahan dan kebijakan tata ruang di sekitarnya. Perlindungan kawasan karst dan daerah imbuhan karena itu perlu menjadi bagian dari kebijakan air bersih di Aceh.
Langkah-langkah praktis yang dapat dipertimbangkan antara lain pemantauan debit mata air secara berkala dan terbuka, penetapan zona perlindungan di sekitar kawasan imbuhan, peninjauan izin penambangan batu kapur di dekatnya, serta pelibatan warga, khususnya perempuan yang paling bergantung pada air, dalam perencanaan pengelolaan kawasan. Langkah-langkah ini tidak memerlukan teknologi tinggi, tetapi memerlukan kemauan politik dan koordinasi antara pemerintah kabupaten, PDAM dan pengelola kawasan.
Liputan ini ditutup dengan seruan agar semua pihak bekerja sama melindungi lingkungan sehingga Mata Ie dapat pulih dan berfungsi seperti sedia kala. Bagi Acehnologi, Mata Ie adalah contoh kecil dari relasi antara kota, karst, air dan perempuan, sebuah medan uji untuk melihat apakah pembangunan Aceh pascatsunami mampu menjaga sumber kehidupan yang paling dasar.
Mata Ie means “spring” in Acehnese, and the name describes its principal role. It lies at the foot of a limestone hill in Leu Ue village, Darul Imarah subdistrict, Aceh Besar, not far from Banda Aceh. The site sits within the compound of the Iskandar Muda Military Command's training regiment (Rindam IM), so its management intersects with a military institution. Large, dense trees shade green pools fed by water emerging from cracks in the limestone, home to birds and long-tailed macaques. A small dam or sluice creates a mini waterfall that draws visitors. Facilities are modest: a prayer room, toilets, a canteen and a tennis court, with a five-thousand-rupiah entry ticket.
Mata Ie serves three intertwined social functions. It is a place of family recreation for residents of Banda Aceh and Aceh Besar, especially at weekends. It is a space of women's domestic work: residents of Keutapang, Geue Gajah, Pekan Biluy and nearby villages come to wash clothes in the pools because the water at home is murky or does not run. And it is a raw-water source for the Tirta Mountala regional water utility (PDAM) serving three subdistricts of Aceh Besar, Darul Imarah, Peukan Bada and Lhoknga. The health of the spring therefore shapes the water supply of thousands of households.
Zhafiratul Lathifa's report for Perempuan Peduli Leuser in May 2024, produced through training in ecofeminism and environmental journalism, recorded growing unease. In recent years the pools have shrunk, and in long dry seasons they dry out completely. Halimatus Sa'diah, who has sold fried snacks around the pools for seventeen years, cannot trade when the pools are dry because visitors disappear. Leli from Pekan Biluy, Darul Kamal, who has washed at Mata Ie for about five years, must wash at home with less clean water. Rahmiana Rahman from Lamlumpu, Peukan Bada, said that by May 2024 piped supply had been inadequate for five months, so she bought water at two hundred thousand rupiah per five-thousand-litre tank, sometimes bathing at a mosque or washing at an acquaintance's house. Supply problems, she said, had persisted for years since the 2017 drought.
Two experts quoted in the report offer an explanatory frame. Risma Sunarty, a disaster-management lecturer at Universitas Muhammadiyah Aceh, stressed the role of karst. Limestone stores water like a giant sponge, but damage from quarrying for infrastructure has reduced Mata Ie's discharge. Quarrying strips vegetation and land cover so rainwater runs off instead of soaking in. She warned that conditions would worsen unless extraction is reduced. Satrio Adi Wicaksono, a Brown University doctoral graduate in geology and paleoclimatology working at IUCN's Asia regional office, added that drought is not unusual in an area that is naturally fairly dry with low rainfall, but hotter weather makes droughts more frequent, longer and more intense. He recommended further study to determine whether Mata Ie's drying is chiefly meteorological, hydrological or ecological.
The case reveals a wider problem in Aceh Besar. The karst landscape around Banda Aceh, including the hills between Lhoknga and Leupung, supplies raw material for cement and construction. Post-tsunami reconstruction and urban growth raised demand for stone and lime. Meanwhile settlements in Darul Imarah, Peukan Bada and Lhoknga have grown rapidly, adding to demand for clean water. When spring flow falls, the heaviest burden falls on households, especially on women who manage water for washing, cooking and bathing.
This gender dimension is central to the report. Women washing at the pools, small vendors nearby and housewives buying tanker water are the first to feel change. They also hold everyday knowledge of when the water drops, what replacing it costs and which villages are worst hit. Such knowledge rarely enters spatial planning or quarry licensing, though it could serve as an early indicator of ecological damage.
In Acehnese cosmology springs have special standing. Many villages have customary rules protecting water sources, banning tree-felling around them and holding feasts linked to water and rice fields. The keujruen blang governs the distribution of irrigation water, while meunasah and mosques need water for ritual purification. The drying of a spring is therefore not only a technical problem but a disturbance to social and religious orders that depend on water.
Mata Ie raises sharp governance questions. Who has authority to protect the recharge area around a spring inside a military compound? How do limestone quarry permits in Aceh Besar account for their impact on utility water sources? Is spring discharge monitored and publicly reported? Without clear answers, water crises on the edge of Banda Aceh are likely to become more frequent as the climate changes.
Mata Ie also has historical meaning for the people of Aceh Besar and Banda Aceh. For generations it has been a bathing and recreation place, where families gather on holidays and children learn to swim. This collective memory makes the shrinking pools feel like a cultural loss, not merely the loss of a water source.
Mata Ie can be compared with other water sources in Aceh under similar pressure, from the talago of Air Sialang in South Aceh to springs in the karst of Aceh Tamiang, now designated a protected karst landscape. The comparison reveals a recurring pattern: springs long regarded as nature's limitless gift turn out to depend heavily on land cover and spatial policy around them. Protecting karst and recharge areas should therefore be part of clean-water policy in Aceh.
Practical steps could include regular, public monitoring of spring discharge, a protection zone around the recharge area, review of nearby limestone quarry permits, and involving residents, especially the women who depend most on the water, in planning the area's management. These steps need no advanced technology, only political will and coordination between the district government, the water utility and the site's managers.
The report closes with a call for all parties to work together so that Mata Ie can recover and function as before. For Acehnologi, Mata Ie is a small example of the relations between city, karst, water and women, a test of whether post-tsunami development in Aceh can safeguard the most basic source of life.
Gagasan kunciKey ideas
Karst sebagai sponsKarst as sponge
Batu kapur menyimpan air; penambangan mengurangi debit mata air.Limestone stores water; quarrying reduces spring discharge.
Perempuan merasakan lebih duluWomen feel it first
Pencuci, pedagang dan ibu rumah tangga menanggung biaya krisis air.Washerwomen, vendors and housewives bear the cost of the water crisis.
Iklim dan izinClimate and permits
Kekeringan alami diperparah pemanasan dan perizinan tambang.Natural drought is worsened by warming and quarry licensing.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Seberapa besar penurunan debit Mata Ie disebabkan penambangan karst dibandingkan perubahan iklim, dan siapa yang wajib memantaunya?How much of Mata Ie's falling discharge is due to karst quarrying rather than climate change, and who is obliged to monitor it?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Mata Ie, Aceh Besar: mata air karst yang mengering”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/mata-ie-aceh-besar/