Perempuan, internet dan literasi bencana di Aceh pasca-Siklon SenyarWomen, the internet and disaster literacy in Aceh after Cyclone Senyar
2025–2026
Bencana Siklon Senyar akhir November 2025 memutus listrik, internet dan jalan di banyak wilayah Aceh. Kisah perempuan di Takengon, Aceh Tamiang, Aceh Utara dan Aceh Selatan yang direkam Perempuan Peduli Leuser bersama Combine Resource Innovation memperlihatkan bahwa perempuan menjadi simpul informasi, logistik dan pemulihan, tetapi juga menghadapi kesenjangan akses digital, penipuan daring dan hambatan disabilitas.
Cyclone Senyar at the end of November 2025 cut electricity, internet and roads across much of Aceh. Stories of women in Takengon, Aceh Tamiang, North Aceh and South Aceh recorded by Perempuan Peduli Leuser with Combine Resource Innovation show women acting as hubs of information, logistics and recovery, while facing digital access gaps, online fraud and disability barriers.
Bencana hidrometeorologis akhir November 2025 di Aceh bukan hanya bencana air dan tanah, tetapi juga bencana informasi. Ketika hujan berhari-hari memicu banjir bandang dan longsor, jaringan listrik runtuh, menara telekomunikasi padam dan jembatan-jembatan utama putus. Di dataran tinggi Gayo, internet hilang sekitar dua minggu. Di banyak kampung, warga tidak tahu kondisi keluarga di daerah lain, tidak menerima peringatan resmi dan harus menebak-nebak kapan bantuan datang. Pada Maret dan April 2026, komunitas Perempuan Peduli Leuser bersama Combine Resource Innovation dari Yogyakarta menerbitkan serangkaian liputan tentang perempuan, internet dan kebencanaan yang memperlihatkan wajah lain bencana ini.
Kisah Farhani Elwani Syawal di Takengon, Aceh Tengah, menggambarkan peran perempuan sebagai simpul informasi. Ia berusia lebih dari enam puluh tahun, keturunan Minang yang lama menetap di Kampung Tetunjung, Kecamatan Lut Tawar, pensiunan pegawai Dinas Perdagangan dan pernah mengajar akuntansi di Universitas Gajah Putih. Di kampungnya ia dikenal dengan julukan Ratu Share karena kebiasaannya membagikan informasi. Pada Rabu, 26 November 2025, mobilnya mogok di dekat Pasar Paya Ilang ketika banjir meluas di Takengon. Sore itu listrik padam dan internet hilang. Kabar terakhir yang ia terima adalah banjir di Juli, Bireuen. Beberapa hari kemudian jembatan-jembatan di jalur Bireuen–Takengon runtuh, termasuk Teupien Mane, Tenge Besi dan Jamur Ujung, dan jalur alternatif juga terputus sehingga Gayo terisolasi. Beras, gas dan bahan bakar menjadi langka, dan beras baru masuk lagi ke Takengon sekitar sepuluh hari kemudian dengan harga melambung.
Farhani menyatakan tidak menerima peringatan resmi apa pun di ponselnya sebelum banjir, padahal hujan lebat sudah berlangsung sekitar seminggu. Pemerintah membuka layanan telekomunikasi darurat di kantor Dinas Komunikasi dan Informatika pada 27 November, tetapi ia memilih memakai Starlink di kantor desanya. Selama sekitar sebulan ia mengumpulkan beras dari tetangga, memasaknya dan membagikan nasi kotak kepada pengungsi di masjid desa sebelah, membantu keluarga rentan secara diam-diam dan mendorong agar psikolog serta guru relawan didatangkan bagi anak-anak di pengungsian. Ia juga pernah menjadi relawan saat tsunami 2004. Pada 30 Desember 2025 status Gunung Bur Ni Telong dinaikkan ke Level III sebelum diturunkan lagi pada 3 Januari 2026, menambah kecemasan warga Gayo.
Liputan Ayu ‘Ulya tentang tiga perempuan milenial memperlihatkan keragaman pengalaman digital. Betti Lestari, ketua Kelompok Cendana di Desa Sumber Makmur, Tenggulun, Aceh Tamiang, telah sekitar sepuluh tahun memakai internet dan berjualan sayur secara daring. Ia mengingat banjir bandang 2006 ketika belum ada internet dan listrik. Saat bencana 2025 ia berada di Linge, Aceh Tengah, dan bersama warga lain mengungsi berjalan kaki tiga malam dua hari menuju Takengon. Pengalamannya juga mencakup sisi gelap internet: sebelumnya ia menjadi korban penipuan suara yang mengaku petugas pajak, menyerahkan kode yang ternyata OTP, dan kehilangan sekitar dua puluh satu juta rupiah tanpa penyelesaian dari polisi maupun bank. Sulastri, anggota Kelompok Cendana dan ibu empat anak, baru mulai memakai internet sekitar tiga bulan setelah bencana, untuk grup WhatsApp sekolah anak dan menjual kerajinan dari pelepah dan sampah plastik; ia menjual tiga hektare tanah untuk bertahan hidup dan masih mengandalkan tanda alam seperti perilaku semut untuk membaca datangnya banjir. Lainawidar dari Sawang, Aceh Utara, perempuan penyandang disabilitas fisik, hanyut ketika banjir setinggi sekitar lima meter melanda, diselamatkan saudaranya, lalu bertahan di pengungsian tanpa air bersih selama dua hari dalam keadaan haid, demam dan diare, sementara bantuan baru tiba pada hari kelima. Ia tidak memiliki ponsel pintar dan belum menerima alat bantu jalan. Pada Maret 2026 Combine Resource Innovation menyumbangkan perangkat Starlink dan panel surya kepada Kelompok Cendana.
Liputan Yelli Sustarina di Air Sialang, Samadua, Aceh Selatan, menambahkan dimensi lain. Di kampung yang dikelilingi sungai itu, perempuan memadukan pengetahuan lama, seperti kisah banjir Jailali Hanyut dan tanda-tanda sungai, dengan informasi dari ponsel: prakiraan cuaca, berita bencana dan peringatan gempa BMKG. Mereka juga belajar memilah hoaks, misalnya kabar bahwa seluruh Aceh Selatan terendam padahal banjir hanya terjadi di satu kecamatan.
Dini Nastiti Wardani, dalam opini yang diterbitkan PPL pada September 2026, mengusulkan peran penyiar radio perempuan sebagai penggerak literasi bencana. Radio tetap menjadi medium penting ketika internet padam. Program tetap tentang risiko bencana lokal, tas siaga, jalur evakuasi, wawancara dengan ahli, simulasi tindakan darurat, kisah penyintas dan kuis dapat menjangkau keluarga di kampung, lalu diolah ulang menjadi siniar dan konten media sosial. Ia juga mengkritik kecenderungan menempatkan perempuan penyiar hanya di balik mikrofon studio, bukan di lapangan, dan menuntut pelatihan keselamatan serta peralatan yang setara dengan rekan laki-laki.
Dari kisah-kisah ini dapat ditarik beberapa pelajaran. Pertama, perempuan berfungsi sebagai simpul informasi dan logistik dalam bencana, baik melalui media sosial, jaringan masjid maupun kelompok usaha. Kedua, akses digital tidak merata: usia, pendidikan, ekonomi dan disabilitas menentukan siapa yang dapat memanfaatkan internet. Ketiga, internet membawa peluang sekaligus risiko, dari pemasaran daring sampai penipuan. Keempat, sistem peringatan dini resmi belum menjangkau warga secara efektif, sehingga pengetahuan lokal dan jaringan sosial tetap menjadi tumpuan utama. Kelima, infrastruktur alternatif seperti Starlink dan radio menjadi penyelamat ketika jaringan utama runtuh.
Kisah-kisah ini juga memperlihatkan bahwa kerja perempuan dalam bencana sering tidak tercatat. Memasak untuk pengungsi, menyebarkan kabar, mengurus anggota keluarga yang sakit dan mengatur ulang ekonomi rumah tangga setelah kehilangan lahan jarang masuk dalam laporan resmi penanganan bencana. Padahal kerja-kerja inilah yang menjaga komunitas tetap berfungsi pada hari-hari pertama sebelum bantuan negara tiba.
Dalam konteks Aceh yang menjunjung nilai gotong royong dan peran meunasah, jaringan perempuan ini dapat dihubungkan dengan lembaga gampong sehingga informasi bencana mengalir melalui jalur sosial yang sudah dipercaya warga. Dengan cara itu, teknologi baru tidak menggantikan solidaritas lama, melainkan memperkuatnya. Pengalaman ini juga relevan bagi perencanaan kebencanaan di masa depan, ketika perubahan iklim diperkirakan membuat curah hujan ekstrem semakin sering terjadi di Aceh.
Bagi Acehnologi, gejala ini memperlihatkan pergeseran dalam pengetahuan kebencanaan Aceh. Setelah tsunami 2004, Aceh dikenal dengan kearifan lokal seperti smong di Simeulue, cerita lisan tentang gelombang besar yang menyelamatkan banyak nyawa. Dua dasawarsa kemudian, pengetahuan bertahan dibentuk oleh perpaduan antara tanda alam, cerita lisan, ponsel, grup WhatsApp, satelit dan radio. Perempuan berada di tengah perpaduan itu, sebagai penjaga cerita sekaligus pengguna teknologi baru. Kebijakan kebencanaan Aceh perlu mengakui posisi ini dengan memperkuat literasi digital perempuan, memastikan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, melindungi warga dari penipuan dan membangun jalur informasi cadangan yang tidak bergantung pada satu jaringan.
The hydrometeorological disaster of late November 2025 in Aceh was not only a disaster of water and earth but also a disaster of information. As days of rain triggered flash floods and landslides, the power grid collapsed, telecom towers went dark and major bridges were cut. In the Gayo highlands the internet was lost for about two weeks. In many villages people did not know the condition of relatives elsewhere, received no official warnings and had to guess when aid would arrive. In March and April 2026 the Perempuan Peduli Leuser community and Combine Resource Innovation of Yogyakarta published a series of reports on women, the internet and disaster that reveal another face of the catastrophe.
The story of Farhani Elwani Syawal in Takengon, Central Aceh, shows women acting as information hubs. She is over sixty, of Minang descent, long settled in Tetunjung village, Lut Tawar subdistrict, a retired trade-office official who once taught accounting at Universitas Gajah Putih. In her village she is known as “Ratu Share”, the Queen of Sharing, for her habit of passing on information. On Wednesday 26 November 2025 her car stalled near Paya Ilang market as floods spread through Takengon. That afternoon the power went out and the internet vanished. The last news she received was of flooding in Juli, Bireuen. Within days bridges on the Bireuen–Takengon road collapsed, including Teupien Mane, Tenge Besi and Jamur Ujung, and alternative routes were cut, isolating Gayo. Rice, gas and fuel ran short, and rice reached Takengon again only about ten days later at soaring prices.
Farhani said she received no official warning on her phone before the flood, although heavy rain had fallen for about a week. The government opened emergency telecom services at the communications office on 27 November, but she used Starlink at her village office instead. For about a month she collected rice from neighbours, cooked it and handed out boxed meals to evacuees at a mosque in a neighbouring village, quietly helped vulnerable families and pressed for psychologists and volunteer teachers for children in the shelters. She had also volunteered after the 2004 tsunami. On 30 December 2025 Mount Bur Ni Telong was raised to Level III before being lowered on 3 January 2026, adding to anxiety in Gayo.
Ayu ‘Ulya's report on three millennial women shows the range of digital experience. Betti Lestari, head of the Cendana group in Sumber Makmur village, Tenggulun, Aceh Tamiang, has used the internet for about ten years and sells vegetables online. She remembers the 2006 flash flood, when there was neither internet nor electricity. During the 2025 disaster she was in Linge, Central Aceh, and with others evacuated on foot for three nights and two days to Takengon. Her experience includes the internet's dark side: she had earlier fallen victim to a voice-phishing call from someone posing as a tax officer, handed over a code that turned out to be an OTP, and lost about twenty-one million rupiah with no resolution from police or bank. Sulastri, a Cendana member and mother of four, began using the internet only about three months after the disaster, for her children's school WhatsApp groups and to sell crafts made from palm fronds and plastic waste; she sold three hectares of land to survive and still relies on natural signs such as ant behaviour to read coming floods. Lainawidar of Sawang, North Aceh, a woman with a physical disability, was swept away when floodwater rose about five metres, was rescued by her brother, then endured two days without clean water in the shelter while menstruating, feverish and with diarrhoea; aid arrived only on the fifth day. She has no smartphone and has not received a walking aid. In March 2026 Combine Resource Innovation donated a Starlink unit and solar panels to the Cendana group.
Yelli Sustarina's reporting from Air Sialang, Samadua, South Aceh, adds another dimension. In this river-ringed village women combine old knowledge, such as the Jailali Hanyut flood story and the signs of the river, with information from their phones: weather forecasts, disaster news and BMKG earthquake alerts. They have also learned to sift hoaxes, such as a claim that all of South Aceh was flooded when only one subdistrict was.
Dini Nastiti Wardani, in an opinion piece published by PPL in September 2026, proposed women radio broadcasters as drivers of disaster literacy. Radio remains vital when the internet fails. Regular programmes on local disaster risk, go-bags, evacuation routes, expert interviews, simulated emergency actions, survivor stories and quizzes can reach village families and be repurposed as podcasts and social-media content. She also criticised the tendency to keep women broadcasters behind studio microphones rather than in the field, calling for safety training and equipment equal to their male colleagues.
Several lessons emerge. First, women serve as hubs of information and logistics in disaster, through social media, mosque networks and business groups. Second, digital access is uneven: age, education, income and disability determine who can use the internet. Third, the internet brings both opportunity and risk, from online marketing to fraud. Fourth, official early-warning systems have not reached residents effectively, so local knowledge and social networks remain the main support. Fifth, alternative infrastructure such as Starlink and radio becomes a lifeline when the main networks fail.
These stories also show that women's work in disaster often goes unrecorded. Cooking for evacuees, spreading news, caring for sick relatives and rebuilding the household economy after losing land rarely appear in official disaster reports, yet it is this work that keeps communities functioning in the first days before state aid arrives.
In an Aceh that values mutual help and the role of the meunasah, these women's networks can be linked to village institutions so that disaster information flows through social channels residents already trust. New technology then strengthens old solidarity rather than replacing it. This experience is also relevant to future disaster planning, as climate change is expected to make extreme rainfall more frequent in Aceh.
For Acehnologi, this marks a shift in Aceh's disaster knowledge. After the 2004 tsunami Aceh became known for local wisdom such as smong in Simeulue, the oral tradition about great waves that saved many lives. Two decades later survival knowledge is shaped by a blend of natural signs, oral stories, phones, WhatsApp groups, satellites and radio. Women stand at the centre of this blend, as keepers of stories and users of new technology. Aceh's disaster policy needs to recognise this position by strengthening women's digital literacy, ensuring accessibility for people with disabilities, protecting residents from fraud and building backup information channels that do not depend on a single network.
Gagasan kunciKey ideas
Bencana informasiA disaster of information
Putusnya listrik, internet dan jembatan mengisolasi Gayo hingga dua minggu.Lost power, internet and bridges isolated Gayo for up to two weeks.
Perempuan sebagai simpulWomen as hubs
Perempuan membagikan informasi, memasak untuk pengungsi dan menggerakkan bantuan.Women share information, cook for evacuees and mobilise aid.
Kesenjangan digitalDigital divide
Usia, ekonomi dan disabilitas menentukan akses terhadap informasi bencana.Age, income and disability determine access to disaster information.
Dari smong ke StarlinkFrom smong to Starlink
Pengetahuan bertahan memadukan cerita lisan, tanda alam dan teknologi baru.Survival knowledge blends oral stories, natural signs and new technology.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Mengapa peringatan dini resmi tidak menjangkau warga Gayo sebelum banjir November 2025, dan bagaimana jaringan perempuan dapat menjadi saluran peringatan cadangan?Why did official early warnings fail to reach Gayo residents before the November 2025 floods, and how could women's networks serve as backup warning channels?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Perempuan, internet dan literasi bencana di Aceh pasca-Siklon Senyar”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/perempuan-internet-dan-literasi-bencana-aceh/