Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Acehnologi — Jejak Budaya AcehAcehnologi — Tracing Acehnese culture

Naskah tidak bertanggal; memuat konteks hingga setidaknya 2012Undated manuscript; contains contexts extending to at least 2012

Panduan membaca bagian “Jejak Budaya Aceh” dalam naskah Acehnologi karya Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, dengan petikan sumber, konteks penafsiran, serta hubungan dengan entri tematik dan modul belajar.

Source-reading guide to Tracing Acehnese culture in the Acehnologi manuscript.

Bagian naskah: Jejak Budaya Aceh.

Entri ini adalah panduan sumber. Petikan terpilih di bawah mempertahankan suara penulis dan bukan ringkasan lengkap seluruh bab. Argumen, penilaian, dan generalisasi di dalam petikan merupakan pandangan penulis pada konteks penyusunan naskah; pembaca perlu membedakannya dari fakta yang telah diuji secara mandiri.

Petikan 1 — Ada teori yang menyebutkan bahwa Islam datang ke Aceh langsung dibawa dari Arab. Di samping itu, orang Aceh juga sering memberikan definisi terhadap kata ACEH dengan dimulai kata A yang dipahami Arab, C sebagai Cina, E dengan Eropa, dan H dengan Hindia. Jadi, di dalam kata Aceh terkandung empat budaya besar dunia yang telah mengalami proses blenderisasi selama ratusan tahun.

Petikan 2 — Bangsa Achemenia satu bangsa yang suka merantau, sampai bangsa ini tersebar di seluruh Asia, Afrika, Eropa dan juga Pulau Ruja. Satu keturunan pindah ke tanah Persia, kemudian menjadi bangsa Persia, yang satu suku lagi pindah ke Pulau Ruja, kemudian lahir bangsa Aceh.

Petikan 3 — Keempat, bab ini telah memperlihatkan bagaimana proses pergeseran makna dan perilaku budaya di kalangan orang Aceh. Harus dilihat bahwa proses yang terjadi saat ini, masih perlu dikaji apakah ingin menjaukan kedirian orang Aceh dari budaya atau malah ingin mendekatkan diri mereka pada budaya. Dari kajian ini, budaya sebagai bagian dari sistem berpikir masih belum begitu mengemuka dibandingkan dengan budaya yang berisi simbol dan juga sebagai teks.

Cara membaca: catat pertanyaan utama, bukti atau pengalaman yang dipakai, dan batas generalisasi. Bandingkan dengan entri tematik yang ditautkan. Istilah seperti “sekarang”, nama jabatan, keadaan lembaga, aturan hukum, dan angka tidak dimutakhirkan secara otomatis.

Rujukan: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad. Acehnologi. naskah Acehnologi yang diberikan penulis, naskah tidak bertanggal yang diberikan penulis pada 24 Oktober 2026. Nomor bab dan pembagian bagian belum konsisten; rujukan memakai judul bagian dalam tubuh naskah. Metadata berkas bukan tahun penerbitan. Sejumlah foto dan uraian menyebut 2012 serta masa pascadamai. Bagian “Jejak Budaya Aceh”.

Beberapa catatan rujukan yang menyertai bagian ini dalam naskah (ejaan dan kelengkapan bibliografi mengikuti sumber):

Al-Attas , Islam Dalam Sejarah Dan Kebudayaan Mela yu, Azyumardi Azra , The Origins of Islamic Reformism: Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern 'Ulama in the 17th and 18th Centuri es (Hawaii: University of Hawaii Press, 2004), Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, "Kontribusi Daerah Aceh Terhadap Perkembangan Awal Hukum Islam Di Indonesia, " Al-Jâmi'ah: Journal of Islamic Studi es 64 (1999). G.W.J. Drewes, "New Light on the Coming of Islam to Indonesia,” dala m Readings on Islam in Southeast As ia, ed. Ahmad Ibrahim, Sharon Siddique, and Yasmin Hussain (Singapore: ISEAS, 1985).

Lihat juga Aboebakar Aceh, "Tentang Nama Aceh,” dala m Bunga Rampai Tentang Ac eh, ed. Ismail Suny (Jakarta: Bhratara, 1980).

Mengenai pengaruh Cina di Nusantara baca H.J. de Graaf and Th. G.Th. Pigeaud , Cina Muslim Di Jawa Abad XV Dan XVI: Antara Historisitas Dan Mit os, ed. Merle Ricklef (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004), Sumanto Al Qurtuby , Arus Cina-Islam-Jawa: Bongkar Sejarah Atas Peranan Tionghoa Dalam Penyebaran Agama Islam Di Nusantara Abad XV & XV I (Yogyakarta: INSPEAL AHIMSAKARYA PRESS, 2003). Untuk konteks Cina di Aceh baca A. Rani Usman , Etnis Cina Perantauan Di Ac eh (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2009).

Lihat misalnya Stefano Allievi and Jorgen Nielsen, eds. , Muslim Networks and Transnational Communities in and across Euro pe (Leiden: Brill, 2003), David Levering Lewis , God's Crucible: Islam and the Making of Europe, 570-12 15 (London and New York: W.W. Norton, 2008).

Lihat misalnya Hidayat , Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneut ik, Komaruddin Hidayat , Wahyu Di Langit Wahyu Di Bumi: Doktrin Dan Peradaban Islam Di Panggung Sejar ah (Jakarta: Paramadina, 2003).

Lihat misalnya Al-Attas , A Commentary of the Hujjat Al-Siddiq of Nur Al-Din Al-Rani ri, idem , Rânîrî and the Wujûdiyyah of 17th Century Ach eh, Daudy , Allah Dan Manusia Dalam Konsepsi Syeikh Nuruddin Ar-Rani ry, idem , Syeikh Nuruddin Ar-Raniry (Sejarah, Karya Dan Sanggahan Terhadap Wujudiyyah Di Ace h).

A source-reading guide to “Tracing Acehnese culture” in Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad’s Acehnologi manuscript. The Indonesian extracts preserve the author’s voice; the linked thematic entry supplies a separate conceptual overview. Read the manuscript as a situated intellectual argument, distinguishing interpretation, field observation, and normative proposals. Dates and institutional descriptions belong to the period discussed, rather than automatically describing present-day Aceh.

Reference: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad. Acehnologi. author-supplied Acehnologi manuscript, undated manuscript supplied by its author on 24 October 2026. Chapter numbering and part divisions are inconsistent; references identify body headings. File metadata is not a publication date. Several captions and passages refer to 2012 and the post-peace period. Section “Jejak Budaya Aceh”.

Gagasan kunciKey ideas

Sumber dan tafsirSource and interpretation

Petikan dibedakan dari penjelasan editorial dan dibaca dalam konteks zamannya.Extracts are distinguished from editorial explanation and read in their historical context.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa bukti yang mendukung argumen pada bagian ini, dan apa yang masih perlu diuji?What supports this section’s argument, and what remains to be tested?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Acehnologi — Jejak Budaya Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/acehnologi-jejak-budaya-aceh/