Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Keurija dan bek peumale gampongKeurija and bek peumale gampong: communal work and guarding village honour

Keurija (kerja) adalah istilah untuk hajatan sosial dalam siklus hidup, terbagi menjadi keurija udep (hajatan kehidupan) dan keurija mate (urusan kematian). Dalam keurija, warga membantu tanpa pamrih dan semua konflik dikesampingkan. Prinsip bek peumale gampong (jangan mempermalukan kampung) menjadi upaya tertinggi menutup masalah dan aib bersama. Prinsip ini bertumpu pada struktur kawom yang diikat oleh keturunan dan perkawinan.

Keurija ('work') is the term for social gatherings in the life cycle, divided into keurija udep (celebrations of life) and keurija mate (matters of death). In keurija, villagers help without expecting return and all disputes are set aside. The principle bek peumale gampong ('do not shame the village') is the highest means of covering up shared problems and disgrace. It rests on the kawom structure bound by descent and marriage.

Bila seseorang berpakaian rapi, orang kampung akan berkata ia jak keurija, pergi ke hajatan. Relasi sosial keurija udep dan keurija mate masih kuat di perkampungan dan pedalaman. Tugas dibagi menurut fungsi sosial masing-masing, dan semangatnya adalah membantu tanpa pamrih. Persaingan dan perselisihan yang sehari-hari tampak, misalnya dalam praktik reuboh, harus diredam ketika keurija berlangsung.

Bek peumale gampong berakar pada struktur kampung yang secara historis terdiri dari kawom, dipimpin Panglima Kawom, dan diikat oleh beberapa garis keturunan. Perkawinan sesama kawom memperkuat kesatuan ini sehingga relasinya sukar diadu domba; rumah-rumah berdesakan tanpa pagar yang jelas. Menjaga aib keluarga sekaligus aib kawom menjadi tanda keanggotaan, dan keluarga berperan menyeimbangkan harga diri rumah tangga dengan harga diri kaum.

Ketidakhadiran dalam keurija tidak dilarang secara formal, tetapi dinilai hana get dan dapat berbuah sanksi sosial. Kini kehadiran kerap diganti dengan sumbangan uang, dan karena hari kerja modern, keurija sering dipindahkan ke akhir pekan. Pergeseran ini memperlihatkan bagaimana ekonomi moral kampung beradaptasi dengan monetisasi dan jadwal kerja perkotaan. Kampung, dalam cara pandang ini, diibaratkan sebuah keluarga besar: keluarga yang tidak ikut dalam kehidupan kampung dianggap bermasalah, dan aib kampung dirasakan sebagai aib keluarga.

When someone is neatly dressed, villagers say he is jak keurija, off to a gathering. The social bonds of keurija udep and keurija mate remain strong in villages and the interior. Tasks are distributed according to each person's social role, and the spirit is one of help without reward. The rivalries and disputes seen in daily life, for instance in the practice of reuboh, must be set aside while a keurija is under way.

Bek peumale gampong is rooted in a village structure historically composed of kawom, headed by a Panglima Kawom and bound by several lines of descent. Marriage within the kawom strengthened this unity, making it hard to set its members against one another; houses stood close together without clear fences. Guarding both family and kawom honour marked membership, and the family balanced household dignity against that of the kin group.

Absence from a keurija is not formally forbidden but is judged hana get and can bring social sanction. Today attendance is often replaced by a cash contribution, and because of modern working days keurija are frequently moved to weekends. These shifts show how the village moral economy adapts to monetisation and urban work schedules.

Gagasan kunciKey ideas

Kerja sebagai ritus sosialWork as social rite

Keurija mengikat warga dalam peristiwa hidup dan mati.Keurija binds villagers around life and death events.

Aib bersamaShared honour

Aib keluarga sama dengan aib kampung dan kawom.Family disgrace equals village and kin-group disgrace.

Monetisasi kehadiranMonetised presence

Uang mulai menggantikan kehadiran fisik.Money increasingly substitutes for physical presence.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah sumbangan uang dapat benar-benar menggantikan kehadiran dalam menjaga solidaritas kampung?Can a cash contribution truly replace physical presence in sustaining village solidarity?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Keurija dan bek peumale gampong”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/keurija-dan-bek-peumale-gampong/