Zat, Huwa, dan nama Allah: tingkatan ‘Yang Pertama’Essence, Huwa and the name Allah: the hierarchy of 'the First'
Dalam syarah Asrār al-‘Ārifīn, Hamzah Fansuri menjelaskan bahwa ‘Yang Pertama’ adalah Zat semata, tanpa sifat dan tanpa nama. Nama bagi Zat itu adalah Huwa (Dia), yang setingkat lebih tinggi daripada nama Allah, sedangkan nama Allah adalah himpunan seluruh nama lain. Ia menunjukkan bahwa dalam al-Qur’an kata Huwa selalu beriringan dengan nama Allah. Tingkatan ini membalik arah keyakinan dari nama yang dikenal menuju Dia yang tersembunyi.
In his commentary in Asrār al-‘Ārifīn Hamzah Fansuri explains that 'the First' is the Essence alone, without attribute or name. The name of that Essence is Huwa (He), one rank above the name Allah, while Allah is the name that gathers all other names. He notes that in the Qur'an Huwa always accompanies the name Allah. This hierarchy turns belief from the familiar name back towards the hidden He.
Penjelasan ini berangkat dari bait ‘Yogya diketahui apa Yang Pertama’. Hamzah menegaskan bahwa yang dimaksud adalah upaya ‘mengetahui’, bukan ‘mengenal’, sehingga yang perlu dipahami ialah apa yang ada sebelum segala ciptaan berwujud. Jawabannya adalah Zat semata, sendiri-Nya, tanpa sifat dan tanpa asma. Untuk memperlihatkan kedudukan Huwa, ia menyandarkan diri pada ayat-ayat seperti Ayat Kursi, akhir Surah al-Ḥasyr, dan Surah al-Ikhlāṣ, yang semuanya mendahulukan atau mengiringi nama Allah dengan Huwa.
Untuk menjelaskan hubungan nama Allah dengan nama-nama lain, Hamzah memakai tamsil sehari-hari. Seseorang bernama Muhammad disebut ‘ālim karena berilmu, kātib karena pandai menulis, dan saudagar karena berniaga, tetapi semua sebutan itu berada di bawah nama Muhammad. Demikian pula Allah disebut Khāliq karena mencipta, Rāziq karena memberi rezeki, Ṣāni‘ karena membuat alam, dan Ḥakīm karena hikmah-Nya, sedangkan semua nama itu dihimpun oleh nama Allah.
Urutan Zat, Huwa, Allah, lalu asmā’ al-ḥusnā memberi kerangka ontologis bagi tauhid. Siapa yang memahami makna urutan ini, kata Hamzah, mengetahui Yang Pertama. Dengan cara ini, metafisika ketuhanan disajikan bukan sebagai spekulasi asing, melainkan sebagai pembacaan mendalam atas teks al-Qur’an dan pengalaman berbahasa sehari-hari. Bagi pembaca Aceh, tamsil semacam ini membuat gagasan yang abstrak menjadi akrab tanpa mengurangi kedalamannya.
The explanation starts from the line 'It is fitting to know what the First is'. Hamzah stresses that this concerns 'knowing about', not intimate 'knowing', so what must be understood is what was before anything created existed. The answer is the Essence alone, by Itself, without attribute or name. To show the rank of Huwa he draws on verses such as the Throne Verse, the close of Sūrat al-Ḥashr and Sūrat al-Ikhlāṣ, all of which precede or accompany the name Allah with Huwa.
To explain how the name Allah relates to other names, Hamzah uses an everyday analogy. A man named Muhammad is called learned for his knowledge, a scribe for his writing and a merchant for his trade, yet all these titles fall under the name Muhammad. Likewise God is called Creator for creating, Provider for sustaining, Maker for fashioning the world and Wise for His wisdom, while all these names are gathered in the name Allah.
The sequence of Essence, Huwa, Allah and then the Beautiful Names gives divine unity an ontological frame. Whoever grasps this order, Hamzah says, knows the First. In this way the metaphysics of God is presented not as alien speculation but as a deep reading of the Qur'anic text and of ordinary speech.
Gagasan kunciKey ideas
Zat sebelum namaEssence before name
Yang Pertama adalah Zat tanpa sifat dan asma.The First is the Essence without attribute or name.
Huwa di atas AllahHuwa above Allah
Huwa setingkat di atas nama Allah, dan Zat di atas Huwa.Huwa ranks above Allah, and the Essence above Huwa.
Tamsil nama manusiaThe human-name analogy
Gelar-gelar seseorang berada di bawah namanya, seperti asmā’ di bawah nama Allah.A person's titles fall under their name, as the divine names fall under Allah.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apa makna spiritual dari mengarahkan zikir dan keyakinan bukan hanya kepada nama yang dikenal, tetapi kepada ‘Dia’ yang tersembunyi?What is the spiritual significance of directing remembrance and faith not only to the known name but to the hidden 'He'?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Zat, Huwa, dan nama Allah: tingkatan ‘Yang Pertama’”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/zat-huwa-dan-nama-allah/