Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Samadiyah dan siklus kenduri kematianSamadiyah and the cycle of funeral feasts

Tradisi berkelanjutanOngoing tradition

Samadiyah adalah rangkaian bacaan zikir dan doa dalam kenduri kematian yang diyakini meringankan penderitaan si mati di alam kubur. Di Nagan Raya, kenduri kematian adalah jenis kenduri paling sering, diadakan setiap malam pada minggu pertama lalu pada hari ke-40, ke-44, ke-100, dan ke-1.000. Karena bersifat ‘transaksional’, praktik ini menjadi sasaran utama kritik pembaru sejak 1930-an.

Samadiyah is a sequence of litanies and prayers recited at funeral feasts, believed to lessen the suffering of the deceased in the grave. In Nagan Raya funeral kenduri are the most frequent kind, held every night in the first week and then on the 40th, 44th, 100th and 1,000th days. Because it is ‘transactional’, the practice has been a prime target of reformist critique since the 1930s.

Eskatologi Islam mengenal masa antara kematian dan hari perhitungan ketika si mati menanggung akibat dosanya, dan salah satu tempat penderitaan itu diyakini adalah kubur. Sebagian besar warga Nagan Raya percaya bahwa bacaan samadiyah dapat mengurangi penderitaan tersebut. Dengan jadwal yang padat, siapa pun yang mau hampir setiap malam dapat menghadiri kenduri kematian di suatu tempat di Nagan Raya.

Mengikuti John R. Bowen yang meneliti Gayo, Birchok menyebut ritual semacam ini ‘transaksional’, yaitu ritual yang diyakini menghasilkan akibat tertentu bila dilaksanakan. Bagi sebagian Muslim, gagasan bahwa ritual orang hidup dapat mengubah nasib orang mati bertentangan dengan tanggung jawab pribadi manusia atas amalnya, bahkan dianggap membatasi kehendak Tuhan. Fatwa PUSA tahun 1948 mengharamkan sebagian praktik kematian, dan sejak pertengahan abad ke-20 sebagian Muslim Nagan Raya berhenti menghadiri kenduri atau mengadakan kenduri sendiri tanpa unsur yang mereka tolak.

Meski demikian, pada akhir 2000-an kebanyakan kenduri di Nagan Raya masih memuat doa transaksional. Kenduri dipandang sebagai wujud silaturahmi, dan menolak hadir dianggap mengucilkan diri, sesuatu yang dinilai tidak islami. Sebuah sajak setengah bercanda di dinding kantor, ‘yang penting kenduri’, menyindir orang yang lebih rajin ke kenduri daripada salat, tanpa menolak kenduri itu sendiri.

Kelompok pembaca samadiyah di desa biasanya terdiri dari lelaki senior yang berlatih setiap pekan. Seorang lelaki berusia tiga puluhan yang sudah menikah mengeluh kepada Birchok bahwa permintaannya bergabung selalu ditolak karena dianggap ‘belum siap’. Penolakan ini memperlihatkan bahwa keterlibatan dalam ritual tertentu dipahami sesuai tahap usia. Perempuan dari segala usia juga berkumpul membaca Surah Yasin, yang terkait dengan pahala bagi kerabat yang wafat.

Islamic eschatology holds that between death and the day of reckoning the deceased bear the consequences of their sins, and the grave is believed to be one site of that suffering. Most residents of Nagan Raya believe samadiyah recitations can lessen it. Given the dense schedule, anyone who wished could attend a funeral kenduri somewhere in Nagan Raya almost every night.

Following John R. Bowen’s work on Gayo, Birchok calls such rituals ‘transactional’: rituals believed to bring about specific effects when performed. For some Muslims, the idea that the living’s rituals could change the fate of the dead contradicts personal responsibility for one’s deeds and even seems to limit God’s will. A 1948 PUSA fatwa forbade some funerary practices, and from the mid-twentieth century some Nagan Raya Muslims stopped attending kenduri or held their own without the elements they rejected.

Even so, in the late 2000s most kenduri in Nagan Raya still included transactional prayers. Kenduri are seen as an expression of silaturahmi, and refusing to attend is considered isolating oneself, which is judged un-Islamic. A half-joking verse on an office wall, ‘what matters is kenduri’, teased those more diligent at feasts than at prayer, without rejecting kenduri as such.

Village samadiyah groups usually consist of senior men who practise weekly. A married man in his thirties complained to Birchok that his requests to join were always refused because he was ‘not yet ready’. The refusal shows that participation in certain rituals is understood according to life stage. Women of all ages also gather to read Surah Yasin, linked to merit for deceased kin.

Gagasan kunciKey ideas

Ritual transaksionalTransactional ritual

Samadiyah diyakini menghasilkan akibat nyata bagi si mati.Samadiyah is believed to produce real effects for the dead.

Kenduri sebagai kewajiban sosialKenduri as social duty

Menghadiri kenduri kematian adalah bagian dari silaturahmi dan keislaman.Attending funeral kenduri is part of silaturahmi and of being Muslim.

Ritual menurut usiaRitual by age

Hak membaca samadiyah dikaitkan dengan kematangan dan senioritas.The right to lead samadiyah is tied to maturity and seniority.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana ritual untuk orang mati sekaligus menjadi cara merawat hubungan di antara orang hidup?How does a ritual for the dead also become a way of tending relations among the living?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Samadiyah dan siklus kenduri kematian”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/samadiyah/