Upacara hari besar istana Aceh: meugang, Lailatul Qadar, hari raya dan junjung duliCourt ceremonies of the Aceh Sultanate: meugang, Lailat al-Qadr, Hari Raya and junjung duli
Adat Majelis Raja-raja, bagian ketiga Mābaina al-Salāṭīn, merekam kalender upacara istana Kesultanan Aceh: tabal pada hari meugang menjelang puasa, jaga-jaga malam Lailatul Qadar yang dibiayai para syahbandar, perarakan sultan ke Masjid Baiturrahman pada Hari Raya dan hari Jumat, tata sembah junjung duli, audiensi hari Sabtu dan mandi Safar. Upacara-upacara ini memadukan ibadah yang dipimpin kadi dan ulama, kemegahan pasukan dan alat kebesaran, serta kekayaan pelabuhan dalam satu dramaturgi kekuasaan, dan banyak di antaranya memiliki padanan dalam adat gampong masa kini.
The Adat Majelis Raja-raja, the third part of the Mābaina al-Salāṭīn, records the ceremonial calendar of the Aceh court: the tabal on meugang day before the fast, the Lailat al-Qadr vigils financed by the syahbandar, the sultan's processions to the Baiturrahman mosque on Hari Raya and on Fridays, the junjung duli obeisance, the Saturday audience and the Safar bath. These ceremonies fused worship led by the kadi and the ulama, military splendour and regalia, and port wealth into a single dramaturgy of power, and many of them have counterparts in present-day village custom.
Bagian ketiga Mābaina al-Salāṭīn, Adat Majelis Raja-raja, dibuka dengan rangkaian tawasul kepada Nabi Muhammad, para nabi dan rasul, empat sahabat, Syekh Abdul Kadir Jailani, para qutub dan wali dari timur hingga barat, serta para sultan yang telah mangkat. Sesudah pembukaan itu teks menyatakan bahwa pada tahun 1015 H, ketika Sultan Iskandar Muda bersemayam di atas kursi emas bertatahkan permata, baginda bersabda kepada Orang Kaya Seri Maharaja Lela, penghulu kerukun Raja Sati Muda, kerukun Katibul Muluk Seri Indra Sura dan kerukun Seri Indra Muda di balai besar agar tata upacara ditandakan dalam surat seperti tercantum dalam tarakata. Orang Kaya Seri Maharaja Lela lalu menulis majelis raja, majelis hulubalang, majelis tabal pada hari meugang puasa, majelis hari raya, majelis junjung duli, majelis berangkat hari Jumat, majelis bulan Safar, majelis jaga-jaga dan majelis Bandar Darussalam. Daftar ini sekaligus merupakan kalender ritual istana, yang mengikat sultan pada siklus ibadah tahunan dan mingguan umat Islam.
Teks ini juga menyimpan jejak transmisinya sendiri. Pada tahun 1055 H, pada masa Sultanah Tajul Alam Safiatuddin, tarakata tersebut dimohon oleh Orang Kaya Seri Maharaja Lela, Seri Paduka Tuan Seberang, untuk disalin oleh penghulu kerukun Raja Sati Muda Po Sarong dari kampung Piko. Catatan ini menunjukkan bahwa tata upacara istana bukan sekadar kebiasaan lisan, melainkan dokumen administratif yang disimpan, dirujuk dan diperbarui oleh para pejabat juru tulis istana dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya. Beberapa rincian, misalnya intatan Syahbandar Saiful Muluk yang secara eksplisit disebut berlaku pada zaman Sultanah Safiatuddin, memperlihatkan bahwa salinan itu tidak hanya menyalin tetapi juga menambahkan praktik yang berlaku pada masa penyalinan.
Majelis tabal pada hari meugang dimulai pada malam tiga puluh Syakban. Syahbandar Seri Rama Sati membawa intatan, yaitu persembahan berupa kain bersuji dan baju dalam warna lembayung, nilam dan ungu, disertai sepuluh helai kain pengiring, sepuluh helai baju dan sepuluh helai tengkuluk, ke penghadapan biram sambil menantikan hilal; jika bulan tidak terlihat, ia bermalam di sana bersama intatannya. Esok harinya diaraklah Raja Tajuk Intan Dikarang di atas gajah, yang diriba dan digerakkan oleh para ceteria, bunga dihantarkan masing-masing tujuh cerana ke Kandang Asyki Musyahadat, Kandang Baiturrijal dan Kandang Raja Emas, nafiri dan serunai ditiup tujuh ragam, dan genderang dong dipalu tujuh kali tujuh ragam. Sesudah itu Keujruen Geundrang Seri Udahna Kembaran memohon titir ragam tabal, dan atas permohonan Paduka Maha Menteri dan Seri Ratna Perdana dibunyikanlah nobat Ibrahim Khalil. Bagian Dastur dalam kitab yang sama mencatat adat rempah bagi setiap ekor kerbau "pada hari memegang atau daging mengantar", petunjuk bahwa penyembelihan dan pembagian daging, yang hingga kini dikenal masyarakat Aceh sebagai meugang, sudah menjadi bagian dari urusan istana.
Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, para syahbandar memohon gong dan genderang untuk berjaga-jaga. Syahbandar Saiful Muluk memulai jaga-jaga dua malam sejak malam kedua puluh, dan pada malam kedua puluh enam intatannya diarak: kain bersuji dalam warna murup, lembayung, lembayung batang bayam, ungu dan nilam, tiga puluh lima helai kain pengiring dan tiga puluh lima helai baju, tiga puluh lima helai tengkuluk dari berbagai jenis, serta dua payung delapan lapis dan sepuluh payung selapis. Syahbandar Mu'izzul Muluk menyusul pada malam kedua puluh tujuh, dan intatannya diarak pada malam kedua puluh sembilan dari Bandar Darussalam ke dalam Kota Daruddunia setelah nazir memohon izin. Pada tiga puluh Ramadan Syahbandar Seri Rama Sati kembali mengarak Raja Tajuk. Fakta bahwa para pejabat pelabuhanlah yang membiayai ritual malam Lailatul Qadar memperlihatkan bagaimana kekayaan perdagangan disalurkan menjadi kemegahan keagamaan istana, sekaligus bagaimana kesetiaan para syahbandar dipertunjukkan di hadapan sultan dan publik kota.
Pada pagi Hari Raya Puasa, perarakan berangkat dari Kota Daruddunia ke Masjid Baiturrahman setelah serangkaian permohonan yang diatur dengan cermat: penghulu bilal memohon tongkat khutbah, Keujruen Geundrang memohon genderang dong dipalu, bentara memohon salih, puan kerajaan dan bungkusan kerajaan, dan akhirnya Kadi Malikul Adil memohon sultan berangkat. Sepanjang jalan para fakir, syarif, imam, khatib, hafiz, qari dan muqri bertakbir dan berzikir, dan para hulubalang berkhidmat di setiap gerbang. Di masjid genderang beralih ke ragam siwajan, Kadi Malikul Adil dan Fakih Seri Raja Fakih berdiri di depan pintu tempat sultan, lalu sultan masuk ke balik jerjak kekisi dan disambut kadi dengan salam "Assalamu alaikum wa rahmatullah, daulat makota", yang dijawab sultan dengan suara perlahan. Sultan salat tahiyyat al-masjid di balik kelambu, bilal menyeru "assalatu jami'ah" tiga kali, dan salat hari raya dilakukan dengan tujuh takbir pada rakaat pertama dan lima takbir pada rakaat kedua, lalu khutbah. Sesudahnya imam berjabat tangan dengan jamaah, dan para hulubalang dipanggil untuk menjunjung sabda sultan di dalam masjid.
Perjalanan pulang dari masjid disusun sebagai pergantian bunyi. Bedil dan cecurung di atas gajah dipasang sepanjang jalan; di Karang ragam genderang beralih menjadi ragam sani, di Medan Khayali menjadi ragam mahligai, di pintu gerbang menjadi ragam kembali dari masjid, di dalam Kota Daruddunia menjadi ragam siwajan, dan di halaman balai besar menjadi ragam kuda berlari. Para tandil dan pegawai menyambut sultan dengan beras kuning bercampur emas, yang dihamburkan ketika gajah istana mendekati biram pantang, lalu sultan masuk ke mahligai Jitakandran. Topografi istana, dengan gerbang, balai dan medannya, dengan demikian berfungsi sebagai partitur musik: setiap titik ruang ditandai oleh ragam bunyi tertentu, sehingga penduduk kota dapat mengetahui posisi sultan hanya dengan mendengarkan genderang.
Majelis junjung duli pada Hari Raya adalah tata sembah paling rumit dalam teks. Setelah Paduka Maha Menteri dan Seri Ratna Perdana memohon raja genderang dan alat kebesaran, dan para tandil seperti Bujang Kedah, Mujahidul Iman, Bujang Dandani dan Rangan Sebilah mengambil tempat, di halaman Balairung dipasang tiga tanda, yaitu alif, ayam angin dan bantal besar. Tirai rawa disingkap oleh megat dan sultan tampak di penghadapan. Setiap pembesar, dimulai dari Kadi Malikul Adil, masuk melalui pintu cermin Jumat, berkhidmat pada setiap tanda, menanggalkan keris dan pedangnya, berjalan dengan tangan di atas kepala dalam langkah melela, mengulangi gerak dari alif ke ayam angin tiga kali dan, dengan langkah mayang ikal dan sembah jerulang, dari ayam angin ke bantal besar lima kali, lalu naik tangga dan menyembah hingga ujung jarinya menyentuh lutut sultan sebanyak tujuh kali, sebelum mundur dengan urutan yang sama dan mengenakan kembali senjatanya. Hierarki politik diterjemahkan menjadi geometri gerak tubuh, dan angka tiga, lima dan tujuh menandai jarak bertahap antara pejabat dan penguasa.
Upacara mingguan melengkapi kalender ini. Pada hari Jumat sultan berarak ke Masjid Baiturrahman dengan tata yang sama, salat tahiyyat al-masjid dan sunat Jumat di balik kelambu keemasan, mendengarkan seruan Penghulu Bilal Khan dengan ayat selawat, hadis riwayat Abu Hurairah dan dua khutbah, lalu mengikuti salat Jumat, doa bagi Nabi dan doa kebaikan bagi Syah Alam. Sesudahnya tirai disingkap dan sultan memanggil kadi, para orang kaya dan hulubalang. Pada hari Sabtu para hulubalang menghadap di Balai Besar: orang kaya keempat dan kedelapan dipanggil dengan nama gelarnya, duduk berlapis menurut taraf, sementara Kadi Malikul Adil duduk di sebelah kiri tiang peratna sembah dengan Syekh Syarif, Fakih Jataraya, Keujruen Biang dan Penghulu Biang di bawahnya. Mereka kemudian menerima jamuan di balai pedang, dengan air dalam mundam suasa atau mundam perak dan nasi dalam ceper suasa menurut tarafnya, sehingga bahkan bejana makan pun menjadi penanda kedudukan.
Mandi Safar adalah satu-satunya upacara musiman yang tidak berpusat pada masjid. Sejak bulan Zulhijah Syahbandar Muktabar Khan mendirikan jambo perarakan yang dikerjakan oleh tandil kawal dan sagi kawal, sementara bunga dan perlengkapannya ditanggung syahbandar. Benderung dibuat oleh Amir Diwangsa menurut rancangan Orang Kaya Maharaja Seri Maharaja Mangkubumi, dengan besi kira-kira lima puluh kati dan tanah merah tiga kati. Tiga hari sebelum Rabu terakhir Safar, Muktabar Khan memohon gong, genderang dan penghulu kenduri; esoknya nasi kenduri diarak ke istana, lalu diadakan jaga-jaga dua malam di rumah Muktabar Khan dengan biduan pedikiran dan dap rebana. Pada hari Rabu air mandi, nasi santap dan kain sembahan diarak di atas gajah ke benderung, dan para pejabat yang terlibat menerima salin, yaitu pakaian anugerah. Upacara ini sejalan dengan tradisi Rabu Abeh pada akhir Safar yang masih dikenal di Aceh, meskipun teks tidak menjelaskan makna teologisnya.
Rangkaian upacara ini menunjukkan bahwa kedaulatan Aceh dipentaskan melalui penggabungan tiga unsur: ibadah yang dipimpin kadi dan ulama, kemegahan pasukan dan alat kebesaran, serta pembiayaan dari pelabuhan. Kehadiran Kadi Malikul Adil sebagai pembesar pertama yang memohon sultan berangkat dan pertama yang menjunjung duli menegaskan bahwa legitimasi agama ditempatkan di puncak tata urutan, sementara syahbandar seperti Seri Rama Sati, Saiful Muluk, Mu'izzul Muluk dan Muktabar Khan menjadi penyandang dana yang tampil di ruang publik. Gambaran ini sejalan dengan kedudukan sultan sebagai khalifah yang dalam teks yang sama digambarkan berzikir dengan tasbih permata ketika mendengar takbir para ulama, sehingga kemegahan duniawi dan kesalehan diproyeksikan sebagai satu kesatuan.
Bagi kajian Aceh, Adat Majelis Raja-raja penting setidaknya dalam tiga hal. Pertama, teks ini merupakan salah satu sumber pribumi paling rinci tentang musik, tata ruang dan protokol istana di dunia Melayu, sebanding dengan catatan para pengunjung asing tetapi ditulis dari dalam. Kedua, banyak praktik masyarakat Aceh masa kini, seperti meugang, kenduri, jaga malam Ramadan dan peringatan akhir Safar, memiliki padanan istana dalam teks ini, sehingga ia dapat dibaca sebagai sumber sejarah bagi hubungan timbal balik antara adat istana dan adat gampong. Ketiga, teks ini memperlihatkan bahwa protokol tidak beku: penyalinan pada masa Sultanah Safiatuddin menandai adanya kesinambungan kelembagaan melintasi pergantian penguasa. Persoalan terbuka yang tersisa adalah sejauh mana upacara-upacara ini benar-benar dijalankan seperti tertulis, dan bagaimana makna politiknya bergeser ketika ritual yang semula dipusatkan di Kota Daruddunia diambil alih oleh meunasah dan gampong setelah runtuhnya kesultanan.
The third part of the Mābaina al-Salāṭīn, the Adat Majelis Raja-raja, opens with a chain of invocations to the Prophet Muhammad, the prophets and messengers, the four Companions, Shaykh Abdul Kadir Jailani, the poles and saints from east to west, and the departed sultans. After this opening the text states that in 1015 AH, while Sultan Iskandar Muda sat upon a golden throne set with gems, he commanded Orang Kaya Seri Maharaja Lela, the head of the kerukun Raja Sati Muda, the kerukun Katibul Muluk Seri Indra Sura and the kerukun Seri Indra Muda in the great hall to set down the ceremonial order in writing as recorded in the tarakata. Orang Kaya Seri Maharaja Lela then wrote down the ceremonies of the king, of the hulubalang, of the tabal on meugang day before the fast, of the Hari Raya, of the junjung duli, of the Friday procession, of the month of Safar, of the vigils and of Bandar Darussalam. The list is also a ritual calendar of the court, binding the sultan to the annual and weekly cycles of Muslim worship.
The text also preserves traces of its own transmission. In 1055 AH, in the reign of Sultanah Tajul Alam Safiatuddin, the tarakata was requested by Orang Kaya Seri Maharaja Lela, Seri Paduka Tuan Seberang, to be copied by the head of the kerukun Raja Sati Muda Po Sarong of kampung Piko. This note shows that court ceremonial was not merely oral habit but an administrative document kept, consulted and updated by the court's scribal officials from one reign to the next. Some details, such as the offering of Syahbandar Saiful Muluk explicitly said to apply in the time of Sultanah Safiatuddin, show that the copy did not merely reproduce but also added the practice current at the time of copying.
The tabal on meugang day begins on the night of the thirtieth of Syakban. Syahbandar Seri Rama Sati brings his intatan, an offering of embroidered cloths and jackets in lilac, indigo and purple, accompanied by ten attendant cloths, ten jackets and ten headcloths, to the penghadapan biram while awaiting the new moon; if the moon is not sighted he spends the night there with his offering. The next day the Raja Tajuk Intan Dikarang is paraded on an elephant, held and driven by ceteria, flowers are taken in seven cerana each to the Kandang Asyki Musyahadat, the Kandang Baiturrijal and the Kandang Raja Emas, trumpets and shawms are sounded in seven modes, and the dong drum is beaten seven times in seven modes. Then the Keujruen Geundrang Seri Udahna Kembaran requests the tabal roll, and at the petition of the Paduka Maha Menteri and the Seri Ratna Perdana the nobat Ibrahim Khalil is sounded. The Dastur section of the same book lists the spices allotted for each buffalo "on meugang day or the day meat is delivered", a sign that the slaughter and distribution of meat still known in Aceh as meugang was already a court affair.
During the last ten nights of Ramadan the syahbandar requested gongs and drums for the vigils. Syahbandar Saiful Muluk began a two-night vigil from the twentieth night, and on the twenty-sixth night his offering was paraded: embroidered cloths in murup, lilac, amaranth-stalk lilac, purple and indigo, thirty-five attendant cloths and thirty-five jackets, thirty-five headcloths of various kinds, and two eight-tiered and ten single-tiered umbrellas. Syahbandar Mu'izzul Muluk followed on the twenty-seventh night, and his offering was paraded on the twenty-ninth night from Bandar Darussalam into Kota Daruddunia after the nazir had asked leave. On the thirtieth of Ramadan Syahbandar Seri Rama Sati again paraded the Raja Tajuk. That port officials financed the rituals of Lailat al-Qadr shows how commercial wealth was channelled into the religious splendour of the court, and how the loyalty of the syahbandar was displayed before the sultan and the urban public.
On the morning of Hari Raya Puasa the procession left Kota Daruddunia for the Baiturrahman mosque after a carefully ordered sequence of petitions: the chief bilal asked for the khutbah staff, the Keujruen Geundrang asked for the dong drum to be beaten, the bentara asked for the salih, the royal betel box and the royal bundle, and finally the Kadi Malikul Adil asked the sultan to set out. Along the way the fakir, syarif, imams, khatib, hafiz, qari and muqri chanted takbir and dhikr, and the hulubalang paid homage at every gate. At the mosque the drums changed to the ragam siwajan, the Kadi Malikul Adil and the Fakih Seri Raja Fakih stood before the sultan's door, and the sultan entered behind the lattice and was greeted by the kadi with the salutation "Peace be upon you and the mercy of God, sovereign of the crown", to which the sultan replied softly. The sultan prayed the greeting prayer behind his curtain, the bilal called "assalatu jami'ah" three times, and the festival prayer was performed with seven takbir in the first rak'ah and five in the second, followed by the sermon. Afterwards the imam shook hands with the congregation and the hulubalang were summoned to receive the sultan's word inside the mosque.
The return from the mosque was composed as a succession of sounds. Guns and cecurung mounted on elephants were fired along the route; at Karang the drum mode changed to ragam sani, at Medan Khayali to ragam mahligai, at the gateway to the mode of return from the mosque, inside Kota Daruddunia to ragam siwajan, and in the courtyard of the great hall to ragam kuda berlari. The tandil and officials greeted the sultan with yellow rice mixed with gold, scattered as the palace elephant approached the biram pantang, and the sultan then entered the Jitakandran pavilion. The topography of the palace, with its gates, halls and squares, thus functioned as a musical score: each point in space was marked by a particular mode, so that the townspeople could tell where the sultan was simply by listening to the drums.
The Hari Raya junjung duli is the most elaborate obeisance in the text. After the Paduka Maha Menteri and the Seri Ratna Perdana had asked for the royal drums and regalia, and tandil such as Bujang Kedah, Mujahidul Iman, Bujang Dandani and Rangan Sebilah had taken their places, three markers were laid out in the courtyard of the Balairung: the alif, the ayam angin (weathercock) and the great cushion. The rattan screen was drawn aside by the megat and the sultan appeared in the audience place. Each dignitary, beginning with the Kadi Malikul Adil, entered through the pintu cermin Jumat, paid homage at each marker, laid down his kris and sword, walked with hands above his head in the melela step, repeated the movement from alif to weathercock three times and, with the mayang ikal step and the sembah jerulang, from weathercock to cushion five times, then climbed the steps and bowed until his fingertips touched the sultan's knee seven times, before withdrawing in the same sequence and girding on his weapons again. Political hierarchy was translated into a geometry of bodily movement, and the numbers three, five and seven marked the graded distance between official and ruler.
Weekly rites completed the calendar. On Fridays the sultan processed to the Baiturrahman mosque in the same order, prayed the greeting prayer and the Friday sunna behind a golden curtain, heard Penghulu Bilal Khan's call with the verse of blessing, the hadith related by Abu Hurairah and the two sermons, and then joined the Friday prayer, the prayer for the Prophet and the prayer for the welfare of the Syah Alam. Afterwards the curtain was raised and the sultan summoned the kadi, the orang kaya and the hulubalang. On Saturdays the hulubalang attended in the Balai Besar: the fourth and eighth orang kaya were called by title and sat in tiers according to rank, while the Kadi Malikul Adil sat to the left of the pillar of obeisance with the Syekh Syarif, the Fakih Jataraya, the Keujruen Biang and the Penghulu Biang below him. They were then fed in the balai pedang, with water in suasa or silver ewers and rice on suasa platters according to rank, so that even the vessels of the meal became markers of standing.
The Safar bath is the only seasonal rite not centred on the mosque. From the month of Zulhijah Syahbandar Muktabar Khan erected a processional jambo built by the tandil kawal and sagi kawal, while the flowers and fittings were supplied by the syahbandar. The benderung was made by Amir Diwangsa to a design by Orang Kaya Maharaja Seri Maharaja Mangkubumi, using some fifty kati of iron and three kati of red earth. Three days before the last Wednesday of Safar, Muktabar Khan asked for gongs, drums and the master of feasts; the next day feast rice was paraded to the palace, and a two-night vigil was held at Muktabar Khan's house with dhikr singers and frame drums. On the Wednesday the bathing water, the royal rice and the offering cloths were carried on elephants to the benderung, and the officials involved received salin, robes of honour. The rite parallels the Rabu Abeh tradition at the end of Safar still known in Aceh, although the text does not explain its theological meaning.
These ceremonies show that Acehnese sovereignty was staged through the union of three elements: worship led by the kadi and the ulama, the splendour of troops and regalia, and financing from the port. The presence of the Kadi Malikul Adil as the first dignitary to ask the sultan to set out and the first to perform the junjung duli confirms that religious legitimacy was placed at the head of the order of precedence, while syahbandar such as Seri Rama Sati, Saiful Muluk, Mu'izzul Muluk and Muktabar Khan appeared in public as patrons. This picture matches the sultan's standing as caliph, who in the same text is described as reciting dhikr on a rosary of gems on hearing the ulama's takbir, so that worldly magnificence and piety were projected as a single whole.
For Aceh studies the Adat Majelis Raja-raja matters in at least three ways. First, it is one of the most detailed indigenous sources on music, spatial order and court protocol in the Malay world, comparable to the accounts of foreign visitors but written from within. Second, many present-day Acehnese practices, such as meugang, kenduri, Ramadan night vigils and the observance of the end of Safar, have court counterparts in this text, so it can be read as a historical source for the reciprocal relationship between palace custom and village custom. Third, the text shows that protocol was not frozen: the copying in the reign of Sultanah Safiatuddin marks institutional continuity across changes of ruler. The open question is how far these ceremonies were actually performed as written, and how their political meaning shifted when rituals once centred on Kota Daruddunia were taken over by the meunasah and the gampong after the fall of the sultanate.
Gagasan kunciKey ideas
Kalender ritual kedaulatanA ritual calendar of sovereignty
Majelis istana mengikuti siklus Syakban, Ramadan, Syawal, Zulhijah, Safar, Jumat dan Sabtu.Court ceremonies follow the cycle of Syakban, Ramadan, Syawal, Zulhijah, Safar, Friday and Saturday.
Pelabuhan membiayai ibadahThe port finances worship
Para syahbandar menanggung intatan dan perlengkapan upacara malam Ramadan dan mandi Safar.The syahbandar supplied the offerings and equipment for the Ramadan vigils and the Safar bath.
Tubuh dan hierarkiBody and hierarchy
Junjung duli mengatur langkah, jumlah sembah dan jarak dari sultan secara presisi dengan angka tiga, lima dan tujuh.The junjung duli regulates steps, the number of obeisances and distance from the sultan with the numbers three, five and seven.
Ruang sebagai partiturSpace as a score
Pergantian ragam genderang menandai setiap titik perjalanan sultan dari istana ke masjid dan kembali.Changes of drum mode marked each point of the sultan's route from palace to mosque and back.
Istana dan gampongPalace and village
Meugang, kenduri, jaga malam Ramadan dan Rabu Abeh memiliki padanan istana dalam Adat Majelis.Meugang, kenduri, Ramadan vigils and Rabu Abeh have court counterparts in the Adat Majelis.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana tradisi meugang dan Rabu Abeh berpindah dari upacara istana ke praktik gampong setelah runtuhnya kesultanan, dan apa yang berubah dalam maknanya?How did the meugang and Rabu Abeh traditions pass from court ceremony to village practice after the fall of the sultanate, and what changed in their meaning?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Upacara hari besar istana Aceh: meugang, Lailatul Qadar, hari raya dan junjung duli”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/upacara-hari-besar-istana-aceh/