Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala
Era Kesultanan Aceh Darussalam hingga kiniFrom the Aceh Darussalam sultanate to the present
Ungkapan ‘Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana merangkum kosmologi tata kelola Kesultanan Aceh. Adat merujuk pada hukum pemerintahan kesultanan, hukom pada otoritas ulama, qanun pada kebiasaan keluarga diraja yang banyak dikelola perempuan, dan reusam pada kehidupan masyarakat yang diawasi pembesar sultan. Hubungan hukom dan adat diibaratkan zat dan sifat. Makna keempat unsur ini telah bergeser jauh dalam Aceh kontemporer.
The saying ‘Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana’ distils the governing cosmology of the Acehnese sultanate. Adat refers to the sultanate's governmental law, hukom to the authority of the ulama, qanun to royal-household conventions largely managed by women, and reusam to social life supervised by the sultan's officials. The relation between hukom and adat is likened to essence and attribute. The meaning of all four elements has shifted greatly in contemporary Aceh.
Secara substantif, adat dalam ungkapan ini adalah undang-undang pusat tata kelola kesultanan, yang dalam sejarah dikenal sebagai Adat Meukuta Alam. Hukom merupakan wilayah otoritas ulama sebagai penopang utama kerajaan. Qanun merujuk pada kebiasaan keluarga diraja yang lebih banyak dikelola perempuan, sedangkan reusam, dari kata Arab rasm, menggambarkan kehidupan masyarakat yang dikelola para pembesar di bawah sultan. Sistem ini bersifat hierarkis: reusam tidak boleh menyalahi wibawa keluarga diraja, dan hukum agama menopang kekuasaan sultan. Hukom dan adat diibaratkan zat dan sifeut, tak terpisahkan.
Kini makna itu telah bergeser. Adat dipahami sebagai budaya atau warisan endatu yang bersifat simbolik; qanun diproduksi parlemen (DPRA/DPRK), bukan keluarga diraja; reusam diputar menjadi adat; sementara ulama bergeser menjadi lembaga pengeluar fatwa. Episentrum kekuasaan hilang ketika Belanda menghancurkan kerajaan dan merusak hubungan raja dengan rakyat.
Pergeseran ini dirumuskan ulang dalam pepatah tandingan, misalnya ‘Adat bak MAA, Hukom bak Ulama, Qanun bak Waki Rakyat, Reusam bak Wali Nanggroe, atau versi lain yang menempatkan adat pada Wali Nanggroe, hukom pada MPU, dan reusam pada MAA. Variasi ini menyingkap kebingungan kelembagaan: tidak ada sultan yang diakui untuk menjalankan adat sebagai undang-undang, adat sebagai kebiasaan (‘urf) tersebar pada lembaga-lembaga adat, dan syariat legal-formal dibuat oleh legislator yang lahir dari sistem partai, bukan dari tradisi keilmuan syariat. Pertanyaan siapa penerus Po Teumeureuhom, Syiah Kuala, Putroe Phang, dan Laksamana pun belum terjawab.
Sebuah varian rumusan menyebut ‘reusam bak bentara’, yang dipahami sebagai ranah gaya hidup masyarakat yang tidak terlalu agamis. Simbol Syiah Kuala ditafsirkan sebagai perpaduan gelar Persia ‘Syah’ dan ‘kuala’ (muara sungai), dan dilekatkan pada Abdurrauf al-Singkili (1615–1693).
Substantively, adat in this saying is the central law governing the sultanate, historically known as the Adat Meukuta Alam. Hukom is the domain of the ulama, the kingdom's principal pillar. Qanun refers to the conventions of the royal household, largely managed by women, while reusam, from the Arabic rasm, describes social life administered by officials under the sultan. The system was hierarchical: reusam could not offend the dignity of the royal family, and religious law upheld the sultan's power. Hukom and adat were likened to essence and attribute (zat and sifeut), inseparable from each other.
Today these meanings have shifted. Adat is understood as culture or ancestral heritage of symbolic value; qanun is produced by parliaments (DPRA/DPRK) rather than the royal household; reusam has been recast as adat; and the ulama have become a fatwa-issuing body. The centre of power vanished when the Dutch destroyed the kingdom and broke the bond between ruler and people.
The shift is captured in counter-sayings such as ‘Adat bak MAA, Hukom bak Ulama, Qanun bak Waki Rakyat, Reusam bak Wali Nanggroe’, or another version assigning adat to the Wali Nanggroe, hukom to the MPU and reusam to the MAA. These variations expose institutional confusion: no sultan is recognised to administer adat as law; adat as custom (‘urf) is dispersed across customary bodies; and legal-formal sharia is made by legislators produced by the party system rather than by the scholarly tradition of sharia. Who succeeds Po Teumeureuhom, Syiah Kuala, Putroe Phang and the Laksamana remains an open question.
One variant of the maxim reads ‘reusam bak bentara’, understood as the domain of everyday, less religious lifestyle. The symbol Syiah Kuala is interpreted as combining the Persian title ‘Shah’ with ‘kuala’ (river mouth), and is attached to Abdurrauf al-Singkili (1615–1693).
Gagasan kunciKey ideas
Empat pilar tata kelolaFour pillars of governance
Adat, hukom, qanun, dan reusam membentuk sistem kekuasaan yang hierarkis dan saling menopang.Adat, hukom, qanun and reusam formed a hierarchical, mutually supporting system of rule.
Zat dan sifatEssence and attribute
Hukum Islam dan adat dipahami tak terpisahkan, bukan dua ranah yang bersaing.Islamic law and adat were seen as inseparable, not as competing domains.
Pergeseran pascakolonialPost-colonial displacement
Lembaga modern mewarisi nama-nama lama tanpa fungsi aslinya.Modern institutions inherit old names without their original functions.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Jika keempat pilar itu kini dipegang lembaga modern, apakah ungkapan klasik ini masih berfungsi sebagai pedoman atau hanya sebagai nostalgia?If the four pillars are now held by modern institutions, does the classical saying still guide, or merely evoke nostalgia?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/adat-bak-poteumeureuhom/