Kemiskinan dan ekonomi Aceh pascabencana 2025: membaca data BPS dan fiskal 2025–2026Poverty and the economy in Aceh after the 2025 disaster: reading BPS and fiscal data, 2025–2026
2025–2026
Data BPS menunjukkan jumlah penduduk miskin Aceh naik dari sekitar 703 ribu (September 2025) menjadi 713,78 ribu orang (Maret 2026), dengan tingkat kemiskinan 12,34 persen, jauh di atas rata-rata nasional 8,07 persen, ketika angka nasional justru turun. Ekonomi Aceh tumbuh 4,48 persen pada semester I 2026, didorong belanja pemerintah dan konstruksi pemulihan, tetapi inflasi mencapai 5,84 persen dan pengangguran terbuka 5,89 persen. Kemiskinan tertinggi pada 2025 berada di Aceh Singkil (17,07 persen), terendah di Banda Aceh.
BPS data show Aceh's poor population rising from about 703,000 (September 2025) to 713,780 (March 2026), a poverty rate of 12.34 percent, far above the national 8.07 percent, while the national count fell. Aceh's economy grew 4.48 percent in the first half of 2026, driven by government spending and recovery construction, but inflation reached 5.84 percent and open unemployment 5.89 percent. In 2025 poverty was highest in Aceh Singkil (17.07 percent) and lowest in Banda Aceh.
Kemiskinan telah lama menjadi paradoks Aceh. Provinsi ini menerima dana otonomi khusus dalam jumlah besar sejak 2008, memiliki sumber daya alam yang melimpah dan kerangka pemerintahan yang lahir dari perdamaian Helsinki, tetapi tingkat kemiskinannya konsisten berada di atas rata-rata nasional dan termasuk yang tertinggi di Sumatra. Bencana hidrometeorologis akhir November 2025 yang dipicu Siklon Senyar menambah lapisan baru pada paradoks itu, karena menghancurkan rumah, sawah, kebun, jalan dan jembatan di banyak kabupaten. Data Badan Pusat Statistik yang dirilis sepanjang 2026 memberi gambaran awal tentang dampak sosial ekonomi bencana tersebut.
Menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional yang dirilis BPS pada Agustus 2026, jumlah penduduk miskin Aceh pada Maret 2026 mencapai 713,78 ribu orang, naik sekitar 10,45 ribu dibandingkan September 2025. Tingkat kemiskinan tercatat 12,34 persen, naik dari sekitar 12,32 persen pada September 2025. Kenaikan ini terjadi ketika angka nasional justru turun: jumlah penduduk miskin Indonesia berkurang sekitar 430 ribu menjadi 22,93 juta orang, dengan tingkat kemiskinan nasional 8,07 persen. Aceh termasuk segelintir provinsi yang mencatat kenaikan, bersama Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Maluku Utara, Papua dan Papua Tengah. Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Aceh mengaitkan kenaikan kemiskinan ini dengan bencana hidrometeorologis yang baru terjadi.
Struktur kemiskinan Aceh tetap didominasi wilayah perdesaan. Dari 713,78 ribu penduduk miskin pada Maret 2026, sekitar 540,22 ribu tinggal di perdesaan dan 173,56 ribu di perkotaan. Penduduk miskin perkotaan bertambah sekitar 4,79 ribu sejak September 2025. Garis kemiskinan provinsi tercatat sekitar Rp676 ribu per kapita per bulan, dengan komponen makanan sebagai bagian terbesar. Dominasi kemiskinan perdesaan sejalan dengan struktur ekonomi Aceh yang masih bertumpu pada pertanian, kehutanan dan perikanan, sektor yang paling terpukul oleh banjir bandang dan longsor yang merusak sawah, kebun dan tambak.
Sebaran kemiskinan antarkabupaten juga sangat timpang. Data BPS untuk 2025 yang dihimpun Databoks menempatkan Aceh Singkil sebagai kabupaten dengan tingkat kemiskinan tertinggi, 17,07 persen, meskipun turun dari 19,06 persen setahun sebelumnya dan sekitar 21,6 persen satu dasawarsa lalu. Di bawahnya, dengan tingkat sekitar 16 persen, terdapat Gayo Lues, Pidie, Bener Meriah dan Pidie Jaya, disusul Simeulue, Aceh Barat dan Nagan Raya sekitar 15 persen serta Aceh Utara sekitar 14 persen. Di ujung lain, Banda Aceh mencatat sekitar 5 persen, Langsa sekitar 8 persen, dan Lhokseumawe, Aceh Tenggara serta Aceh Selatan sekitar 9 persen. Pola ini memperlihatkan bahwa kemiskinan terkonsentrasi di wilayah pedalaman, pegunungan dan pesisir barat-selatan, sementara kota-kota relatif lebih baik.
Di sisi makroekonomi, ekonomi Aceh tetap tumbuh. Menurut tinjauan fiskal Kanwil DJPb Aceh, pertumbuhan ekonomi semester I 2026 mencapai 4,48 persen secara kumulatif, dengan pertumbuhan triwulan II sebesar 4,86 persen secara tahunan. Produk domestik regional bruto atas dasar harga berlaku triwulan II mencapai sekitar Rp69,69 triliun. Pertumbuhan didorong konsumsi pemerintah yang naik 23,89 persen dan pembentukan modal tetap bruto yang naik 10,77 persen, sejalan dengan belanja pemulihan pascabencana. Sektor jasa keuangan, konstruksi serta penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh paling cepat, sementara pertambangan dan penggalian menyusut 3,38 persen. Pertanian, kehutanan dan perikanan tetap menjadi penyumbang terbesar, sekitar 31,16 persen dari PDRB, disusul perdagangan sekitar 15,35 persen dan administrasi pemerintahan sekitar 9,18 persen.
Namun pertumbuhan itu disertai tekanan harga dan pasar kerja. Inflasi tahunan Aceh pada Juni 2026 mencapai 5,84 persen, didorong kelompok makanan, minuman dan tembakau, penyediaan makanan dan minuman, perawatan pribadi serta transportasi. Kenaikan harga pangan sangat terasa bagi rumah tangga miskin yang membelanjakan sebagian besar pendapatannya untuk makanan. Tingkat pengangguran terbuka pada Mei 2026 tercatat 5,89 persen, sementara pekerja formal hanya sekitar 37,88 persen, setengah pengangguran 9,48 persen dan pekerja paruh waktu 30,04 persen. Struktur ini menunjukkan banyaknya pekerjaan informal dan rentan.
Ketergantungan fiskal Aceh juga tetap tinggi. Hingga akhir semester I 2026, pendapatan APBD Provinsi Aceh mencapai sekitar Rp15,75 triliun, dengan 80,49 persen bersumber dari transfer pusat, sedangkan belanja baru terealisasi sekitar Rp12,52 triliun atau 30,45 persen dari pagu, dengan belanja operasi mendominasi. Di sisi APBN, belanja pemerintah pusat di Aceh hingga Juni 2026 mencapai sekitar Rp26,11 triliun, naik hampir 30 persen secara tahunan. Data ini memperlihatkan bahwa pemulihan pascabencana sangat bergantung pada dana pusat, sementara kebutuhan pemulihan yang diperkirakan sekitar Rp153 triliun jauh melampaui kapasitas anggaran daerah.
Perbandingan dengan pengalaman pascatsunami 2004 juga relevan. Setelah tsunami, Aceh menerima arus bantuan dan dana rekonstruksi dalam skala yang sangat besar melalui BRR dan lembaga internasional, yang untuk beberapa tahun mendorong pertumbuhan konstruksi dan jasa. Namun banyak kajian mencatat bahwa ledakan bantuan itu tidak sepenuhnya menurunkan kemiskinan struktural, dan sebagian manfaatnya terserap di perkotaan. Pengalaman itu memberi pelajaran penting bagi pemulihan pascabencana 2025: belanja besar perlu diarahkan secara tepat ke pemulihan mata pencaharian perdesaan, bukan hanya pembangunan fisik.
Data kemiskinan juga perlu dibaca bersama data sosial lain. Kualitas rumah, akses air bersih, gizi anak, pendidikan dan kesehatan memberikan gambaran yang lebih utuh tentang kesejahteraan daripada satu angka garis kemiskinan. Bencana 2025 merusak sekolah, fasilitas kesehatan dan sumber air di banyak gampong, sehingga dampaknya terhadap pembangunan manusia mungkin baru terlihat beberapa tahun kemudian. Karena itu pemantauan berkelanjutan atas indikator-indikator tersebut di tingkat kabupaten dan gampong menjadi penting bagi perencanaan pemulihan.
Bagi studi Aceh, angka-angka ini menegaskan beberapa hal. Pertama, bencana memperdalam kemiskinan yang sudah struktural, terutama di perdesaan dan wilayah hulu yang bergantung pada pertanian. Kedua, pertumbuhan ekonomi yang didorong belanja pemerintah dan konstruksi belum tentu langsung menurunkan kemiskinan, apalagi ketika inflasi pangan tinggi. Ketiga, ketimpangan antarkabupaten memperlihatkan bahwa wilayah-wilayah yang paling miskin seperti Aceh Singkil, Gayo Lues, Pidie dan Bener Meriah juga sering merupakan wilayah yang paling rentan terhadap kerusakan hutan dan bencana. Keterkaitan antara ekologi, kemiskinan dan tata kelola anggaran inilah yang menjadi tantangan utama Aceh pascadamai dan pascabencana.
Perlu dicatat bahwa data kemiskinan BPS dihitung dua kali setahun dan sangat dipengaruhi waktu survei, garis kemiskinan dan harga. Beberapa pemberitaan juga memuat ketidakkonsistenan angka, sehingga rujukan utama sebaiknya adalah Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Aceh. Data tahun-tahun berikutnya akan memperlihatkan apakah kenaikan kemiskinan pada Maret 2026 merupakan guncangan sementara pascabencana atau tanda kerentanan yang lebih dalam. Bagi pembuat kebijakan, data ini menjadi pengingat bahwa pemulihan yang berhasil harus diukur dari berkurangnya jumlah keluarga miskin dan pulihnya mata pencaharian warga, bukan hanya dari besarnya anggaran yang dibelanjakan atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi.
Poverty has long been an Acehnese paradox. The province has received large special autonomy funds since 2008, has abundant natural resources and a governing framework born of the Helsinki peace, yet its poverty rate has consistently stayed above the national average and among the highest in Sumatra. The hydrometeorological disaster triggered by Cyclone Senyar at the end of November 2025 added a new layer to the paradox, destroying homes, rice fields, gardens, roads and bridges in many districts. Statistics Indonesia (BPS) data released through 2026 give an early picture of the disaster's socio-economic impact.
According to National Socio-Economic Survey data released by BPS in August 2026, Aceh's poor population in March 2026 stood at 713,780, about 10,450 more than in September 2025. The poverty rate was 12.34 percent, up from about 12.32 percent in September 2025. The rise came as the national figure fell: Indonesia's poor population dropped by some 430,000 to 22.93 million, a national rate of 8.07 percent. Aceh was among a handful of provinces recording increases, alongside Bali, East Nusa Tenggara, Central Kalimantan, North Maluku, Papua and Central Papua. The Aceh regional office of the Directorate General of Treasury linked the increase to the recent hydrometeorological disaster.
Aceh's poverty remains predominantly rural. Of the 713,780 poor in March 2026, about 540,220 lived in rural areas and 173,560 in towns. Urban poverty rose by about 4,790 since September 2025. The provincial poverty line was about Rp676,000 per person per month, with food the largest component. Rural predominance matches an economy still reliant on agriculture, forestry and fisheries, the sectors hardest hit by flash floods and landslides that damaged rice fields, gardens and fishponds.
Poverty is also very unevenly distributed across districts. BPS data for 2025 compiled by Databoks put Aceh Singkil highest at 17.07 percent, down from 19.06 percent a year earlier and about 21.6 percent a decade before. Next, at around 16 percent, came Gayo Lues, Pidie, Bener Meriah and Pidie Jaya, followed by Simeulue, West Aceh and Nagan Raya at about 15 percent and North Aceh at about 14 percent. At the other end Banda Aceh recorded about 5 percent, Langsa about 8 percent, and Lhokseumawe, Southeast Aceh and South Aceh about 9 percent. The pattern shows poverty concentrated in the interior, the mountains and the south-west coast, while towns fare relatively better.
On the macroeconomic side Aceh's economy kept growing. According to the fiscal review of the Treasury's Aceh office, growth in the first half of 2026 reached 4.48 percent cumulatively, with second-quarter growth of 4.86 percent year on year. Gross regional domestic product at current prices in the second quarter was about Rp69.69 trillion. Growth was driven by government consumption, up 23.89 percent, and gross fixed capital formation, up 10.77 percent, in line with post-disaster recovery spending. Financial services, construction, and accommodation and food services grew fastest, while mining and quarrying shrank 3.38 percent. Agriculture, forestry and fisheries remained the largest contributor at about 31.16 percent of GRDP, followed by trade at about 15.35 percent and public administration at about 9.18 percent.
Growth came with pressure on prices and jobs. Aceh's annual inflation in June 2026 reached 5.84 percent, driven by food, beverages and tobacco, food and beverage services, personal care and transport. Rising food prices weigh heavily on poor households, which spend most of their income on food. Open unemployment in May 2026 was 5.89 percent, while formal workers made up only about 37.88 percent, the underemployed 9.48 percent and part-time workers 30.04 percent. The structure points to widespread informal and precarious work.
Aceh's fiscal dependence also remains high. By the end of the first half of 2026 the provincial budget had collected about Rp15.75 trillion, 80.49 percent of it from central transfers, while spending had reached only about Rp12.52 trillion, or 30.45 percent of the ceiling, dominated by operating expenditure. Central government spending in Aceh to June 2026 was about Rp26.11 trillion, up almost 30 percent year on year. These figures show that post-disaster recovery depends heavily on central funds, while recovery needs estimated at about Rp153 trillion far exceed regional budget capacity.
Comparison with the post-2004 tsunami experience is also relevant. After the tsunami Aceh received aid and reconstruction funds on an enormous scale through the BRR and international agencies, which for several years boosted construction and services. Yet many studies note that the aid boom did not fully reduce structural poverty and that part of its benefits was absorbed in towns. That experience holds an important lesson for recovery from the 2025 disaster: large spending must be targeted precisely at restoring rural livelihoods, not only at physical construction.
Poverty data should also be read alongside other social data. Housing quality, access to clean water, child nutrition, education and health give a fuller picture of welfare than a single poverty-line figure. The 2025 disaster damaged schools, health facilities and water sources in many villages, so its effects on human development may appear only years later. Continuous monitoring of these indicators at district and village level is therefore important for recovery planning.
For Aceh studies these numbers confirm several points. First, the disaster deepened already structural poverty, especially in rural and upland areas dependent on farming. Second, growth driven by government spending and construction does not automatically reduce poverty, especially when food inflation is high. Third, inter-district inequality shows that the poorest areas, such as Aceh Singkil, Gayo Lues, Pidie and Bener Meriah, are often also those most exposed to forest loss and disaster. The link between ecology, poverty and budget governance is the central challenge for post-peace, post-disaster Aceh.
Note that BPS poverty data are calculated twice a year and are sensitive to survey timing, poverty lines and prices. Some news reports also contain inconsistent figures, so the primary reference should be the official statistical releases of BPS Aceh. Data in coming years will show whether the March 2026 rise was a temporary post-disaster shock or a sign of deeper vulnerability. For policymakers the data are a reminder that successful recovery must be measured by fewer poor families and restored livelihoods, not merely by the size of budgets spent or the rate of economic growth.
Gagasan kunciKey ideas
Naik saat nasional turunRising as the nation falls
Kemiskinan Aceh naik pada Maret 2026 ketika angka nasional turun.Aceh's poverty rose in March 2026 while the national figure fell.
Kemiskinan perdesaanRural poverty
Tiga perempat penduduk miskin tinggal di perdesaan yang bergantung pada pertanian.Three-quarters of the poor live in rural areas dependent on farming.
Tumbuh tanpa menurunkan kemiskinanGrowth without poverty reduction
Belanja pemulihan mendorong PDRB, tetapi inflasi pangan menekan rumah tangga miskin.Recovery spending lifts GRDP, but food inflation squeezes poor households.
Peta kerentananA map of vulnerability
Kabupaten termiskin sering juga paling rentan bencana dan kerusakan hutan.The poorest districts are often also the most exposed to disaster and forest loss.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apakah kenaikan kemiskinan Aceh pada Maret 2026 merupakan guncangan sementara pascabencana atau tanda kerentanan struktural yang lebih dalam?Was Aceh's rise in poverty in March 2026 a temporary post-disaster shock or a sign of deeper structural vulnerability?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Kemiskinan dan ekonomi Aceh pascabencana 2025: membaca data BPS dan fiskal 2025–2026”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/kemiskinan-dan-ekonomi-aceh-2025-2026-data-bps/