Masjid Raya Banda Aceh dalam pertempuran April 1873
Masjid Raya Banda Aceh dalam pertempuran April 1873 adalah episode ketika masjid agung kesultanan, yang dalam sumber Belanda disebut “Missigit”, berubah menjadi benteng pertahanan terdepan Kesultanan Aceh menghadapi ekspedisi militer pertama Belanda. Di depan dan di dalam masjid inilah pertempuran paling menentukan dari ekspedisi itu berlangsung, termasuk perebutan pertama pada 10 April, pengosongan pada malam harinya, serangan kedua pada 14 April, dan gugurnya panglima ekspedisi, Jenderal J. H. B. Köhler. Peristiwa ini menjadikan Masjid Raya bukan hanya pusat ibadah dan simbol kerajaan, tetapi juga titik paling sakral dalam ingatan perlawanan Aceh.
Sebelum ekspedisi, keberadaan masjid ini dalam perhitungan militer Belanda nyaris tidak tampak. Sketsa medan yang dibawa ekspedisi, disusun dari keterangan pemandu Tionghoa, juru bahasa Melayu dan informan dari Bengkulu, memperlihatkan dua jalan menuju dalam dan tembok tanah di belakang istana, tetapi tidak mencantumkan masjid dan medan berbukit di sekitarnya. Baru dari hasil peninjauan pada 9 April diketahui bahwa dalam perjalanan menuju istana pasukan akan menemui sebuah bangunan yang menurut pemandu adalah masjid besar. Risalah tahun 1884 karya seorang mantan perwira menengah, yang membela nama Köhler, mempertanyakan mengapa staf ekspedisi tidak meminta keterangan lebih rinci tentang masjid itu dari pemandu.
Pada 10 April 1873 kolone utama Belanda, setelah menyeberangi laguna dengan susah payah, tiba di depan masjid dan di sinilah perlawanan pertama di pedalaman dimulai. Köhler sendiri, dalam laporannya kepada pimpinan tentara pada 11 April, menulis bahwa perlawanan dimulai di masjid yang diperkuat, agak di depan dalam, dan bahwa pasukan di dalam masjid ditembaki dari dalam dan dari kubu-kubu di seberang sungai. Masjid direbut setelah pertempuran, tetapi bangunannya terbakar. Panas di dalam masjid begitu tak tertahankan sehingga satu kompi infanteri tidak sanggup bertahan di dalamnya dan memilih berdiri di belakang. Dua perwira meninggal karena kelelahan, dan banyak serdadu jatuh pingsan.
Para penulis Belanda kemudian menjelaskan mengapa masjid dikosongkan pada malam itu. Pertama, masjid adalah tempat suci terbesar orang Aceh, sehingga pasti akan dicoba direbut kembali, dan memang sekitar pukul lima sore pejuang Aceh sudah mencoba merebutnya sehingga seorang kapten Belanda harus melakukan serangan balik. Kedua, masjid adalah pos terdepan dari dalam yang berdekatan, dan dari arah istana ia ditembaki dengan senapan dan meriam, sebagian peluru meriam mengenai sisi dalam sudut barat laut. Ketiga, masjid adalah posisi yang baik bagi orang Aceh tetapi buruk bagi Belanda, karena terbuka ke arah lawan, di mana tembok baratnya yang runtuh membentuk lereng yang mudah didaki, sementara sisi lainnya tertutup tembok sehingga tidak berhubungan dengan garis operasi Belanda. Alat untuk membongkar tembok itu tertinggal di kapal. Menjelang senja Köhler memerintahkan pengosongan.
Antara 11 dan 13 April pasukan Belanda berkemah di persawahan di depan masjid, menghadapi tembakan dan serangan pejuang Aceh dari berbagai arah. Peninjauan pada 12 April untuk mencari jalan ke belakang dalam gagal menemukan jalan dan kembali ketika ditembaki. Köhler melaporkan bahwa dalam sangat diperkuat dan bagian belakangnya tidak dapat didekati karena rangkaian pagar dan celah sempit. Hujan lebat pada 13 April mengubah perkemahan menjadi kubangan lumpur. Pada hari itu juga para zeni diperintahkan membuat tangga serbu, empat ganda dan tiga tunggal, yang kemudian terbukti berat dan panjang sehingga sulit digunakan.
Pada 14 April 1873 masjid diserbu untuk kedua kalinya. Segera setelah penyerbuan itu Jenderal Köhler gugur. Setelah kematiannya seluruh pasukan dari persawahan berkumpul di dalam masjid. Kepala staf mengumpulkan para komandan, dan keadaan dinilai sangat genting, sehingga sebagian komandan bahkan cenderung meninggalkan posisi. Komandan batalion ketiga mengusulkan serangan dari masjid ke kubu yang menembaki mereka dengan dukungan artileri, tetapi usul itu tidak dijalankan. Menurut risalah tahun 1884, delapan jam berlalu tanpa tindakan berarti. Dari dalam masjid, pasukan Belanda terus ditembaki dari segala arah, sementara meriam gunung mereka tidak mampu menjangkau dan membungkam tembakan dari seberang sungai.
Pengalaman di Masjid Raya ini memperlihatkan beberapa hal tentang pertahanan Aceh pada 1873. Para pembela memahami nilai simbolik dan militer masjid sebagai pos terdepan istana. Mereka memanfaatkan tembok dan bangunan masjid sebagai perisai, menembak dari dalam istana dan dari seberang Krueng Daroy, dan berulang kali menyerang balik. Mereka juga memanfaatkan medan di sekitar dalam berupa pagar, celah sempit dan rumpun tanaman yang menyulitkan pasukan lawan. Pertahanan ini membuat ekspedisi yang bersenjata modern terperangkap di antara masjid dan persawahan, kelelahan, kehilangan panglimanya, dan akhirnya mundur.
Bagi orang Aceh, peristiwa April 1873 memberi makna baru bagi Masjid Raya. Masjid yang semula adalah pusat ibadah, tempat shalat Jumat sultan dan simbol kedaulatan Islam kerajaan, kini juga menjadi tempat syahid dan kemenangan. Gugurnya panglima Belanda di depan masjid menjadi kisah yang diingat turun-temurun sebagai bukti bahwa pertahanan pusat kerajaan berhasil. Penulis Belanda sendiri mencatat bahwa masjid itu adalah tempat suci terbesar orang Aceh, sebuah pengakuan bahwa perang yang mereka mulai menyentuh langsung jantung kehidupan keagamaan masyarakat. Ingatan ini kemudian menjadi bagian penting dari wacana perang sabil yang menggerakkan perlawanan selama puluhan tahun.
Dalam kerangka Acehnologi, Masjid Raya dalam pertempuran 1873 dapat dibaca sebagai titik temu antara dua poros kekuasaan Aceh, yaitu istana dan agama. Masjid berdiri di depan dalam, menjadi perisai bagi istana, dan dipertahankan oleh rakyat yang memandang serangan terhadapnya sebagai serangan terhadap agama. Episode ini juga memperlihatkan bagaimana ruang suci dapat menjadi ruang perang ketika kedaulatan terancam. Penelitian lanjutan dapat mempertemukan sumber Belanda seperti laporan penyelidikan rahasia, laporan Jenderal Whitton, risalah tahun 1884 dan karya Kielstra dengan sumber Aceh berupa hikayat, tradisi lisan dan catatan ulama, untuk menyusun gambaran yang lebih utuh tentang siapa yang mempertahankan masjid, siapa yang gugur, dan bagaimana peristiwa itu dimaknai oleh masyarakat Aceh sendiri.
Episode ini juga memperlihatkan jurang pengetahuan antara penyerang dan pembela. Pasukan Belanda datang dengan sketsa yang tidak memuat masjid, sementara para pembela Aceh mengenal setiap tembok, setiap jalan setapak dan setiap kebun di sekitar dalam. Penulis risalah tahun 1884 mencatat bahwa setelah Köhler gugur tidak seorang pun di pihak Belanda tampak tahu pasti letak dalam, meskipun istana itu hanya beberapa ratus langkah dari masjid. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa pertahanan Masjid Raya tidak hanya bertumpu pada keberanian, tetapi juga pada penguasaan ruang yang hanya dimiliki penduduknya sendiri. Masjid, kampung dan istana membentuk satu ruang hidup yang dikenal akrab oleh para pembelanya dan asing bagi penyerangnya.
The Great Mosque of Banda Aceh in the battle of April 1873 is the episode in which the sultanate’s great mosque, called the “Missigit” in Dutch sources, became the foremost defensive stronghold of the Sultanate of Aceh against the first Dutch military expedition. In front of and inside this mosque the decisive fighting of the expedition took place, including the first capture on 10 April, its evacuation that night, the second attack on 14 April and the death of the expedition commander, General J. H. B. Köhler. These events made the Great Mosque not only a centre of worship and a symbol of the kingdom but also the most sacred point in Aceh’s memory of resistance.
Before the expedition, the mosque barely figured in Dutch military calculations. The terrain sketch carried by the expedition, compiled from the information of Chinese guides, a Malay interpreter and an informant from Bengkulu, showed two roads to the dalam and an earthen wall behind the palace, but did not mark the mosque or the broken ground around it. Only from the reconnaissance of 9 April did the Dutch learn that on the way to the palace they would encounter a building which the guide said was the great mosque. The 1884 pamphlet by a former field officer defending Köhler’s name asks why the expedition staff did not ask the guide for more details about it.
On 10 April 1873 the main Dutch column, after crossing the lagoon with great difficulty, arrived in front of the mosque, and here the first resistance inland began. Köhler himself, in his report to the army command on 11 April, wrote that resistance began at the fortified mosque, somewhat in front of the dalam, and that the troops inside the mosque were fired on from the dalam and from fortifications across the river. The mosque was taken after a fight, but the building caught fire. The heat inside was so unbearable that an infantry company could not stay within and took position behind it. Two officers died of exhaustion and many soldiers collapsed.
Dutch writers later explained why the mosque was evacuated that night. First, the mosque was the greatest sanctuary of the Acehnese, who would certainly try to retake it, and indeed at about five in the afternoon Acehnese fighters had already tried to recapture it, forcing a Dutch captain to make a sortie. Second, the mosque was an outpost of the nearby dalam, from which it was fired on with rifles and cannon, some cannonballs striking the inner side of its north-western corner. Third, the mosque was a good position for the Acehnese but a poor one for the Dutch, because it was open toward the enemy, where its collapsed western wall formed an easily climbed slope, while its other sides were closed by walls with no link to the Dutch line of operations. The tools to break open those walls had been left aboard ship. Toward dusk Köhler ordered the evacuation.
Between 11 and 13 April the Dutch troops camped in the rice fields in front of the mosque, facing fire and attacks by Acehnese fighters from several directions. A reconnaissance on 12 April seeking a route to the rear of the dalam found no road and turned back when fired on. Köhler reported that the dalam was strongly fortified and its rear could not be approached because of a chain of stockades and defiles. Heavy rain on 13 April turned the camp into a mud pool. On that day the engineers were ordered to make scaling ladders, four double and three single, which proved so heavy and long that they were hard to use.
On 14 April 1873 the mosque was stormed a second time. Immediately after the assault General Köhler fell. After his death all the troops from the rice fields gathered inside the mosque. The chief of staff assembled the commanders, and the situation was judged critical, so that some commanders even leaned toward abandoning the position. The commander of the third battalion proposed an attack from the mosque on the fortification firing at them, with artillery support, but the proposal was not carried out. According to the 1884 pamphlet, eight hours passed without meaningful action. Inside the mosque the Dutch troops were fired on from all sides, while their mountain guns could not reach and silence the fire from across the river.
The experience at the Great Mosque reveals several things about Aceh’s defence in 1873. The defenders understood the mosque’s symbolic and military value as the palace’s forward post. They used its walls and buildings as a shield, fired from the dalam and from across the Krueng Daroy, and counter-attacked again and again. They also used the ground around the dalam, with its stockades, narrow defiles and dense plantings, to hamper the enemy. This defence left an expedition armed with modern weapons trapped between the mosque and the rice fields, exhausted, deprived of its commander and finally forced to withdraw.
For the Acehnese, the events of April 1873 gave new meaning to the Great Mosque. A mosque that had been a centre of worship, the site of the sultan’s Friday prayer and a symbol of the kingdom’s Islamic sovereignty, now also became a place of martyrdom and victory. The death of the Dutch commander in front of the mosque became a story remembered across generations as proof that the defence of the kingdom’s centre had succeeded. Dutch writers themselves recorded that the mosque was the greatest sanctuary of the Acehnese, an admission that the war they had begun touched the very heart of the society’s religious life. This memory later became an important part of the discourse of holy war that drove resistance for decades.
Within the framework of Acehnologi, the Great Mosque in the battle of 1873 can be read as the meeting point of Aceh’s two axes of power, the palace and religion. The mosque stood in front of the dalam, served as the palace’s shield, and was defended by people who saw an attack on it as an attack on their faith. The episode also shows how sacred space can become a space of war when sovereignty is threatened. Further research could bring together Dutch sources such as the secret inquiry report, General Whitton’s report, the 1884 pamphlet and Kielstra’s work with Acehnese sources such as hikayat, oral tradition and the writings of ulama, to build a fuller picture of who defended the mosque, who fell, and how the event was understood by the Acehnese themselves.
The episode also reveals the gap in knowledge between attackers and defenders. The Dutch came with a sketch that did not show the mosque, while the Acehnese defenders knew every wall, every footpath and every garden around the dalam. The 1884 author notes that after Köhler fell no one on the Dutch side seemed to know for certain where the dalam lay, although the palace was only a few hundred paces from the mosque. This imbalance shows that the defence of the Great Mosque rested not only on courage but also on a command of space possessed only by its own inhabitants. Mosque, village and palace formed a single lived space intimately known to its defenders and foreign to its attackers.
Kutip entri ini:Cite this entry: “Masjid Raya Banda Aceh dalam pertempuran April 1873”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/masjid-raya-banda-aceh-pertempuran-april-1873/