Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Sulthān al-‘Ādil dan dirham emas PasaiSultan al-‘Adil and the Pasai gold dirham

Masa Sultan Muhammad Malik al-Zahir (1297–1326) hingga akhir abad ke-16Reign of Sultan Muhammad Malik al-Zahir (1297–1326) to the late 16th century

Dirham emas Samudera Pasai yang memuat gelar al-sulṭān al-‘ādil disebut sebagai mata uang tertua di Nusantara. Koin ini dipakai dalam perdagangan internasional selama sekitar satu abad. Gelar ‘sultan yang adil’ kemudian juga dipakai oleh penguasa Aceh Darussalam. Maknanya diperdebatkan: sebagian membacanya melalui etika kerajaan Tāj al-Salāṭīn, sebagian lain melalui teori kepemimpinan Syi‘ah.

The gold dirham of Samudera Pasai bearing the title al-sultan al-‘adil is described as the oldest coinage of the archipelago. It circulated in international trade for roughly a century. The title ‘the just sultan’ was later adopted by the rulers of Aceh Darussalam as well. Its meaning is disputed: some read it through the royal ethics of the Taj al-Salatin, others through Shi‘a theories of authority.

Dirham yang dikeluarkan pada masa Sultan Muhammad Malik al-Zahir memuat nama sultan pada satu sisi dan gelar al-sulṭān al-‘ādil pada sisi lain. Spesimen yang dideskripsikan berdiameter 10 mm, berat 0,58 gram, dengan kadar 18 karat, dan pernah dikatalogkan oleh J. Hulshoff Pol dalam kajian tentang koin emas Sumatra Utara (1929). Keberadaannya menunjukkan bahwa Pasai sudah mengintegrasikan diri ke jaringan dagang lintas samudra dengan alat tukar yang diakui luas.

Perdebatan muncul pada tafsir gelarnya. Penafsiran arus utama mengaitkan gagasan ‘pemimpin yang adil’ dengan ajaran dalam Tāj al-Salāṭīn, teks etika kerajaan yang baru diterjemahkan pada masa Aceh Darussalam. Sebaliknya, pendukung tesis Syi‘ah menunjuk bahwa gagasan sultan yang adil memiliki tempat penting dalam doktrin walāyah: sultan bertugas mengatur urusan umat (tadbīr al-anām) serta menegakkan amar makruf nahi mungkar. Argumen serupa diajukan terhadap syair pada nisan Sultan Malik al-Salih (1297), yang lazim dihubungkan dengan pengaruh ‘Ali bin Abi Thalib tetapi jarang disebut sebagai jejak Syi‘ah.

Di luar perdebatan mazhab, kesinambungan gelar ini dari Pasai ke Aceh Darussalam, setidaknya hingga masa Sultan Ri‘ayat Syah (1589–1604), memperlihatkan bahwa bahasa politik kesultanan Aceh mewarisi kosakata kekuasaan yang terbentuk di Pasai. Dengan demikian, koin kecil ini menjadi dokumen penting bagi sejarah ekonomi sekaligus sejarah gagasan politik Islam di kawasan Selat Melaka.

The dirham struck under Sultan Muhammad Malik al-Zahir carries the sultan’s name on one face and the title al-sultan al-‘adil on the other. The specimen described measures 10 mm, weighs 0.58 g and is of 18-carat gold, and it was catalogued by J. Hulshoff Pol in his 1929 study of the gold coins of North Sumatra. Its existence shows that Pasai was already integrated into oceanic trade networks with a widely recognised medium of exchange.

The controversy lies in how to read the title. The mainstream reading links the ideal of the just ruler to the Taj al-Salatin, a text of royal ethics rendered into Malay only in the Aceh Darussalam period. Proponents of the Shi‘a thesis counter that the just sultan occupies a central place in the doctrine of walaya: the ruler is charged with managing the affairs of humankind (tadbir al-anam) and with enjoining good and forbidding evil. A parallel argument concerns the verse on the tombstone of Sultan Malik al-Salih (1297), usually attributed to the influence of ‘Ali ibn Abi Talib but seldom called a Shi‘a trace.

Beyond the sectarian dispute, the continuity of the title from Pasai into Aceh Darussalam, at least as late as Sultan Ri‘ayat Syah (1589–1604), shows that the political language of the Acehnese sultanate inherited a vocabulary of kingship first formed at Pasai. This small coin is thus a key document for both economic history and the history of Islamic political ideas in the Strait of Malacca.

Gagasan kunciKey ideas

Uang sebagai teks politikCoinage as political text

Inskripsi koin menyatakan ideal kekuasaan, bukan sekadar nilai tukar.Coin inscriptions announce an ideal of rule, not merely a value of exchange.

Dua tafsir gelarTwo readings of a title

Etika kerajaan Tāj al-Salāṭīn versus doktrin walāyah Syi‘ah.The royal ethics of the Taj al-Salatin versus Shi‘a walaya doctrine.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah sebuah gelar politik dapat dijadikan bukti afiliasi mazhab, atau ia lebih mencerminkan bahasa kekuasaan bersama di dunia Islam?Can a political title prove sectarian affiliation, or does it reflect a shared Islamic language of kingship?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Sulthān al-‘Ādil dan dirham emas Pasai”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/sulthan-al-adil-dirham-pasai/