Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Peh bantai dan sandiwara kelilingPeh bantai and travelling sandiwara theatre

Abad ke-20; sandiwara marak 1980-an hingga awal 1990-an20th century; sandiwara flourished from the 1980s to the early 1990s

Peh bantai (pukul bantal) adalah seni tutur Aceh di mana seorang pencerita memukul bantal sambil memerankan banyak tokoh dari sebuah hikayat. Tradisi ini dipopulerkan oleh tokoh legendaris Adnan PMTOH dan diteruskan Agus Nurul Amal. Bersama sandiwara keliling yang marak pada 1980-an hingga awal 1990-an, peh bantai menjadi padanan Aceh bagi wayang dan ketoprak Jawa. Dalam perbandingan Aceh–Jawa, kedua bentuk ini menunjukkan bahwa masyarakat Aceh pun akrab dengan dramaturgi huru-hara.

Peh bantai (‘striking the pillow’) is an Acehnese storytelling art in which a narrator beats a pillow while voicing the many characters of a hikayat. It was popularised by the legendary performer Adnan PMTOH and carried on by Agus Nurul Amal. Together with travelling sandiwara troupes that flourished from the 1980s to the early 1990s, peh bantai forms Aceh’s counterpart to Javanese wayang and ketoprak. In the Aceh–Java comparison, both forms show that Acehnese audiences were also familiar with the dramaturgy of turmoil.

Dalam peh bantai, satu orang pencerita menjadi dalang sekaligus seluruh pemain. Ia memukul bantal sebagai penanda irama dan peralihan adegan, lalu memainkan berbagai peran sesuai hikayat yang dibawakannya. Bentuk pertunjukan ini menempatkan kekuatan suara, mimik, dan kemampuan menghidupkan teks hikayat di pusat seni, sehingga erat kaitannya dengan tradisi sastra lisan Aceh. Nama Adnan PMTOH menjadi identik dengan seni ini, dan generasi berikutnya diwakili Agus Nurul Amal.

Selain peh bantai, masyarakat Aceh menonton sandiwara, yaitu kelompok drama yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Sandiwara marak pada dekade 1980-an dan awal 1990-an dan dalam banyak hal mirip ketoprak di Jawa. Lakonnya lebih banyak mengangkat kisah kehidupan sehari-hari anak manusia ketimbang epos kerajaan.

Dalam kajian perbandingan Aceh–Jawa, kedua bentuk ini dihadirkan sebagai titik masuk untuk memahami wayang. Pengamat dari Aceh mengakui tidak menguasai dunia pewayangan, tetapi menunjukkan bahwa logika lakon dengan konflik, puncak huru-hara, dan penyelesaian sudah dikenal melalui peh bantai dan sandiwara. Perbedaannya, wayang Jawa sarat dimensi gaib dan kosmologis, sedangkan seni tutur Aceh lebih bertumpu pada hikayat dan kisah manusia.

Perbandingan ini menyiratkan bahwa estetika pertunjukan juga dapat menjadi lensa untuk membaca cara masyarakat memaknai konflik politik.

In peh bantai a single narrator is both puppeteer and entire cast. He strikes a pillow to mark rhythm and scene changes, then plays the various roles of the hikayat he is performing. The form places voice, expression and the ability to bring a hikayat text to life at the heart of the art, tying it closely to Aceh’s oral literary tradition. Adnan PMTOH’s name became synonymous with the genre, and the next generation is represented by Agus Nurul Amal.

Besides peh bantai, Acehnese audiences watched sandiwara, drama troupes that moved from place to place. Sandiwara flourished in the 1980s and early 1990s and in many respects resembled Javanese ketoprak. Its plays dealt mostly with ordinary human lives rather than royal epics.

In the Aceh–Java comparison these two forms serve as an entry point for understanding wayang. The Acehnese observer admits to little knowledge of the puppet theatre but shows that the logic of a play built on conflict, climactic turmoil and resolution was already familiar through peh bantai and sandiwara. The difference is that Javanese wayang is steeped in the supernatural and cosmological, while Acehnese storytelling rests on hikayat and human stories.

The comparison suggests that performance aesthetics can also serve as a lens for reading how societies make sense of political conflict.

Gagasan kunciKey ideas

Satu suara, banyak tokohOne voice, many characters

Pencerita tunggal menghidupkan seluruh hikayat.A single narrator brings an entire hikayat to life.

Padanan wayang dan ketoprakCounterparts of wayang and ketoprak

Peh bantai dan sandiwara menjadi pintu perbandingan seni Aceh–Jawa.Peh bantai and sandiwara open a comparison of Acehnese and Javanese arts.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana seni tutur seperti peh bantai membentuk imajinasi masyarakat tentang konflik dan penyelesaiannya?How do storytelling arts like peh bantai shape a society’s imagination of conflict and its resolution?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Peh bantai dan sandiwara keliling”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/peh-bantai-adnan-pmtoh/