Keserbapertamaan Aceh dan serpihan pemikiran yang membangun disiplin di negeri lainAceh's 'firsts' and the fragments of its thought that built disciplines elsewhere
Salah satu alasan studi Aceh adalah 'keserbapertamaan' Aceh dalam kajian keislaman, keindonesiaan, dan kemelayuan: Islam pertama kali bertapak di Aceh, kerajaan Islam pertama lahir di sana, dan kitab fikih, tafsir, perbandingan agama, serta tasawuf pertama di kawasan ini muncul dari Aceh. Lebih jauh, serpihan pemikiran ulama Aceh telah dipakai untuk membangun disiplin dan wacana di negeri lain. Pertanyaannya, mengapa serpihan itu tidak dikumpulkan menjadi bagian dari studi Aceh sendiri.
One rationale for Aceh studies is Aceh's 'firsts' in Islamic, Indonesian and Malay history: Islam first took root there, the first Islamic kingdom arose there, and the region's first works of fiqh, Qur'anic exegesis, comparative religion and Sufism emerged from Aceh. Beyond this, fragments of Acehnese ulama thought have been used to build disciplines and discourses elsewhere. The question is why those fragments have not been gathered into Aceh studies itself.
Keserbapertamaan ini dikaitkan dengan posisi Aceh sebagai kawasan kosmopolitan yang terbuka terhadap kontak dengan Timur Tengah, Cina, hingga Eropa. Kontak itu melahirkan kekhasan Aceh dibandingkan daerah lain. Anthony Reid merumuskannya sebagai 'kejeniusan' Aceh dalam memelihara kosmopolitanisme yang tinggi sekaligus rasa kuat akan keunikan budayanya sendiri. Perjalanan sejarahnya terhubung dari Majapahit hingga Turki Utsmani, ditambah ekspansinya ke Semenanjung yang mewarnai identitas Melayu.
Daftar serpihan pemikiran yang 'dipinjam' pihak lain cukup panjang. Akar pemikiran kemelayuan yang dikembangkan Syed Muhammad Naquib al-Attas di Malaysia disebut bersumber dari pemikiran Hamzah Fansuri, meskipun pemikiran itu pernah ditentang keras di Aceh. Simuh, ahli kebatinan Jawa, menelusuri bahwa tasawuf wahdat al-wujūd yang dikembangkan Siti Jenar berasal dari Aceh. Diskusi pluralisme keyakinan yang marak di kampus-kampus Jawa dipandang dipelopori Nuruddin ar-Raniry; sejarah tafsir Asia Tenggara dipelopori ‘Abd al-Ra’uf al-Singkili; dan Hasbi Ash-Shiddieqy menjadi penggagas Fikih Indonesia. Ironisnya, sebagian tokoh ini justru ditentang atau dianggap tidak lazim di tanah asalnya.
Dari sini lahir argumen sederhana. Jika serpihan pemikiran itu mampu membangun disiplin di negeri lain, serpihan yang sama layak dihimpun dalam studi ke-Aceh-an, terlebih karena pemikiran tersebut dibentuk oleh sejarah intelektual, sistem sosial-budaya, dan sosial-politik Aceh. Argumen ini juga menegaskan bahwa kontribusi Aceh kepada dunia Melayu tidak menjadikannya bagian dari studi Melayu; sebaliknya, kontributor seharusnya dikaji sebagai disiplin tersendiri.
These firsts are linked to Aceh's position as a cosmopolitan region open to contact with the Middle East, China and Europe. Such contact produced Aceh's distinctiveness among the regions of the archipelago. Anthony Reid described it as Aceh's 'genius' for maintaining a high degree of cosmopolitanism alongside a strong sense of the uniqueness of its own culture. Its history connects Majapahit with the Ottoman Empire, and its expansion into the Malay Peninsula left a mark on Malay identity.
The list of borrowed fragments is long. The roots of Malay thought developed by Syed Muhammad Naquib al-Attas in Malaysia are said to derive from Hamzah Fansuri, though his ideas were once fiercely opposed in Aceh. Simuh, a scholar of Javanese mysticism, traced the wahdat al-wujūd Sufism associated with Siti Jenar back to Aceh. Debates on religious pluralism on Javanese campuses are seen as pioneered by Nuruddin ar-Raniry; the history of Qur'anic exegesis in Southeast Asia by ‘Abd al-Ra’uf al-Singkili; and Hasbi Ash-Shiddieqy proposed an Indonesian fiqh. Ironically, several of these figures were opposed or considered unorthodox in their homeland.
A simple argument follows. If these fragments could build disciplines elsewhere, they deserve to be gathered into the study of Aceh, especially since they were shaped by Aceh's intellectual history and its socio-cultural and socio-political systems. The argument also insists that Aceh's contribution to the Malay world does not make it a branch of Malay studies; on the contrary, the contributor ought to be studied as a discipline in its own right.
Gagasan kunciKey ideas
Serba pertamaA region of firsts
Islam, kerajaan Islam, dan kitab-kitab keislaman pertama di kawasan lahir di Aceh.The region's first Islam, Islamic kingdom and Islamic treatises emerged in Aceh.
Serpihan yang dipinjamBorrowed fragments
Pemikiran Hamzah, ar-Raniry, al-Singkili, dan Hasbi membangun wacana di Malaysia dan Jawa.The ideas of Hamzah, ar-Raniry, al-Singkili and Hasbi built discourses in Malaysia and Java.
Kontributor sebagai disiplinThe contributor as a discipline
Pihak yang memberi kontribusi pada studi Melayu layak dikaji secara mandiri.The party that contributed to Malay studies deserves study on its own terms.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apakah sebuah pemikiran tetap 'milik' tempat asalnya ketika ia berkembang menjadi disiplin di negeri lain?Does an idea still 'belong' to its place of origin once it has grown into a discipline elsewhere?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Keserbapertamaan Aceh dan serpihan pemikiran yang membangun disiplin di negeri lain”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/keserbapertamaan-dan-serpihan-pemikiran-aceh/