Gelar teungku di luar dayahThe teungku title beyond the dayah
Gelar teungku tidak hanya dipakai di lingkungan dayah. Orang Aceh di perantauan disebut Teungku Aceh, kadang diangkat menjadi imam karena dianggap fasih membaca al-Qur’an, namun sebutan yang sama juga melekat pada pedagang ganja asal Aceh. Anggota GAM yang memegang jabatan memakai gelar teungku tanpa latar dayah. Gejala ini memunculkan pandangan bahwa teungku lebih merupakan penanda tradisi dan identitas Aceh daripada gelar keagamaan semata.
The title teungku is not confined to the dayah. Acehnese living elsewhere are called Teungku Aceh, sometimes appointed prayer leaders because they are thought to recite the Qur’an well, yet the same label also attaches to Acehnese cannabis traders. GAM members holding positions adopted the title without any dayah background. This has led to the view that teungku marks Acehnese tradition and identity more than a strictly religious rank.
Di luar Aceh, sebutan Teungku Aceh dilekatkan pada perantau dari Aceh. Di sejumlah tempat mereka dipercaya menjadi imam karena reputasi orang Aceh sebagai pembaca al-Qur’an yang baik. Namun masa konflik juga mendorong sebagian orang Aceh keluar dan terlibat dalam jaringan perdagangan ganja; di luar Aceh, pelaku bisnis ini pun kerap disapa Teungku Aceh. Satu gelar, dengan demikian, dapat membawa konotasi kesalehan sekaligus stigma.
Penggunaan politik gelar ini paling nyata dalam GAM. Panglima wilayah dan panglima sagoe menyandang gelar teungku, demikian pula mantan panglima seperti Teungku Abdullah Syafi’i dan Teungku Muzakir Manaf, meskipun sebagian besar tidak berlatar dayah. Alasannya ideologis, bukan keilmuan. Pola ini memiliki preseden: Mohammad Saman, kakek Hasan di Tiro, dikenal sebagai Teungku Chik di Tiro; Daud Beureueh lebih dikenal sebagai Abu Beureueh; sedangkan Hasan di Tiro dipanggil Dr. Teungku Hasan di Tiro, bukan Abu atau Teungku Chik. Menariknya, para komandan GAM tidak memakai gelar teuku yang melekat pada keturunan uleebalang, tetapi gelar teungku yang bernuansa otoritas keagamaan.
Seorang anggota GAM menegaskan bahwa gelar ini bukan milik orang dayah, melainkan milik semua orang Aceh. Pada saat yang sama, setelah MoU Helsinki, orang dayah sendiri ikut terjun ke politik melalui partai. Kedua arus ini memperlihatkan bahwa batas antara gelar keagamaan dan gelar sosial-politik di Aceh bersifat cair, dan bahwa teungku tetap menjadi simbol penting dalam pertarungan otoritas.
Outside Aceh, the label Teungku Aceh is given to migrants from the province. In some places they are trusted to lead prayers because of the Acehnese reputation for fine Qur’anic recitation. Yet the conflict also pushed some Acehnese out of the province into cannabis-trading networks, and beyond Aceh those traders too are often addressed as Teungku Aceh. A single title can thus carry connotations of piety and stigma at once.
The political use of the title is most visible in GAM. Regional and district commanders bore the title teungku, as did former commanders such as Teungku Abdullah Syafi’i and Teungku Muzakir Manaf, though most had no dayah background. The reason was ideological rather than scholarly. There is precedent: Mohammad Saman, grandfather of Hasan di Tiro, was known as Teungku Chik di Tiro; Daud Beureueh is better remembered as Abu Beureueh; while Hasan di Tiro was styled Dr. Teungku Hasan di Tiro rather than Abu or Teungku Chik. Notably, GAM commanders did not adopt teuku, the title of uleebalang descendants, but teungku, with its aura of religious authority.
One GAM member insisted that the title belongs not to dayah people but to all Acehnese. At the same time, after the Helsinki MoU, dayah people themselves entered politics through parties. Together these currents show that the line between religious and socio-political titles in Aceh is fluid, and that teungku remains a potent symbol in contests over authority.
Gagasan kunciKey ideas
Gelar sebagai identitas etnisTitle as ethnic identity
Di perantauan, teungku menandai ke-Aceh-an, baik dalam konotasi saleh maupun negatif.Away from home, teungku marks Acehneseness, with both pious and negative connotations.
Teungku, bukan teukuTeungku, not teuku
GAM memilih gelar bernuansa agama ketimbang gelar bangsawan uleebalang.GAM chose a religiously tinged title over the uleebalang aristocratic one.
Cairnya otoritasFluid authority
Gelar keagamaan dan politik saling meminjam legitimasi.Religious and political titles borrow legitimacy from each other.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Ketika gelar keagamaan dipakai untuk tujuan politik, apa yang terjadi pada wibawanya di mata umat?When a religious title is used for political ends, what happens to its standing among believers?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Gelar teungku di luar dayah”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/gelar-teungku-di-luar-dayah/