Baba Daud al-Jawi al-Rumi
Abad ke-1717th century
Baba Daud al-Jawi bin Ismail bin Agha Mustafa bin Agha Ali al-Rumi adalah ulama Aceh keturunan Turki, murid sekaligus sahabat Syekh Abdurrauf as-Singkili. Atas perintah gurunya ia melengkapi Tarjuman al-Mustafid, tafsir lengkap pertama berbahasa Melayu, dengan kisah-kisah dari tafsir al-Khazin dan ragam qiraat. A. Hasjmy menyebutnya Teungku Chik di Leupu.
Baba Daud al-Jawi bin Ismail bin Agha Mustafa bin Agha Ali al-Rumi was an Acehnese scholar of Turkish descent, student and companion of Shaykh Abdurrauf as-Singkili. At his teacher's command he supplemented Tarjuman al-Mustafid, the first complete Qur'an commentary in Malay, with stories from al-Khazin's commentary and variant readings. A. Hasjmy called him Teungku Chik di Leupu.
Abad ketujuh belas adalah masa keemasan keilmuan Islam di Aceh. Di bawah para sultan dan sultanah Aceh Darussalam, Banda Aceh menjadi pusat ilmu di dunia Melayu, tempat lahirnya karya-karya Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri dan Abdurrauf as-Singkili. Di antara tokoh-tokoh besar itu terdapat nama yang jarang dikenal tetapi berperan penting dalam sejarah tafsir Al-Quran di Nusantara: Baba Daud al-Jawi al-Rumi. Ia dikenal terutama melalui kolofon Tarjuman al-Mustafid, tafsir lengkap pertama berbahasa Melayu yang disusun Abdurrauf as-Singkili, gurunya.
Nama lengkapnya, sebagaimana tercantum dalam kolofon, adalah Baba Daud al-Jawi bin Ismail bin Agha Mustafa bin Agha Ali al-Rumi. Nisbah al-Rumi menunjukkan asal-usul keluarganya dari wilayah Turki Usmani, sedangkan nisbah al-Jawi yang diletakkan langsung setelah namanya menunjukkan bahwa ia besar di Aceh dan dikenal sebagai bagian dari masyarakat Jawi, sebutan bagi Muslim Asia Tenggara di Haramain. Taqiyuddin Muhammad, dalam tulisan yang diangkat MAPESA, mencatat bahwa tidak jelas apakah Baba Daud datang dari Turki atau lahir di Aceh dari ayah Turki dan ibu Aceh. Ayahnya, Ismail, diduga putra seorang komandan Yanisari yang menetap di Aceh. Alasan kepindahannya tidak diketahui, dan Taqiyuddin menilai lemah baik teori bahwa keluarga ini adalah tentara bayaran, sebagaimana dikemukakan Azyumardi Azra, maupun teori bahwa mereka datang sebagai penganut tarekat Qadiriyah, sebagaimana dikemukakan Wan Mohd. Shaghir Abdullah.
Gelar Baba juga menarik. Dalam tradisi Turki, Baba dapat berarti ayah, kakek atau guru sufi yang dihormati. Taqiyuddin menilai kecil kemungkinan gelar ini berhubungan dengan tarekat Bektasyi, dan lebih mungkin melekat karena keturunan Turkinya. A. Hasjmy menyebut Baba Daud sebagai Teungku Chik di Leupu, sebutan yang menempatkannya dalam tradisi ulama Aceh dengan gelar teungku chik bagi pemimpin dayah. Dengan demikian, Baba Daud adalah contoh nyata perpaduan Aceh dan Turki dalam dunia keilmuan abad ketujuh belas, sejalan dengan hubungan diplomatik dan militer Aceh–Usmani yang telah terjalin sejak abad sebelumnya.
Peran terpenting Baba Daud berkaitan dengan Tarjuman al-Mustafid. Syekh Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri, yang dikenal sebagai as-Singkili dan wafat pada 1105 Hijriah atau 1693 Masehi, menyusun tafsir ini dalam bahasa Melayu dengan bersandar pada tafsir Anwar at-Tanzil karya al-Baidhawi. Kolofon tafsir yang terdiri atas dua puluh baris menyatakan bahwa tafsir telah selesai, dan bahwa Baba Daud, atas perintah gurunya, menambahkan kisah-kisah, sebagian besar dari tafsir al-Khazin, serta keterangan tentang ragam qiraat. Ungkapan rendah hati Baba Daud dalam kolofon itu, menurut Taqiyuddin, harus dibaca sebagai adab seorang murid, bukan bukti bahwa ia murid termuda. Tugas yang diberikan Abdurrauf justru memperlihatkan bahwa Baba Daud adalah ahli tafsir yang dipercaya.
Taqiyuddin juga mencatat bahwa ia belum melihat naskah yang diakhiri dengan baris-baris kolofon tersebut, sehingga kemungkinan bahwa versi yang diperluas itu dibacakan dan disetujui Abdurrauf masih perlu dikonfirmasi. Ia menyebut beberapa bukti fisik yang pernah dijumpainya: fotokopi kolofon yang dibingkai dan dipajang di Dayah Tanoh Abee, Seulimum, Aceh Besar, yang dilihatnya pada 2005; awal juz kesepuluh yang ditemukan di Geurugok, Gandapura, Bireuen; serta cetakan Mumbai, India, bertarikh 1370 Hijriah atau 1951 Masehi, yang memuat awal Surah at-Taubah dan juga ditemukan di Geurugok. Jejak-jejak ini memperlihatkan betapa luas dan lamanya tafsir tersebut beredar di Aceh, dari naskah tulisan tangan hingga edisi cetak.
Tarjuman al-Mustafid sendiri menempati kedudukan istimewa dalam sejarah Islam Asia Tenggara. Sebagai tafsir lengkap tiga puluh juz pertama dalam bahasa Melayu, ia dipakai di pesantren, dayah dan pondok dari Aceh sampai Patani selama berabad-abad, dan dicetak di berbagai pusat percetakan Islam, termasuk Istanbul, Kairo, Mekah dan Bombay. Kontribusi Baba Daud memperkaya tafsir itu dengan kisah-kisah yang membuatnya lebih mudah dipahami pembaca Melayu dan dengan keterangan qiraat yang menjaga ketelitian bacaan Al-Quran. Dengan cara ini ia ikut membentuk wajah tafsir Melayu yang ringkas, setia pada sumber Arab dan sekaligus komunikatif.
Kehadiran keluarga keturunan Turki di Aceh pada abad ketujuh belas tidak berdiri sendiri. Sejak abad keenam belas, Aceh menerima meriam, ahli persenjataan dan tukang dari wilayah Usmani dalam rangka menghadapi Portugis, dan sebagian dari mereka menetap serta berbaur dengan masyarakat setempat. Ingatan tentang orang Rum dalam sumber-sumber Aceh, termasuk dalam penamaan tempat dan cerita rakyat, memperlihatkan bahwa interaksi itu meninggalkan jejak sosial yang nyata. Baba Daud dapat dipandang sebagai generasi yang telah sepenuhnya menyatu dengan dunia keilmuan Aceh, dengan bahasa Melayu sebagai bahasa ilmu dan Abdurrauf sebagai gurunya.
Peran murid dalam menyempurnakan karya guru juga merupakan pola yang dikenal dalam tradisi keilmuan Islam. Murid yang dipercaya sering ditugasi menyalin, menyunting, melengkapi atau mensyarah karya gurunya, sehingga sebuah kitab tumbuh melalui beberapa tangan. Dalam kasus Tarjuman al-Mustafid, kontribusi Baba Daud tercatat secara eksplisit dalam kolofon, sebuah kejujuran ilmiah yang memungkinkan generasi kemudian mengenali siapa melakukan apa. Kejelasan atribusi semacam ini menjadi teladan penting bagi tradisi penulisan di Aceh, sekaligus memudahkan peneliti modern menelusuri lapisan-lapisan teks.
Bagi studi Aceh, Baba Daud penting karena memperlihatkan beberapa hal sekaligus. Pertama, kosmopolitanisme Aceh abad ketujuh belas, ketika keturunan Turki dapat menjadi bagian dari elite keilmuan lokal. Kedua, tradisi kerja ilmiah kolektif antara guru dan murid, di mana karya besar seperti Tarjuman al-Mustafid lahir dari kerja sama dan penyempurnaan bertahap. Ketiga, peran Dayah Tanoh Abee dan jaringan dayah lain sebagai penyimpan warisan naskah tafsir yang berharga.
Kontribusi Baba Daud juga relevan bagi perdebatan tentang sumber-sumber tafsir di Nusantara. Pemilihan tafsir al-Khazin sebagai sumber kisah memperlihatkan selera keilmuan yang menghargai riwayat dan narasi untuk menjelaskan ayat, sementara perhatian pada qiraat memperlihatkan disiplin teknis dalam ilmu Al-Quran. Perpaduan antara kekayaan narasi dan ketelitian teknis inilah yang membuat Tarjuman al-Mustafid bertahan lama sebagai rujukan pengajaran di dayah.
Sosok Baba Daud juga mengingatkan bahwa sejarah intelektual Aceh dibangun bukan hanya oleh tokoh-tokoh yang namanya besar, tetapi juga oleh para murid, penyalin dan penyunting yang bekerja di balik layar. Mengangkat peran mereka berarti memberi gambaran yang lebih adil tentang bagaimana pengetahuan diproduksi dan diwariskan di Aceh.
Banyak hal tentang Baba Daud masih belum diketahui, termasuk tahun lahir dan wafatnya serta letak makamnya. Kajian lanjutan atas naskah-naskah Tarjuman al-Mustafid di Aceh, Malaysia, Thailand selatan dan koleksi luar negeri, serta penelusuran tradisi lisan tentang Teungku Chik di Leupu, dapat membantu melengkapi biografinya. Melalui upaya seperti yang dilakukan Taqiyuddin Muhammad dan MAPESA, sosok yang lama tersembunyi di balik nama besar gurunya mulai mendapatkan tempatnya dalam sejarah intelektual Aceh. Entri ini akan terus diperkaya seiring ditemukannya sumber-sumber baru.
The seventeenth century was a golden age of Islamic learning in Aceh. Under the sultans and sultanas of Aceh Darussalam, Banda Aceh became a centre of scholarship in the Malay world, birthplace of the works of Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri and Abdurrauf as-Singkili. Among these great figures is a less familiar name who played an important part in the history of Qur'anic exegesis in the archipelago: Baba Daud al-Jawi al-Rumi. He is known mainly through the colophon of Tarjuman al-Mustafid, the first complete Malay commentary on the Qur'an, compiled by his teacher Abdurrauf as-Singkili.
His full name, as given in the colophon, was Baba Daud al-Jawi bin Ismail bin Agha Mustafa bin Agha Ali al-Rumi. The nisba al-Rumi indicates his family's Ottoman origins, while the nisba al-Jawi placed directly after his name suggests he grew up in Aceh and was known as one of the Jawi, the name for Southeast Asian Muslims in the Haramayn. Taqiyuddin Muhammad, in an essay republished by MAPESA, notes that it is unclear whether Baba Daud came from Turkey or was born in Aceh to a Turkish father and Acehnese mother. His father Ismail is thought to have been the son of a Janissary commander who settled in Aceh. The reasons for his migration are unknown, and Taqiyuddin finds weak both Azyumardi Azra's suggestion that the family were mercenaries and Wan Mohd. Shaghir Abdullah's suggestion that they came as followers of the Qadiriyya order.
The title Baba is also of interest. In Turkish usage it can mean father, grandfather or a revered Sufi master. Taqiyuddin thinks a link with the Bektashi order unlikely and the title more probably reflects his Turkish descent. A. Hasjmy called Baba Daud Teungku Chik di Leupu, a name that places him in the Acehnese tradition of the teungku chik, heads of dayah. Baba Daud is thus a concrete example of the blending of Aceh and Turkey in seventeenth-century scholarship, in keeping with the diplomatic and military ties between Aceh and the Ottomans formed in the previous century.
Baba Daud's most important role concerns Tarjuman al-Mustafid. Shaykh Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri, known as as-Singkili, who died in 1105 AH or 1693 CE, compiled this commentary in Malay, drawing on al-Baydawi's Anwar at-Tanzil. The twenty-line colophon states that the commentary was complete and that Baba Daud, at his teacher's command, added stories, mostly from al-Khazin's commentary, and notes on variant readings (qira'at). Baba Daud's humble self-description in the colophon, Taqiyuddin argues, should be read as a student's courtesy, not as proof that he was the youngest student. The task Abdurrauf entrusted to him shows rather that he was a trusted scholar of exegesis.
Taqiyuddin also notes that he has not seen a manuscript ending with these colophon lines, so whether the expanded version was read to and approved by Abdurrauf still needs confirmation. He mentions physical evidence he has encountered: a framed photocopy of the colophon displayed at Dayah Tanoh Abee, Seulimum, Aceh Besar, which he saw in 2005; the opening of the tenth juz found in Geurugok, Gandapura, Bireuen; and a Mumbai printing dated 1370 AH or 1951 CE, with the opening of Surah at-Tawba, also found in Geurugok. These traces show how widely and for how long the commentary circulated in Aceh, from handwritten manuscripts to printed editions.
Tarjuman al-Mustafid holds a special place in the history of Southeast Asian Islam. As the first complete thirty-juz commentary in Malay it was used in pesantren, dayah and pondok from Aceh to Patani for centuries and was printed at several Islamic printing centres, including Istanbul, Cairo, Mecca and Bombay. Baba Daud's contribution enriched it with stories that made it easier for Malay readers to grasp and with notes on readings that preserved precision in Qur'anic recitation. In this way he helped shape the character of Malay exegesis: concise, faithful to Arabic sources and accessible.
The presence of families of Turkish descent in seventeenth-century Aceh was not isolated. From the sixteenth century Aceh received cannon, gunsmiths and craftsmen from Ottoman lands to face the Portuguese, and some stayed and mixed with local society. References to the Rum in Acehnese sources, including place names and folklore, show that this interaction left real social traces. Baba Daud can be seen as a generation fully integrated into Aceh's scholarly world, with Malay as the language of learning and Abdurrauf as his teacher.
A student's role in completing a teacher's work is a familiar pattern in Islamic scholarship. Trusted students were often tasked with copying, editing, supplementing or commenting on their teacher's works, so a book grew through several hands. In Tarjuman al-Mustafid, Baba Daud's contribution is explicitly recorded in the colophon, an act of scholarly honesty that lets later generations know who did what. Such clear attribution is an important model for Aceh's writing tradition and helps modern researchers trace the layers of a text.
For Aceh studies Baba Daud matters for several reasons. First, he shows the cosmopolitanism of seventeenth-century Aceh, when descendants of Turks could belong to the local scholarly elite. Second, he illustrates the collective scholarly work of teacher and student, in which great works like Tarjuman al-Mustafid emerged from collaboration and gradual refinement. Third, he highlights the role of Dayah Tanoh Abee and other dayah as keepers of precious exegetical manuscripts.
Baba Daud's contribution also bears on debates about the sources of exegesis in the archipelago. Choosing al-Khazin's commentary as a source of stories reflects a scholarly taste valuing narration to explain verses, while attention to qira'at shows technical discipline in the Qur'anic sciences. This blend of narrative richness and technical precision is what kept Tarjuman al-Mustafid in long use as a teaching reference in the dayah.
Baba Daud's figure is also a reminder that Aceh's intellectual history was built not only by famous names but by students, copyists and editors working behind the scenes. Highlighting their roles gives a fairer picture of how knowledge was produced and transmitted in Aceh.
Much about Baba Daud remains unknown, including his dates of birth and death and the location of his grave. Further study of Tarjuman al-Mustafid manuscripts in Aceh, Malaysia, southern Thailand and foreign collections, and of oral traditions about Teungku Chik di Leupu, could help complete his biography. Through the work of Taqiyuddin Muhammad and MAPESA, a figure long hidden behind his teacher's great name is beginning to take his place in Aceh's intellectual history. This entry will be enriched as new sources come to light.
Gagasan kunciKey ideas
Aceh dan TurkiAceh and Turkey
Keturunan Yanisari yang menjadi ulama Aceh.A Janissary's descendant who became an Acehnese scholar.
Kerja ilmiah kolektifCollective scholarship
Tarjuman al-Mustafid lahir dari kerja guru dan murid.Tarjuman al-Mustafid arose from teacher–student collaboration.
Dayah penyimpan naskahDayah as manuscript keepers
Tanoh Abee dan Geurugok menyimpan jejak tafsir.Tanoh Abee and Geurugok hold traces of the commentary.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apakah versi Tarjuman al-Mustafid yang diperluas Baba Daud dibacakan dan disetujui Abdurrauf as-Singkili, dan naskah mana yang memuatnya?Was Baba Daud's expanded version of Tarjuman al-Mustafid read to and approved by Abdurrauf as-Singkili, and which manuscripts contain it?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Baba Daud al-Jawi al-Rumi”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/baba-daud-al-jawi-al-rumi/