Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Training Kader Dakwah (TKD)Training Kader Dakwah (TKD): preacher-cadre training

Dirintis 2019Initiated 2019

Training Kader Dakwah (TKD) adalah program pelatihan sehari bagi pemuda gampong yang dirintis Tu Sop pada 2019 untuk ‘menjinakkan’ generasi muda yang jauh dari ilmu agama. Memakai metode pelatihan partisipatif, TKD memperkenalkan fardhu ‘ain, ajaran ahlussunnah wal jama‘ah, dan kepemimpinan, lalu mendorong peserta menyusun rencana tindak lanjut di desanya. Di bawah payung HUDA, program ini telah berlangsung di sekitar delapan ratus titik, terutama di Bireuen dan Pidie Jaya.

Training Kader Dakwah (TKD) is a one-day training for village youth initiated by Tu Sop in 2019 to ‘tame’ young people estranged from religious knowledge. Using participatory training methods, TKD introduces fardhu ‘ain, Sunni doctrine and leadership, and then has participants draw up follow-up plans for their villages. Under the umbrella of HUDA it has been held at roughly eight hundred sites, mainly in Bireuen and Pidie Jaya.

Gagasan TKD muncul selepas pemilu 2019, berangkat dari kaidah fikih ‘apa yang tidak dapat dicapai seluruhnya tidak boleh ditinggalkan seluruhnya’, yang oleh Tu Sop diringkas menjadi ‘lakukan apa yang bisa tanpa menunggu semuanya bisa’. Kalangan dekatnya menggandeng pelatih profesional Lailan Fajri dari lembaga Tandaseru Indonesia di Lhokseumawe. Pelatihan untuk calon instruktur (training of trainers) diadakan di Dayah Babussalam al-Aziziyah dengan sekitar 20–25 peserta dari kalangan guru dayah di Bireuen, dengan tema besar ‘Merambah Jalan Baru Dakwah Ahlussunnah Waljama’ah’. Awalnya banyak peserta canggung dengan metode pelatihan; hanya sebagian yang kemudian aktif sebagai instruktur inti dan menggerakkan pelatihan di Bireuen, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Timur, Aceh Utara, Banda Aceh, Lhokseumawe, dan pantai barat-selatan.

Alasan Tu Sop dirumuskan dalam tamsil yang terkenal: dakwah selama ini hanya menyasar orang yang sudah salat dan sudah kenyang nasihat, ‘ibarat berburu di kebun binatang dan memancing di kolam’, bukan berburu di hutan dan memancing di laut. Umat Islam, katanya, tidak kalah dalam kebenaran ajaran, tetapi kalah dalam strategi; Islam ibarat produk bermutu yang pemasarannya keliru. TKD dirancang untuk mengisi ruang kosong yang tidak terjangkau majelis taklim dan dayah. Di tingkat desa temanya adalah ‘Membangun Gampong sebagai Basis Dakwah Ahlussunnah Waljama’ah’; instruktur menghubungi camat atau geuchik, desa menyiapkan tempat dan peserta, lalu pelatihan berlangsung sehari penuh.

TKD tidak dimaksudkan mencetak orang alim dalam sehari, tetapi menanam kesadaran. Tahapannya: pemuda yang ‘terbiarkan tanpa lampu’ disentuh menjadi mustami‘in (pendengar ilmu), lalu muhibbin (pencinta agama), dan akhirnya pencari ilmu fardhu ‘ain yang sadar. Tujuannya mencakup orientasi hidup sesuai agama, pengorganisasian pemuda dalam kelompok pengajian, gerakan anti-narkoba dan anti-judi daring, serta kerelawanan sosial. Sejumlah alumni membentuk simpul Pemuda Kader Dakwah (PAKAD) di tingkat kecamatan. Pada 2023 Penjabat Bupati Bireuen meminta seluruh 609 desa di kabupaten itu menyelenggarakan TKD, dan program ini juga mendapat perhatian Penjabat Gubernur Aceh. Pemerintah melihat manfaatnya bagi bonus demografi, sosialisasi program stunting dan narkoba, serta pengurangan kemiskinan.

The idea of TKD emerged after the 2019 elections, starting from the legal maxim ‘what cannot be achieved in full should not be abandoned in full’, which Tu Sop condensed into ‘do what you can without waiting until everything is possible’. His circle brought in the professional trainer Lailan Fajri of Tandaseru Indonesia in Lhokseumawe. A training of trainers was held at Dayah Babussalam al-Aziziyah for some 20–25 dayah teachers from Bireuen, under the banner ‘Opening a New Path for Sunni Preaching’. Many participants were at first uneasy with training methods; only some went on to become core instructors, running sessions in Bireuen, Pidie, Pidie Jaya, East Aceh, North Aceh, Banda Aceh, Lhokseumawe and the west-south coast.

Tu Sop’s rationale is captured in a famous image: preaching has targeted only those who already pray and are already full of advice, ‘like hunting in a zoo and fishing in a pond’, rather than hunting in the forest and fishing at sea. Muslims, he says, have not lost on the truth of their teaching but on strategy; Islam is like a quality product badly marketed. TKD is designed to fill spaces that study circles and dayah cannot reach. At village level the theme is ‘Building the Gampong as a Base for Sunni Preaching’; instructors contact the subdistrict head or village head, the village provides a venue and participants, and the training runs for a full day.

TKD does not aim to produce scholars in a day but to plant awareness. Its stages: young people ‘left without a lamp’ are reached as mustami‘in (listeners), then become muhibbin (lovers of religion), and finally conscious seekers of fardhu ‘ain. Its aims include a religiously oriented life purpose, organising youth into study groups, campaigns against drugs and online gambling, and social volunteering. Some alumni formed Pemuda Kader Dakwah (PAKAD) nodes at subdistrict level. In 2023 the acting regent of Bireuen asked all 609 villages in the district to hold TKD, and the programme also drew the attention of Aceh’s acting governor. Government sees benefits for the demographic dividend, for disseminating stunting and anti-drug programmes, and for poverty reduction.

Gagasan kunciKey ideas

Berburu di hutanHunting in the forest

Dakwah harus menjangkau mereka yang jauh dari agama, bukan hanya jemaah yang sudah setia.Preaching must reach those far from religion, not only the already faithful.

Tiga tahap pembinaanThree stages

Dari mustami‘in ke muhibbin hingga pencari ilmu yang sadar.From listeners to lovers of religion to conscious seekers of knowledge.

Dayah bertemu metode pelatihanDayah meets training methods

Isi tradisional dibawakan dengan teknik pelatihan pemberdayaan modern.Traditional content is delivered through modern empowerment-training techniques.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Dapatkah pelatihan sehari mengubah orientasi keagamaan pemuda, atau ia lebih berfungsi sebagai pintu masuk ke jaringan pengajian yang berkelanjutan?Can a one-day training change young people’s religious orientation, or does it function mainly as an entry into ongoing study networks?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Training Kader Dakwah (TKD)”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/training-kader-dakwah/