Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Samudera Pasai dalam catatan asing: dari utusan Cina hingga Ibnu BattutahSamudera Pasai in foreign records: from Chinese envoys to Ibn Battuta

Keberadaan Samudera Pasai pada abad ke-13 dan ke-14 tidak hanya dikenal dari Hikayat Raja-raja Pasai, tetapi juga dari catatan Cina, Marco Polo, Odorico dari Pordenone, Ibnu Battutah dan kemudian sumber Portugis. Silang sumber ini menjadi dasar penanggalan kerajaan, menjelaskan bagaimana nama Samudera menjadi nama pulau Sumatra, dan memperlihatkan Pasai sebagai bandar yang memiliki tata kelola pelabuhan, mata uang emas dan jaringan diplomatik. Catatan asing perlu dibaca bersama epigrafi nisan dan numismatik Pasai karena keterangan para pengunjung tidak selalu cocok satu sama lain.

Samudera Pasai's existence in the thirteenth and fourteenth centuries is known not only from the Hikayat Raja-raja Pasai but also from Chinese records, Marco Polo, Odoric of Pordenone, Ibn Battuta and later Portuguese sources. Cross-checking these sources underpins the dating of the kingdom, explains how the name Samudera became the name of the island of Sumatra, and shows Pasai as a port with harbour administration, gold coinage and a diplomatic network. Foreign accounts must be read together with Pasai's tombstone epigraphy and numismatics, since visitors' testimonies do not always agree.

Sumber lokal utama tentang Samudera Pasai adalah Hikayat Raja-raja Pasai, yang membuka kisahnya dengan klaim bahwa di negeri di bawah angin, Pasailah yang pertama membawa iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Hikayat itu bermula dengan dua raja bersaudara, Raja Ahmad dan Raja Muhammad, yang hendak membuka negeri di Samarlanga (Samalanga), lalu menceritakan Meurah Silu, raja pertama yang memeluk Islam dan berganti nama menjadi Malik al-Salih. Menurut kisahnya, anjing buruan Meurah Silu yang bernama si Pasai menyalak kepada seekor semut sebesar kucing; di tempat itu dibangun istana dan negerinya dinamai Samudera, yang dalam cerita ini dimaknai sebagai semut besar.

Nama Samudera kemudian menjadi nama seluruh pulau. Para pengunjung Arab, Persia dan Eropa menyebutnya dengan bentuk yang tidak jauh dari aslinya, seperti Samoterra, Samotra, Symatra, Zamatra, Sumatora dan Samatra, hingga bentuk Sumatera yang dipakai sekarang; N.J. Krom membahas asal-usul nama ini dalam artikelnya "De Naam Sumatra" (1941). Odorico dari Pordenone, yang juga mengunjungi negeri ini, menyebutnya Symoltra.

Catatan Cina memberi penanggalan yang lebih pasti. Utusan Cina dari Ma'bar singgah di Samutula (Samudera) pada 1282, dan pada tahun yang sama Malik al-Salih mengirim utusan ke Quilon di pantai barat India yang bertemu dengan duta-duta Cina. Utusan dari Fujian datang ke Lan-wu-li (Lamuri, di Aceh Besar sekarang) dan Samudera pada 1284, dan catatan perjalanan Wang Dayuan tahun 1346 menggambarkan masyarakat Samudera secara terperinci. Marco Polo singgah di Samudera pada 1292 dalam perjalanan pulang dari Cina dan, menurut catatannya, tinggal di sana sekitar enam bulan bersama rombongannya. Berdasarkan sumber-sumber ini, Hoesein Djajadiningrat menempatkan berdirinya kerajaan sekitar 1270–1275, dan T. Ibrahim Alfian dalam Kronika Pasai mencatat wafatnya Malik al-Salih pada 696 H (1297) serta putranya, Sultan Muhammad Malik al-Zahir, pada 726 H (1326), yang makamnya terletak di Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara.

Ibnu Battutah mengunjungi Samudera pada 1345 dan tinggal sekitar lima belas hari pada masa seorang sultan bergelar al-Malik al-Zahir. Dalam al-Rihlah ia memuji kesalehan, kerendahan hati dan semangat keagamaan sultan, mencatat bahwa sultan berulang kali memerangi orang kafir dan memperluas wilayahnya, serta menggambarkan pesta perkawinan putra sultan yang megah. Kota Samudera, menurutnya, adalah kota besar dan indah yang dikelilingi tembok dan menara kayu.

Kesaksian Ibnu Battutah juga memperlihatkan tata kelola pelabuhan Pasai. Ketika kapalnya berlabuh, ia disambut oleh wakil syahbandar yang dalam teks Arab disebut naib sahib al-bahr, yang memberinya izin turun ke darat sebelum ia diantar ke kota. Bagi kajian sejarah kelembagaan Aceh, keterangan ini berharga karena menunjukkan bahwa jabatan pengawas laut dan pelabuhan telah ada sejak abad ke-14, jauh sebelum tarif dan jabatan Balai Furdah Kesultanan Aceh Darussalam dicatat dalam Mābaina al-Salāṭīn. Sebagian peneliti melihatnya sebagai salah satu cikal bakal fungsi yang kemudian dikaitkan dengan panglima laot. Catatan itu sekaligus mengingatkan bahwa sumber asing bukan hanya saksi tentang raja dan istana, tetapi juga tentang prosedur sehari-hari sebuah negara pelabuhan.

Sumber asing juga dapat dipadukan dengan bukti benda. T. Ibrahim Alfian menyebut mata uang emas yang ditemukan di Pasai sebagai mata uang emas pertama di kawasan ini dan dirham tertua, yang dikeluarkan pada masa Sultan Muhammad Malik al-Zahir (1297–1326). Keberadaan dirham emas sejalan dengan gambaran para pengunjung tentang Samudera sebagai bandar yang makmur dan terhubung dengan pedagang Arab, India dan Cina. Di Minye Tujoh, Matang Kuli, Aceh Utara, terdapat nisan bertarikh 14 Zulhijah 781 H yang ditulis dalam bentuk syair berbahasa Melayu kuno bercampur Sanskerta dan Arab, dan menyebut seorang raja yang menguasai Kedah dan Pasai. Banyak batu bersurat lain di kawasan Pasai belum dibaca, sehingga epigrafi dan numismatik tetap menjadi sumber primer yang dapat menguji dan melengkapi kesaksian para pengunjung asing.

Catatan para pengunjung tidak luput dari perbedaan dan penggunaan ulang. Tulisan-tulisan Aceh modern, misalnya, menyebut lama persinggahan Marco Polo di Pasai kadang lima bulan, kadang enam bulan, dan salah satu uraian menyebut rombongannya berjumlah sekitar dua ribu orang. Keterangan Marco Polo tentang banyaknya orang India yang menetap dan kawin dengan penduduk setempat kemudian dipakai untuk menjelaskan asal-usul sukee Ja Sandang dan sifat kosmopolitan masyarakat Aceh. Pemakaian semacam ini memperlihatkan bahwa sumber asing tidak hanya menjadi bahan rekonstruksi sejarah, tetapi juga bahan pembentukan identitas. Karena itu, pembaca perlu membedakan antara apa yang benar-benar dikatakan teks asli, bagaimana teks itu diterjemahkan, dan bagaimana ia dikutip kembali dalam wacana lokal.

Hubungan dengan Cina berlanjut sesudahnya. Pada 1383 Samudera kembali mengirim utusan ke Cina dan sejak itu menerima perlindungan Cina. Pelayaran Zheng He (Cheng Ho) antara 1405 dan 1433 mempererat kerja sama itu, dan menurut catatan Cina beberapa pemberontakan dan kerusuhan dalam negeri Samudera dapat diatasi berkat bantuannya. Rangkaian catatan ini memperlihatkan Pasai sebagai bandar dagang sekaligus pusat dakwah yang terhubung ke Cina, India dan dunia Arab. Pada saat yang sama, keterangan para pengunjung tidak selalu cocok satu sama lain, misalnya tentang nama dan urutan sultan, sehingga sumber asing perlu dibaca bersama epigrafi makam Pasai.

Sumber-sumber asing juga merekam masa kemunduran Pasai. Uraian tentang hubungan Pasai dan Melaka mencatat bahwa ketika Melaka bangkit pada abad ke-15, sebagian pedagang Arab dan India berpindah dari Pasai ke Melaka, sementara Pasai, yang tidak memiliki armada kuat, bergantung pada Melaka dan sebaliknya memasok bahan makanan. Sumber Portugis yang dihimpun P.A. Tiele mencatat bahwa pada 1512 seorang raja Pasai yang terusir mendatangi Portugis di Melaka untuk meminta bantuan merebut kembali takhtanya dari seorang perebut kuasa asal Aru; setelah ditolak, ia menemui bekas sultan Melaka, Sultan Mahmud, yang menikahkannya dengan putrinya dan membantunya kembali ke Pasai. Beberapa tahun kemudian, Pasai disatukan ke dalam Kesultanan Aceh Darussalam. Dengan demikian, catatan asing membentang dari kelahiran hingga peralihan Pasai, dan memungkinkan sejarahnya ditulis sebagai satu lintasan panjang.

Bagi studi Aceh, nilai utama catatan asing tentang Pasai terletak pada fungsi saling uji antara sumber luar dan sumber dalam. Hikayat Raja-raja Pasai menyediakan kerangka asal-usul dan legitimasi, catatan Cina menyediakan penanggalan diplomatik, para pengembara memberikan gambaran kota dan istana, sedangkan nisan dan koin memberikan bukti fisik. Setiap jenis sumber memiliki bias: catatan Cina membingkai hubungan dalam bahasa upeti dan perlindungan, pengembara Muslim cenderung menonjolkan kesalehan penguasa, dan pengembara Eropa membawa kategori geografis mereka sendiri. Pertanyaan yang tetap terbuka adalah bagaimana menyusun daftar sultan Pasai yang konsisten dari semua sumber ini, dan bagaimana temuan arkeologis baru di pesisir utara Aceh dapat memperjelas lokasi dan bentuk kota Samudera yang dilukiskan Ibnu Battutah. Upaya semacam itu juga menuntut kerja sama lintas disiplin antara filolog, arkeolog, epigraf dan sejarawan ekonomi, karena tidak satu pun jenis sumber cukup untuk menjawab pertanyaan tentang awal Islam dan negara pelabuhan di pesisir utara Sumatra.

The main local source on Samudera Pasai is the Hikayat Raja-raja Pasai, which opens with the claim that, of all the lands below the winds, Pasai was the first to bring faith in God and His Messenger. The hikayat begins with two royal brothers, Raja Ahmad and Raja Muhammad, who wished to found a settlement at Samarlanga (Samalanga), and then tells of Meurah Silu, the first king to embrace Islam, who took the name Malik al-Salih. In the story, Meurah Silu's hunting dog, called si Pasai, barked at an ant as large as a cat; a palace was built on the spot and the country was named Samudera, understood in the tale as 'great ant'.

The name Samudera later became the name of the whole island. Arab, Persian and European visitors rendered it in forms close to the original, such as Samoterra, Samotra, Symatra, Zamatra, Sumatora and Samatra, down to the Sumatera used today; N.J. Krom discussed the origin of the name in his article 'De Naam Sumatra' (1941). Odoric of Pordenone, who also visited the country, called it Symoltra.

Chinese records supply firmer dates. A Chinese envoy from Ma'bar called at Samutula (Samudera) in 1282, and in the same year Malik al-Salih sent envoys to Quilon on the west coast of India who met Chinese ambassadors there. Envoys from Fujian came to Lan-wu-li (Lamuri, in present-day Aceh Besar) and Samudera in 1284, and the travel account of Wang Dayuan of 1346 describes the society of Samudera in detail. Marco Polo called at Samudera in 1292 on his way back from China and, according to his account, stayed there with his party for about six months. On the basis of these sources Hoesein Djajadiningrat placed the foundation of the kingdom around 1270–1275, and T. Ibrahim Alfian in Kronika Pasai recorded the death of Malik al-Salih in 696 AH (1297) and of his son, Sultan Muhammad Malik al-Zahir, in 726 AH (1326), whose tomb lies at Beuringen in the Samudera district of North Aceh.

Ibn Battuta visited Samudera in 1345 and stayed about fifteen days during the reign of a sultan titled al-Malik al-Zahir. In his Rihla he praised the sultan's piety, humility and religious zeal, noted that the sultan repeatedly fought the unbelievers and enlarged his territory, and described the magnificent wedding of the sultan's son. The city of Samudera, he wrote, was large and handsome, surrounded by wooden walls and towers.

Ibn Battuta's testimony also reveals the harbour administration of Pasai. When his ship anchored, he was welcomed by the deputy of the harbour master, called in the Arabic text naib sahib al-bahr, who gave him permission to go ashore before he was escorted to the city. For the institutional history of Aceh this detail is valuable, because it shows that an office supervising sea and harbour already existed in the fourteenth century, long before the tariffs and offices of the Balai Furdah of the Aceh Darussalam Sultanate were recorded in the Mābaina al-Salāṭīn. Some researchers see it as one forerunner of functions later associated with the panglima laot. The record also reminds us that foreign sources witness not only kings and courts but also the everyday procedures of a port state.

Foreign sources can also be combined with material evidence. T. Ibrahim Alfian describes the gold coins found at Pasai as the first gold currency of the region and the oldest dirham, issued under Sultan Muhammad Malik al-Zahir (1297–1326). The existence of gold dirhams fits the visitors' picture of Samudera as a prosperous port connected with Arab, Indian and Chinese traders. At Minye Tujoh, Matang Kuli, North Aceh, there is a tombstone dated 14 Dhu al-Hijja 781 AH, written as verse in Old Malay mixed with Sanskrit and Arabic, which mentions a ruler holding sway over Kedah and Pasai. Many other inscribed stones in the Pasai area have not yet been read, so epigraphy and numismatics remain primary sources that can test and supplement the testimony of foreign visitors.

Visitors' accounts are not free of discrepancy and reuse. Modern Acehnese writings, for example, give the length of Marco Polo's stay at Pasai sometimes as five months and sometimes as six, and one account puts his retinue at about two thousand people. Marco Polo's remark about the many Indians who settled and married local people was later used to explain the origin of the Sukee Ja Sandang and the cosmopolitan character of Acehnese society. Such use shows that foreign sources serve not only as material for historical reconstruction but also as material for identity-making. Readers therefore need to distinguish between what the original text actually says, how it has been translated, and how it is quoted again in local discourse.

Relations with China continued afterwards. In 1383 Samudera again sent envoys to China and thereafter accepted Chinese protection. The voyages of Zheng He (Cheng Ho) between 1405 and 1433 strengthened this cooperation, and according to Chinese records several rebellions and internal disturbances in Samudera were put down with his help. Together these records show Pasai as both a trading port and a centre of Islamic preaching connected to China, India and the Arab world. At the same time the visitors' accounts do not always agree with one another, for example on the names and sequence of sultans, so foreign sources need to be read alongside the epigraphy of the Pasai tombs.

Foreign sources also record Pasai's decline. Accounts of the relationship between Pasai and Melaka note that when Melaka rose in the fifteenth century, some Arab and Indian traders moved from Pasai to Melaka, while Pasai, lacking a strong fleet, depended on Melaka and in turn supplied it with foodstuffs. Portuguese sources compiled by P.A. Tiele record that in 1512 a deposed ruler of Pasai went to the Portuguese at Melaka to seek help in recovering his throne from a usurper from Aru; when refused, he turned to the former sultan of Melaka, Sultan Mahmud, who married him to his daughter and helped him return to Pasai. A few years later Pasai was absorbed into the Aceh Darussalam Sultanate. Foreign records thus stretch from Pasai's birth to its transition, allowing its history to be written as a single long trajectory.

For Aceh studies, the chief value of foreign records on Pasai lies in the mutual testing of outside and inside sources. The Hikayat Raja-raja Pasai supplies a framework of origins and legitimacy, Chinese records supply diplomatic dating, travellers give pictures of city and court, while tombstones and coins give physical evidence. Each type of source has its bias: Chinese records frame relations in the language of tribute and protection, Muslim travellers tend to stress the piety of rulers, and European travellers bring their own geographical categories. Open questions remain as to how a consistent list of Pasai's sultans can be drawn from all these sources, and how new archaeological finds on Aceh's north coast might clarify the location and form of the city of Samudera that Ibn Battuta described. Such work also requires cooperation across disciplines between philologists, archaeologists, epigraphers and economic historians, since no single type of source suffices to answer questions about early Islam and the port state on Sumatra's north coast.

Gagasan kunciKey ideas

Silang sumberCross-checking sources

Catatan Cina, Marco Polo dan Ibnu Battutah menguji dan melengkapi kronologi Hikayat Raja-raja Pasai.Chinese records, Marco Polo and Ibn Battuta test and supplement the chronology of the Hikayat Raja-raja Pasai.

Dari Samudera ke SumatraFrom Samudera to Sumatra

Nama kerajaan pelabuhan di pesisir utara Aceh menjadi nama seluruh pulau.The name of a port kingdom on Aceh's north coast became the name of the whole island.

Negara pelabuhanA port state

Naib sahib al-bahr yang menyambut Ibnu Battutah menunjukkan tata kelola pelabuhan sejak abad ke-14.The naib sahib al-bahr who welcomed Ibn Battuta shows harbour administration from the fourteenth century.

Teks dan bendaTexts and objects

Dirham emas dan nisan Minye Tujoh menguji keterangan para pengunjung asing.Gold dirhams and the Minye Tujoh tombstone test the statements of foreign visitors.

Jaringan CinaThe Chinese connection

Utusan 1282, 1284 dan 1383 serta pelayaran Zheng He menempatkan Pasai dalam tatanan diplomatik Cina.Embassies of 1282, 1284 and 1383 and the voyages of Zheng He placed Pasai within the Chinese diplomatic order.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana perbedaan nama dan urutan sultan dalam catatan Ibnu Battutah, sumber Cina dan Hikayat Raja-raja Pasai dapat didamaikan dengan bukti nisan di Samudera?How can the discrepancies in the names and sequence of sultans between Ibn Battuta, the Chinese sources and the Hikayat Raja-raja Pasai be reconciled with the tombstone evidence at Samudera?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Samudera Pasai dalam catatan asing: dari utusan Cina hingga Ibnu Battutah”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/samudera-pasai-dalam-catatan-asing/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →