Hasan Basri
Lahir 1963; aktif sejak 1990Born 1963; active since 1990
Hasan Basri adalah dosen Pendidikan Agama Islam di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan serta Pascasarjana UIN Ar-Raniry, lulusan Islamic Studies Universiteit Leiden, yang meneliti pendidikan Islam, pesantren, tradisi kitab Melayu, dan pemikiran A. Hasjmy. Pada 2004 ia termasuk Tim Penulis Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh.
Hasan Basri is a lecturer in Islamic Religious Education at the Faculty of Tarbiyah and Teacher Training and the Graduate School of UIN Ar-Raniry, trained in Islamic Studies at Leiden University, whose research covers Islamic education, pesantren, the Malay kitab tradition and the thought of A. Hasjmy. In 2004 he was a member of the writing team of the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh.
Hasan Basri lahir di Pante Geulima, Meureudu, pada 2 Mei 1963. Biografi dalam Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (2004) mencatat bahwa ia menempuh MIN dan MTsN di Meureudu, kemudian MAN di Banda Aceh. Setelah itu ia sempat belajar di sebuah akademi di Surakarta sebelum menyelesaikan program sarjana di IAIN Ar-Raniry pada 1990. Pada 1991 ia mengikuti Program Studi Purna Ulama (SPU), program pembinaan kader ulama yang diselenggarakan di lingkungan IAIN Ar-Raniry. Ia kemudian melanjutkan ke Rijksuniversiteit Leiden, Belanda, dan meraih gelar MA dalam Islamic Studies pada 1997. Pada 2004, menurut buku itu, ia sedang menempuh program doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Pada 2004 Hasan Basri tercatat sebagai dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry. Buku ensiklopedi juga menyebut keterlibatannya dalam penyuntingan dan penerjemahan buku. Kini ia bergelar Dr. H., MA dan mengajar Pendidikan Agama Islam di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) serta di Pascasarjana UIN Ar-Raniry. Pengalaman studi di Leiden, pusat kajian keislaman Indonesia di Eropa, memberinya akses pada tradisi orientalisme Belanda dan arsip-arsip tentang Aceh.
Karya utamanya adalah Konfigurasi Sosial-Intelektual dan Horizon Politik A. Hasjmy (Ar-Raniry Press, 2022), buku setebal 370 halaman yang disunting Muliadi Kurdi dan dikembangkan dari disertasinya. Buku ini menelaah Ali Hasjmy, sastrawan, gubernur, dan rektor IAIN Ar-Raniry, dalam konfigurasi sosial dan intelektual yang membentuknya serta cakrawala politik yang ia perjuangkan. Selain itu, Hasan Basri menulis "Conceptualizing Islamic Based Education in Aceh" dalam jurnal Didaktika (2015), "Eksistensi Pesantren: Antara Kultivasi Tradisi dan Transformasi Edukasi" dalam Mudarrisuna (2017), dan "Potret Islam Aceh: Diskursus Keulamaan dan Tradisi Penulisan Kitab Melayu" dalam jurnal Kalam (2017).
Sumbangannya bagi studi Aceh berpusat pada dua poros. Poros pertama adalah sejarah intelektual: kajiannya tentang A. Hasjmy memperlihatkan bagaimana seorang tokoh dapat menjembatani dunia sastra, birokrasi, pendidikan tinggi, dan ulama, sementara tulisannya tentang tradisi penulisan kitab Melayu mengaitkan ulama Aceh dengan khazanah tulis berbahasa Jawi. Poros kedua adalah pendidikan Islam: ia membahas bagaimana pesantren dan dayah dapat memelihara tradisi sekaligus berubah, serta bagaimana pendidikan berbasis Islam dirumuskan dalam konteks Aceh yang menerapkan syariat.
Kajian Hasan Basri tentang A. Hasjmy memiliki arti tersendiri bagi IAIN Ar-Raniry, karena Hasjmy merupakan salah satu tokoh pendiri kehidupan akademik di Darussalam dan namanya diabadikan pada auditorium kampus. Dengan demikian, buku itu juga dapat dibaca sebagai bagian dari upaya institusi untuk menulis sejarah intelektualnya sendiri.
Dalam Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (Ar-Raniry Press, 2004), Hasan Basri termasuk anggota Tim Penulis IAIN Ar-Raniry dari Fakultas Tarbiyah. Bagian "Sekilas Tentang Penulis" mencatat riwayat pendidikannya dari Meureudu hingga Leiden, studi doktoralnya yang sedang berjalan di Jakarta, dan kerjanya sebagai penyunting dan penerjemah. Bersama rekan Fakultas Tarbiyah seperti M. Hasbi Amiruddin dan Muhammad AR, ia mewakili kajian pendidikan Islam dalam tim tersebut. Artikelnya tentang tradisi kitab Melayu terbit di Kalam, jurnal yang dikelola LSAMA, lembaga yang dipimpin M. Hasbi Amiruddin.
Hasan Basri was born in Pante Geulima, Meureudu, on 2 May 1963. The biography in the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (2004) records that he attended MIN and MTsN in Meureudu and then MAN in Banda Aceh. He afterwards studied briefly at an academy in Surakarta before completing his undergraduate degree at IAIN Ar-Raniry in 1990. In 1991 he took part in the Programme for Advanced Ulama Studies (SPU), a cadre programme for ulama run within IAIN Ar-Raniry. He then went on to Leiden University in the Netherlands and obtained an MA in Islamic Studies in 1997. In 2004, according to the book, he was pursuing a doctorate at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
In 2004 Hasan Basri was listed as a lecturer of the Faculty of Tarbiyah at IAIN Ar-Raniry. The encyclopaedia also mentions his work in editing and translating books. He now holds the title Dr. H., MA and teaches Islamic Religious Education at the Faculty of Tarbiyah and Teacher Training (FTK) and at the Graduate School of UIN Ar-Raniry. His study at Leiden, the European centre of Indonesian Islamic studies, gave him access to the Dutch orientalist tradition and to archives on Aceh.
His principal work is Konfigurasi Sosial-Intelektual dan Horizon Politik A. Hasjmy (Ar-Raniry Press, 2022), a 370-page book edited by Muliadi Kurdi and developed from his dissertation. The book examines Ali Hasjmy, writer, governor and rector of IAIN Ar-Raniry, within the social and intellectual configuration that formed him and the political horizon he pursued. Hasan Basri has also written "Conceptualizing Islamic Based Education in Aceh" in the journal Didaktika (2015), "Eksistensi Pesantren: Antara Kultivasi Tradisi dan Transformasi Edukasi" in Mudarrisuna (2017), and "Potret Islam Aceh: Diskursus Keulamaan dan Tradisi Penulisan Kitab Melayu" in the journal Kalam (2017).
His contribution to Aceh studies turns on two axes. The first is intellectual history: his study of A. Hasjmy shows how one figure could bridge the worlds of literature, bureaucracy, higher education and the ulama, while his article on the Malay kitab tradition connects Acehnese ulama with the written heritage in Jawi script. The second is Islamic education: he discusses how pesantren and dayah can preserve tradition while changing, and how Islam-based education is formulated in an Aceh that implements sharia.
Hasan Basri's study of A. Hasjmy has particular significance for IAIN Ar-Raniry, since Hasjmy was one of the founding figures of academic life at Darussalam and his name is borne by the campus auditorium. The book can therefore also be read as part of the institution's effort to write its own intellectual history.
In the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (Ar-Raniry Press, 2004), Hasan Basri was a member of the IAIN Ar-Raniry Writing Team from the Faculty of Tarbiyah. The "Sekilas Tentang Penulis" section records his education from Meureudu to Leiden, his doctoral studies then under way in Jakarta, and his work as an editor and translator. With Faculty of Tarbiyah colleagues such as M. Hasbi Amiruddin and Muhammad AR, he represented the study of Islamic education on the team. His article on the Malay kitab tradition appeared in Kalam, a journal managed by LSAMA, the institute directed by M. Hasbi Amiruddin.
Gagasan kunciKey ideas
Biografi intelektual A. HasjmyIntellectual biography of A. Hasjmy
Ia menelaah konfigurasi sosial-intelektual dan horizon politik Ali Hasjmy.He examines the social-intellectual configuration and political horizon of Ali Hasjmy.
Pesantren antara tradisi dan perubahanPesantren between tradition and change
Ia membahas bagaimana pesantren memelihara tradisi sambil mentransformasi pendidikan.He discusses how pesantren preserve tradition while transforming education.
Tradisi kitab MelayuThe Malay kitab tradition
Ia mengaitkan diskursus keulamaan Aceh dengan tradisi penulisan kitab berbahasa Melayu.He connects Acehnese ulama discourse with the tradition of writing kitab in Malay.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana tokoh seperti A. Hasjmy menghubungkan sastra, birokrasi, pendidikan tinggi, dan dunia ulama di Aceh?How did a figure such as A. Hasjmy connect literature, bureaucracy, higher education and the world of the ulama in Aceh?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Hasan Basri”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/hasan-basri/