Struktur pemerintahan Kesultanan AcehThe governing structure of the Aceh Sultanate
Abad ke-17 hingga Perang Aceh (1873–1942)17th century to the Aceh War (1873–1942)
Kesultanan Aceh tersusun berlapis dari kawom, gampong, mukim, wilayah uleebalang, hingga federasi sagi dan wilayah langsung sultan. Di pelabuhan, syahbandar memungut cukai dan membawahi pejabat seperti Panglima La’ôt dan haria peukan. Setelah 1641, dewan empat pejabat tinggi menjalankan pemerintahan, termasuk qadhi malikul adil dan panglima bandar. Sultan dan uleebalang hilang dari tata kekuasaan sejak Perang Aceh dan revolusi sosial, dan hanya mukim yang tetap dipakai dalam pemerintahan kontemporer.
The Aceh Sultanate was layered from the kawom (clan) through the gampong (village), mukim, uleebalang domains and sagi federations up to the sultan's own territory. In the ports the syahbandar collected duties and oversaw officials such as the Panglima Laot and the market-dues collector (haria peukan). After 1641 a council of four high officials ran the government, including the chief judge (qadhi malikul adil) and the panglima bandar. The sultan and the uleebalang vanished from the structure of power after the Aceh War and the social revolution, and only the mukim survives in contemporary administration.
Mukti Ali merangkum susunan ini sebagai berikut: unit sosial terkecil adalah kawom, dari bahasa Arab qaum; gabungan kawom membentuk gampong; gampong membentuk mukim; mukim membentuk wilayah uleebalang; wilayah uleebalang berfederasi menjadi sagi; dan konfederasi tiga sagi bersama wilayah sultan membentuk kesultanan. Setiap kawom memiliki Panglima Kawom yang membela kepentingannya, terutama dalam perkara darah. Pada masa Sultanah Nur al-Alam Naqiyyat al-Din, mukim dibagi ke dalam tiga federasi yang masing-masing dipimpin Panglima Sagoe.
Di pesisir, kesultanan yang bertumpu pada perdagangan lada dan pinang mengembangkan birokrasi pelabuhan. Van Vollenhoven mencatat syahbandar sebagai pemungut cukai di pelabuhan, kepala krueng di muara, pawang krueng yang mengelola penyeberangan, haria pemungut retribusi pasar, panglima la’ôt untuk ekspor dan impor, serta panglima prang yang memungut pajak pada masa damai. Menurut Lee Kam Hing, secara teori sultan menerima seluruh pajak melalui syahbandar, tetapi karena tidak memiliki administrasi yang rumit dan bergantung pada orang kaya dan uleebalang, sebagian pungutan diserahkan kepada uleebalang.
Amirul Hadi menunjukkan bahwa setelah wafatnya Iskandar Muda (1636), kekuasaan istana menyusut dan muncul dewan empat pejabat: qadhi malikul adil untuk hukum dan peradilan, orang kaya maharaja seri maharaja untuk administrasi politik, panglima dalam untuk keamanan ibu kota dan militer, serta panglima bandar untuk perdagangan luar negeri dan keamanan pedagang asing. Kini keturunan uleebalang masih dikenali dari gelar teuku dan cut, tetapi tanpa kewenangan. Istilah Panglima Sagoe dipakai kembali oleh GAM untuk struktur militernya, dengan para pemimpinnya lebih memilih gelar teungku. Mukim pun kini dipilih melalui camat dan berfungsi sebagai staf pemerintah di bawah payung lembaga adat.
Sultan digambarkan sebagai bayangan Allah di bumi yang memerintah dengan Undang-Undang Aceh dan Adat Meukuta Alam. Menurut Pierre-Yves Manguin, desa dan kota pelabuhan di hampir semua muara sungai ke Samudra Hindia dan Selat Melaka membayar upeti kepada raja di bandar Aceh, pelabuhan terbesar di Sumatra; Denys Lombard menggambarkan rakyat yang bersorban, berbaju lengan lebar, berpedang dan berkeris, serta berjalan tanpa alas kaki dari raja hingga pengemis.
Mukti Ali summarises the structure as follows: the smallest social unit was the kawom, from the Arabic qaum; groups of kawom formed the gampong; gampong formed the mukim; mukim formed uleebalang domains; these federated into sagi; and the confederation of three sagi together with the sultan's own territory formed the sultanate. Each kawom had a Panglima Kawom who defended its interests, especially in matters of blood. Under Sultanah Nur al-Alam Naqiyyat al-Din, the mukim were divided into three federations, each led by a Panglima Sagoe.
On the coast, a sultanate built on the pepper and areca trade developed a port bureaucracy. Van Vollenhoven lists the syahbandar collecting tolls in the ports, the kepala krueng at river mouths, the pawang krueng running ferries, the haria collecting market dues, the panglima la’ôt for exports and imports, and panglima prang collecting taxes in peacetime. According to Lee Kam Hing, the sultan in theory received all taxes through his syahbandar, but lacking an elaborate administration and depending on the orang kaya and uleebalang, he farmed out some collections to the uleebalang.
Amirul Hadi shows that after Iskandar Muda's death (1636) royal power shrank and a council of four officials emerged: the qadhi malikul adil for law and justice, the orang kaya maharaja seri maharaja for political administration, the panglima dalam for the security of the capital and the military, and the panglima bandar for foreign trade and the security of foreign merchants. Descendants of uleebalang can still be recognised by the titles teuku and cut, but without authority. The term Panglima Sagoe was revived by GAM for its military structure, whose leaders preferred the title teungku. The mukim, too, is now chosen through the subdistrict head and functions as government staff under the umbrella of customary institutions.
The sultan was pictured as God’s shadow on earth, ruling through the Undang-Undang Aceh and the Adat Meukuta Alam. According to Pierre-Yves Manguin, villages and port towns at nearly every river mouth on the Indian Ocean and the Strait of Malacca paid tribute to the king at the port of Aceh, Sumatra’s largest; Denys Lombard describes commoners in turbans and wide-sleeved jackets, carrying swords and kris, and going barefoot from king to beggar.
Gagasan kunciKey ideas
Negara berlapisA layered state
Kekuasaan tersusun dari unit kekerabatan hingga konfederasi, mencerminkan perpaduan genealogis dan teritorial.Power was layered from kin units to confederation, blending genealogical and territorial principles.
Birokrasi pelabuhanA port bureaucracy
Syahbandar dan pejabat bawahannya menjadi tulang punggung pendapatan dan pengawasan kesultanan pesisir.The syahbandar and subordinate officials formed the backbone of revenue and surveillance in a coastal sultanate.
Gelar yang berpindah maknaTitles that changed meaning
Istilah lama seperti Panglima Sagoe dan teungku memperoleh makna baru dalam gerakan politik modern.Old terms such as Panglima Sagoe and teungku acquired new meanings in modern political movements.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Lembaga mana dari struktur lama yang paling layak dihidupkan kembali, dan atas dasar apa?Which institutions of the old structure most deserve revival, and on what grounds?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Struktur pemerintahan Kesultanan Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/struktur-pemerintahan-kesultanan/