Hikayat AcehThe Hikayat Aceh
Hikayat Aceh adalah teks sejarah Melayu dari lingkungan istana Aceh abad ke-17 yang memuliakan Sultan Iskandar Muda. Dibandingkan Bustān al-Salāṭīn, ia lebih berakar pada budaya dan genealogi lokal, dan menjadi sumber penting tentang asal-usul dinasti, pergulatan elite, serta konsep kerajaan Aceh.
The Hikayat Aceh is a seventeenth-century Malay historical text from the Acehnese court that glorifies Sultan Iskandar Muda. Compared with the Bustān al-Salāṭīn it is more rooted in local culture and genealogy, and is an important source on dynastic origins, elite struggles and the Acehnese concept of kingship.
Teks ini dikenal luas melalui edisi Teuku Iskandar yang terbit di Leiden pada 1958. Hikayat Aceh menelusuri asal-usul Sultan ‘Ali Mughayat Syah kepada keluarga kerajaan Aceh dan Lamuri yang bersatu pada awal abad ke-15, berbeda dengan Bustān yang menyebutnya sebagai penguasa pertama yang masuk Islam. Perbedaan ini memperlihatkan dua cara menulis asal-usul: melalui silsilah lokal atau melalui peristiwa keislaman.
Hikayat Aceh juga menjelaskan peristiwa yang dalam Bustān hanya dicela. Tentang Raja Seri Alam, hikayat ini menyebutnya dermawan dan banyak beribadah, lalu menguraikan perseteruan antara penerima hadiah istana dan para pembesar yang menentang pemborosan. Dengan demikian hikayat ini membantu sejarawan membaca konteks politik di balik penilaian moral teks lain.
Seperti Bustān, Hikayat Aceh memuliakan rajanya, tetapi dengan bahasa yang lebih dekat pada tradisi Melayu. Takashi Shiraishi menyoroti gagasan ‘darah putih’ dalam hikayat ini sebagai ungkapan konsep kerajaan Aceh, yang ia sejajarkan dengan Gunongan dan taman istana. Para pengkaji lain mencatat bahwa hikayat ini memuat nama-nama tempat di sekitar istana yang bernuansa sufi.
Bagi studi Aceh, Hikayat Aceh adalah bahan penting untuk membandingkan dua gaya historiografi istana pada abad yang sama: satu bertumpu pada budaya dan silsilah lokal, yang lain pada kerangka Islam. Keduanya sama-sama alat legitimasi dan perlu dibaca berdampingan.
The text is widely known through Teuku Iskandar’s edition published at Leiden in 1958. The Hikayat Aceh traces Sultan ‘Ali Mughayat Syah’s ancestry to the royal families of Aceh and Lamuri, united in the early fifteenth century, unlike the Bustān, which names him the first ruler to embrace Islam. The difference shows two ways of writing origins: through local genealogy or through an Islamic event.
The Hikayat Aceh also explains events that the Bustān merely condemns. Of Raja Seri Alam it says that he was generous and much given to prayer, and it sets out the feud between recipients of palace largesse and the great men who opposed such extravagance. The hikayat thus helps historians read the political context behind the moral judgments of other texts.
Like the Bustān, the Hikayat Aceh glorifies its king, but in a language closer to Malay tradition. Takashi Shiraishi highlighted the idea of ‘white blood’ in this hikayat as an expression of the Acehnese concept of kingship, which he paralleled with the Gunongan and the palace garden. Other scholars note that the hikayat records Sufi-tinged place names around the palace.
For Aceh studies, the Hikayat Aceh is key material for comparing two styles of court historiography in the same century: one grounded in local culture and genealogy, the other in an Islamic frame. Both are instruments of legitimation and should be read side by side.
Gagasan kunciKey ideas
Silsilah lokalLocal genealogy
Asal-usul raja ditelusuri ke Aceh dan Lamuri.Royal origins are traced to Aceh and Lamuri.
Konteks di balik celaanContext behind condemnation
Hikayat menjelaskan pergulatan elite.The hikayat explains elite struggles.
Darah putihWhite blood
Simbol konsep kerajaan Aceh.A symbol of the Acehnese concept of kingship.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apa yang hilang bila sejarah Aceh hanya ditulis dari teks yang berbingkai Islam, atau hanya dari teks yang berbingkai adat?What is lost if Acehnese history is written only from Islam-framed texts, or only from adat-framed ones?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Hikayat Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/hikayat-aceh/