Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Pantang melaut pada hari JumatThe Friday ban on going to sea

Aturan Adat La’ôt yang masih berlakuA living rule of the Adat Laot

Larangan melaut pada hari Jumat adalah aturan Adat La’ôt yang paling dikenal nelayan Aceh. Pelanggarnya dapat dikenai sanksi oleh Panglima La’ôt berupa kewajiban menyembelih seekor kambing. Penafsirannya beragam, dari larangan sejak Kamis malam hingga Jumat sore sampai larangan antara pukul 10 pagi dan 5 sore. Praktiknya lebih berupa larangan pergi ke laut daripada larangan seluruh aktivitas.

The ban on going to sea on Fridays is the best-known rule of the Adat Laot among Acehnese fishers. Violators can be penalised by the Panglima Laot with the obligation to slaughter a goat. Interpretations vary, from a ban running from Thursday night to Friday afternoon to one limited to 10 a.m. to 5 p.m. In practice it functions as a ban on putting to sea rather than on all activity.

Menurut seorang informan, hari Jumat seharusnya bebas dari aktivitas apa pun di atas boat maupun di tempat pembuatan boat, karena nelayan sebagai Muslim harus bersiap ke masjid. Namun di lapangan masih banyak nelayan yang membersihkan boat. Pelanggar yang nekat melaut dapat dihukum menyembelih kambing, yang oleh sebagian nelayan juga disebut sebagai bentuk kenduri.

Pengamatan di kuala Lhok Kreng, Banda Aceh, menunjukkan beberapa nelayan tetap berada di atas maupun di sekitar boat. Seorang nelayan senior menjelaskan bahwa mereka tidak boleh menangkap ikan atau mengeluarkan boat antara pukul 10 pagi dan 5 sore; setelah itu hasil tangkapan dibongkar dan dijual melalui toke bangku. Di Aceh Utara, larangan dimaknai sejak Kamis malam hingga Jumat sore. Panglima La’ôt mengawasi mereka yang nekat melaut, tetapi tidak menghentikan aktivitas di atas kapal atau di dekat TPI. Tidak semua nelayan pergi ke masjid; sebagian tampak tidur di dalam boat.

Aturan ini juga ditegakkan oleh aparat. Warga Ujong Bak Seuke menuturkan pernah dihentikan angkatan laut karena membawa kerabat yang sakit dari Krueng Raya pada hari Jumat, sebelum alasannya diterima. Hampir semua nelayan menegaskan bahwa hari libur warisan indatu hanyalah Jumat, dua hari raya, dan hari Khanduri La’ôt. Keragaman tafsir ini memperlihatkan bahwa nelayan dan Panglima La’ôt memperlakukan Adat La’ôt lebih sebagai warisan budaya daripada sebagai peraturan, dan menimbulkan pertanyaan tentang kesadaran beragama generasi muda nelayan.

According to one informant, Friday should be free of any activity on the boats or in boatbuilding yards, because fishers, as Muslims, must prepare to go to the mosque. In practice many fishers still clean their boats. Those who dare to put to sea can be ordered to slaughter a goat, a penalty some fishers also describe as a kind of kenduri.

Observation at the river mouth in Lhok Kreng, Banda Aceh, showed some fishers remaining on and around their boats. A senior fisher explained that they may not fish or take boats out between 10 a.m. and 5 p.m.; after that the catch is unloaded and sold through the toke bangku. In North Aceh the ban was understood to run from Thursday night to Friday afternoon. The Panglima Laot watches for anyone who goes to sea but does not stop activity aboard vessels or near the fish auction. Not every fisher goes to the mosque; some were seen sleeping in their boats.

The rule is also enforced by state personnel. Villagers from Ujong Bak Seuke recounted being stopped by the navy on a Friday while bringing a sick relative home from Krueng Raya, before their explanation was accepted. Almost all fishers insisted that the only rest days inherited from their ancestors are Fridays, the two Eids and the Khanduri Laot. This diversity of interpretation shows that fishers and the Panglima Laot treat the Adat Laot more as heritage than as regulation, and raises questions about religious consciousness among younger fishers.

Gagasan kunciKey ideas

Larangan melaut, bukan larangan bekerjaA ban on sailing, not on working

Praktiknya, aturan ini membatasi keberangkatan ke laut, sementara pekerjaan di darat tetap berjalan.In practice the rule restricts sailing, while onshore work continues.

MultitafsirMultiple interpretations

Rentang waktu larangan berbeda antardaerah, menandakan ketiadaan kodifikasi yang seragam.The time span of the ban differs by region, indicating the absence of uniform codification.

Sanksi adatCustomary sanction

Kewajiban menyembelih kambing menunjukkan bahwa adat masih memiliki mekanisme hukuman sendiri.The obligation to slaughter a goat shows that adat still retains its own punitive mechanism.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa artinya bila aturan bernapas agama ditaati sebagai kebiasaan, tetapi makna ibadahnya memudar?What does it mean when a religiously inspired rule is obeyed as habit while its devotional meaning fades?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Pantang melaut pada hari Jumat”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/hari-jumat-pantang-melaut/