Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Beutong Ateuh Banggalang: ingatan konflik, tambang emas dan sekolah darurat pascabanjir 2025Beutong Ateuh Banggalang: memory of conflict, gold mining and emergency schools after the 2025 floods

1999–2026

Beutong Ateuh Banggalang adalah kecamatan pegunungan di hulu Nagan Raya yang berbatasan dengan Aceh Tengah dan Gayo Lues. Wilayah ini dikenang karena pembunuhan Teungku Bantaqiyah dan para santrinya pada 1999, menjadi medan penolakan warga terhadap tambang emas, dan pada November 2025 kehilangan dua dari empat desanya akibat banjir bandang, sehingga anak-anak belajar di sekolah darurat swadaya hingga pertengahan 2026.

Beutong Ateuh Banggalang is a mountain subdistrict in upper Nagan Raya bordering Central Aceh and Gayo Lues. It is remembered for the killing of Teungku Bantaqiyah and his students in 1999, became a site of residents' resistance to gold mining, and in November 2025 lost two of its four villages to flash floods, leaving children to study in a self-built emergency school into mid-2026.

Beutong Ateuh Banggalang adalah salah satu kecamatan paling terpencil di Kabupaten Nagan Raya. Letaknya di hulu, di dataran tinggi yang menghubungkan pesisir barat Aceh dengan wilayah Gayo di Aceh Tengah dan Gayo Lues. Sebelum bencana akhir 2025, kecamatan ini terdiri atas empat desa: Kuta Teungoh, Babah Suak, Blang Puuk dan Blang Meurandeh. Wilayahnya dikelilingi hutan yang menjadi bagian dari bentang Kawasan Ekosistem Leuser dan hulu sungai-sungai besar yang mengalir ke Nagan Raya dan Aceh Barat. Letak di hulu ini menjadikan Beutong penting secara ekologis, tetapi juga rentan terhadap banjir bandang, longsor dan tekanan ekstraksi.

Dalam ingatan kolektif Aceh, nama Beutong Ateuh terikat pada salah satu tragedi paling kelam masa konflik. Pada Juli 1999 aparat keamanan menyerbu pesantren Teungku Bantaqiyah, ulama setempat yang dicurigai berhubungan dengan gerakan bersenjata, dan menewaskan Teungku Bantaqiyah beserta puluhan santri dan warga. Peristiwa ini menjadi salah satu kasus pelanggaran hak asasi manusia yang paling banyak dibicarakan pada akhir masa Daerah Operasi Militer dan awal era reformasi. Ingatan itu masih hidup, dan muncul kembali ketika para penulis muda mengunjungi Beutong pada 2026, menandakan bahwa trauma konflik dan kerentanan bencana bertumpuk di satu tempat.

Lapisan kedua dalam sejarah Beutong adalah sengketa tambang emas. Wilayah hulu Beutong dan sekitarnya pernah masuk dalam izin usaha pertambangan emas berskala besar. Warga, ulama dan organisasi lingkungan menolak rencana itu karena khawatir terhadap kerusakan hutan, sungai dan sumber air yang menghidupi kampung-kampung di hilir. Penolakan dilakukan melalui aksi massa, gugatan hukum dan forum warga, termasuk sidang rakyat yang didokumentasikan Yayasan HAkA, di mana warga Beutong menyatakan sepakat menolak tambang. Sengketa ini menjadi contoh bagaimana kampung terpencil di hulu dapat menjadi pusat perdebatan nasional tentang tambang dan hutan. Pada 2026 warga kembali menyatakan kekhawatiran bahwa aktivitas pertambangan akan muncul lagi setelah bencana.

Lapisan ketiga adalah bencana. Pada akhir November 2025, ketika Siklon Senyar memicu banjir bandang dan longsor di berbagai wilayah Sumatera bagian utara, dua dari empat desa di Beutong Ateuh Banggalang, Kuta Teungoh dan Babah Suak, hilang diterjang air bah. Hanya Blang Puuk dan Blang Meurandeh yang tersisa. Kehilangan dua desa sekaligus berarti hilangnya rumah, lahan, sekolah dan ruang sosial tempat warga menjalani hidup sehari-hari.

Liputan Khalida Zia, peneliti sosial dan pendiri SVARA, yang diterbitkan Perempuan Peduli Leuser pada 5 Juli 2026, merekam keadaan tujuh bulan setelah bencana. Tim SVARA memulai Ekspedisi Kita Biasa-Biasa pada 25 Juni 2026 untuk mengunjungi wilayah terdampak bencana dan bekas titik konflik di Aceh, berangkat dari Banda Aceh, bermalam di Aceh Barat lalu tiba di Beutong. Mereka mendapati bahwa sekolah darurat dibangun secara swadaya di lahan kosong milik geuchik Desa Kuta Teungoh. Bangunannya terdiri atas tiga ruang kelas dengan lantai semen kasar, tiang kayu dan atap papan, sementara buku-buku ditutup terpal.

Sekitar sembilan puluh lima murid sekolah dasar dan seratus lima pelajar sekolah menengah pertama belajar di bangunan itu secara bergantian. SDN 1 dan SDN 2 Beutong Ateuh Banggalang memakainya pada pagi hari, pukul delapan hingga dua belas, sedangkan SMPN 1 Beutong Ateuh Banggalang memakainya pada siang hingga sore, pukul dua hingga lima. Lokasinya di pegunungan dengan jalur yang sepi dan keberadaan babi hutan membuat banyak anak tidak dapat hadir. Guru-guru dipindahkan dari sekolah asal, dan suara antarkelas yang saling mengganggu membuat konsentrasi sulit. Samsuardi, seorang guru honorer, menyatakan bahwa yang terpenting saat ini adalah memulihkan semangat dan kondisi mental anak-anak, bukan mengejar target pelajaran.

Pemerintah Kabupaten Nagan Raya disebut telah mengetahui keadaan ini dan beberapa kali berkunjung, tetapi hingga liputan ditulis belum ada kepastian tentang pembangunan sekolah permanen. Warga berharap pemulihan yang terukur dan serius, termasuk kejelasan dukungan pendidikan jangka panjang bagi anak-anak mereka. Liputan itu juga mencatat persoalan akses jalan yang rusak. Kebutuhan akan jalan baru memicu ketegangan ketika sebuah jalan dibangun tanpa izin dan tanpa jual beli dengan pemilik lahan, lalu ditutup warga. Persoalan seperti ini memperlihatkan bahwa rekonstruksi pascabencana dapat memunculkan konflik sosial baru bila tidak dikelola dengan adil.

Beutong Ateuh Banggalang memperlihatkan bagaimana konflik, ekstraksi dan bencana saling berkelindan di wilayah hulu Aceh. Komunitas yang pernah menjadi korban kekerasan negara kemudian harus mempertahankan hutannya dari tambang, lalu kehilangan desanya karena banjir yang diperparah kerusakan daerah tangkapan air. Dalam setiap lapisan, anak-anak dan perempuan menanggung dampak yang besar, dari kehilangan orang tua pada 1999 sampai belajar di bawah atap papan pada 2026.

Bagi Acehnologi, Beutong adalah medan uji tentang hubungan antara pusat dan pinggiran. Keputusan tentang izin tambang, anggaran rekonstruksi dan pembangunan sekolah dibuat jauh dari kampung, sementara akibatnya dirasakan langsung oleh warga. Kasus ini juga menegaskan bahwa damai struktural sejak 2005 belum otomatis menghadirkan pemulihan kultural dan sosial di wilayah-wilayah yang paling terluka. Ingatan tentang Teungku Bantaqiyah, perjuangan menolak tambang dan sekolah darurat pascabanjir merupakan tiga bab dari satu kisah tentang ketahanan sebuah komunitas di hulu.

Posisi Beutong di jalur antara pesisir barat dan dataran tinggi Gayo juga memiliki makna historis. Jalur pegunungan ini sejak lama menjadi lintasan perdagangan hasil hutan dan kebun, serta jalur pergerakan pada masa perang kolonial dan konflik bersenjata. Rencana pembukaan jalan tembus antara Nagan Raya dan Aceh Tengah menambah arti strategis wilayah ini, tetapi juga membuka akses bagi pembalakan dan ekstraksi. Dengan demikian, setiap keputusan tentang jalan di Beutong sekaligus merupakan keputusan tentang masa depan hutan di hulu.

Kehadiran SVARA dan penulis muda perempuan di Beutong juga menandai cara baru merekam wilayah pinggiran. Ekspedisi yang sengaja menggabungkan kunjungan ke titik bencana dan bekas titik konflik memperlihatkan kesadaran bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan dalam pengalaman warga. Pendekatan ini sejalan dengan kebutuhan studi Aceh untuk membaca bencana bukan sebagai peristiwa alam yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari sejarah sosial dan politik yang panjang.

Kisah Beutong karena itu layak dibaca berdampingan dengan kisah wilayah hulu lain di Aceh yang mengalami beban serupa, seperti hulu Tamiang, Jambo Aye dan dataran tinggi Gayo, agar pola kerentanan di wilayah hulu dapat dipahami secara menyeluruh dan dijawab dengan kebijakan yang tepat.

Penelitian lanjutan dapat menelusuri bagaimana warga Beutong merawat ingatan tentang tragedi 1999, bagaimana gerakan penolakan tambang diorganisasi dan dipimpin, serta bagaimana pemulihan pascabencana memengaruhi hubungan warga dengan pemerintah daerah. Data semacam itu penting agar kebijakan pemulihan di wilayah hulu tidak mengulang pola pengabaian yang selama ini dirasakan warga.

Beutong Ateuh Banggalang is one of the most remote subdistricts of Nagan Raya. It lies upstream, on the highlands that link Aceh's west coast with the Gayo lands of Central Aceh and Gayo Lues. Before the disaster of late 2025 it consisted of four villages: Kuta Teungoh, Babah Suak, Blang Puuk and Blang Meurandeh. It is surrounded by forest within the wider Leuser landscape and by the headwaters of major rivers flowing to Nagan Raya and West Aceh. This upstream position makes Beutong ecologically important but also vulnerable to flash floods, landslides and extractive pressure.

In Aceh's collective memory the name Beutong Ateuh is bound to one of the darkest tragedies of the conflict. In July 1999 security forces raided the religious school of Teungku Bantaqiyah, a local cleric suspected of links to the armed movement, killing Teungku Bantaqiyah together with dozens of students and villagers. The incident became one of the most discussed human-rights cases at the end of the Military Operations Area period and the start of the reform era. The memory is still alive and resurfaced when young writers visited Beutong in 2026, showing how conflict trauma and disaster vulnerability pile up in one place.

A second layer of Beutong's history is the dispute over gold mining. The upper Beutong area was once covered by a large-scale gold mining permit. Residents, ulama and environmental organisations opposed it, fearing damage to the forests, rivers and water sources that sustain downstream villages. Opposition took the form of mass protest, legal challenge and community forums, including a people's assembly documented by the HAkA Foundation at which Beutong residents declared their rejection of the mine. The dispute shows how a remote upland village can become the centre of a national debate on mining and forests. In 2026 residents again voiced fears that mining would return after the disaster.

The third layer is disaster. At the end of November 2025, as Cyclone Senyar triggered flash floods and landslides across northern Sumatra, two of Beutong Ateuh Banggalang's four villages, Kuta Teungoh and Babah Suak, were swept away. Only Blang Puuk and Blang Meurandeh remained. Losing two villages at once meant losing homes, land, schools and the social spaces of daily life.

A report by Khalida Zia, social researcher and founder of SVARA, published by Perempuan Peduli Leuser on 5 July 2026, records conditions seven months after the disaster. The SVARA team began its “Kita Biasa-Biasa” expedition on 25 June 2026 to visit disaster-hit areas and former conflict sites in Aceh, setting out from Banda Aceh, overnighting in West Aceh and reaching Beutong. They found an emergency school built by residents themselves on vacant land belonging to the head of Kuta Teungoh village. It has three classrooms with rough cement floors, wooden posts and plank roofing, with books covered by tarpaulins.

About ninety-five primary pupils and one hundred and five junior secondary students use the building in shifts. SDN 1 and SDN 2 Beutong Ateuh Banggalang use it in the morning, from eight to twelve, and SMPN 1 Beutong Ateuh Banggalang in the afternoon, from two to five. Its mountain location, lonely paths and wild boar keep many children away. Teachers were reassigned from their original schools, and noise between classrooms makes concentration hard. Samsuardi, a contract teacher, said the priority now is restoring the children's spirit and mental state rather than chasing curriculum targets.

The Nagan Raya district government was said to be aware of the situation and to have visited several times, but at the time of writing there was no certainty about a permanent school. Residents hope for measured, serious recovery, including clear long-term support for their children's education. The report also notes damaged roads. The need for a new road caused tension when one was built without permission or purchase from the landowner and was then blocked by residents. Such problems show that post-disaster reconstruction can create new social conflict if it is not handled fairly.

Beutong Ateuh Banggalang shows how conflict, extraction and disaster intertwine in Aceh's uplands. A community that suffered state violence later had to defend its forest against mining, then lost villages to floods worsened by damaged catchments. At every layer children and women bear heavy consequences, from losing parents in 1999 to studying under plank roofs in 2026.

For Acehnologi, Beutong is a test case of centre-periphery relations. Decisions on mining permits, reconstruction budgets and school building are made far from the village while their effects are felt directly by residents. The case also confirms that the structural peace of 2005 has not automatically brought cultural and social recovery to the most wounded areas. The memory of Teungku Bantaqiyah, the struggle against mining and the post-flood emergency school are three chapters of one story about an upland community's resilience.

Beutong's position on the route between the west coast and the Gayo highlands also carries historical meaning. This mountain route has long carried trade in forest and garden produce and served as a corridor of movement during the colonial war and the armed conflict. Plans for a through road between Nagan Raya and Central Aceh add to the area's strategic value but also open access for logging and extraction. Every decision about roads in Beutong is therefore also a decision about the future of the upstream forest.

The presence of SVARA and young women writers in Beutong also marks a new way of documenting the periphery. An expedition that deliberately combined visits to disaster sites and former conflict sites reflects an awareness that the two cannot be separated in residents' experience. The approach matches the need in Aceh studies to read disasters not as isolated natural events but as part of a long social and political history.

Beutong's story should therefore be read alongside other upland areas of Aceh carrying similar burdens, such as the upper Tamiang, Jambo Aye and the Gayo highlands, so that patterns of upland vulnerability can be understood as a whole and answered with appropriate policy.

Further research could trace how Beutong residents keep the memory of 1999, how the anti-mining movement was organised and led, and how post-disaster recovery is shaping residents' relations with local government. Such data matter if recovery policy in the uplands is not to repeat the neglect residents have long felt.

Gagasan kunciKey ideas

Tiga lapisan lukaThree layers of injury

Konflik 1999, sengketa tambang dan banjir 2025 bertumpuk di satu kecamatan.The 1999 conflict, the mining dispute and the 2025 floods pile up in one subdistrict.

Sekolah swadayaA self-built school

Warga membangun sekolah darurat sendiri ketika negara lambat hadir.Residents built their own emergency school while the state was slow to arrive.

Hulu dan hilirUpstream and downstream

Kerusakan hutan hulu menentukan keselamatan kampung di hilir.Upstream forest damage determines the safety of downstream villages.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana ingatan konflik 1999 dan pengalaman menolak tambang membentuk cara warga Beutong menuntut pemulihan pascabencana?How do the memory of the 1999 conflict and the experience of opposing mining shape the way Beutong residents demand post-disaster recovery?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Beutong Ateuh Banggalang: ingatan konflik, tambang emas dan sekolah darurat pascabanjir 2025”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/beutong-ateuh-banggalang/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →