Organisasi ulama dayah: dari Perti ke HUDAOrganisations of dayah ulama: from Perti to HUDA
Sejak masa kemerdekaan, ulama Aceh tidak lagi duduk dalam tubuh pemerintahan seperti pada masa kesultanan, melainkan berhimpun dalam organisasi mandiri. Ulama modernis bergabung dalam PUSA yang bersifat lokal, sedangkan ulama dayah lebih banyak bernaung di Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) yang bersifat nasional. Pada masa kini, ulama dayah tradisional berhimpun dalam Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), yang di bawah kepemimpinan Tu Sop menjadi payung program dakwah dan pelatihan pemuda.
Since independence, Acehnese ulama no longer sat within the body of government as in the sultanate, but organised themselves in independent associations. Modernist scholars joined the locally based PUSA, while dayah scholars largely belonged to the national Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti). Today traditional dayah ulama gather in the Association of Dayah Ulama of Aceh (HUDA), which under Tu Sop’s leadership serves as the umbrella for preaching and youth-training programmes.
Pada masa Kesultanan Aceh Darussalam, ulama merupakan bagian pemerintahan dengan kedudukan yang sejajar. Meskipun lembaga keulamaan dibentuk dalam lingkup kekuasaan sultan, para qadhi dan mufti tetap memiliki independensi, dan fatwa mereka ikut menentukan arah kebijakan. Arskal Salim dan Adlin Sila menyebut peran sebagai mufti sultan sebagai titik puncak keterlibatan politik ulama. Kehancuran istana dan perpecahan uleebalang akibat invasi Belanda justru memindahkan pusat kehidupan intelektual Islam ke dayah, dan ulama menjadi perumus ideologi perlawanan.
Negara modern mengubah pola ini. Ulama tidak lagi menjadi bagian formal dari batang tubuh pemerintahan, tetapi terlembagakan dalam organisasi-organisasi mandiri yang mencerminkan pembelahan pemikiran. Ulama modernis berhimpun dalam Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA), yang berorientasi pada pembaruan madrasah dan kemudian memegang peran politik penting pada masa revolusi. Ulama dayah tradisional lebih banyak bergabung dengan Perti, organisasi nasional bermazhab Syafi‘i yang berakar di Sumatra Barat. Meski terdapat konflik ideologis antara kubu modernis dan kubu dayah, keduanya tetap berfungsi sebagai penentu cara pandang masyarakat terhadap kekuasaan.
HUDA merupakan wadah ulama dayah tradisional pada era pascareformasi. Di bawah kepemimpinan Tu Sop, organisasi ini tidak hanya menjadi forum musyawarah ulama, tetapi juga penggerak program. Forum HUDA di Banda Aceh pada 2021 menuntut islamisasi pendidikan melalui ilmu fardhu ‘ain, dan Training Kader Dakwah ditempatkan di bawah payung HUDA. Di sekitarnya juga bergerak jaringan dakwah dayah lain seperti Tastafi dan Sirul Mubtadin. Pergeseran ini menunjukkan bahwa organisasi ulama dayah berupaya melampaui peran simbolik dan masuk ke ranah perencanaan sosial.
HUDA didirikan pada 14 September 1999, dua bulan setelah pembantaian Teungku Bantaqiah, untuk menopang Rabithah Thaliban Aceh dalam mendukung referendum; pemerintahan Habibie memandangnya sebagai ancaman. Pascadamai, HUDA menolak mendukung Partai Aceh sehingga kalangan PA membentuk MUNA.
Under the Aceh Darussalam sultanate, ulama were part of government on an equal footing. Although religious offices were created within the sultan’s domain, qadhi and mufti retained independence, and their fatwas helped set policy. Arskal Salim and Adlin Sila regard the role of the sultan’s mufti as the high point of ulama political involvement. The destruction of the court and the fragmentation of the uleebalang under the Dutch invasion shifted the centre of Islamic intellectual life to the dayah, and the ulama became formulators of the ideology of resistance.
The modern state changed this pattern. Ulama were no longer formal members of the body of government but were institutionalised in independent organisations reflecting intellectual divisions. Modernist scholars gathered in the All-Aceh Ulama Association (PUSA), oriented toward madrasah reform and later politically central during the revolution. Traditional dayah scholars largely joined Perti, a national Shafi‘i organisation rooted in West Sumatra. Despite ideological conflict between the modernist and dayah camps, both continued to shape how society viewed power.
HUDA is the vehicle of traditional dayah ulama in the post-reform era. Under Tu Sop it has become not only a forum for deliberation but a driver of programmes. A HUDA forum in Banda Aceh in 2021 called for the Islamisation of education through fardhu ‘ain, and the Training Kader Dakwah was placed under HUDA’s umbrella. Other dayah preaching networks such as Tastafi and Sirul Mubtadin operate around it. The shift shows dayah ulama organisations seeking to move beyond symbolic roles into social planning.
HUDA was founded on 14 September 1999, two months after the Bantaqiah massacre, to support the Rabithah Thaliban Aceh in backing the referendum; the Habibie government saw it as a threat. After the peace HUDA declined to back Partai Aceh, prompting PA circles to form MUNA.
Gagasan kunciKey ideas
Dari istana ke organisasiFrom court to association
Hilangnya kesultanan mengubah ulama dari pejabat menjadi pemimpin organisasi masyarakat.The end of the sultanate turned ulama from officials into leaders of civic organisations.
Pembelahan modernis–dayahModernist–dayah divide
PUSA dan Perti mencerminkan dua arus yang terus membentuk peta keagamaan Aceh.PUSA and Perti reflect two currents that continue to shape Aceh’s religious map.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apakah organisasi ulama dayah lebih efektif ketika menjadi mitra pemerintah atau ketika menjaga jarak sebagai suara kritis?Are dayah ulama organisations more effective as partners of government or as critical voices at a distance?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Organisasi ulama dayah: dari Perti ke HUDA”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/organisasi-ulama-dayah-perti-ke-huda/