Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Samudera Pasai

Abad ke-13–14; Sultan Malik al-Salih memerintah 1261–1295 menurut tradisi13th–14th centuries; Sultan Malik al-Salih reigned 1261–1295 per tradition

Samudera Pasai, di kawasan Lhokseumawe sekarang, adalah kesultanan Islam yang menjadi poros awal islamisasi Selat Melaka. Pendirinya, Meurah Silu, memeluk Islam melalui Syeikh Ismail dari Mekkah dan bergelar Sultan Malik al-Salih. Pasai menyatukan Peureulak dan Tamiang, bertahan dari serangan Majapahit, serta mengirim ulama ke Jawa. Melalui perkawinan politik, Pasai juga berperan dalam islamisasi Melaka.

Samudera Pasai, around present-day Lhokseumawe, was the Islamic sultanate that served as an early hub of Islamisation in the Strait of Malacca. Its founder, Meurah Silu, embraced Islam through Shaykh Ismail of Mecca and took the name Sultan Malik al-Salih. Pasai absorbed Peureulak and Tamiang, withstood a Majapahit attack and sent scholars to Java. Through dynastic marriage it also played a part in the Islamisation of Melaka.

Sulālat al-Salāṭīn menyimpan kisah tentang sabda Nabi mengenai sebuah negeri ‘di bawah angin’ bernama Samudera yang kelak melahirkan banyak wali, sehingga Syarif Mekkah mengirim kapal dengan nakhoda Syeikh Ismail untuk mengislamkannya. Kisah ini menempatkan Pasai sebagai pintu masuk Islam ke Alam Melayu dan mengaitkannya langsung dengan otoritas Haramayn. Meurah Silu, murid Syeikh Ismail, kemudian dikenal sebagai Sultan Malik al-Salih.

Tradisi lokal juga menyimpan nama-nama tokoh awal yang makamnya menjadi tempat ziarah, seperti panglima perang Maulana Naina bin Naina al-Malabary (Kubur Teungku Cot Mamplam), perdana menteri Abdur Rahman al-Pasy (Kubur Teungku di Iboh), dan pemikir Syeikh Ja’kub Blang Ray (Kubur Teungku Jrat Raya), masing-masing wafat pada awal abad ke-13. Nama al-Malabary menunjukkan jejaring India Selatan dalam elit awal kerajaan ini. Pada masa berikutnya, Peureulak dan kerajaan Beunua (Tamiang) disatukan dengan Pasai.

Pasai juga tampil sebagai kekuatan regional. Upaya Majapahit menundukkannya pada masa Sultan Zainal Abidin Malik az-Zahir (1350–1394) disebut gagal, dan Junus Djamil berpendapat bahwa sesudah wafatnya Hayam Wuruk, para mubalig dari Pasai berperan membuka jalan Islam di Jawa. Perkawinan putri Peureulak dengan raja Pasai, serta putri lain dengan Parameswara dari Melaka, menjadikan Pasai simpul penting dalam proses yang kemudian menjadikan identitas Melayu identik dengan Islam. Sebagian kronologi para sultan Pasai dalam sumber lokal masih tumpang-tindih dan memerlukan verifikasi lebih lanjut.

Serangan Majapahit terhadap Samudera Pasai kerap dijadikan simbol awal konflik Jawa–Aceh dan upaya memaksakan kosmologi Jawa atas Aceh.

The Sulalat al-Salatin preserves a story of a prophetic saying about a land ‘below the winds’ called Samudera that would produce many saints, prompting the Sharif of Mecca to send a ship under Shaykh Ismail to convert it. The story casts Pasai as the gateway of Islam into the Malay world and ties it directly to the authority of the Haramayn. Meurah Silu, Shaykh Ismail’s pupil, became known as Sultan Malik al-Salih.

Local tradition also names early notables whose graves became pilgrimage sites: the army commander Maulana Naina bin Naina al-Malabary (Kubur Teungku Cot Mamplam), the chief minister Abdur Rahman al-Pasy (Kubur Teungku di Iboh) and the thinker Shaykh Ja’kub Blang Ray (Kubur Teungku Jrat Raya), all said to have died in the early thirteenth century. The name al-Malabary points to South Indian networks within the kingdom’s early elite. In subsequent reigns Peureulak and the kingdom of Beunua (Tamiang) were united with Pasai.

Pasai also acted as a regional power. A Majapahit attempt to subdue it under Sultan Zainal Abidin Malik az-Zahir (1350–1394) is said to have failed, and Junus Djamil argues that after Hayam Wuruk’s death preachers from Pasai helped open Java to Islam. The marriage of a Peureulak princess to the ruler of Pasai, and of her sister to Parameswara of Melaka, made Pasai a key node in the process through which Malay identity became synonymous with Islam. Parts of the regnal chronology given in local sources overlap and still need verification.

Majapahit’s attack on Samudera Pasai is often taken as an early symbol of Java–Aceh conflict and of efforts to impose Javanese cosmology on Aceh.

Gagasan kunciKey ideas

Legitimasi dari MekkahLegitimacy from Mecca

Narasi pengislaman menautkan Pasai langsung dengan Syarif Mekkah.The conversion narrative ties Pasai directly to the Sharif of Mecca.

Pengekspor IslamExporter of Islam

Pasai disebut berperan dalam islamisasi Melaka dan Jawa.Pasai is credited with a role in the Islamisation of Melaka and Java.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Mengapa narasi pengislaman yang menautkan Pasai dengan Mekkah begitu penting bagi legitimasi kerajaan-kerajaan Melayu sesudahnya?Why was a conversion narrative linking Pasai to Mecca so important for the legitimacy of later Malay kingdoms?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Samudera Pasai”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/samudera-pasai/