Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Studi Aceh dalam kurikulum pendidikanAceh studies in the education curriculum

Dirumuskan sekitar 2014–2015Formulated around 2014–2015

Rancangan ini bertujuan menurunkan studi Aceh dari tataran wacana menjadi bangunan keilmuan yang dapat diajarkan, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Titik tolaknya adalah kenyataan bahwa nilai budaya ke-Aceh-an nyaris absen dalam pembelajaran, sementara bahasa Aceh makin jarang dipakai sebagai bahasa pengantar. Studi Aceh diposisikan sebagai payung bagi sejumlah sub-disiplin ilmu sosial dan humaniora. Gagasan ini juga membayangkan program studi khusus, walaupun pelaksanaannya bergantung pada kemauan politik pemerintah Aceh.

This proposal seeks to move Aceh studies from the level of discourse to a body of knowledge that can actually be taught, from kindergarten to university. Its starting point is the near-absence of Acehnese cultural values from schooling and the declining use of Acehnese as a language of instruction. Aceh studies is cast as an umbrella over a set of sub-disciplines in the social sciences and humanities. The proposal even envisages a dedicated degree programme, while acknowledging that implementation depends on the political will of the Aceh government.

Diagnosis awalnya bersifat pedagogis. Pendidikan karakter di taman kanak-kanak Aceh umumnya dipadukan dengan konsep keislaman, tetapi jarang sekali memuat nilai budaya Aceh. Anak-anak diajar bertutur dalam bahasa Indonesia, dan ruang privat maupun publik pun kian meninggalkan bahasa daerah. Padahal penanaman nilai sebuah komunitas berlangsung dari cara bertutur hingga cara bertingkah laku. Di perguruan tinggi, kajian tentang Aceh masih minim, meskipun kebijakan kurikulum membuka ruang muatan lokal. Pengalaman mengajar mata kuliah dasar seperti Ilmu Budaya Dasar dan Ilmu Sosial Dasar menunjukkan bahwa mahasiswa tidak antipati terhadap ke-Aceh-an; mereka hanya kehilangan akar dan rujukan untuk memahami identitas sendiri.

Jika kajian terdahulu menjawab pertanyaan ‘apa itu studi Aceh’, rancangan ini beralih ke pertanyaan ‘bagaimana’: bagaimana konsep-konsep tentang Aceh diterapkan dalam ilmu sosial dan humaniora. Tugasnya bukan menemukan hal baru, melainkan merakit dan mengikat cabang-cabang ilmu yang diturunkan dari studi Aceh. Pertanyaan tentang manfaatnya ditunda ke tahap berikutnya. Landasannya adalah pandangan Hans-Dieter Evers dan Solvay Gerke bahwa pengetahuan pribumi terikat pada bahasa, tradisi, dan nilai suatu komunitas; bila bahasa Aceh ditinggalkan, tradisi dan nilai yang dikandungnya ikut terancam.

Kerangka kurikulumnya terdiri atas delapan sub-disiplin: Sejarah Aceh, Kosmologi Aceh, Filsafat Aceh, Sosiologi Aceh, Antropologi Aceh, Sastra Aceh, Studi Religi Aceh, dan Politik Aceh, ditutup dengan refleksi tentang masa depan bidang ini. Sebuah versi kerangka yang lebih ringkas juga mencantumkan Arkeologi Aceh. Tahap lanjutannya adalah pengarusutamaan dan internalisasi dalam kehidupan peserta didik, sehingga studi Aceh dapat menjadi strategi ilmu sekaligus strategi kebudayaan untuk menghadapi gelombang Westernisasi dan Jawanisasi. Hampir semua bab dalam rancangan ini masih berupa kerangka, kecuali beberapa bagian yang telah diuraikan cukup panjang.

Dari pengamatan tersebut muncul pertanyaan tentang kemungkinan membuka program studi khusus tentang Aceh, gagasan yang hanya dapat terwujud bila didukung kemauan politik pemerintah.

Pembelajaran Sejarah Peradaban Aceh diusulkan berjenjang. Di taman kanak-kanak, anak dikenalkan pada tokoh dan situs sejarah melalui cerita bersambung; di sekolah menengah pertama, peserta didik mempelajari locus sejarah dari masa kerajaan hingga konflik dengan Republik Indonesia; di sekolah menengah atas, sistem pengetahuan Aceh diajarkan secara praktis untuk menjawab pertanyaan ‘mengapa orang Aceh berpikir seperti itu’; dan pada jenjang S1 hingga S3, konsep-konsep studi Aceh dikaji secara praktis maupun teoretis.

The initial diagnosis is pedagogical. Character education in Acehnese kindergartens is usually blended with Islamic concepts but rarely draws on Acehnese cultural values. Children are taught to speak Indonesian, and both private and public spaces increasingly abandon the regional language, even though a community transmits its values through ways of speaking as much as through conduct. At university level the study of Aceh remains thin, despite curriculum policy allowing room for local content. Experience teaching introductory courses in the humanities and social sciences suggests that students are not hostile to Acehneseness; they simply lack roots and reference points for understanding their own identity.

Where earlier work asked what Aceh studies is, this proposal turns to the question of how: how concepts drawn from Aceh can be applied within the social sciences and humanities. The aim is not to discover something new but to assemble and bind together the branches of knowledge derived from Aceh studies, leaving the question of its benefits for a later stage. The underlying premise, borrowed from Hans-Dieter Evers and Solvay Gerke, is that indigenous knowledge is tied to the language, traditions and values of a particular community; if Acehnese is abandoned, the traditions and values it carries are put at risk.

The curricular framework comprises eight sub-disciplines: Acehnese History, Cosmology, Philosophy, Sociology, Anthropology, Literature, Religious Studies and Politics, closing with a reflection on the future of the field. A shorter outline version also lists Acehnese Archaeology. The next stages envisaged are mainstreaming and internalisation in students' lives, so that Aceh studies becomes both a strategy of knowledge and a cultural strategy in the face of Westernisation and Javanisation. Most chapters of the proposal remain outlines, with only a few sections developed at length.

These observations raise the question of opening a dedicated study programme on Aceh, an idea that can only be realised with the government's political will.

Teaching the History of Acehnese Civilisation is proposed as a graded ladder. In kindergarten, children are introduced to historical figures and sites through serial stories; in junior secondary school, pupils study the locus of history from the kingdom to the conflict with the Republic of Indonesia; in senior secondary school, Acehnese systems of knowledge are taught in practice to answer the question ‘why do Acehnese think as they do’; and from undergraduate to doctoral level, the concepts of Aceh studies are examined both in practice and in theory.

Gagasan kunciKey ideas

Dari ‘apa’ ke ‘bagaimana’From ‘what’ to ‘how’

Fokus bergeser dari definisi bidang ke penerapannya dalam ilmu sosial dan humaniora serta dalam proses belajar-mengajar.The focus shifts from defining the field to applying it within the social sciences and humanities and in classroom practice.

Bahasa sebagai pintu pengetahuan lokalLanguage as the gateway to local knowledge

Hilangnya bahasa Aceh sebagai bahasa pengantar dipandang sebagai ancaman langsung terhadap kesinambungan tradisi dan nilai.The loss of Acehnese as a language of instruction is seen as a direct threat to the continuity of tradition and values.

Ilmu sebagai strategi kebudayaanKnowledge as cultural strategy

Studi Aceh dibayangkan sebagai respons sadar terhadap tekanan isme-isme dari luar, sebanding dengan proses Westernisasi dan Jawanisasi yang telah berlangsung.Aceh studies is imagined as a conscious response to the pressure of outside ‘isms’, comparable to the Westernisation and Javanisation already under way.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa yang hilang dari pendidikan seorang anak Aceh bila ia mengenal sejarah dan nilai daerah lain lebih baik daripada miliknya sendiri?What is lost from an Acehnese child's education when they know the history and values of other regions better than their own?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Studi Aceh dalam kurikulum pendidikan”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/kurikulum-studi-aceh/