Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Khianat dan durhaka: kesetiaan kepada raja sebagai kewajiban agamaKhianat and durhaka: loyalty to the ruler as a religious duty

Dalam tradisi politik Melayu, durhaka, dari kata Sanskerta droha-ka, berarti pembangkangan terhadap penguasa yang sah. Bustān al-Salāṭīn memakai istilah khianat yang berasal dari bahasa Arab untuk memberi sanksi agama pada pembangkangan itu: siapa pun yang berkhianat kepada raja akan menerima murka Allah.

In Malay political tradition, durhaka, from the Sanskrit droha-ka, means rebellion against lawful authority. The Bustān al-Salāṭīn uses the Arabic-derived term khianat to give that rebellion a religious sanction: whoever betrays the ruler will receive the wrath of God.

Konsep durhaka telah lama dipakai dalam teks Melayu untuk menandai perlawanan terhadap daulat. Dalam Sejarah Melayu, misalnya, Bendahara Seri Maharaja yang berusaha menurunkan Sultan Mahmud dari takhta Melaka dihukum mati karena dianggap durhaka. Istilah ini berakar pada kosakata Sanskerta dan berfungsi dalam kerangka kesetiaan adat.

Bustān mengisi gagasan itu dengan sanksi Islam. Ia mengisahkan percobaan peracunan terhadap Iskandar Thani oleh orang-orang yang ‘berbuat khianat’ dengan bantuan juru masak istana; sang sultan mengenali makanan yang berbeda dan menyatakan bahwa ia dilindungi Allah. Kisah lain menyebut orang Portugis yang membebaskan tawanan secara diam-diam dan saudagar Bengal bernama Haji Kamal yang merampas perahu penduduk; keduanya disebut menerima balasan. Teks menutupnya dengan seruan agar hamba Allah tidak berkhianat kepada raja.

Gagasan ini sejalan dengan pemikiran politik Sunni yang menolak fitnah atau kekacauan. Tāj al-Salāṭīn menguraikan bahwa rakyat menaati perkataan raja yang zalim di atas takhtanya demi menghindari fitnah, tetapi tidak wajib menaati perbuatannya yang salah. Dengan demikian kesetiaan diberi dasar agama, tetapi tetap disertai batas moral.

Burhanudin membaca pergeseran dari durhaka ke khianat sebagai tanda menguatnya ‘Islam yang berorientasi kerajaan’ di dunia Melayu abad ke-17: Islam memperkuat gagasan raja yang serba kuasa. Bagi studi politik Aceh, konsep ini menjelaskan bagaimana legitimasi agama dapat dipakai untuk menopang kekuasaan sekaligus untuk menilainya.

The concept of durhaka had long been used in Malay texts to mark resistance to sovereignty. In the Sejarah Melayu, for instance, Bendahara Seri Maharaja, who sought to unseat Sultan Mahmud of Melaka, was put to death for durhaka. The term is rooted in Sanskrit vocabulary and functioned within a frame of customary loyalty.

The Bustān fills this idea with an Islamic sanction. It tells of an attempt to poison Iskandar Thani by people who ‘committed khianat’ with the help of a palace cook; the sultan noticed the unusual food and declared himself protected by God. Other stories mention Portuguese who secretly freed prisoners and a Bengali merchant named Haji Kamal who seized local boats; both are said to have met retribution. The text closes with an appeal to the servants of God not to betray the ruler.

The idea accords with Sunni political thought, which rejects fitna or disorder. The Tāj al-Salāṭīn explains that subjects obey the words of an unjust ruler on his throne to avoid fitna, but are not bound to obey his wrongful deeds. Loyalty is thus given a religious basis while retaining moral limits.

Burhanudin reads the shift from durhaka to khianat as a sign of the strengthening of ‘kingdom-oriented Islam’ in the seventeenth-century Malay world: Islam reinforced the idea of the all-powerful ruler. For Acehnese political studies, the concept explains how religious legitimacy could be used both to uphold power and to judge it.

Gagasan kunciKey ideas

Dari adat ke syariatFrom custom to sharia

Kesetiaan adat diberi sanksi agama.Customary loyalty gained a religious sanction.

Menghindari fitnahAvoiding fitna

Ketaatan dibenarkan demi mencegah kekacauan.Obedience is justified to prevent disorder.

Batas ketaatanLimits of obedience

Perbuatan raja yang salah tidak wajib ditaati.A ruler’s wrongful deeds need not be obeyed.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Kapan kesetiaan kepada penguasa berubah dari kebajikan agama menjadi alat pembungkam?When does loyalty to the ruler turn from a religious virtue into a tool of silencing?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Khianat dan durhaka: kesetiaan kepada raja sebagai kewajiban agama”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/khianat-dan-durhaka/