Empat sukee: Lhee Reuthoh, Ja Sandang, Tok Bate dan Imuem PeutThe four sukee: Lhee Reuthoh, Ja Sandang, Tok Bate and Imuem Peut
Sukee adalah pengelompokan penduduk Kesultanan Aceh berdasarkan negeri asal, yang dalam tradisi lisan dikaitkan dengan Sultan Alaidin Riayat Syah al-Qahhar (1537–1565) dan terekam dalam hadih maja tentang empat sukee: Lhee Reuthoh, Ja Sandang, Tok Bate dan Imuem Peut. Para penafsir, dari H.M. Zainuddin hingga M. Adli Abdullah, memberikan isi yang berbeda bagi setiap sukee, tetapi sepakat bahwa skema ini menggambarkan masyarakat Aceh sebagai himpunan kelompok asal yang beragam di bawah panji Islam dan payung kerajaan.
The sukee were groupings of the population of the Aceh Sultanate by land of origin, attributed in oral tradition to Sultan Alaidin Riayat Syah al-Qahhar (1537–1565) and recorded in a hadih maja on the four sukee: Lhee Reuthoh, Ja Sandang, Tok Bate and Imuem Peut. Interpreters from H.M. Zainuddin to M. Adli Abdullah assign different contents to each sukee, but agree that the scheme depicts Acehnese society as a gathering of diverse groups of origin under the banner of Islam and the umbrella of the kingdom.
Dalam tradisi Aceh, sukee (dari kata suku) merujuk pada kelompok kekerabatan atau kelompok asal yang menjadi dasar pengorganisasian penduduk di bawah kesultanan. Tradisi lisan mengaitkan penataan ini dengan Sultan Alaidin Riayat Syah al-Qahhar (1537–1565), yang disebut berhasil menyatukan berbagai bangsa yang berdiam di Aceh di bawah panji Islam dan payung Kerajaan Aceh Darussalam. Ingatan tentang penataan itu terekam padat dalam sebuah hadih maja: "Sukee lhee reuthoh bak aneuk drang, sukee ja sandang jeura haleuba, sukee tok bate na bacut-bacut, sukee imuem peut nyang gok-gok donya."
Hadih maja ini dapat dibaca sebagai teks yang padat dengan citra pertanian dan kosmologi sosial. Setiap baris memasangkan satu sukee dengan satu perumpamaan: aneuk drang yang tumbuh kembali sesudah panen menandakan jumlah yang besar dan daya hidup yang tak putus; jeura haleuba, rempah yang dipasangkan dengan Ja Sandang dan yang maknanya tidak diuraikan lebih jauh dalam sumber, sering dibaca sebagai penanda kelompok percampuran; na bacut-bacut ("ada sedikit-sedikit") menandai minoritas; dan gok-gok donya ("menggoncangkan dunia") menandai pengaruh yang melampaui jumlah. Struktur empat baris dengan rima akhir memudahkan hafalan, dan karena itulah skema sosial ini bertahan dalam ingatan lisan jauh setelah lembaga yang melahirkannya tidak lagi berfungsi.
M. Adli Abdullah, dalam esai "Acehkah Saya?" (2008), menguraikan makna tiap baris. Sukee Lhee Reuthoh ("suku tiga ratus") diibaratkan aneuk drang, padi yang tumbuh kembali setelah panen, untuk menunjukkan bahwa kelompok ini paling banyak jumlahnya. Ke dalamnya dimasukkan kelompok-kelompok yang dianggap penduduk lama, seperti Batak Karee, Mante, Gayo, Alas dan Kluet; sebagian Batak Karee disebut pernah bermukim di Lampanah dan Lamteuba, Aceh Besar. Sukee Ja Sandang menghimpun keturunan pendatang dari India yang kawin dengan penduduk setempat.
Sukee Tok Bate, digambarkan na bacut-bacut ("ada sedikit-sedikit"), mencakup minoritas pendatang seperti Arab, Cina, Jawa, Bugis, Jamee dan orang Semenanjung Melayu, yang menurut uraian itu banyak menguasai perdagangan. Adapun Sukee Imuem Peut digambarkan sebagai kelompok bekas pemimpin atau bangsawan yang tersingkir dari negeri asalnya karena pertentangan politik, semacam pencari suaka politik, yang dihormati karena ilmunya dan dianjurkan kawin dengan penduduk asli agar melahirkan keturunan cerdas. Gambaran "menggoncangkan dunia" (gok-gok donya) merujuk pada pengaruh mereka.
Penafsiran lain memberikan isi yang berbeda. H.M. Zainuddin (1961) menyebut bahwa orang Batak Karee membentuk kaum Lhee Reuthoh, sementara orang asing seperti Arab, Persia, Turki, Keling, Melayu Semenanjung dan Bugis membentuk kaum Tok Batee, dan bahwa sultan berasal dari kaum Tok Batee. Menurutnya, percampuran orang Hindu dengan Batak Karee melahirkan kaum Ja Sandang, sedangkan Imeum Peuet adalah gelar bagi pimpinan kaum, semacam panglima kaum. Kajian tentang Tun Sri Lanang menyusun versi ketiga: Lhee Reuthoh sebagai penduduk asli yang oleh Marco Polo disebut orang Dagroian, yaitu Gayo; Ja Sandang sebagai penduduk asal India; Tok Batee sebagai pendatang dari seluruh Nusantara seperti Melayu, Bugis dan Jawa; dan Imuem Peut sebagai keturunan orang Timur Tengah yang datang membawa Islam ke Aceh.
Untuk memperkuat gambaran kehadiran orang India sejak masa awal, Adli Abdullah merujuk catatan Marco Polo, yang singgah di wilayah Samudra Pasai pada 1292 dan mencatat hadirnya banyak pedagang asing. Rujukan ini menempatkan skema empat sukee dalam sejarah panjang pelabuhan Selat Melaka sebagai ruang pertemuan berbagai bangsa, bukan sekadar klasifikasi administratif.
Catatan para pengunjung asing memperkuat gambaran bahwa pantai utara Sumatra sejak awal dihuni kelompok-kelompok yang beragam. Marco Polo mencatat negeri-negeri seperti Basma (Pasai), Ferlec (Perlak), Dagroian, Fansur (Barus) dan Lambri, dan menyebut Dagroian sebagai kerajaan merdeka dengan bahasanya sendiri, yang oleh Gerini dikaitkan dengan orang Gayo. Catatan Ma Huan dari pelayaran Zheng He pada abad ke-15 menyebut penduduk sebuah pulau di bawah kekuasaan Lambri, dua puluh hingga tiga puluh keluarga, yang masing-masing mengaku sebagai raja. Sumber-sumber ini tidak berbicara langsung tentang sukee, tetapi menunjukkan latar demografis yang memungkinkan lahirnya skema penggolongan berdasarkan asal.
Penafsiran tentang komposisi tiap sukee tidak seragam dalam literatur. Catatan kolonial, misalnya karya Snouck Hurgronje tentang orang Aceh, juga menyinggung kaum (kawom) Lhee Reuthoh, Ja Sandang, Tok Bate dan Imeum Peuet sebagai kelompok kekerabatan besar di Aceh Besar yang berperan dalam solidaritas dan penyelesaian sengketa darah, dengan rincian anggota yang berbeda dari tradisi lisan. Karena itu skema empat sukee lebih tepat dipahami sebagai idiom sosial yang lentur daripada daftar etnis yang baku.
Skema empat sukee juga bersanding dengan hadih maja lain yang merumuskan asal-usul Aceh dalam bahasa kekerabatan: "Aceh Meulayu Datu Sirungkoom, asai awai phon di nanggroe Dewa, aleuh nibaknyan Hindi dengan Rom, datang meu ron-ron u pulau Ruja." Ungkapan ini menggambarkan Aceh dan Melayu sebagai satu rumpun yang berasal dari selatan Cina, India dan Timur Tengah, lalu menempati gugusan kepulauan Nusantara. Dalam kajian tentang Tun Sri Lanang, rumusan ini dipakai untuk menjelaskan mengapa seorang bangsawan Melayu dari Johor dapat diterima sepenuhnya di Aceh, bahkan diangkat menjadi penguasa Samalanga. Kedua hadih maja itu saling melengkapi: yang satu menegaskan kesatuan rumpun, yang lain menata keragaman di dalamnya.
Konteks penulisan esai "Acehkah Saya?" sendiri memperlihatkan fungsi kontemporer skema ini. Esai itu ditulis pada Juni 2008 sebagai tanggapan atas ucapan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam peluncuran buku Hamid Awaludin tentang perundingan Helsinki, yang menggambarkan Aceh sebagai identik dengan perang. Dari situ M. Adli Abdullah berargumen bahwa Aceh dipersatukan oleh dua hal, musuh bersama dan Islam, bahwa kebencian orang Aceh terhadap penjajahan bukan kebencian etnis melainkan perlawanan terhadap penindasan, dan bahwa perbedaan di Aceh adalah keniscayaan sejarah. Ia juga mengaitkannya dengan tradisi bu leukat, nasi ketan yang dipakai untuk mendamaikan setiap konflik berdarah, sebagai kunci persaudaraan, dan mendukung penolakan terhadap pemekaran provinsi yang dinilainya akan mencabut orang Aceh dari identitas dirinya.
Secara analitis, hadih maja ini penting karena memperlihatkan bahwa identitas keacehan sejak awal dibangun di atas keragaman asal-usul yang diintegrasikan melalui Islam dan institusi kerajaan. Dalam wacana kontemporer, skema ini kerap dipakai untuk menolak pandangan esensialis tentang "orang Aceh asli" dan untuk menegaskan bahwa keacehan adalah identitas politik-kultural yang terbuka, sebuah argumen yang juga muncul dalam perdebatan tentang pemekaran provinsi dan tentang identitas pascakonflik.
Bagi kajian Aceh, skema empat sukee menimbulkan beberapa persoalan metodologis. Pertama, tidak ada sumber tertulis sezaman dari abad ke-16 yang merekam penataan oleh al-Qahhar, sehingga atribusi itu bersandar pada tradisi lisan. Kedua, perbedaan isi antara versi Zainuddin, versi M. Adli Abdullah dan versi lain menunjukkan bahwa setiap generasi mengisi kerangka yang sama dengan pemahaman etnologisnya sendiri. Ketiga, hubungan antara sukee sebagai kategori asal dan kawom sebagai satuan solidaritas di Aceh Besar belum dipetakan secara sistematis. Persoalan-persoalan ini menjadikan empat sukee bahan yang subur bagi kajian sejarah lisan, antropologi kekerabatan dan politik identitas sekaligus.
In Acehnese tradition, sukee (from suku, 'tribe' or 'clan') refers to kinship or origin groups that formed the basis for organising the population under the sultanate. Oral tradition attributes this arrangement to Sultan Alaidin Riayat Syah al-Qahhar (1537–1565), who is said to have united the various peoples living in Aceh under the banner of Islam and the umbrella of the Kingdom of Aceh Darussalam. The memory of that arrangement is condensed in a hadih maja: "Sukee lhee reuthoh bak aneuk drang, sukee ja sandang jeura haleuba, sukee tok bate na bacut-bacut, sukee imuem peut nyang gok-gok donya."
The hadih maja can be read as a text dense with agricultural imagery and social cosmology. Each line pairs one sukee with one simile: the aneuk drang that grows back after harvest signals great numbers and unbroken vitality; jeura haleuba, a spice paired with the Ja Sandang whose meaning the sources do not explain further, is often read as marking a group of mixed origin; na bacut-bacut ("a few here and there") marks a minority; and gok-gok donya ("shaking the world") marks influence beyond number. The four-line structure with end rhyme aids memorisation, which is why this social scheme survived in oral memory long after the institution that produced it had ceased to function.
M. Adli Abdullah, in the essay "Acehkah Saya?" (2008), explains the meaning of each line. Sukee Lhee Reuthoh ('the three hundred') is likened to aneuk drang, rice that sprouts again after harvest, to indicate that this was the most numerous group. It included groups regarded as older inhabitants, such as the Batak Karee, Mante, Gayo, Alas and Kluet; some Batak Karee are said to have lived at Lampanah and Lamteuba in Aceh Besar. Sukee Ja Sandang gathered the descendants of newcomers from India who married local people.
Sukee Tok Bate, described as na bacut-bacut ('a few here and there'), covered minority newcomers such as Arabs, Chinese, Javanese, Bugis, Jamee and people of the Malay Peninsula, who according to this account dominated much of the trade. Sukee Imuem Peut is described as a group of former leaders or nobles displaced from their homelands by political conflict, something like political asylum seekers, respected for their learning and encouraged to marry the native population so as to produce clever descendants. The phrase 'shaking the world' (gok-gok donya) refers to their influence.
Other interpretations give different contents. H.M. Zainuddin (1961) states that the Batak Karee formed the Lhee Reuthoh, while foreigners such as Arabs, Persians, Turks, Keling, Peninsular Malays and Bugis formed the Tok Batee, and that the sultan came from the Tok Batee. In his account the mixing of Hindus with the Batak Karee produced the Ja Sandang, while Imeum Peuet was the title of the group's leaders, a kind of commander of the kaum. A study of Tun Sri Lanang gives a third version: the Lhee Reuthoh as the native population, whom Marco Polo called the people of Dagroian, that is, the Gayo; the Ja Sandang as people of Indian origin; the Tok Batee as settlers from across the archipelago such as Malays, Bugis and Javanese; and the Imuem Peut as descendants of Middle Eastern people who brought Islam to Aceh.
To support the picture of an early Indian presence, Adli Abdullah cites Marco Polo, who stopped in the Samudra Pasai region in 1292 and recorded the presence of many foreign traders. The reference places the four-sukee scheme in the long history of the Straits of Melaka ports as meeting places of many peoples, rather than treating it as a mere administrative classification.
The accounts of foreign visitors support the picture of a north Sumatran coast inhabited from early on by diverse groups. Marco Polo recorded realms such as Basma (Pasai), Ferlec (Perlak), Dagroian, Fansur (Barus) and Lambri, and described Dagroian as an independent kingdom with its own language, which Gerini linked to the Gayo. Ma Huan's account of Zheng He's voyages in the fifteenth century describes the inhabitants of an island under Lambri, twenty to thirty families, each of whom claimed to be king. These sources do not speak of the sukee directly, but they show the demographic background that made a scheme of classification by origin possible.
Interpretations of the composition of each sukee are not uniform in the literature. Colonial accounts, for instance Snouck Hurgronje's work on the Acehnese, also mention the kaum (kawom) Lhee Reuthoh, Ja Sandang, Tok Bate and Imeum Peuet as large kinship groups in Aceh Besar that played a role in solidarity and the settlement of blood disputes, with a membership that differs in detail from the oral tradition. The four-sukee scheme is therefore better understood as a flexible social idiom than as a fixed list of ethnicities.
The four-sukee scheme also stands beside another hadih maja that frames Acehnese origins in the language of kinship: "Aceh Meulayu Datu Sirungkoom, asai awai phon di nanggroe Dewa, aleuh nibaknyan Hindi dengan Rom, datang meu ron-ron u pulau Ruja." The saying depicts Aceh and the Malays as a single stock originating from southern China, India and the Middle East and then settling the islands of the archipelago. In the study of Tun Sri Lanang this formula is used to explain why a Malay nobleman from Johor could be fully accepted in Aceh and even made ruler of Samalanga. The two sayings complement each other: one affirms the unity of the stock, the other orders the diversity within it.
The context of the essay "Acehkah Saya?" itself shows the contemporary function of the scheme. The essay was written in June 2008 in response to a remark by Vice-President Jusuf Kalla at the launch of Hamid Awaludin's book on the Helsinki negotiations, portraying Aceh as synonymous with war. From there M. Adli Abdullah argues that Aceh was united by two things, a common enemy and Islam, that Acehnese hatred of colonialism was not ethnic hatred but resistance to oppression, and that difference in Aceh is a historical necessity. He links this to the tradition of bu leukat, the glutinous rice used to reconcile every blood feud, as the key to brotherhood, and supports the rejection of splitting the province, which he sees as uprooting the Acehnese from their identity.
Analytically, the hadih maja matters because it shows that Acehnese identity was built from the outset on a diversity of origins integrated through Islam and the institutions of the kingdom. In contemporary discourse the scheme is often used to reject essentialist views of the 'original Acehnese' and to assert that Acehneseness is an open politico-cultural identity, an argument that also surfaces in debates on the division of the province and on post-conflict identity.
For Aceh studies the four-sukee scheme raises several methodological problems. First, no contemporary written source from the sixteenth century records an ordering by al-Qahhar, so the attribution rests on oral tradition. Second, the differences in content between Zainuddin's version, M. Adli Abdullah's and others show that each generation fills the same frame with its own ethnological understanding. Third, the relationship between the sukee as a category of origin and the kawom as a unit of solidarity in Aceh Besar has not been systematically mapped. These problems make the four sukee fertile material for oral history, the anthropology of kinship and identity politics at once.
Gagasan kunciKey ideas
Keragaman yang ditataOrdered diversity
Empat sukee menata penduduk menurut negeri asal di bawah Islam dan kerajaan.The four sukee ordered the population by land of origin under Islam and the kingdom.
Satu kerangka, banyak isiOne frame, many contents
Zainuddin, M. Adli Abdullah dan kajian lain mengisi setiap sukee dengan kelompok yang berbeda.Zainuddin, M. Adli Abdullah and other studies fill each sukee with different groups.
Hafalan sebagai arsipMemory as archive
Bentuk hadih maja berima membuat skema sosial bertahan dalam ingatan lisan.The rhymed form of the hadih maja kept the social scheme alive in oral memory.
Rumpun dan keragamanStock and diversity
Hadih maja 'Aceh Meulayu Datu Sirungkoom' menegaskan kesatuan rumpun di balik keragaman sukee.The saying 'Aceh Meulayu Datu Sirungkoom' affirms a common stock behind the diversity of the sukee.
Idiom identitas pascakonflikAn idiom of post-conflict identity
Skema ini dipakai untuk menolak esensialisme etnis dan pemekaran provinsi.The scheme is used to reject ethnic essentialism and the splitting of the province.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana skema empat sukee berubah maknanya dari pengorganisasian kesultanan menjadi idiom identitas dalam wacana Aceh modern?How did the meaning of the four-sukee scheme shift from sultanate organisation to an idiom of identity in modern Acehnese discourse?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Empat sukee: Lhee Reuthoh, Ja Sandang, Tok Bate dan Imuem Peut”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/sukee-lhee-reuthoh-ja-sandang-tok-bate-imuem-peut/