Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Cukai dan bea pelabuhan Bandar Aceh DarussalamCustoms duties and port dues of Bandar Aceh Darussalam

Dastur dalam Mābaina al-Salāṭīn memuat tarif pelabuhan Kesultanan Aceh dengan rincian yang jarang ditemukan dalam sumber Melayu: 'usyur atas modal dagang, lapik cap, hadiah langgar, ka'idah, tafahus, bawab, hak kalam, bea ekspor gajah dan kuda, serta daftar puluhan komoditas. Tarif ini dibedakan menurut asal kapal dan dapat dikurangi melalui anugerah "maaf" sultan atau petisi para saudagar.

The Dastur in the Mābaina al-Salāṭīn sets out the port tariffs of the Aceh Sultanate in detail rarely found in Malay sources: 'usyur on trading capital, lapik cap, hadiah langgar, ka'idah, tafahus, bawab, scribal fees, export duties on elephants and horses, and a list of dozens of commodities. Rates varied with a ship's origin and could be reduced by the sultan's grant of "remission" or by merchants' petitions.

Sistem fiskal Bandar Aceh Darussalam terdiri atas dua lapis: bea negara berupa 'usyur (sepersepuluh, dalam praktiknya sekitar lima sampai enam persen) dan sejumlah besar "adat", yakni pungutan yang langsung menjadi hak para pejabat. Satuan hitung yang dipakai adalah dirham emas: tahil, emas (mas), kupang dan paha, dengan satu tahil sama dengan enam belas emas menurut kebiasaan Aceh. Untuk barang dipakai satuan bahara, kodi, kayu, bendala, kati, gantang, are, kempit, kuyan dan gunca.

Kerangka hukum seluruh tarif ini adalah dastur yang menurut teks diturunkan Sultan Iskandar Muda pada hari Jumat, 14 Rabiul Awal 1045 H, pada waktu duha. Dastur itu menetapkan bahwa segala kapal niaga, baik kapal Inggris, Prancis, Belanda, Portugis, Denmark maupun kapal Keling, Arab, Benggala dan Pegu, termasuk sulub dan kundra, "tiadalah jadi ia berniaga" di bandar lain melainkan di Bandar Aceh Darussalam; pelanggarnya diancam teukeuse dan denda. Ketentuan yang sama menetapkan adat bagi "kapal orang putih" dan kapal Nasrani: ketika masuk, mereka mempersembahkan sekayu kain sakhalat dan satu pipa obat bedil, dan selama tinggal di gudang mereka menerima daging, minyak dan beras dari syahbandar. Dengan kata lain, sistem bea Aceh berdiri di atas klaim monopoli pelabuhan: perdagangan diarahkan ke satu bandar agar seluruh pungutan dapat dikendalikan dari pusat.

'Usyur dihitung sesudah perdagangan selesai. Seluruh modal (rasmal) nakhoda dan saudagar dijumlahkan di Balai Furdah, lalu dinaikkan dengan sawak sebesar empat emas untuk setiap tahil. Kapal orang putih membayar enam tahil empat emas untuk setiap seratus tahil modal tetapi tidak dikenai hadiah langgar; kapal Islam, Hindu dan bangsa lain membayar lima tahil empat emas; kapal Malabar dan Diwal lima tahil. Di atas itu dipungut 'asyar 'usyur, sepersepuluh dari 'usyur, yang dibebankan kepada pemilik kapal dan dinamai ka'idah. Ka'idah dibagi di antara empat puluh tiga pejabat Balai Furdah menurut tingkatan; dalam contoh yang diberikan teks, panglima bandar menerima lima tahil, delapan pejabat utama termasuk empat syahbandar masing-masing empat tahil, tiga puluh dua pejabat lain masing-masing dua tahil, dan bendahari empat emas.

Pungutan kedatangan dan keberangkatan dibedakan menurut asal kapal. Lapik cap untuk kapal Gujarat, Keling, Benggala dan kapal orang putih sebesar sepuluh tahil dirham, ditambah hak cap megat delapan tahil; kapal dari Diwal, Malabar, Timur, Pegu, Nasiri, Kedah, Perak atau Melaka membayar lima tahil dan empat tahil. Setiap kapal juga menyerahkan kain, seperti banta beruji putih dari Gujarat, kain khas dari Benggala dan kain tulis mar dari Keling dan kapal Eropa, sehingga satu kapal dapat menyerahkan hingga dua puluh delapan helai kain. Hadiah langgar untuk kapal Gujarat bertiang tiga mencapai seratus dua puluh satu tahil sepuluh emas, sedangkan kapal Islam bertiang tiga lainnya enam puluh dua tahil sepuluh emas; pada masa Sultanah Safiatuddin hadiah bagi kapal Nakhoda Hasyimia dari Gujarat dikurangi setengah, disamakan dengan kapal Keling dan Benggala. Tafahus khali, pemeriksaan kapal kosong, dikenai dua tahil lima belas emas, sedangkan tafahus berlayar dua puluh empat tahil satu emas.

Teks juga memperlihatkan bagaimana satu pungutan dipecah menjadi bagian-bagian kecil bagi banyak orang. Hak cap megat sebesar delapan tahil untuk kapal Gujarat, misalnya, dibagi lagi: penghulu ruang menerima satu tahil empat emas, orang ngadap dua belas emas, pembawa ujung empat emas, pembawa cap dua emas, dua bujang Dalam satu tahil, dan sisanya empat tahil delapan emas menjadi milik megat. Lapik cap kapal Gujarat bahkan disertai empat raga bawang merah dan seraga bawang putih, yang dibagi kepada panglima bandar, penghulu kawal dan syahbandar. Prosedur bagi kapal Islam juga berbeda dari kapal Eropa: setelah nakhoda menerima cap, megat meminta daftar muatan dan kunci kapal lalu membawanya ke Kota Daruddunia, dan nakhoda baru dapat menurunkan barang setelah memohon kunci kepada penghulu kawal dengan membawa hadiah. Bagi kapal orang putih teks menyatakan "tiada adatnya mengambil kunci dan daftar", sebuah perlakuan khusus yang barangkali mencerminkan kehati-hatian diplomatik terhadap kekuatan bersenjata Eropa.

Selain itu ada pungutan kecil yang rapat. Bawab dipungut sepersepuluh dari barang yang tidak dikenai 'usyur; hak kalam, bea juru tulis, dikenakan pada setiap bendala dan peti; ada pula rakam, kharajat kodi, cukai emas seemas setiap bungkal, dan pungutan atas kembal emas yang dibawa kapal Malabar dan Diwal. Ekspor gajah dikenai dua puluh tiga tahil delapan emas per ekor dan kuda satu tahil sembilan emas, sedangkan barang yang dibawa keluar ke timur atau barat membayar adat kuala dua emas per kodi kain atau per bahara barang timbangan. Di kota pelabuhan, penghulu pematam memungut seemas sebulan dari setiap muka kedai untuk Orang Kaya Seri Maharaja Mangkubumi, dan Bentara Blang memungut sewa tanah dua emas setahun per kedai dan empat emas per gedung, kecuali kedai wakaf.

Daftar bawab yang disusun dari daftar Orang Kaya Seri Paduka Tuan Seberang, Penghulu Kerukun Po Sarong dan Kerukun Bawab Po Murah pada masa Safiatuddin memperlihatkan isi perdagangan Aceh: apiun, gading, sidalinggam, kemenyan putih dan hitam, jahe, bunga lawang, tawas, timah hitam dan putih, sendawa, obat bedil, mesiu, gaharu Siam, kayu sepang, daun nilam, gula, kayu cendana, lada, ganja, kulit manis, kapur, lilin, damar, tembaga, pinggan dan mangkuk batu, sarang burung, ambar, terasi, air mawar serta bendala Benggala dan Keling. Kehadiran bahan mesiu dan senjata di samping rempah dan tekstil India menegaskan peran Aceh sebagai pasar perang sekaligus pasar dagang.

Tarif ini tidak beku. Pada masa Sultan Jamalul Alam Badrul Munir, Orang Kaya Laksamana di Ujong Pekan mengambil kain khura dari saudagar Keling dengan uang muka tetapi tidak menuntaskan pembelian selama tiga bulan, sehingga para saudagar menjualnya di luar. Sultan memutuskan para saudagar bersalah dan mengenakan denda khura untuk setiap kodi kain; kemudian pada masa Sultan Ahmad Syah para saudagar Aceh dan asing, Hulubalang Blang Dalam dan jamaah furdah bersama-sama memohon ampun, dan denda itu dikurangi setengah. Sultan juga dapat menganugerahkan "maaf": Sultan Badaruddin Juhan Alam Syah pada 1179 H di Bandar Kampung Jawa membebaskan sewa dan mengurangi kharajat muatan seperdelapan; Sultan Alaiddin Mahmud Syah pada 1180 H memberi keringanan sepertiga selama tiga tahun dengan pengecualian lapik cap, hak langgar, tafahus berlayar, hak kalam, rakam dan jati furdah; dan pada 1181 H Nakhoda Muhammad Kasim, orang Gujarat dari Nagur, dibebaskan dari hampir semua pungutan dengan 'usyur tetap enam tahil per seratus tahil dan persembahan tahunan seratus tahil.

Teks tarif ini sampai kepada pembaca modern melalui rantai penyalinan yang dicatat dalam teks itu sendiri. Pada Senin, 6 Rabiul Awal 1120 H, Sultan Jamalul Alam Badrul Munir memerintahkan Orang Kaya Seri Maharaja Lela, panglima bandar, dan Penghulu Kerukun Raja Sati Muda agar segala adat sejak raja-raja terdahulu ditandakan di dalam daftar Balai Furdah. Penyalinan dilakukan oleh Orang Kaya Maharaja Lela Melayu dari tarakata Balai Besar serta dari daftar Penghulu Kerukun Raja Setia Muda Po Sang dari kampung Pigu dan kerukun bawab Po Murah, meliputi adat sejak Iskandar Muda hingga Jamalul Alam. Pejabat penyalin inilah yang kemudian naik takhta sebagai Sultan Alaiddin Ahmad Syah, dan pada 14 Ramadan 1165 H, pada masa Sultan Alaiddin Juhan Syah, gelar Kerukun Katibul Muluk dianugerahkan kepada Nakhoda Piar sahab disertai perintah menyalin kembali tarakata tersebut. Catatan ini penting secara filologis, karena memperlihatkan bahwa Dastur bukan dokumen satu waktu, melainkan himpunan ketetapan yang terus diperbarui, disalin dan disahkan ulang oleh setiap pemerintahan.

Takeshi Ito dan M. Adli Abdullah membaca Dastur sebagai bukti kekuasaan mutlak sultan atas sumber pendapatan negara. Rinciannya juga memperlihatkan sisi lain: pendapatan pelabuhan tersebar sebagai gaji para pejabat, tarif dapat ditawar, dan kebijakan diskriminatif menurut bangsa dipakai untuk menarik atau mengendalikan pedagang tertentu. Dengan demikian Dastur adalah salah satu sumber terkaya bagi sejarah ekonomi politik pelabuhan di Asia Tenggara pramodern.

Bagi studi Aceh, Dastur juga membuka pertanyaan tentang hubungan antara pelabuhan dan pedalaman. Dastur Adat Hasil Negeri tahun 1050 H, yang menetapkan upeti emas dan beras dari Pase dan Samalanga, berdampingan dengan tarif kapal dalam satu bagian kitab, sehingga pendapatan kerajaan tampak bertumpu pada dua kaki: perdagangan laut yang dipungut di Balai Furdah dan hasil bumi yang diserahkan para hulubalang daerah. Tantangan penelitian berikutnya adalah menakar seberapa besar masing-masing sumber itu dalam anggaran kerajaan, bagaimana nilai dirham emas dan satuan barang berubah dari abad ke-17 ke abad ke-18, serta bagaimana catatan Belanda, Inggris dan Prancis tentang pungutan di Aceh dapat dipakai untuk menguji angka-angka yang tertulis dalam tarakata.

The fiscal system of Bandar Aceh Darussalam had two layers: a state duty called 'usyur (a "tenth", in practice about five to six per cent) and a large number of "adat", dues that accrued directly to officials. The money of account was the gold dirham: the tahil, the mas, the kupang and the paha, with one tahil equal to sixteen mas by Acehnese custom. Goods were measured in bahar, kodi (scores), kayu (bolts), bendala (bales), kati, gantang, are, kempit, kuyan and gunca.

The legal framework of all these tariffs is the dastur which, according to the text, Sultan Iskandar Muda issued on Friday, 14 Rabi' al-Awwal 1045 AH, in the forenoon. It decreed that all trading ships, whether English, French, Dutch, Portuguese or Danish, or ships of the Keling, Arabs, Bengal and Pegu, including sulub and kundra vessels, "may not trade" in any port other than Bandar Aceh Darussalam; violators were threatened with teukeuse and fines. The same provision fixed the custom for "white men's ships" and Christian vessels: on entering they presented a length of sakhalat broadcloth and a pipe of gunpowder, and while lodged in the warehouse they received meat, oil and rice from the syahbandar. In other words, Aceh's system of duties rested on a claim to port monopoly: trade was channelled into a single harbour so that all levies could be controlled from the centre.

'Usyur was assessed after trading had ended. The total capital (rasmal) of captain and merchants was reckoned at the Balai Furdah and then raised by a sawak of four mas per tahil. Ships of white men paid six tahil four mas per hundred tahil of capital but were not liable to hadiah langgar; Muslim, Hindu and other ships paid five tahil four mas; ships from Malabar and Diwal five tahil. On top of this was levied the 'asyar 'usyur, a tenth of the 'usyur, charged to the shipowner and called ka'idah. The ka'idah was shared among forty-three officials of the Balai Furdah by grade; in the example the text gives, the panglima bandar received five tahil, eight senior officials including the four syahbandar four tahil each, thirty-two other officials two tahil each, and the treasurers four mas.

Arrival and departure dues varied with a ship's origin. The lapik cap for ships from Gujarat, Keling, Bengal and the white men was ten tahil, plus eight tahil for the megat's seal fee; ships from Diwal, Malabar, the East, Pegu, Nasiri, Kedah, Perak or Melaka paid five tahil and four tahil. Each ship also handed over cloth, such as white striped banta from Gujarat, khas cloth from Bengal and printed mar cloth from Keling and European ships, so that one vessel might surrender up to twenty-eight pieces. The hadiah langgar for a three-masted Gujarati ship came to one hundred and twenty-one tahil ten mas, and for other three-masted Muslim ships sixty-two tahil ten mas; under Sultanah Safiatuddin the levy on the ship of Nakhoda Hasyimia from Gujarat was halved, bringing it into line with Keling and Bengal ships. The tafahus khali, an inspection of the empty ship, cost two tahil fifteen mas, and the tafahus berlayar on departure twenty-four tahil one mas.

The text also shows how a single levy was split into small shares for many people. The megat's seal fee of eight tahil for a Gujarati ship, for instance, was further divided: the penghulu ruang received one tahil four emas, the orang ngadap twelve emas, the bearer of the ujung four emas, the bearer of the seal two emas, the two bujang Dalam one tahil, and the remaining four tahil eight emas went to the megat. The lapik cap for a Gujarati ship even came with four baskets of shallots and one of garlic, shared among the panglima bandar, the penghulu kawal and the syahbandar. Procedure for Muslim ships also differed from that for European ones: after the captain received the seal, the megat requested the cargo list and the ship's keys and took them into the Kota Daruddunia, and the captain could unload only after asking the penghulu kawal for the keys, bringing a gift. For white men's ships the text states that "there is no custom of taking the keys and the list", a special treatment that perhaps reflects diplomatic caution towards armed European powers.

There was in addition a dense web of minor dues. Bawab was levied at one in ten on goods not liable to 'usyur; hak kalam, the scribe's fee, was charged on every bale and chest; there were also rakam, kharajat per score, a gold duty of one mas per bungkal, and levies on the kembal emas brought by ships from Malabar and Diwal. Exported elephants paid twenty-three tahil eight mas a head and horses one tahil nine mas, while goods shipped east or west paid a river-mouth due of two mas per score of cloth or per bahar of weighed goods. In the port town the penghulu pematam collected one mas a month from every shop front for Orang Kaya Seri Maharaja Mangkubumi, and the Bentara Blang collected ground rent of two mas a year per shop and four mas per warehouse, waqf shops excepted.

The list of goods subject to bawab, compiled from the registers of Orang Kaya Seri Paduka Tuan Seberang, Penghulu Kerukun Po Sarong and Kerukun Bawab Po Murah under Safiatuddin, reveals the content of Acehnese trade: opium, ivory, cinnabar (sidalinggam), white and black benzoin, ginger, star anise, alum, lead and tin, saltpetre, gunpowder and powder for muskets, Siamese aloeswood, sappanwood, patchouli, sugar, sandalwood, pepper, ganja, cinnamon, camphor, wax, damar resin, copper, stoneware plates and bowls, birds' nests, ambergris, shrimp paste, rosewater and bales from Bengal and Keling. The presence of gunpowder materials and arms alongside spices and Indian textiles confirms Aceh's role as a market for war as well as for trade.

These tariffs were not frozen. Under Sultan Jamalul Alam Badrul Munir, the Orang Kaya Laksamana at Ujong Pekan took khura cloth from Keling merchants against an advance but failed to complete the purchase for three months, so the merchants sold it elsewhere. The sultan found the merchants at fault and imposed a khura fine per score of cloth; later, under Sultan Ahmad Syah, Acehnese and foreign merchants, the Hulubalang Blang Dalam and the furdah officials jointly petitioned for clemency, and the fine was halved. The sultan could also grant "remission" (maaf): Sultan Badaruddin Juhan Alam Syah in 1179 AH at Bandar Kampung Jawa waived the rent and reduced the kharajat on cargo by one eighth; Sultan Alaiddin Mahmud Syah in 1180 AH granted a one-third reduction for three years, excluding the lapik cap, hak langgar, tafahus berlayar, hak kalam, rakam and jati furdah; and in 1181 AH Nakhoda Muhammad Kasim, a Gujarati from Nagur, was released from almost all levies in return for a fixed 'usyur of six tahil per hundred and an annual present of one hundred tahil.

This tariff text reached modern readers through a chain of copying recorded in the text itself. On Monday, 6 Rabi' al-Awwal 1120 AH, Sultan Jamalul Alam Badrul Munir ordered Orang Kaya Seri Maharaja Lela, the panglima bandar, and the Penghulu Kerukun Raja Sati Muda to have all the dues since earlier rulers entered in the register of the Balai Furdah. The copying was done by Orang Kaya Maharaja Lela Melayu from the tarakata of the Balai Besar and from the registers of the Penghulu Kerukun Raja Setia Muda Po Sang of kampung Pigu and the kerukun bawab Po Murah, covering the dues from Iskandar Muda to Jamalul Alam. This very copyist later ascended the throne as Sultan Alaiddin Ahmad Syah, and on 14 Ramadan 1165 AH, under Sultan Alaiddin Juhan Syah, the title Kerukun Katibul Muluk was conferred on Nakhoda Piar sahab together with an order to copy the tarakata again. The record matters philologically, because it shows that the Dastur is not a document of a single moment but a compilation of rulings continually updated, copied and re-validated by each reign.

Takeshi Ito and M. Adli Abdullah read the Dastur as evidence of the sultan's absolute control over state revenue. Its details also reveal another side: port income was dispersed as officials' stipends, tariffs were negotiable, and differential rates by nation were used to attract or control particular traders. The Dastur is therefore one of the richest sources for the political economy of ports in premodern Southeast Asia.

For Aceh studies the Dastur also raises questions about the relationship between port and hinterland. The Dastur Adat Hasil Negeri of 1050 AH, fixing tribute in gold and rice from Pase and Samalanga, stands beside the ship tariffs in the same part of the book, so that royal revenue appears to rest on two legs: maritime trade levied at the Balai Furdah and agricultural produce delivered by the regional hulubalang. The next research challenge is to gauge how large each source was in the kingdom's finances, how the value of the gold dirham and the units of goods changed from the seventeenth to the eighteenth century, and how Dutch, English and French records of levies in Aceh can be used to test the figures written in the tarakata.

Gagasan kunciKey ideas

Bea negara dan adat pejabatState duty and officials' dues

'Usyur masuk ke perbendaharaan, sedangkan ka'idah dan adat lain langsung menjadi penghasilan pejabat.'Usyur went to the treasury, while ka'idah and other dues were the officials' direct income.

Monopoli pelabuhanPort monopoly

Dastur 1045 H mewajibkan semua kapal niaga berdagang hanya di Bandar Aceh Darussalam.The dastur of 1045 AH required all trading ships to trade only at Bandar Aceh Darussalam.

Tarif menurut bangsaRates by nation

Kapal Eropa, Gujarat, Keling, Malabar dan Melayu dikenai tarif dan prosedur yang berbeda.European, Gujarati, Keling, Malabar and Malay ships were charged different rates and followed different procedures.

Pasar senjataA market in arms

Sendawa, mesiu dan obat bedil tercantum dalam daftar komoditas pelabuhan.Saltpetre, gunpowder and musket powder appear in the port's commodity list.

Teks yang terus disalinA text continually recopied

Tarakata tarif disalin ulang pada 1120 H dan 1165 H, sehingga Dastur merupakan himpunan ketetapan lintas pemerintahan.The tariff tarakata was recopied in 1120 and 1165 AH, so the Dastur is a compilation of rulings across reigns.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana tarif dalam Dastur dapat dibandingkan dengan catatan pedagang Eropa abad ke-17 dan ke-18 tentang pungutan di Aceh untuk menguji keandalan dan masa berlakunya?How can the tariffs in the Dastur be compared with seventeenth- and eighteenth-century European merchants' records of levies in Aceh to test their reliability and period of validity?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Cukai dan bea pelabuhan Bandar Aceh Darussalam”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/cukai-dan-bea-pelabuhan-bandar-aceh/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →