Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Modernisasi beradab di Dunia Melayu dan ‘becoming values’Civilised modernisation in the Malay World and ‘becoming values’

Modernisasi beradab adalah gagasan bahwa modernisasi di Dunia Melayu dan Asia Tenggara tidak cukup diukur dari teknologi dan ekonomi, tetapi juga dari kesinambungan nilai, marwah, dan adab. Dari Aceh hingga Mindanao, masyarakat Melayu-Muslim mencari masa depan modern yang berakar pada tauhid, menyaring pengaruh luar melalui ‘resignifikasi’, dan menolak dikotomi agama dan ilmu. Gagasan ini membaca warisan kolonial, globalisasi, dan krisis nilai, lalu menawarkan ‘becoming values’ sebagai nilai yang tumbuh melalui pembelajaran. Aceh, Patani, Mindanao, dan Kelantan dipandang sebagai simpul satu jaringan peradaban bersama.

Civilised modernisation is the idea that modernisation in the Malay World and Southeast Asia cannot be measured by technology and economics alone, but also by continuity of values, dignity (marwah) and adab. From Aceh to Mindanao, Malay-Muslim societies seek a modern future rooted in tawhid, filter outside influences through ‘resignification’ and reject the dichotomy of religion and science. The idea reads the colonial legacy, globalisation and the crisis of values, and offers ‘becoming values’, values that grow through learning. Aceh, Patani, Mindanao and Kelantan are seen as nodes of one shared civilisational network.

Modernisasi lazim dipahami sebagai kemajuan linear yang ditandai industrialisasi, rasionalitas, dan sistem politik modern. Dari sudut Dunia Melayu, modernisasi juga merupakan peristiwa budaya dan spiritual yang selalu memunculkan soal identitas: bagaimana menjadi modern tanpa kehilangan akar. Peradaban Islam menjadi bingkai nilai, bahasa, dan sistem sosial kawasan ini. Kolonialisme abad ke-19 membawa ekonomi kapitalis dan pendidikan modern dengan dampak ambivalen: pendidikan sekuler membuka jalan ke sains dan birokrasi modern, tetapi juga melepaskan masyarakat dari epistemologi tradisional yang berbasis adab, tauhid, dan keilmuan Islam. Tugasnya bukan sekadar menerima atau menolak Barat, melainkan menata ulang hubungan ilmu, kuasa, dan moralitas.

Sejarah kawasan menunjukkan modernisasi sebagai sintesis, bukan westernisasi. Kesultanan Aceh, Melaka, Patani, dan Mindanao memadukan syariat dan hukum negara, pesantren dan universitas, musyawarah dan parlemen. Berada di antara Timur dan Barat serta menyerap tradisi India, Cina, dan Islam, Dunia Melayu memodernisasi secara dialogis: menyaring, bukan menolak atau meniru. Proses ini dapat disebut resignifikasi, yakni penyesuaian makna modernitas dengan kosmologi setempat melalui tafsir budaya yang kreatif. Bila Jepang memodernisasi melalui militer dan India melalui sekularisme politik, Dunia Melayu menempuh jalan rekonsiliasi agama dan akal, dengan dua jebakan yang harus dihindari: romantisasi masa lalu dan dogmatisme kaku.

Islam berada di pusat transformasi ini. Para pembaru awal abad ke-20 seperti Syed Sheikh al-Hadi, Ahmad Dahlan, dan Haji Agus Salim mendorong pembaruan pendidikan, pentingnya ilmu, dan tafsir ulang agama. Madrasah, pesantren, dan sekolah agama berubah struktur dan kurikulumnya; Indonesia menambahkan pelajaran umum tanpa menghapus pelajaran agama, sedangkan universitas Islam negeri di Malaysia memadukan filsafat Islam dan sains modern. Ekonomi syariah dan keuangan halal tumbuh di Malaysia, Indonesia, dan Brunei, menunjukkan bahwa etika agama dapat menopang pertumbuhan modern. Dakwah digital melahirkan ‘ulama digital’ dengan risiko banalisasi dan komersialisasi agama. Perempuan Muslim semakin hadir sebagai profesional, akademisi, dan pemimpin komunitas.

Warisan kolonial juga membentuk negara modern. Kolonialisme memperkenalkan negara-bangsa, hukum sipil, dan birokrasi, tetapi melatih elite pribumi untuk menjalankan administrasi sementara rakyat tetap terpinggirkan, sehingga negara pascakemerdekaan mewarisi struktur kuasa yang elitis dan paternalistik. Dekolonisasi menempuh dua pola: revolusioner di Indonesia dengan penekanan pada kedaulatan rakyat, dan bertahap di Malaysia melalui negosiasi dengan Inggris. Pancasila di Indonesia dan Islam sebagai agama resmi di Malaysia mencerminkan pencarian ‘jalan ketiga’ antara sekularisme Barat dan teokrasi, yakni negara religius tetapi inklusif. Pengalaman Thailand Selatan dan Mindanao memperlihatkan bahwa politik tanpa keadilan budaya melahirkan keterasingan dan kekerasan.

Globalisasi menjadi bentuk modernisasi yang paling rumit. Ia mempercepat arus informasi dan homogenisasi budaya, memperlebar jarak antara pusat kapitalisme seperti Kuala Lumpur, Jakarta, dan Singapura dengan wilayah perdesaan Melayu, serta menggeser nilai moral generasi muda yang hidup dalam budaya citra dan konsumsi. Respons yang diusulkan adalah adab digital, etika bermedia berbasis Islam dan kearifan lokal. Urbanisasi cepat mengancam ekosistem pesisir, hutan, dan laut yang menjadi inti identitas Melayu, sehingga modernisasi sejati harus ekologis. Universitas ditantang membangun pengetahuan yang berakar pada nilai Islam dan lokalitas, dengan pandangan alam Islam sebagaimana dirumuskan Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai dasar epistemik.

Arah masa depan yang ditawarkan adalah modernisasi beradab: menyatukan iman, ilmu, dan amal serta menolak dualisme agama dan sains, moral dan teknologi. Dalam pendidikan diperkenalkan becoming values, nilai yang tidak statis tetapi tumbuh melalui pembelajaran, meliputi nilai tauhidik-rasional, adab digital, keadilan distributif, dan ekologi maritim. Dalam ekonomi, ekonomi Islam dan koperasi modern ditawarkan sebagai jalan tengah, dengan inovasi seperti ekonomi halal, zakat produktif, dan urun dana ‘gotong royong 2.0’. Dalam ranah sosial, marwah kolektif dibangun melalui pelayanan publik yang adil dan transparan, dengan kebersihan dan tanggung jawab publik dipahami sebagai ibadah sosial. Sejarah kawasan perlu ditulis ulang lintas batas negara, sehingga Aceh, Patani, Mindanao, dan Kelantan dibaca sebagai simpul satu jaringan peradaban. Ukuran keberhasilannya adalah lahirnya manusia utuh: rasional dan spiritual, mandiri dan beradab.

Modernisation is usually understood as linear progress marked by industrialisation, rationality and modern political systems. From the standpoint of the Malay World, modernisation is also a cultural and spiritual event that always raises the question of identity: how to become modern without losing one’s roots. Islamic civilisation frames the region’s values, languages and social systems. Nineteenth-century colonialism brought capitalist economics and modern education with ambivalent effects: secular education opened paths to science and modern bureaucracy but also detached society from a traditional epistemology based on adab, tawhid and Islamic scholarship. The task is not simply to accept or reject the West but to reorder the relationship between knowledge, power and morality.

The region’s history shows modernisation as synthesis rather than westernisation. The sultanates of Aceh, Melaka, Patani and Mindanao combined sharia and state law, pesantren and university, consultation and parliament. Lying between East and West and absorbing Indian, Chinese and Islamic traditions, the Malay World modernises dialogically: filtering rather than rejecting or copying. This process can be called resignification, the adjustment of the meaning of modernity to local cosmology through creative cultural interpretation. Where Japan modernised through the military and India through political secularism, the Malay World took the path of reconciling religion and reason, with two traps to avoid: romanticising the past and rigid dogmatism.

Islam lies at the centre of this transformation. Early twentieth-century reformers such as Syed Sheikh al-Hadi, Ahmad Dahlan and Haji Agus Salim promoted educational reform, the importance of knowledge and the reinterpretation of religion. Madrasah, pesantren and religious schools changed their structures and curricula; Indonesia added general subjects without removing religious ones, while Malaysia’s state Islamic universities combined Islamic philosophy with modern science. Sharia economics and halal finance grew in Malaysia, Indonesia and Brunei, showing that religious ethics can underpin modern growth. Digital preaching produced ‘digital ulama’, with the risk of banalising and commercialising religion. Muslim women are increasingly present as professionals, academics and community leaders.

The colonial legacy also shaped the modern state. Colonialism introduced the nation-state, civil law and bureaucracy, but trained native elites to run the administration while ordinary people stayed marginal, so post-independence states inherited elitist and paternalistic power structures. Decolonisation took two patterns: revolutionary in Indonesia, emphasising popular sovereignty, and gradual in Malaysia through negotiation with Britain. Pancasila in Indonesia and Islam as the official religion in Malaysia reflect a search for a ‘third way’ between Western secularism and theocracy: a religious but inclusive state. The experience of southern Thailand and Mindanao shows that politics without cultural justice breeds alienation and violence.

Globalisation is the most complex form of modernisation. It accelerates information flows and cultural homogenisation, widens the gap between capitalist centres such as Kuala Lumpur, Jakarta and Singapore and the rural Malay hinterland, and shifts the moral values of young people living in a culture of image and consumption. The proposed response is digital adab, an ethics of media use grounded in Islam and local wisdom. Rapid urbanisation threatens the coastal, forest and marine ecosystems at the heart of Malay identity, so genuine modernisation must be ecological. Universities are challenged to build knowledge rooted in Islamic values and locality, with the Islamic worldview as formulated by Syed Muhammad Naquib al-Attas as its epistemic basis.

The proposed future direction is civilised modernisation: uniting faith, knowledge and action and rejecting the dualisms of religion and science, morality and technology. In education it introduces becoming values, values that are not static but grow through learning, including tawhidic-rational values, digital adab, distributive justice and maritime ecology. In economics, Islamic economics and modern cooperatives are offered as a middle way, with innovations such as the halal economy, productive zakat and ‘gotong royong 2.0’ crowdfunding. Socially, collective dignity is built through fair and transparent public service, with cleanliness and public responsibility understood as social worship. Regional history needs rewriting across state borders, so that Aceh, Patani, Mindanao and Kelantan are read as nodes of one civilisational network. The measure of success is the emergence of whole human beings: rational and spiritual, self-reliant and civilised.

Gagasan kunciKey ideas

ResignifikasiResignification

Penyesuaian makna modernitas dengan kosmologi lokal melalui tafsir budaya kreatif.Adjusting the meaning of modernity to local cosmology through creative interpretation.

Jalan ketigaThe third way

Negara religius tetapi inklusif di antara sekularisme Barat dan teokrasi.A religious but inclusive state between Western secularism and theocracy.

Becoming values

Nilai yang tumbuh melalui pembelajaran: tauhidik-rasional, adab digital, keadilan distributif, ekologi maritim.Values that grow through learning: tawhidic-rational, digital adab, distributive justice, maritime ecology.

Sejarah lintas batasHistory across borders

Aceh, Patani, Mindanao, dan Kelantan sebagai simpul satu jaringan peradaban.Aceh, Patani, Mindanao and Kelantan as nodes of one civilisational network.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana mengukur kemajuan sebuah masyarakat bila ukuran itu juga mencakup adab dan marwah?How can a society’s progress be measured if the yardstick also includes adab and dignity?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Modernisasi beradab di Dunia Melayu dan ‘becoming values’”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/modernisasi-beradab-dunia-melayu/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →