Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tu Sop Jeunieb)
Lahir 1964 di Blang Me Barat, Jeunieb, BireuenBorn 1964 in Blang Me Barat, Jeunieb, Bireuen
Tu Sop adalah ulama dayah dari Jeunieb, Bireuen, pemimpin Dayah Babussalam al-Aziziyah dan ketua umum Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA). Ia dikenal karena menerjemahkan khazanah kitab kuning, terutama Ihya’ ‘Ulumiddin karya al-Ghazali, ke dalam bahasa dakwah yang mudah dicerna sekaligus ke dalam program sosial yang nyata. Gagasan khasnya adalah ‘peradaban sosial Islam’, tesis tentang kesenjangan antara kompetensi dan otoritas syariat, serta gerakan ‘agen kebaikan’ melalui Training Kader Dakwah dan Barisan Muda Ummat.
Tu Sop is a dayah scholar from Jeunieb, Bireuen, head of Dayah Babussalam al-Aziziyah and chair of the Association of Dayah Ulama of Aceh (HUDA). He is known for translating the classical kitab tradition, above all al-Ghazali’s Ihya’ ‘Ulum al-Din, both into accessible preaching and into concrete social programmes. His signature ideas are ‘Islamic social civilisation’, a thesis on the gap between competence and authority in sharia matters, and a movement of ‘agents of goodness’ built through the Training Kader Dakwah and the Barisan Muda Ummat.
Muhammad Yusuf lahir pada 1964 di Gampong Blang Me Barat, Kecamatan Jeunieb, Bireuen, dari pasangan Tgk. H. Abdul Wahab bin Hasballah dan Hj. Zainab binti Muhammad Shaleh. Kakek, ayah, dan paman-pamannya adalah ulama, sehingga ia tumbuh di jantung sebuah keluarga besar dayah. Keluarga ini terpandang karena ilmu, bukan karena harta: sejak kecil ia menyaksikan orang tuanya hidup sederhana karena sebagian besar waktu tercurah untuk mengajar masyarakat. Masa remajanya pada 1980-an berlangsung ketika industri gas Lhokseumawe sedang memuncak, tetapi kemiskinan di sekitarnya justru tidak surut. Pengalaman itu kelak menjadi bahan utama refleksinya tentang kedermawanan dan ketimpangan.
Setelah menempuh pendidikan di Aceh dan Timur Tengah, ia memimpin Dayah Babussalam al-Aziziyah di Jeunieb dan kemudian Himpunan Ulama Dayah Aceh. Dakwahnya menjangkau kampung-kampung di Aceh, forum nasional, dan komunitas di Malaysia serta Brunei Darussalam. Ia membaca Ihya’ ‘Ulumiddin secara rutin di dayahnya, terbuka bagi santri dan masyarakat, baik tatap muka maupun daring. Ciri dakwahnya adalah tamsil yang membumi, misalnya membandingkan majelis ilmu dengan antrean pembagian beras di meunasah, atau menyebut kedermawanan orang Aceh seperti kayu gaharu yang baru harum ketika dibakar.
Di ruang publik, Tu Sop menempati posisi yang jarang: ia dihormati di dayah, diundang ke kampus, dan didengar oleh partai politik. Ia sendiri menyebut keluwesan ini sebagai ‘silaturahmi pemikiran’, dan sikap tersebut ikut mencairkan ketegangan keilmuan lama antara dunia dayah dan perguruan tinggi Islam negeri. Para pengkaji membacanya dengan kerangka mediator kultural ala Geertz dan otoritas karismatik ala Weber, dan ada pula yang membandingkannya dengan pembaru yang memadukan dakwah dan politik seperti Abu al-A‘la al-Maududi. Sosoknya memperlihatkan bagaimana ulama dayah kontemporer tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menawarkan tafsir sosial atas syariat di tengah masyarakat Aceh yang berubah.
Tu Sop Jeunieb wafat pada 7 September 2024, beberapa pekan setelah ia ditetapkan sebagai bakal calon wakil gubernur Aceh berpasangan dengan Bustami Hamzah untuk Pilkada 2024. Kepergiannya dirasakan sebagai kehilangan besar oleh orang Aceh di mana pun, karena ia dikenal sebagai ulama karismatik yang diterima semua golongan, dalam ilmu agama, kuat dalam berargumen, dan dipanggil ‘Tu Sop’ oleh masyarakat luas. Ia berkeliling ke kampung-kampung di seluruh Aceh untuk berdakwah, kadang berpindah dari beberapa tempat dalam sehari, dan rekaman ceramahnya beredar luas melalui grup percakapan para pencintanya. Ia juga aktif menggerakkan kegiatan Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) dan dekat dengan lingkungan Dayah MUDI Mesra Samalanga.
Sebuah ulasan atas bukunya pada 2017 membandingkan jalan perjuangannya dengan Abul A‘la al-Maududi dari Pakistan, yang memadukan dakwah, pemikiran, dan keterlibatan dalam urusan umat. Menjelang akhir hayatnya, keterlibatannya dalam agenda politik nasional dan daerah menimbulkan perdebatan di kalangan sahabat dan pengagumnya, sebagian di antaranya menyarankan agar ia memusatkan diri pada pengembangan dakwah dan ilmu. Harapan yang mengiringi wafatnya adalah lahirnya banyak ‘Tu Sop’ lain yang meneruskan bimbingan spiritual di seluruh Aceh, sebagaimana ulama-ulama dayah lain seperti Waled Marhaban Bakongan meninggalkan jejak serupa dalam ingatan masyarakat.
Muhammad Yusuf was born in 1964 in Blang Me Barat, Jeunieb subdistrict, Bireuen, to Tgk. H. Abdul Wahab bin Hasballah and Hj. Zainab binti Muhammad Shaleh. His grandfather, father and uncles were all ulama, so he grew up at the core of an extended dayah family. The family was respected for learning rather than wealth: as a child he watched his parents live modestly because most of their time went into teaching. His teenage years in the 1980s coincided with the peak of the Lhokseumawe gas industry, yet poverty around him did not recede. That experience later became the raw material of his reflections on generosity and inequality.
After studying in Aceh and the Middle East, he took charge of Dayah Babussalam al-Aziziyah in Jeunieb and later of the Association of Dayah Ulama of Aceh. His preaching reaches villages across Aceh, national forums and communities in Malaysia and Brunei Darussalam. He holds a regular reading of the Ihya’ ‘Ulum al-Din at his dayah, open to students and the public both in person and online. His style rests on earthy analogies: he compares a study circle to a queue for free rice at the meunasah, or likens Acehnese generosity to agarwood, which releases its fragrance only when set alight.
In public life Tu Sop occupies an unusual position: honoured in the dayah, invited to universities and listened to by political parties. He calls this openness a ‘fellowship of ideas’ (silaturahmi pemikiran), and it has helped thaw an old intellectual tension between the dayah world and the state Islamic university. Scholars read him through Geertz’s notion of the cultural broker and Weber’s charismatic authority, and some compare him with reformers who combined preaching and politics, such as Abu al-A‘la al-Mawdudi. He illustrates how a contemporary dayah scholar not only guards tradition but also offers a social reading of sharia for a changing Acehnese society.
Tu Sop Jeunieb died on 7 September 2024, a few weeks after being named as candidate for deputy governor of Aceh alongside Bustami Hamzah for the 2024 regional election. His passing was felt as a great loss by Acehnese everywhere, for he was known as a charismatic scholar accepted by all groups, deep in religious learning, strong in argument and called ‘Tu Sop’ by the public at large. He travelled to villages across Aceh to preach, sometimes moving between several places in a day, and recordings of his sermons circulated widely through his admirers’ messaging groups. He was also active in the activities of the Association of Acehnese Dayah Ulama (HUDA) and close to the circle of Dayah MUDI Mesra Samalanga.
A 2017 review of his book compared his path of struggle to that of Abul A‘la al-Maududi of Pakistan, who combined preaching, thought and engagement in the affairs of the community. Towards the end of his life his involvement in national and regional political agendas prompted debate among friends and admirers, some of whom advised him to concentrate on developing preaching and learning. The hope accompanying his death was that many other ‘Tu Sops’ would emerge to continue spiritual guidance across Aceh, just as other dayah scholars such as Waled Marhaban Bakongan left similar traces in public memory.
Gagasan kunciKey ideas
Dari kitab ke aksiFrom the kitab to action
Ciri berpikirnya bergerak dari konsep abstrak menuju tindakan konkret: kedermawanan diwujudkan dalam rumah layak huni, ilmu fardhu ‘ain dalam pelatihan pemuda.His thinking moves from abstract concept to concrete deed: generosity becomes habitable houses, and basic religious knowledge becomes youth training.
Bahasa yang membumiVernacular language
Hadis dan ajaran kitab disampaikan melalui tamsil sehari-hari, sehingga dapat diterima dari akar rumput hingga ruang seminar.Hadith and kitab teachings are conveyed through everyday images, reaching audiences from the grassroots to the seminar room.
Silaturahmi pemikiranFellowship of ideas
Keterbukaan kepada partai, kampus, dan pemerintah menjadikannya penghubung antara elite yang berbeda pandangan.Openness to parties, universities and government makes him a link between elites with differing outlooks.
Ulama lintas golonganA scholar across groups
Diterima semua golongan dan berdakwah hingga kampung-kampung.Accepted by all groups and preaching down to the villages.
Dakwah dan politikPreaching and politics
Keterlibatan politik menjelang akhir hayatnya memicu perdebatan di kalangan pengagumnya.Political involvement late in life prompted debate among admirers.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apakah peran ulama dayah sebagai penghubung antara kitab, negara, dan pasar dapat bertahan tanpa melemahkan independensi keilmuannya?Can a dayah scholar’s role as broker between the kitab, the state and the market endure without weakening his scholarly independence?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tu Sop Jeunieb)”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/tu-sop-jeunieb/