Dayah Yan di Kedah: tempat hijrah ulama AcehDayah Yan in Kedah: refuge of Acehnese ulama
Masa Perang Aceh (akhir abad ke-19–awal abad ke-20)Aceh War era (late 19th–early 20th century)
Yan, di Kedah, Semenanjung Melayu, menjadi tempat hijrah sejumlah ulama besar Aceh ketika perang melawan Belanda berkecamuk. Di sana berdiri dayah yang dipimpin Teungku Muhammad Arsyad Ie Leubeu, yang kemudian dikenal sebagai Teungku Chik di Yan. Dayah ini melahirkan generasi ulama seperti Tgk. Hasan Krueng Kale dan Tgk. Ahmad Hasballah Indrapuri, yang melanjutkan studi ke Mekkah lalu pulang membangun dayah-dayah penting di Aceh Besar.
Yan, in Kedah on the Malay Peninsula, became a refuge for several great Acehnese ulama when the war against the Dutch raged. A dayah there was led by Teungku Muhammad Arsyad Ie Leubeu, later known as Teungku Chik di Yan. It produced a generation of scholars such as Tgk. Hasan Krueng Kale and Tgk. Ahmad Hasballah Indrapuri, who went on to Mecca and returned to build important dayahs in Aceh Besar.
Perang Aceh mendorong sebagian ulama untuk berhijrah ke seberang Selat Malaka. Tiga nama ulama besar disebut dalam tradisi sejarah sebagai mereka yang pindah ke Yan: Teungku Muhammad Arsyad Ie Leubeu, yang kemudian termasyhur sebagai Teungku Chik di Yan; Teungku Muhammad Saleh, yang dikenal sebagai Teungku Chik di Lambhuk; dan seorang ulama lain yang dinisbahkan kepada Lam U. Hijrah ini mencerminkan pola lama hubungan Aceh dengan Semenanjung: wilayah Melayu di seberang selat bukan tanah asing, melainkan bagian dari dunia keilmuan yang sama.
Dayah Yan menjadi simpul penting dalam rantai pendidikan ulama Aceh abad ke-20. Alumninya tidak berhenti di Kedah, tetapi melanjutkan ke Mekkah al-Mukarramah. Teungku Haji Hasan Krueng Kale dan Teungku Haji Ahmad Hasballah sama-sama belajar di Yan sebelum bermukim di Mekkah, demikian pula Teungku Syeikh Muhammad Saman. Sepulang dari Tanah Suci mereka mendirikan atau memimpin dayah di Aceh: Hasan Krueng Kale memimpin Dayah Krueng Kale pada 1916, sedangkan Ahmad Hasballah memimpin Dayah Hasbiyah Indrapuri.
Melalui murid-murid kedua ulama itu, termasuk Abuya Muda Waly dari Labuhan Haji, warisan Yan menjalar ke seluruh jaringan dayah tradisional Aceh. Rute Aceh–Kedah–Mekkah memperlihatkan bahwa jaringan ulama Aceh tidak hanya bertumpu pada Haramayn, tetapi juga pada simpul-simpul di dunia Melayu yang menjadi tempat transit, berlindung, dan belajar ketika tanah air dilanda perang.
The Aceh War drove some scholars to migrate across the Strait of Malacca. Historical tradition names three great ulama who moved to Yan: Teungku Muhammad Arsyad Ie Leubeu, later renowned as Teungku Chik di Yan; Teungku Muhammad Saleh, known as Teungku Chik di Lambhuk; and another scholar associated with Lam U. The migration reflects an old pattern of Aceh–Peninsula relations: the Malay lands across the strait were not foreign territory but part of the same world of learning.
Dayah Yan became an important node in the chain of twentieth-century Acehnese scholarship. Its alumni did not stop in Kedah but went on to Mecca. Teungku Haji Hasan Krueng Kale and Teungku Haji Ahmad Hasballah both studied at Yan before residing in Mecca, as did Teungku Syeikh Muhammad Saman. Back from the Holy Land they founded or led dayahs in Aceh: Hasan Krueng Kale headed Dayah Krueng Kale from 1916, and Ahmad Hasballah led Dayah Hasbiyah Indrapuri.
Through the students of these two scholars, including Abuya Muda Waly of Labuhan Haji, Yan’s legacy spread across the whole traditional dayah network of Aceh. The Aceh–Kedah–Mecca route shows that Acehnese scholarly networks rested not only on the Haramayn but also on nodes in the Malay world that served as places of transit, refuge and study when the homeland was at war.
Gagasan kunciKey ideas
Hijrah sebagai strategi ilmuMigration as a strategy of learning
Ketika perang menutup dayah di Aceh, ulama memindahkan pusat pengajaran ke seberang selat.When war closed dayahs in Aceh, scholars moved teaching across the strait.
Simpul antaraAn intermediate node
Yan menjadi tangga antara dayah kampung dan Masjidil Haram.Yan was a step between the village dayah and the Grand Mosque.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apa arti keberadaan simpul ilmu Aceh di Kedah bagi pemahaman batas antara ‘Aceh’ dan ‘Melayu’?What does an Acehnese centre of learning in Kedah mean for understanding the boundary between ‘Acehnese’ and ‘Malay’?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Dayah Yan di Kedah: tempat hijrah ulama Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/dayah-yan-kedah/