Masjid sebagai arena otoritas: imam, ritual, dan representasiMosques as arenas of authority: imams, rituals and representation
Kajian historis; batas pembacaan mengikuti tahun sumberHistorical study; interpretation is bounded by the source date
Perselisihan atas imam, tata ibadah, dan pengurus masjid dapat mengungkap perebutan kewenangan keagamaan. Laporan 2016 menempatkan persoalan itu dalam jaringan sosial-politik Aceh.
Disputes over imams, ritual practice and mosque boards can reveal struggles over religious authority. The 2016 report places them within Aceh’s political and social networks.
Masjid bukan hanya bangunan ibadah, tetapi juga institusi yang mengatur kepemimpinan, suara publik, dan legitimasi. IPAC membahas Baiturrahman serta beberapa sengketa masjid sebagai kasus hubungan antara ritual, pengelolaan, dan tekanan kelompok. Uraian insiden dalam laporan tetap merupakan laporan sumber yang perlu diuji silang.
Penelitian dapat membandingkan keputusan pengurus, pengalaman jemaah, musyawarah, dan perlindungan kebebasan beribadah. Perbedaan jumlah azan atau kebiasaan khotbah tidak dengan sendirinya menjelaskan kekerasan; mekanisme mobilisasi dan tindakan aktor juga harus diperiksa.
Rujukan utama: Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC). 2016. The Anti-Salafi Campaign in Aceh. Report No. 32, 6 October 2016. Hlm. 15–21.
A mosque is a site of worship and an institution organising leadership, public voice and legitimacy. IPAC discusses Baiturrahman and other disputes as cases linking ritual, administration and group pressure. Incident accounts remain source reports requiring corroboration.
Research can compare board decisions, congregants’ experiences, deliberation and protection of worship. Differences in calls to prayer or sermon practice do not by themselves explain violence; mobilisation and actors’ decisions must also be investigated.
Primary reference: Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC). 2016. The Anti-Salafi Campaign in Aceh. Report No. 32, 6 October 2016. Hlm. 15–21.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana sengketa tata ibadah dapat diselesaikan tanpa menghilangkan hak kelompok lain?How can ritual disputes be resolved while protecting the rights of other groups?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Masjid sebagai arena otoritas: imam, ritual, dan representasi”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/masjid-sebagai-arena-otoritas/