Kerajaan PeureulakThe Peureulak (Perlak) Sultanate
Menurut tradisi: berdiri 1 Muharram 225 H; kemudian bergabung dengan Samudera PasaiPer tradition founded 1 Muharram 225 AH; later absorbed into Samudera Pasai
Peureulak dipandang oleh sarjana lokal sebagai kerajaan Islam tertua di Nusantara, terletak di pesisir timur Aceh. Tradisi silsilah mengaitkan pendiriannya dengan kelompok Syi‘ah keturunan Ahl al-Bayt yang menyingkir dari konflik pada masa Khalifah al-Ma’mun. Sumber utamanya adalah naskah Tazkirah Thabaqāt Jumu’ Sulthān al-Salāthīn. Bukti arkeologisnya tipis dan masih diperdebatkan, sehingga Peureulak menjadi contoh ketegangan antara tradisi tertulis lokal dan temuan lapangan.
Local scholars regard Peureulak, on Aceh’s east coast, as the oldest Islamic kingdom in the archipelago. Genealogical tradition links its foundation to a Shi‘a group descended from the Prophet’s household who fled conflict under the Caliph al-Ma’mun. The key source is the manuscript Tazkirah Thabaqat Jumu’ Sulthan al-Salathin. Archaeological evidence is thin and contested, making Peureulak a case study in the tension between local written tradition and field findings.
Menurut tradisi yang dicatat dalam Tazkirah Thabaqāt Jumu’ Sulthān al-Salāthīn, karya Syeikh Syamsul Bahri Abdullah al-Asyi yang disalin ulang pada 1275 H, rombongan Syi‘ah tiba di kawasan yang disebut Pula Rujja dan mendirikan kerajaan pada 1 Muharram 225 H. Raja pertamanya, Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah, diberi silsilah yang bersambung kepada ‘Ali bin Abi Thalib melalui Zainal Abidin. Kedatangan mereka dikisahkan sebagai akibat pergolakan politik di dunia Arab pada era al-Ma’mun.
Tradisi lokal juga mencatat perang panjang antara Peureulak dan Sriwijaya (986–1006), yang berakhir ketika Sriwijaya diserang dari Jawa. Junus Djamil menyebut adanya tawanan dari Semenanjung Melayu, salah satunya keturunan yang kemudian menjadi bendahara kerajaan dan dikaitkan dengan wangsa Raja Lingge di Aceh Tengah. Penguasa Peureulak, Sultan Makhdum Malik Muhammad Amin Syah (1225–1263), disebut menikahkan dua putrinya dengan penguasa Pasai dan Melaka, perkawinan yang oleh A. Hasjmy disebut perkawinan politik. Kerajaan ini kemudian disatukan dengan Samudera Pasai.
Di lapangan, seorang arkeolog lokal belum menemukan sisa istana Peureulak, tetapi menjumpai batu nisan yang dibacanya sebagai bercorak Persia, tidak jauh dari sungai dan berjarak sekitar 30 km dari garis pantai Selat Melaka. Kesaksian warga menyebut garis pantai telah bergeser sekitar 9–10 km, sehingga situs ini kemungkinan dahulu merupakan budaya pesisir. Kompleks makam kuno tersebut nyaris luput dari perhatian pemerintah dan peneliti, yang lebih tertarik pada pertanyaan tentang keberadaan kerajaan daripada tafsir atas kuburannya.
According to the tradition preserved in the Tazkirah Thabaqat Jumu’ Sulthan al-Salathin, attributed to Shaykh Syamsul Bahri Abdullah al-Asyi and recopied in 1275 AH, a Shi‘a party reached the land called Pula Rujja and founded a kingdom on 1 Muharram 225 AH. Its first ruler, Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah, is given a genealogy reaching back to ‘Ali ibn Abi Talib through Zayn al-‘Abidin. Their migration is narrated as a consequence of political upheaval in the Arab world under al-Ma’mun.
Local tradition also records a long war between Peureulak and Srivijaya (986–1006), ending when Srivijaya came under attack from Java. Junus Djamil mentions captives from the Malay Peninsula, one of whose descendants became royal treasurer and is linked to the Lingge dynasty of Central Aceh. A Peureulak ruler, Sultan Makhdum Malik Muhammad Amin Syah (1225–1263), is said to have married two daughters to the rulers of Pasai and Melaka, unions A. Hasjmy called political marriages. The kingdom was eventually merged into Samudera Pasai.
On the ground, a local archaeologist has found no remains of a Peureulak palace, but has recorded gravestones he reads as Persian in style, close to a river and roughly 30 km from today’s Strait of Malacca shoreline. Villagers report that the coast has receded by some 9–10 km, suggesting the site once belonged to a coastal culture. These old cemeteries have been largely ignored by government and scholars alike, who have focused on whether the kingdom existed rather than on interpreting its graves.
Gagasan kunciKey ideas
Tradisi tertulis vs arkeologiWritten tradition vs archaeology
Kronologi Peureulak bertumpu pada naskah silsilah, sementara jejak materialnya belum ditemukan secara meyakinkan.Peureulak’s chronology rests on a genealogical manuscript, while its material traces remain unconfirmed.
Pesisir yang bergeserA shifting coastline
Perubahan garis pantai membuat situs yang kini jauh di darat dahulu mungkin berada dekat laut.Coastal change means sites now well inland may once have stood near the sea.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apa yang hilang ketika penelitian tentang Peureulak hanya berfokus pada istana dan mengabaikan kuburan?What is lost when research on Peureulak looks only for palaces and ignores graves?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Kerajaan Peureulak”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/kerajaan-peureulak/