Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Ganja sebagai “perekat” Aceh dan JawaCannabis as the ‘glue’ between Aceh and Java

Puluhan tahun; memuncak pada masa konflikSeveral decades; peaking during the conflict

Pengamatan etnografis tentang perantau muda Aceh di Jawa menunjukkan bahwa jaringan perdagangan ganja ilegal dari Aceh ke Jawa hingga Bali mempertemukan orang Aceh dan Jawa justru ketika kedua kelompok berhadapan di medan konflik. Perdagangan ini telah berlangsung puluhan tahun, tetapi meningkat tajam saat konflik membuat banyak pemuda Aceh kehilangan pekerjaan dan takut dituduh separatis. Fenomena ini, yang melanggar hukum negara dan agama, memperlihatkan bahwa relasi Aceh–Jawa tidak semata ideologis. Kepentingan bersama, termasuk di dunia bawah tanah, dapat mempersatukan pihak yang bermusuhan.

Ethnographic observation of young Acehnese migrants in Java shows that illegal cannabis networks running from Aceh through Java to Bali brought Acehnese and Javanese together even as the two faced each other in conflict. The trade had run for decades but grew sharply when conflict left many young Acehnese jobless and fearful of being accused of separatism. The phenomenon, unlawful under both state and religious law, shows that Aceh–Java relations were not purely ideological. Shared interests, including in the underworld, could unite adversaries.

Pada masa konflik, banyak anak muda Aceh merantau ke Jawa, sebagian untuk kuliah sambil berbisnis kecil-kecilan. Di Yogyakarta, selain dikaitkan dengan GAM, orang Aceh juga dikaitkan dengan ganja. Menurut kesaksian para pelaku yang dikenal secara pribadi, perdagangan ini dipicu ketiadaan keahlian lain dan lapangan kerja di Aceh, sementara tinggal di kampung berarti risiko dituduh anggota separatis. Pendatang baru masuk ke jaringan melalui pertemanan atau persaudaraan; posisi terendah adalah kurir yang naik turun bus atau kereta membawa beberapa kilogram ganja untuk pengecer.

Risikonya besar. Hampir semua pelaku yang dikenal pernah dipenjara; ada yang mengaku disiksa saat diinterogasi, ada pula yang dibebaskan setelah menebus kepada aparat. Bandar yang mapan menyiapkan uang tebusan dalam jumlah besar dan kadang memperluas usaha ke sabu, yang di kalangan pemuda Aceh disebut sabe. Pelaku yang berhasil sering menjadi tulang punggung keluarga di Aceh, sehingga usaha mereka mendapat “restu tidak resmi”. Ganja sendiri ditanam antara lain di Lamteuba, Aceh Besar, oleh petani yang nyaris tidak punya sumber pendapatan lain.

Pengamatan yang sama mencatat jaringan sabu di Malaysia yang disebut dikendalikan warga keturunan Aceh, juga praktik balai pengobatan tradisional oleh perantau Aceh di Jakarta hingga Jawa Timur, yang disindir sebagai peng-obat-tan: ada peng (uang), obat tan (tidak ada obat).

Slogan sebagian bandar masa konflik, “kita kirim ganja ke Jawa supaya orang Jawa mabuk”, memperlihatkan ironi: di Aceh kedua etnis bermusuhan, di Jawa mereka bekerja sama. Pelajaran analitisnya ialah bahwa hubungan bawah tanah di kawasan konflik, seperti juga di Timur Tengah atau Amerika Selatan, perlu dicermati karena dapat melintasi garis permusuhan ideologis.

During the conflict many young Acehnese migrated to Java, some to study while running small businesses. In Yogyakarta the Acehnese were associated not only with GAM but also with cannabis. According to testimony from participants known personally to the observer, the trade was driven by a lack of other skills and jobs in Aceh, while staying home meant the risk of being accused of separatism. Newcomers entered the networks through friendship or kinship; the lowest rung was the courier riding buses or trains with a few kilos for retailers.

The risks were high. Almost every participant known to the observer had been imprisoned; some reported torture during interrogation, others were released after paying off officials. Established dealers kept large sums ready for such payments and sometimes expanded into methamphetamine, which young Acehnese called sabe. Successful dealers often became their families’ breadwinners, so their business received an ‘unofficial blessing’. The cannabis itself was grown in places such as Lamteuba in Aceh Besar by farmers with few other sources of income.

The same observations note methamphetamine networks in Malaysia reportedly run by people of Acehnese descent, and traditional clinics opened by Acehnese migrants from Jakarta to East Java, mocked as peng-obat-tan: there is peng (money) but obat tan (no medicine).

A slogan of some wartime dealers, ‘send cannabis to Java so the Javanese get stoned’, captures the irony: in Aceh the two groups fought, in Java they cooperated. The analytical lesson is that underground ties in conflict zones, as in the Middle East or South America, deserve scrutiny because they can cut across lines of ideological enmity.

Gagasan kunciKey ideas

Ekonomi konflikA conflict economy

Hilangnya pekerjaan dan ancaman tuduhan separatis mendorong pemuda ke jaringan ilegal.Lost livelihoods and fear of separatist accusations pushed youths into illegal networks.

Persatuan di bawah tanahUnity underground

Kepentingan bersama mempertemukan pihak yang bermusuhan secara ideologis.Shared interests brought ideological adversaries together.

Biaya sosialSocial costs

Penjara, penyiksaan, suap, dan kecanduan di desa-desa Aceh.Prison, torture, bribery and addiction in Acehnese villages.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa yang diungkap ekonomi bawah tanah tentang batas-batas permusuhan etnis dalam konflik?What does an underground economy reveal about the limits of ethnic enmity in conflict?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Ganja sebagai “perekat” Aceh dan Jawa”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/jaringan-ganja-aceh-jawa/