Stasiun Penelitian Soraya: pos ilmu di rimba Lae Soraya, SubulussalamSoraya Research Station: an outpost of science in the Lae Soraya forest, Subulussalam
1994–sekarang1994–present
Stasiun Penelitian (SP) Soraya adalah pos riset hutan hujan dataran rendah di Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, di tepi Sungai Lae Soraya dalam Kawasan Ekosistem Leuser. Dibangun Leuser Development Programme pada 1994 di bekas konsesi HPH, dibakar kelompok bersenjata tak dikenal pada 2001 di masa konflik, lalu dibangun ulang oleh Forum Konservasi Leuser dan Dinas Kehutanan Aceh pada 2016, stasiun ini merekam sejarah ekologi, konflik dan kerja ilmu di pedalaman Aceh.
The Soraya Research Station (SP Soraya) is a lowland rainforest research post in Sultan Daulat subdistrict, Subulussalam, on the Lae Soraya river within the Leuser Ecosystem. Built by the Leuser Development Programme in 1994 on a former logging concession, burned by unidentified armed men in 2001 during the conflict and rebuilt by the Leuser Conservation Forum and the Aceh Forestry Office in 2016, it records the history of ecology, conflict and scientific work in Aceh's interior.
Di pedalaman Kota Subulussalam, di kaki perbukitan yang menyambung ke Gunung Leuser, terdapat sebuah pos penelitian yang namanya diambil dari sungai di dekatnya: Stasiun Penelitian Soraya. Secara administratif stasiun ini berada di Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, kota termuda di pantai barat-selatan Aceh yang berbatasan dengan Sumatera Utara. Kawasan ini termasuk hutan hujan dataran rendah Leuser, ekosistem paling kaya sekaligus paling terancam di Sumatera, karena dataran rendah adalah wilayah yang paling mudah dibuka untuk kebun dan pembalakan.
Sejarah stasiun ini mencerminkan sejarah kawasan. Pada 1970-an wilayah sekitar Lae Soraya adalah konsesi hak pengusahaan hutan (HPH) bagi PT Asdal dan PT Hargas. Ketika kesadaran tentang nilai Leuser tumbuh pada 1990-an, Leuser Development Programme, kerja sama Pemerintah Indonesia dan Uni Eropa yang menjadi cikal bakal pengelolaan Kawasan Ekosistem Leuser, membangun stasiun ini pada 1994 sebagai pos riset dan pengamanan hutan. Pada 2001, di tengah memuncaknya konflik bersenjata di Aceh, stasiun ini dibakar oleh kelompok bersenjata yang tidak dikenal. Peristiwa itu memperlihatkan bagaimana konflik tidak hanya merenggut nyawa dan desa, tetapi juga menghancurkan infrastruktur ilmu pengetahuan. Lima belas tahun kemudian, pada 2016, Forum Konservasi Leuser (FKL) bersama Dinas Kehutanan Aceh membangunnya kembali, dan sejak itu stasiun ini dikelola FKL.
Mencapai Soraya bukan perkara mudah. Liputan Iyonnas Al Hayati untuk Perempuan Peduli Leuser pada Mei 2024 menggambarkan perjalanan darat sekitar sepuluh hingga sebelas jam dari Banda Aceh ke kamp transit di Gelombang, Desa Suka Maju. Gelombang adalah simpul ekonomi kecil dengan Pasar Raya Pekan Gelombang yang ramai setiap Rabu. Dari dermaga, perjalanan dilanjutkan dengan perahu bermotor yang disebut robin menyusuri Lae Alas sejauh sekitar enam belas kilometer selama dua hingga tiga jam, lalu mendaki jalan hutan yang curam. Di stasiun tidak ada sinyal telepon maupun internet. Dapurnya berdinding terbuka di bagian atas menghadap hutan, dan satwa pernah menyerbunya.
Keterpencilan ini adalah syarat sekaligus beban kerja ilmu. Para peneliti dan staf mengumpulkan data tentang satwa, ikan dan tumbuhan, berpatroli dan memantau gangguan hutan. Dalam liputan yang sama tercatat dua belas orang berada di stasiun ketika penulis berkunjung. Data ikan seperti jurung, kerling dan baung dikumpulkan untuk riset sebelum diolah menjadi makanan, menandakan bahwa kerja ilmiah dan kehidupan sehari-hari di stasiun saling berkelindan.
Liputan itu berfokus pada sosok yang jarang tampil dalam laporan ilmiah: Kartini, yang akrab disapa Kak Kar, juru masak stasiun. Ia anak keempat dari enam bersaudara dan berasal dari Ketambe, Aceh Tenggara, kawasan yang juga dikenal dengan stasiun riset orangutan legendarisnya. Sebelumnya ia bekerja di sebuah resor taman nasional di Ketambe, dan telah sekitar delapan tahun bertugas di Soraya. Ia mula-mula datang untuk melatih juru masak baru yang kemudian tidak bertahan, lalu diminta manajer kamp, Feri Sandria, menjadi juru masak tetap. Ia bekerja dengan sistem giliran, sekitar dua puluh hari sebulan di stasiun lalu pulang ke Ketambe.
Hari kerja Kartini dimulai sangat dini. Ia sering bangun antara pukul dua dan empat pagi untuk menyiapkan bekal bagi peneliti yang berangkat ke hutan, memasak tiga kali sehari ditambah kudapan dan minuman hangat. Bahan makanan dibelinya di Gelombang dan Subulussalam; bebek, yang jarang dijual di Gelombang, dibeli di Subulussalam, sekitar satu jam bersepeda motor. Menu andalannya adalah kuah telu atau gulai bebek, gulai asam jing dengan andaliman yang sering dimasak bersama ikan baung, serta ikan sungai bakar. Ia juga belajar tentang tumbuhan obat, menanam sebagian di sekitar kamp, dan sesekali ikut peneliti ke lapangan, termasuk survei ikan. Keluarganya mendukung pekerjaannya, sebagaimana diceritakan saudaranya, Raja.
Kisah Kartini penting bagi studi Aceh karena memperlihatkan sisi tersembunyi produksi pengetahuan. Riset konservasi biasanya dikisahkan melalui peneliti, temuan dan publikasi. Namun tanpa juru masak, juru perahu, penunjuk jalan dan pekerja lokal, stasiun di tengah rimba tidak akan berjalan. Pengetahuan Kartini tentang masakan tradisional Alas dan Aceh Tenggara serta tumbuhan obat juga merupakan bentuk pengetahuan lokal yang bertemu dengan sains modern di ruang yang sama. Penulis liputan menyebutnya pahlawan bagi komunitas ilmiah Aceh, sebuah penegasan bahwa kerja perawatan adalah bagian dari kerja ilmu.
Stasiun Soraya juga menghubungkan beberapa lapisan sejarah Aceh. Lapisan pertama adalah ekonomi kayu masa Orde Baru, ketika hutan dataran rendah dibagi menjadi konsesi. Lapisan kedua adalah era konservasi internasional pada 1990-an yang melahirkan Leuser Development Programme dan gagasan Kawasan Ekosistem Leuser. Lapisan ketiga adalah konflik bersenjata yang merusak fasilitas negara dan lembaga asing. Lapisan keempat adalah pascadamai, ketika lembaga lokal seperti FKL dan pemerintah Aceh mengambil alih pengelolaan sesuai kewenangan khusus Aceh atas Leuser.
Letak Soraya di Subulussalam, wilayah dengan masyarakat Singkil, Pakpak dan Alas, juga mengingatkan bahwa Leuser adalah ruang multietnis. Sungai Lae Soraya dan Lae Alas menghubungkan dataran tinggi Alas di Aceh Tenggara dengan Singkil di pesisir, jalur yang sejak lama dipakai untuk perdagangan hasil hutan. Dengan demikian, stasiun penelitian ini berada di persimpangan jalur sungai yang punya sejarah panjang dalam ekonomi dan kebudayaan pedalaman Aceh.
Bagi masyarakat sekitar, stasiun riset juga menjadi sumber pekerjaan dan pengetahuan. Warga lokal direkrut sebagai juru perahu, penunjuk jalan, petugas patroli dan juru masak, sehingga kehadiran stasiun menciptakan ekonomi kecil yang bergantung pada hutan yang tetap berdiri. Hubungan ini dapat menjadi dasar kemitraan konservasi yang lebih kuat, asalkan manfaatnya dirasakan secara adil oleh kampung-kampung di sepanjang sungai.
Liputan tentang Kartini juga menjadi contoh bagaimana program pelatihan jurnalisme warga dapat menghasilkan arsip berharga tentang pengalaman orang biasa di wilayah konservasi. Tanpa liputan semacam itu, sejarah stasiun riset akan dikenal hanya melalui dokumen proyek dan publikasi ilmiah, sementara wajah manusia yang menopangnya tetap tersembunyi.
Kisah Soraya juga mengajarkan bahwa pengetahuan tentang Leuser dibangun oleh banyak tangan: peneliti, penjaga hutan, juru perahu, petani di tepi sungai dan juru masak seperti Kartini. Mengakui semua tangan itu adalah langkah penting menuju ilmu tentang Aceh yang lebih adil dan lebih lengkap. Pengakuan semacam itu juga membuka jalan bagi kerja sama yang lebih setara antara lembaga riset dan masyarakat setempat.
Ke depan, stasiun seperti Soraya menghadapi tantangan dari perluasan kebun sawit di dataran rendah Subulussalam dan Aceh Singkil, pembalakan liar serta perubahan iklim. Kehadiran stasiun riset memberi alasan kuat untuk mempertahankan hutan di sekitarnya, karena ia menghasilkan data jangka panjang tentang keanekaragaman hayati. Bagi studi Aceh, Soraya menjadi contoh bagaimana ilmu, konflik, ekonomi dan kehidupan sehari-hari bertemu di satu titik di tepi sungai.
In the interior of Subulussalam, in the foothills that rise towards Mount Leuser, stands a research post named after the nearby river: the Soraya Research Station. Administratively it lies in Sultan Daulat subdistrict of Subulussalam, the youngest city on Aceh's south-west coast, bordering North Sumatra. The area is part of Leuser's lowland rainforest, the richest and most threatened ecosystem in Sumatra, since lowlands are the easiest land to open for plantations and logging.
The station's history mirrors that of the region. In the 1970s the land around Lae Soraya was a logging concession (HPH) held by PT Asdal and PT Hargas. As awareness of Leuser's value grew in the 1990s, the Leuser Development Programme, a cooperation between the Indonesian Government and the European Union that laid the foundations of Leuser Ecosystem management, built the station in 1994 as a research and forest-protection post. In 2001, at the height of the armed conflict in Aceh, it was burned by unidentified armed men. The episode shows how the conflict destroyed not only lives and villages but also the infrastructure of knowledge. Fifteen years later, in 2016, the Leuser Conservation Forum (FKL) and the Aceh Forestry Office rebuilt it, and FKL has managed it since.
Reaching Soraya is not easy. Iyonnas Al Hayati's report for Perempuan Peduli Leuser in May 2024 describes a ten- to eleven-hour overland journey from Banda Aceh to the transit camp at Gelombang, Suka Maju village. Gelombang is a small economic hub whose weekly market, Pasar Raya Pekan Gelombang, is busiest on Wednesdays. From the jetty the journey continues by motorboat, locally called a robin, some sixteen kilometres along the Lae Alas for two to three hours, followed by a steep forest climb. There is no phone or internet signal at the station. Its kitchen is open at the top to the forest, and animals have raided it.
This remoteness is both condition and burden of scientific work. Researchers and staff collect data on wildlife, fish and plants, patrol and monitor disturbance. Twelve people were at the station during the author's visit. Fish such as jurung, kerling and baung are recorded for research before being cooked, a sign of how scientific work and daily life intertwine at the station.
The report focuses on a figure rarely seen in scientific accounts: Kartini, known as Kak Kar, the station cook. The fourth of six siblings, she comes from Ketambe in Southeast Aceh, an area also known for its legendary orangutan research station. She had worked at a national park resort in Ketambe and has spent about eight years at Soraya. She first came to train a new cook who did not stay, and was then asked by camp manager Feri Sandria to become the permanent cook. She works in shifts, about twenty days a month at the station before returning to Ketambe.
Kartini's day begins very early. She often rises between two and four in the morning to prepare provisions for researchers heading into the forest, cooking three meals a day plus snacks and hot drinks. She buys supplies in Gelombang and Subulussalam; duck, rarely sold in Gelombang, comes from Subulussalam, about an hour away by motorbike. Her signature dishes are kuah telu, a duck curry, asam jing curry with andaliman pepper, often cooked with baung fish, and grilled river fish. She studies medicinal plants, grows some around the camp and sometimes joins researchers in the field, including fish surveys. Her family supports her work, as her brother Raja explained.
Kartini's story matters for Aceh studies because it reveals the hidden side of knowledge production. Conservation research is usually told through scientists, findings and publications. Yet without cooks, boatmen, guides and local workers a station in the heart of the forest could not function. Kartini's knowledge of Alas and Southeast Aceh cuisine and medicinal plants is also local knowledge meeting modern science in the same space. The author calls her a hero of Aceh's scientific community, affirming that care work is part of scientific work.
Soraya also links several layers of Acehnese history. The first is the timber economy of the New Order, when lowland forests were parcelled into concessions. The second is the era of international conservation in the 1990s that produced the Leuser Development Programme and the idea of the Leuser Ecosystem. The third is the armed conflict that damaged state and foreign facilities. The fourth is the post-peace period, when local bodies such as FKL and the Aceh government took over management under Aceh's special authority over Leuser.
Soraya's location in Subulussalam, home to Singkil, Pakpak and Alas communities, is a reminder that Leuser is a multi-ethnic space. The Lae Soraya and Lae Alas rivers connect the Alas highlands of Southeast Aceh with Singkil on the coast, a route long used for trade in forest products. The research station thus stands at a river crossroads with a long history in the economy and culture of Aceh's interior.
For nearby communities the station is also a source of work and knowledge. Local people are hired as boatmen, guides, patrol officers and cooks, so the station creates a small economy that depends on the forest remaining standing. This relationship can underpin stronger conservation partnerships, provided its benefits are shared fairly with villages along the river.
The report on Kartini also shows how citizen-journalism training can produce a valuable archive of ordinary people's experience in conservation areas. Without such reporting, the history of a research station would be known only through project documents and scientific publications, while the human faces sustaining it remained hidden.
Soraya also teaches that knowledge of Leuser is built by many hands: researchers, rangers, boatmen, riverside farmers and cooks like Kartini. Acknowledging all of them is an important step towards a fairer and fuller science of Aceh. Such recognition also opens the way to more equal cooperation between research institutions and local communities.
Looking ahead, stations such as Soraya face pressure from oil-palm expansion in the lowlands of Subulussalam and Aceh Singkil, illegal logging and climate change. A research station gives strong reason to keep the surrounding forest standing, because it produces long-term biodiversity data. For Aceh studies, Soraya shows how science, conflict, economy and everyday life meet at one point on a riverbank.
Gagasan kunciKey ideas
Dari konsesi ke konservasiFrom concession to conservation
Bekas HPH 1970-an menjadi pos riset pada 1994.A 1970s logging concession became a research post in 1994.
Ilmu yang ikut terbakarScience burned too
Pembakaran 2001 menunjukkan dampak konflik pada infrastruktur pengetahuan.The 2001 burning shows the conflict's toll on the infrastructure of knowledge.
Kerja perawatan dalam sainsCare work in science
Juru masak dan pekerja lokal menopang riset di tengah rimba.Cooks and local workers sustain research deep in the forest.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana sejarah konsesi, konflik dan konservasi di Lae Soraya membentuk hubungan masyarakat sekitar dengan hutan dan dengan lembaga riset?How have the histories of concession, conflict and conservation at Lae Soraya shaped local people's relations with the forest and with research institutions?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Stasiun Penelitian Soraya: pos ilmu di rimba Lae Soraya, Subulussalam”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/stasiun-penelitian-soraya/