Jeritan sunyi di Darussalam: krisis kesehatan jiwa mahasiswaSilent cries in Darussalam: the student mental-health crisis
2024–2025
Meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa di Banda Aceh dibaca sebagai kegagalan sistemik, bukan kelemahan individu. Tekanan ekonomi keluarga, rumah tangga yang retak, trauma dan perundungan, kebebasan tanpa arah, eksploitasi oleh senior dan relasi kuasa akademik, kesenjangan komunikasi dengan dosen, serta ketakutan kehilangan beasiswa saling berkelindan menjadi stres kumulatif. Analisis ini menawarkan kerangka respons empat langkah: pengakuan, tindakan, akuntabilitas, dan transformasi budaya. Tujuannya menjadikan Darussalam sebagai kota ilmu yang berakar pada kepedulian.
The rising number of suicides among university students in Banda Aceh is read as a systemic failure rather than individual weakness. Family financial pressure, broken homes, trauma and bullying, freedom without direction, exploitation by seniors and academic power relations, communication gaps with lecturers and fear of losing scholarships intertwine into cumulative stress. The analysis offers a four-step response framework: acknowledgement, action, accountability and cultural transformation. Its aim is to make Darussalam a city of knowledge rooted in care.
Darussalam, kawasan kampus yang menampung Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry, dibangun sebagai simbol cita-cita intelektual Aceh. Namun dalam beberapa tahun terakhir kawasan ini juga menjadi latar meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa, terutama mereka yang datang dari perdesaan untuk menuntut ilmu. Setiap kasus memicu keprihatinan di media sosial, tetapi kesadaran saja tidak cukup. Pembacaan yang ditawarkan di sini menolak menjadikan para mahasiswa yang meninggal sebagai orang yang lemah; mereka adalah penanda kegagalan kolektif keluarga, kampus, dan masyarakat dalam melindungi anak muda yang sedang membangun hidupnya.
Lapisan pertama adalah tekanan sosial dan ekonomi. Mahasiswa dari kampung memikul harapan keluarga yang menjual tanah, menggadaikan perhiasan, atau berutang demi biaya kuliah dan hidup. Biaya kota, mulai dari sewa kamar, makan, hingga gaya hidup, sering melampaui kemampuan keluarga. Mahasiswa lalu mencari penghasilan informal sebagai guru les, penjual daring, atau pekerja paruh waktu di kafe dan toko, dan sebagian terseret ke sumber penghasilan yang memangsa seperti judi daring, penipuan kripto, dan usaha sampingan yang tidak diatur, termasuk ekonomi bertahan hidup yang mengomodifikasi tubuh perempuan muda. Rasa malu mengisolasi mereka dari keluarga dan dosen, sementara media sosial memperbesar jarak antara cita-cita dan kenyataan. Tekanan keuangan, nilai yang menurun, dan kurang tidur menumpuk menjadi stres kumulatif.
Lapisan kedua adalah luka yang dibawa dari rumah. Perceraian, konflik rumah tangga, dan penelantaran mengikuti mahasiswa hingga ke kamar kos. Kampus menjadi pelarian yang tidak utuh, dan tuntutan akademik membuat kegagalan terasa sebagai hilangnya identitas. Pekerjaan sampingan yang bertentangan dengan nilai keluarga menimbulkan luka moral. Kekerasan domestik, termasuk yang terkait penyalahgunaan zat oleh orang tua, serta perundungan di lingkungan kampus, baik yang terang-terangan maupun yang halus melalui gosip dan pengucilan, melahirkan respons trauma berupa pemberontakan atau keruntuhan ke dalam.
Lapisan ketiga adalah kebebasan tanpa arah dan relasi kuasa yang timpang. Peralihan dari sekolah menengah ke universitas bersifat geografis, moral, sekaligus eksistensial, dan Banda Aceh menghadirkan paradoks antara disiplin Islam di ruang publik dan eksperimen anak muda di ruang privat. Orang tua sering merasa anaknya aman karena berada di Banda Aceh. Padahal mahasiswa baru rentan terhadap senior yang menyalahgunakan kuasa dalam kaderisasi dan organisasi, terhadap rumah kos yang minim pengawasan, terhadap ancaman penyebaran gambar pribadi, dan terhadap tekanan dari sebagian pengajar yang memegang kuasa atas nilai, skripsi, dan rekomendasi. Ketakutan akan aib dan pembalasan membuat banyak kasus tidak dilaporkan, sementara institusi kerap menganggapnya urusan pribadi.
Lapisan keempat lebih senyap tetapi nyata. Surel yang tidak dibalas dan bimbingan yang tertunda dapat terasa sebagai penolakan bagi mahasiswa yang hidupnya bergantung pada dosen. Penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) menghadapi ambang IPK yang menentukan apakah mereka masih dapat membayar sewa dan makan; kehilangan beasiswa berarti kehilangan pijakan hidup, dan rasa malu membuat sebagian tidak berani pulang. Beasiswa menjadi peluang sekaligus tekanan yang menyesakkan bila tidak disertai sistem pendukung.
Kerangka respons yang ditawarkan terdiri dari empat langkah. Pengakuan berarti institusi dan masyarakat menyebut krisis ini dengan terang. Tindakan berarti menyediakan layanan konseling yang mudah diakses, rahasia, dan peka budaya, melatih dosen sebagai pembimbing yang memahami trauma, melibatkan keluarga, dan melawan stigma terhadap pencarian bantuan. Akuntabilitas berarti kebijakan tanpa toleransi terhadap eksploitasi dan pelecehan, saluran pelaporan yang aman, reformasi organisasi kemahasiswaan, pengawasan rumah kos, penanganan serius kekerasan berbasis gambar, standar komunikasi akademik yang tepat waktu, serta desain beasiswa dengan jaring pengaman, pendampingan, dan perencanaan keuangan. Transformasi budaya berarti solidaritas di atas kompetisi, warung kopi dan rumah kos sebagai ruang saling dukung, dan jaringan sebaya yang kuat.
Pencegahan pada akhirnya dimulai dari tindakan sederhana: mendengarkan, menanggapi, dan bertanya ‘apakah kamu baik-baik saja?’. Universitas dituntut menjadi penjaga kehidupan, bukan sekadar pusat akreditasi dan peringkat, dan keluarga diingatkan bahwa kasih sayang tidak dapat diwakilkan. Masyarakat juga ditantang menghadapi kemunafikannya sendiri: merayakan ilmu keislaman sambil menutup mata terhadap eksploitasi. Bagi studi Aceh, krisis ini memperlihatkan bahwa kota pelajar memerlukan infrastruktur kepedulian yang setara dengan infrastruktur akademiknya. Siapa pun yang sedang mengalami tekanan berat dianjurkan mencari bantuan dari layanan konseling kampus, tenaga kesehatan jiwa, atau orang yang dipercaya.
Darussalam, the campus district housing Syiah Kuala University and UIN Ar-Raniry, was built as a symbol of Aceh’s intellectual aspirations. In recent years, however, it has also been the setting of a rise in suicides among students, especially those who came from the countryside to study. Each case triggers concern on social media, but awareness alone is not enough. The reading offered here refuses to cast the students who died as weak; they are markers of a collective failure of families, campuses and society to protect young people building their lives.
The first layer is social and economic pressure. Students from villages carry the hopes of families who sell land, pawn jewellery or borrow to pay for tuition and living costs. City costs, from room rent and food to lifestyle, often exceed what families can afford. Students then seek informal income as tutors, online sellers or part-time workers in cafés and shops, and some are drawn into predatory income streams such as online gambling, crypto scams and unregulated side businesses, including a survival economy that commodifies young women’s bodies. Shame isolates them from family and lecturers, while social media magnifies the gap between aspiration and reality. Financial strain, falling grades and lack of sleep accumulate into cumulative stress.
The second layer is wounds carried from home. Divorce, domestic conflict and neglect follow students into their boarding rooms. Campus becomes an incomplete escape, and academic demands make failure feel like a loss of identity. Side jobs that clash with family values inflict moral injury. Domestic violence, including that linked to parental substance abuse, and bullying on campus, whether overt or subtle through gossip and exclusion, produce trauma responses of rebellion or inward collapse.
The third layer is freedom without direction and unequal power relations. The move from secondary school to university is geographic, moral and existential at once, and Banda Aceh presents a paradox between Islamic discipline in public space and youthful experimentation in private. Parents often feel their children are safe because they are in Banda Aceh. Yet new students are vulnerable to seniors who abuse power in orientation and organisations, to poorly supervised boarding houses, to threats of having private images shared, and to pressure from some teaching staff who hold power over grades, theses and recommendations. Fear of shame and retaliation means many cases go unreported, while institutions often treat them as personal matters.
The fourth layer is quieter but real. Unanswered emails and delayed supervision can feel like rejection to students whose lives depend on their lecturers. Recipients of the Kartu Indonesia Pintar (KIP) scholarship face grade-point thresholds that decide whether they can still pay rent and eat; losing the scholarship means losing one’s footing, and shame stops some from going home. A scholarship becomes both opportunity and suffocating pressure when it comes without a support system.
The proposed response framework has four steps. Acknowledgement means institutions and society naming the crisis plainly. Action means providing counselling that is accessible, confidential and culturally sensitive, training lecturers as trauma-informed mentors, engaging families and countering the stigma of seeking help. Accountability means zero-tolerance policies against exploitation and harassment, safe reporting channels, reform of student organisations, supervision of boarding houses, serious handling of image-based abuse, standards of timely academic communication, and scholarship design with safety nets, mentoring and financial planning. Cultural transformation means solidarity over competition, coffee shops and boarding houses as spaces of mutual support, and strong peer networks.
Prevention ultimately begins with simple acts: listening, responding and asking ‘are you okay?’. Universities are called to be guardians of lives, not merely centres of accreditation and rankings, and families are reminded that love cannot be delegated. Society is also challenged to face its own hypocrisy: celebrating Islamic learning while turning a blind eye to exploitation. For Aceh studies, the crisis shows that a city of students needs an infrastructure of care equal to its academic infrastructure. Anyone under severe strain is encouraged to seek help from campus counselling services, mental-health professionals or a trusted person.
Gagasan kunciKey ideas
Kegagalan kolektifCollective failure
Krisis dibaca sebagai kegagalan sistem perlindungan, bukan kelemahan pribadi.The crisis is read as a failure of protective systems, not personal weakness.
Stres kumulatifCumulative stress
Tekanan ekonomi, akademik, keluarga, dan relasi kuasa saling menumpuk sampai melampaui daya tahan.Economic, academic, family and power pressures pile up until they exceed endurance.
Rasa malu sebagai pembungkamShame as silencer
Takut aib menghalangi pencarian bantuan dan pelaporan eksploitasi.Fear of shame blocks help-seeking and the reporting of exploitation.
Empat langkah responsFour-step response
Pengakuan, tindakan, akuntabilitas, dan transformasi budaya harus berjalan bersama.Acknowledgement, action, accountability and cultural transformation must go together.
Infrastruktur kepedulianInfrastructure of care
Kota pelajar memerlukan layanan kesehatan jiwa setara dengan sarana akademiknya.A city of students needs mental-health services equal to its academic facilities.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apa yang harus diubah kampus-kampus di Darussalam agar mahasiswa yang tertekan lebih dahulu menemukan pendengar daripada jalan buntu?What must Darussalam’s campuses change so that a student in distress finds a listener before a dead end?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Jeritan sunyi di Darussalam: krisis kesehatan jiwa mahasiswa”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/krisis-kesehatan-jiwa-mahasiswa-darussalam/