Pembunuhan Safwan Idris dan Dayan DawoodThe assassinations of Safwan Idris and Dayan Dawood
16 September 2000 dan 6 September 200116 September 2000 and 6 September 2001
Prof. Safwan (Shafwan) Idris, Rektor IAIN Ar-Raniry, ditembak mati pada 16 September 2000, dan Prof. Dayan Dawood, Rektor Universitas Syiah Kuala, ditembak pada September 2001. Kedua tokoh adalah simbol dunia pendidikan Aceh. Kematian mereka dikenang sebagai ‘bencana besar sebelum tsunami’ yang menunjukkan bahwa ilmuwan menjadi sasaran empuk dalam logika hukum rimba masa konflik.
Prof. Safwan (Shafwan) Idris, rector of IAIN Ar-Raniry, was shot dead on 16 September 2000, and Prof. Dayan Dawood, rector of Syiah Kuala University, was shot in September 2001. Both were symbols of Aceh’s education. Their deaths are remembered as ‘a great disaster before the tsunami’, showing that scholars were easy targets under the law of the jungle of the conflict years.
Safwan Idris terlibat dalam diskusi tentang masa depan Aceh pada masa transisi. Sebuah surat pribadi anggota DPR RI Ahmad Farhan Hamid kepadanya, bertanggal 30 Desember 1999, membahas rancangan undang-undang otonomi khusus: keleluasaan mengatur pemerintahan lokal melalui ‘Kanun Aceh’, makna ‘berdaulat’ sebagai kewenangan membuat aturan internal, dan nama-nama alternatif seperti Nanggroe Aceh Darussalam karena istilah ‘otonomi’ dinilai sulit ‘dipasarkan’. Surat ini memperlihatkan bahwa kaum terpelajar Aceh diharapkan menjadi perumus jalan politik di antara tuntutan merdeka dan tawaran negara.
Kedua rektor ditembak dari jarak dekat oleh pelaku yang tidak pernah terungkap. Dampaknya terasa panjang: keluarga Safwan Idris meninggalkan Aceh karena tak sanggup menanggung duka, sementara rumah Dayan Dawood setelah tsunami disewakan kepada sebuah badan PBB. Nama Dayan Dawood kemudian diabadikan pada gedung di kampus Unsyiah, tempat GAM menggelar konvensi calon gubernur pada 2006.
Peristiwa ini menjadi penanda bahwa konflik Aceh tidak hanya menghancurkan desa, tetapi juga lapisan cendekiawan yang mestinya menjembatani rakyat, ulama, dan negara. Ia juga menjelaskan trauma dan kehati-hatian kaum intelektual Aceh dalam mengambil posisi publik.
Ingatan atas kedua rektor dihidupkan kembali pada September 2025. Pada 12 September, Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry bersama Nanggroe Institute menggelar refleksi ‘September Duka, Kebebasan Akademik di Bawah Ancaman Kekerasan’ di Rukoh, Darussalam, menandai dua puluh lima tahun penembakan Safwan Idris dan dua puluh empat tahun penembakan Dayan Dawood, dengan lebih dari seratus peserta. Mantan Rektor IAIN Ar-Raniry Yusni Saby mengingatkan bahwa korban konflik bukan hanya pihak yang berseberangan, tetapi juga mereka yang menolak kekerasan dan berusaha menengahi; Ketua KKR Aceh Mashtur Yahya menekankan bahwa refleksi semacam ini menjaga kampus tetap hidup sebagai tempat mencari dan mengamalkan ilmu. Prinsip yang diulang adalah ‘memaafkan, tetapi tidak melupakan’, disertai harapan agar penegakan hukum atas kekerasan masa konflik dituntaskan sehingga trauma dan dendam tidak diwariskan.
Empat hari kemudian, pada 16 September 2025 atau 23 Rabiul Awal 1447 H, sivitas akademika UIN Ar-Raniry dan keluarga besar Safwan Idris menggelar zikir dan doa bersama memperingati seperempat abad syahidnya di Masjid Fathun Qarib, dimulai dengan salat Subuh berjamaah. Keluarga diwakili Safrul Muluk, dan rektor menyebut Safwan Idris sebagai teladan yang memadukan ilmu, keberanian, dan keikhlasan, bukan hanya pemimpin kampus tetapi juga ulama yang mengabdikan hidupnya bagi ilmu dan umat. Rangkaian ini memperlihatkan bagaimana peristiwa kekerasan diolah menjadi ingatan kampus dan pembelaan atas kebebasan akademik.
Safwan Idris took part in debates on Aceh’s future during the transition. A private letter to him from national legislator Ahmad Farhan Hamid, dated 30 December 1999, discussed the draft special-autonomy law: latitude to organise local government through a ‘Kanun Aceh’, ‘sovereign’ understood as the power to make internal regulations, and alternative names such as Nanggroe Aceh Darussalam because ‘autonomy’ was hard to ‘market’. The letter shows that Aceh’s educated class was expected to chart a political path between demands for independence and the state’s offers.
Both rectors were shot at close range by perpetrators never identified. The impact was lasting: Safwan Idris’s family left Aceh, unable to bear their grief, while after the tsunami Dayan Dawood’s house was rented to a UN agency. Dayan Dawood’s name was later given to a building on the Unsyiah campus, where GAM held its gubernatorial convention in 2006.
The killings mark how the Aceh conflict destroyed not only villages but also the intellectual stratum meant to bridge people, ulama and state. They also explain the trauma and caution with which Acehnese intellectuals take public positions.
Memory of the two rectors was revived in September 2025. On 12 September the Student Executive Council of the Faculty of Sharia and Law at UIN Ar-Raniry, with the Nanggroe Institute, held a reflection titled ‘Mournful September: Academic Freedom under the Threat of Violence’ in Rukoh, Darussalam, marking twenty-five years since the shooting of Safwan Idris and twenty-four since that of Dayan Dawood, attended by more than a hundred people. The former IAIN Ar-Raniry rector Yusni Saby recalled that conflict victims were not only those on opposing sides but also those who rejected violence and tried to mediate; the chair of Aceh’s Truth and Reconciliation Commission, Mashtur Yahya, stressed that such reflections keep the campus alive as a place to seek and practise knowledge. The principle repeated was ‘forgive, but do not forget’, with the hope that law enforcement for conflict-era violence be completed so that trauma and revenge are not passed down.
Four days later, on 16 September 2025 (23 Rabi‘ al-Awwal 1447 AH), the UIN Ar-Raniry community and Safwan Idris’s extended family held collective dhikr and prayers marking a quarter-century since his martyrdom at the Fathun Qarib Mosque, beginning with the congregational dawn prayer. The family was represented by Safrul Muluk, and the rector called Safwan Idris an exemplar who combined knowledge, courage and sincerity, not only a campus leader but an ulama who devoted his life to knowledge and the community. These events show how acts of violence are turned into campus memory and a defence of academic freedom.
Gagasan kunciKey ideas
Ilmuwan sebagai sasaranScholars as targets
Pembunuhan tokoh kampus melumpuhkan peran mediasi kaum terpelajar.Killing campus leaders crippled the mediating role of the educated.
ImpunitasImpunity
Pelaku yang tak terungkap memperpanjang budaya ‘orang tak dikenal’.Unidentified killers prolonged the culture of ‘unknown persons’.
Kebebasan akademikAcademic freedom
Kampus harus menjadi benteng pemikiran bebas yang tidak dibungkam kekerasan.The campus must be a bastion of free thought not silenced by violence.
Memaafkan tanpa melupakanForgiving without forgetting
Ingatan menjadi jaminan agar kekerasan serupa tidak berulang.Memory guarantees that similar violence does not recur.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana masyarakat menjaga ruang aman bagi ilmuwan ketika kekerasan politik meningkat?How can society keep scholars safe when political violence rises?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Pembunuhan Safwan Idris dan Dayan Dawood”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/pembunuhan-safwan-idris-dan-dayan-dawood/